My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 98



Satu minggu berlalu.


Kevin tengah bersiap, dia tengah membereskan barang-barang Melika dan dirinya.


Hari ini, Melika sudah diperbolehkan pulang. Dokter mengizinkannya untuk rawat jalan. Meski begitu, Kevin tetap mencarikan Melika Suster untuk membantu kegiatan Melika dan membantu menjaga sang bayi. Apalagi, Melika masih dalam masa pemulihan. Luka pasca operasi caesar pun membuatnya tak boleh banyak gerak terlebih dahulu. Terutama melakukan pekerjaan berat.


Selesai bersiap, Kevin keluar dari ruang rawat. Dia meninggalkan Melika dan pergi membayar segala biaya perawatan Melika. Selesai membayarnya, Kevin pergi menuju parkiran. Dia meminta sang supir untuk membantunya membawa barang-barang yanga ada di ruang rawat Melika agar dipindahkan ke dalam mobil.


Sang supir mengikuti Kevin hingga ke ruang rawat itu. Tak lupa Kevin pun meminta seorang Suster untuk membawa kursi roda.


"Sudah selesai, Mas?" tanya Melika.


"Sudah, kita pulang sekarang!" Kevin membantu Melika turun dari brankar. Melika sedikit mengernyit karena luka operasi di perutnya.


"Apa masih sakit?" tanya Kevin.


"Hm ... Ngilu gitu, Mas," ucap Melika.


"Hati-hati, pelan-pelan saja," ucap Kevin.


Suster mendekatkan kursi roda itu dan Melika duduk di atasnya. Sang supir sudah lebih dulu membawa barang-barang Melika menuju mobil. Kini Kevin mulai mendorong kursi roda Melika hingga menuju mobil. Mobil itu sudah berada tepat di depan pintu keluar. Sang supir sengaja bersiap agar Kevin tak harus mendorong Melika hingga ke parkiran. Karena jarak pintu ke parkiran memang cukup jauh.


"Terimakasih, Sust," ucap Kevin begitu Melika sudah masuk dan dia menyusul masuk. Kursi roda itupun ikut dibawanya.


"Kita pulang ke mana, Mas?" tanya Melika.


"Ke Rumah kita. Di sana semua orang sudah menunggumu," ucap Kevin tersenyum.


Melika tersenyum. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan buah hatinya. Satu hal yang dia sesalkan, karena dia tak dapat memberikan Asi pertamanya akibat koma pasca melahirkan. Dan kini, Asi-nya pun belum juga keluar.


Sesampainya di Rumah.


Kevin mendorong kursi roda Melika. Di mana di atasnya Melika sudah duduk.


Kursi roda itu memasuki rumah, dan pertama kali Melika melihat seluruh anggotanya sudah berkumpul menyambutnya di ruang tamu. Tangis sang mama pecah ketika memeluk Melika. Dia merasa bahagia Melika kembali. Melika pun ikut menangis haru.


Papa Melika mendekati Melika, mencium dahi Melika.


"Selamat datang kembali, Mel. Sehat selalu, Papa doakan yang terbaik untukmu," ucap sang papa.


Melika mengangguk.


Papa mertua Melika tersenyum melihat Melika dan mengusap kepala Melika. Dia ikut bahagia melihat Melika kembali ke rumah itu.


"Di mana bayiku, Ma?" tanya Melika mencari sekeliling ruangan.


Tak lama, seorang Suster menghampiri Melika. Suster itu menggendong bayinya.


"Ini, Bu." Suster itu menunjukan bayinya pada Melika.


Mata Melika memerah. Benarkah itu bayinya? Kenapa terlihat lebih besar dari fotonya? Pikirnya.


"Sini, aku mau menggendongnya!"


Suster memberikan bayi itu pada Melika. Melika menggendongnya dan terus menatap lekat wajah bayi yang tengah tertidur itu.


Air mata Melika menetes ke pipi bayinya hingga bayi itu terbangun dan untuk pertama kalinya menatap wanita yang sudah melahirkannya. Bayi itu menatap Melika.


Melika menangis bahagia, bayi itu beberapa detik menatapnya kemudian tersenyum kecil dan tertidur kembali.


Melika terisak, membuat semua yang ada di ruangan itu ikut menangis. Mereka dapat merasakan betapa bahagianya Melika dapat melihat bayinya setelah masa sulit yang dialami.


Kevin pun ikut meneteskan air matanya melihat Melika dan buah hatinya. Bahagia, itu yang kini dia rasakan. Dia tak ingin apapun saat ini, jika dia boleh memilih, dia tak ingin kebahagiaan ini berakhir. Dia hanya ingin melihat keluarganya bahagia.


"Berikan dia pada Susternya, Mel!" ucap Kevin.


"Kenapa?" tanya Melika.


"Kamu harus istirahat," ucap Kevin.


