My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Melika&Kevin (Extra Part)



Pagi itu, dikediaman Kevin. Seorang anak pria berwajah tampan baru saja terbangun dari mimpi indahnya.


Dialah Melvino. Usianya sudah akan menginjak 4 Tahun. Melvino mengguncang tubuh sang papi, berharap sang papi yang masih memejamkan matanya itu terbangun. Ini hari libur, karena itu sang papi tampak santai dan tak bangun lebih pagi. Namun, tetap saja waktu santai terganggu karena Melvino membangunkannya.


Kevin membuka matanya. Menatap wajah tampan nan polos Melvino. Buah hatinya bersama Melika.


"Hm ..." Kevin berdehem.


"Basah, Pi," rengek Vino, itulah nama yang biasa disebutkan oleh Kevin dan Melika. Vino anak yang mencintai kebersihan, karena itu ketika ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman dia akan merasa risih.


Kevin menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh keduanya. Dia melihat tempat tidurnya basah karena Vino yang mengompol. Vino memang tidur bersama Kevin dan Melika. Dia memang sudah memiliki kamar sendiri, dan ada seorang pengasuh yang menjaganya. Hanya saja, terkadang jika tengah ingin tidur bersama Kevin dan Melika, Vino akan tidur di kamar Kevin dan Melika.


"Ade ngompol?" ucap Kevin.


Vino mengangguk seraya tersenyum manis. Berharap sang papi tak memarahinya.



Vino masih memakai popok saat tidur malam hari, untuk berjaga-jaga agar tak sampai ngompol seperti saat ini. Namun, tetap saja jika popoknya penuh lalu bocor akan rembas membasahi tempat tidur


Kevin tersenyum, dia tak bisa marah pada jagoan kecilnya itu. Dia merasa gemas pada Vino. Anak yang belum berusia 4 tahun tetapi tubuhnya lebih cepat tumbuh dibanding kebanyakan anak seusianya. Wajah Vino semakin besar mirip dengan Melika. Adil bukan? Saat bayi mirip dengan Kevin, lalu kemudian semakin tumbuh semakin mirip dengan Melika. Dengan begitu tak ada yang merasa tak dianggap.


Kevin memanggil Melika. Namun, tak ada sahutan dari Melika.


"Mami di mana, ya, De?" tanya Kevin.


Vino menggelengkan kepalanya. Dia tak tahu karena baru bangun.


"Mau mandi, Pa," ucap Vino.


"Tunggu Mami. Papi cari Mami dulu," ucap Kevin seraya turun dari tempat tidur.


Vino mengikuti Kevin menuju keluar kamar. Kevin menuntun tangan Vino dan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai dasar.


Terlihat Melika tengah berada di dapur, dia tengah menyiapkan sarapan untuk kedua kesayangannya.


"Lho ... Kalian sudah bangun!" ucap Melika.


"Ade ngompol, Mi," ucap Kevin.


Melika tersenyum dan melepaskan apronnya. Kebetulan dia sudah selesai menyiapkan sarapan. Melika dan Vino pergi menuju kamar. Melika membawa Vino menuju kamar mandi dan membantu Vino mandi. Selesai mandi, Vino pun sudah tampan dan segar. Aroma minyak telon tercium di tubuh Vino, membuat tubuhnya semakin segar.


Melika menuntun Vino menuju meja makan, di mana di sana sudah ada Kevin yang tengah menikmati secangkir kopi buatan Melika.


"Ade udah mandi, Pi," ucap Vino seraya mendekati Kevin dan duduk di dekat Kevin. Kevin mencium kepala Vino. Harum sekali anaknya itu. Khas anak-anak.


"Minum dulu susunya. Makan sandwich-nya, De," ucap Melika.


Vino meminum susunya sendiri. Kemudian memakan sandwich kesukaannya.


Selesai sarapan, layaknya anak-anak pada umumnya. Vino duduk tenang di depan televisi. Dia menonton film kartoon kesukaannya. Apalagi hari libur seperti ini, ada tayangan film kartoon kesukaannya.


"Mi!"


"Ya, Pi," sahut Melika.


"Ayo, nanti malam kita dinner di luar!" ajak Kevin.


Melika mengerutkan dahinya.


"Ada acara apa?" tanya Melika.


"Acara apa, ya? Ya, hanya ingin dinner di luar saja," ucap Kevin.


Melika mengangguk.


"Ajak ade?" tanya Melika.


Melika tersenyum. Dia tak lagi bekerja dan fokus mengurus anak dan suaminya. Namun, tetap saja Kevin memakai jasa pengasuh untuk membantu menjaga Vino yang aktifnya luar biasa. Ya, anak laki-laki memang seperti itu. Dan orangtua justru harus merasa senang, karena anak yang aktif menandakan memiliki kecerdasan diatas rata-rata.


Sore hari.


Kevin dan Melika meminta Suster untuk menjaga Vino. Jangan sampai jagoan kecilnya itu lepas dari jangkauan sang Suster.