"Tidak!" Melika memeluk bayi itu seakan dia tak ingin terpisah lagi dari bayinya.


"Oke-oke ... Kalau begitu, kalian istirahat bersama. Kasihan bayi itu, dia mengantuk sekali," ucap Kevin.


Melika mengangguk. Kevin memanggil bibi, menanyakan kamar untuk Melika. Selama Melika belum benar-benar pulih, Kevin memilih kamar di lantai bawah untuk menjadi kamar Melika dan dirinya. Kevin meminta bibi membereskan kamar itu, dan memindahkan barang-barang Melika.


Semua orang diam di ruang tamu, tetapi Kevin mengantar Melika menuju kamarnya. Melika melihat sekeliling kamar. Kamar itu jauh lebih kecil dari kamarnya yang di atas. Itu memang kamar khusus tamu, tetapi itu lebih baik untuk Melika yang masih dalam masa pemulihan saat ini. Itu akan membuat Melika lebih mudah jika ingin pergi keluar. Setidaknya, Melika tak perlu naik turun tangga hingga dia benar-benar pulih.


"Kamu harus turun dulu dari kursi roda, dan pindah ke tempat tidur. Dia akan membuatmu kesulitan," ucap Kevin melihat sang bayi.


"Nggak ada Orangtua yang akan merasa kesulitan karena anaknya, Mas. Jangan bicara seperti itu lagi!" tegas Melika.


"Hm ..." Kevin terdiam.


"Lagi pula, aku bisa bangun dan jalan sendiri. Mas saja yang berlebihan, sampai suruh aku duduk di kursi roda," ucap Melika.


Melika bangun sendiri, dia sedikit kesusahan tapi akhirnya mampu berdiri.


Dia duduk di tepi tempat tidur.


"Tidurkan dia, Mel. Dia butuh tempat tidur yang nyaman, nanti kepalanya sakit jika ditopang dengan tanganmu," ucap Kevin.


Kevin begitu cerewet, dia cemas leher bayinya akan merasa pegal karena berbantalkan tangan Melika.


Melika menidurkan bayi itu di tempat tidur, tetapi bayi itu tiba-tiba saja menangis. Melika kembali menggendongnya.


"Mas lihat? Dia nggak mau lepas dari gendonganku. Dia tahu aku Ibunya," ucap Melika.


Kevin mengusap lembut pipi bayi itu. Bayi itu terdiam.


"Dia tahu aku Ayahnya," ucap Kevin terkekeh.


Melika tersenyum dan kembali menidurkan bayi itu di tempat tidur. Sambil Melika menidurkan bayi itu, Kevin terus mengusap pipi sang bayi agar merasa tenang. Bayi itu pun tak kembali menangis dan justru tetap tertidur.


"Kapan aku bisa memberikan Asi-ku, Mas?" tanya Melika tak sabar.


"Nanti, saat waktunya tepat," ucap Kevin tersenyum.


"Duh ... Rasanya nggak sabar," ucap Melika.


"Aku juga nggak sabar," ucap Kevin tersenyum.


"Nggak sabar kenapa?" tanya Melika.


"Nggak sabar mendapatkan jatahku, ha-ha-ha ..." Kevin tertawa.


Kevin terkejut saat Melika melemparkan bantal ke wajahnya.


"Jangan keras-keras tertawanya!" ucap Melika sedikit kesal. Melika hanya takut anaknya terganggu oleh suara berisik.


"Ya nggak harus dilempar bantal juga, Mel. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku," ucap Kevin.


Melika tersenyum. Kasihan sekali suaminya itu harus puasa.


"Jika butuh bantuanku, bilang saja," ucap Kevin.


"Banyak, aku pasti membutuhkan bantuan, Mas," ucap Melika.


"Tentu saja, aku akan selalu ada untukmu. Bahkan, aku akan membantu anak kita," ucap Kevin.


"Membantu mengganti popoknya? Mandinya? Atau minum susunya?" tanya Melika.


"Membantunya untuk mewujudkan keinginannya," ucap Kevin tersenyum.


"Memangnya, bayi sekecil ini ingin apa? Paling dia menginginkan susunya saat lapar dan haus," ucap Melika.


Kevin menunduk, dia mendekati Melika dan berbisik di telinga Melika.


'Kamu tahu dia pernah bilang sesuatu padaku,' bisik Kevin.


Melika mengerutkan dahinya dan melihat sang bayi yang masih tertidur.


'Kamu mau tahu, dia bilang apa?' ucap Kevin.


Melika mengangguk. Penasaran juga, memangnya bayi sekecil itu sudah bisa mengatakan keinginannya? Pikir Melika seakan menjadi bodoh.


'Dia bilang, ingin adik,' bisik Kevin.


Melika membulatkan matanya.


Bugh!


Melika mendorong wajah Kevin hingga Kevin yang terkejut dan tak siap pun menjadi terjengkang.