"Ade, Mami sama Papi pergi dulu, ya. Ade di rumah sama Mbak, jangan nakal!" ucap Melika mengusap lembut kepala Vino.


"Pulangnya, beliin Ade pesawat, ya, Mi," ucap Vino.


Kevin dan Melika tampak saling melihat.


Pesawat? Yang benar saja pikir Kevin, jagoan kecilnya itu sudah minta dibelikan pesawat. Lagi pula, harga pesawat pribadi bisa mencapai Triliuanan Rupiah, Kevin harus menjual asetnya terlebih dahulu untuk membeli pesawat pribadi.


"Yang kayak gini, Pi!" Vino menunjukan film kartoon kesukaannya dan ada pesawat mainan di sana.


Kevin terkekeh dan berbisik di telinga Melika.


"Aku pikir, ade minta pesawat pribadi," ucap Kevin.


Melika ikut terkekeh. Ada-ada saja suaminya itu.


"Oke. Nanti Papi belikan. Ade nurut sama Mbak, Papi sama Mami beli pesawat dulu," ucap Kevin tersenyum.


Vino tersenyum antusias. Senang sekali rasanya akan mendapatkan mainan yang dia inginkan.


Kevin dan Melika pergi menuju sebuah restoran.


Sesampainya di restoran.


Kevin menggandeng Melika masuk menuju restoran.



Dia menarik salah satu kursi dan meminta Melika untuk duduk. Mereka memesan menu makan malam.


Sambil menunggu pesanan datang, Kevin terus menatap Melika.


Melika wanita yang dia nikahi 5 tahun lalu, di mana saat itu Melika masih berbobot 95 kilogram, kini terlihat jauh berbeda. Selesai memberikan Asi-nya selama 2 tahun pada Vino, Melika mulai melakukan pola hidup sehat dengan banyak berolah raga. Dia diet sehat, menjaga pola makannya, sehingga kini berat badannya tak lagi sebesar itu. Sebetulnya, Kevin tak menuntut apapun, apalagi menuntut langsing pada Melika. Dia mencintai Melika apa adanya bahkan meski tubuh Melika masih sebesar dulu. Bagi Kevin, gemuk bukan berarti jelek. Melainkan seksi yang berlebihan.


Melika tersenyum diperhatikan seperti itu.


Tiba-tiba saja, Kevin mengeluarkan buket bunga daisy dari bawah mejanya dan ada sebuah kotak kecil bludru berwarna merah. Dia memberikannya pada Melika. Kevin memilih bunga itu, di mana bunga itu memiliki sebuah makna.


Bunga daisy bermakna kemurnian serta kelemahlembutan. Maka dengan memberikan bunga daisy kepada sang istri, rasa syukur suami karena telah memiliki pasangan yang lemah lembut dan juga memiliki cinta yang murni tersampaikan secara sempurna.



"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke Lima, Mel. Terimakasih sudah menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk aku dan Vino. Kami bahagia memilikimu. Tetap jadi pribadi yang lemah lembut, yang manis, bertanggung jawab, dan menyayangi aku juga Vino. Aku mencintaimu, Mel," ucap Kevin.


Melika teringat hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kevin. Bisa-bisanya dia melupakan hari itu. Wajar saja, sibuknya mengurus rumah tangga membuatnya jarang sekali melihat tanggal. Apalagi dia pun sudah tak bekerja. Karena itu, dia hampir tak pernah melihat tanggal. Dia mungkin takan menyadari hari ini ulang tahun pernikahannya dengan Kevin, jika saja Kevin tak memberikannya kejutan seperti itu.


"Maafkan aku, Mas. Aku lupa," ucap Melika merasa bersalah.


Kevin tersenyum. Dia membuka kotak bludru itu dan terdapat cincin berlian di dalamnya. Dia memakaikannya dijari Melika. Tepat disebelah jari yang terpasang cincin pernikahan mereka.


"Makasih banyak, Mas. Aku juga mencintai Mas. Aku mencintai Vino, aku menyayangi kalian," ucap Melika terharu.


Kevin beranjak dari duduknya dan menghampiri Melika. Melika ikut bangun dan Kevin menggenggam tangannya.


"Sekali lagi, selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke Lima. Aku bahagia memilikimu," ucap Kevin.


Melika membalas pelukan Kevin. Keduanya saling memeluk erat, seolah tak ingin terpisahkan. Keduanya bersyukur bisa melewati Lima Tahun pernikahan mereka dengan bahagia. Meski sempat terjadi masalah diawal pernikahan, tetapi dari sanalah mereka belajar untuk memperbaiki segalanya dengan berusaha saling terbuka satu sama lain. Apapun masalahnya, keduanya akan mencoba menyelesaikan secara baik-baik. Tak semata-mata karena cinta yang mereka rasakan, melainkan juga demi Vino, putera kesayangan mereka.


Selesai.