
Halo, teman-teman semua. Sebelumnya, Author mau berikan info di sini. Mohon maaf, ya. Untuk besok Author nggak bisa update dulu, dikarenakan bayi gadis Author besok ulang tahun. Jadi, seharian Author mau nemenin dia😊 Update selanjutnya tanggal 6, ya.
Sehat selalu untuk teman-teman. Jangan lupa tarik napas dulu sebelum baca😊🤗 Enjoy guys😊🤗
******
"Mas kok bawa nama Jian?" ucap Melika.
Kevin melihat Melika sekilas.
"Perasaanmu saja," ucap Kevin.
"Lho ... Mana mungkin aku salah dengar. Jelas sekali tadi Mas mengatakan, Mas bukanlah Jian. Aku nggak ngerti maksudnya" ucap Melika.
"Ya memang aku bukan Jian, kan? Aku adalah Kevin," ucap Kevin tersenyum tipis.
Melika menghela napas. Bercanda atau tidak, tetapi dia yakin Kevin menyebut nama Jian.
Sesampainya di rumah, Melika dan Kevin pergi ke kamar. Kevin tak mengatakan apapun dan langsung pergi menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, pikiran Kevin menjadi tak karuan.
"Jangan sampai diantara mereka terjadi sesuatu," ucap Kevin.
Selesai mandi, Kevin pergi menyuruh Melika mandi. Melika menurut, dia pun mandi.
Melika keluar dari kamar mandi begitu selesai mandi, dan tak melihat Kevin di dalam kamar.
"Kemana dia?" ucap Melika.
Melika memakai pakaiannya dan keluar dari kamar.
Melika mencari Kevin, ternyata Kevin ada di dekat kolam renang. Kevin duduk di depan laptopnya. Melika yang melihat itupun segera pergi ke dapur dan membuatkan minuman hangat untuk Kevin.
Selesai membuatnya, Melika menghampiri Kevin dan meletakan minuman itu di atas meja.
"Makasih, Mel," ucap Kevin.
"Sama-sama, Mas. Mas sedang apa?" tanya Melika saat duduk di dekat Kevin.
"Ngecek beberapa laporan," ucap Kevin.
"Oh, jangan lupa istirahat. Jangan terlalu lelah," ucap Melika.
"Iya, aku selesaikan dulu ini," ucap Kevin.
Melika memilih menemani Kevin bekerja. Di kamar pun dia tak tahu mau melakukan apa.
"Kenapa kamu nggak makan malam saja? Kenapa justru duduk di sini?" tanya Kevin.
"Mas saja nggak makan, bagaimana mungkin aku akan makan?" ucap Melika.
"Kenapa begitu? Kamu tahu aku sedang bekerja. Makanlah duluan, aku nanti," ucap Kevin.
"Aku makan malam sama Mas, masa makan sendirian," ucap Melika.
"Lho, bukannya berdua? Anak kita?" ucap Kevin tersenyum.
Melika tersenyum dan pergi menuju meja makan. Dia mengambil makanan dan membawanya ke kolam renang.
"Ayo, Mas. Makan," ucap Melika menyendok nasi dan lauknya. Dia mendekatkannya ke mulut Kevin.
"Kamu saja dulu, yang di dalam sana sudah menunggu makan malamnya," ucap Kevin.
Melika tersenyum dan memakannya. Dia kembali menyendok makanan dan menyodorkannya ke mulut Kevin. Kevin pun langsung memakannya.
"Mel!"
"Ya," sahut Melika.
"Apa Jian pernah melakukan sesuatu untukmu?" tanya Kevin.
"Maksud Mas?" Melika merasa bingung mendengar pertanyaan Kevin.
"Ya, sesuatu yang spesial untukmu. Apapun itu," ucap Kevin.
"Hm ..." Melika berpikir sejenak. Dia tersenyum teringat sesuatu.
Kevin melihat Melika penuh curiga.
"Jian pernah membuka pikiranku tentang bagaimana aku akhirnya bisa sedikit memahami seorang pria," ucap Melika.
"Maksudnya? Memangnya apa yang dia lakukan? Kenapa sepertinya berkesan sekali untukmu?" tanya Kevin semakin curiga.
"Sebetulnya, banyak kebaikannya. Hanya satu yang berkesan. Dan aku sangat berterimakasih padanya," ucap Melika.
"Langsung saja ke intinya, jangan bertele-tele," ucap Kevin penasaran.
"Aku pernah cerita bukan? Saat Jian bercerita tentang masa lalunya dan aku menjadi kembali pada Mas, itu yang dia lakukan," ucap Melika.
"Hm ... Itu saja? Apa se-berkesan itu?" tanya Kevin.
"Tentu saja. Bayangkan, jika saat itu Jian tak bercerita. Aku mungkin masih marah pada Mas. Kita mungkin nggak akan duduk bersama seperti sekarang ini," ucap Melika.
Kevin tersenyum tipis.
"Bagaimana denganku? Apa ada yang berkesan dari apa yang aku lakukan untukmu?" tanya Kevin.
"Hm ... Nggak ada," ucap Melika.
Kevin terdiam. Dia kecewa mendengar jawaban Melika. Bagaimana bisa tak ada satupun yang berkesan bagi Melika atas apa yang dia lakukan selama ini? Apakah cintanya untuk Melika tak berkesan? Pikirnya.
"Nggak ada yang nggak berkesan. Semuanya berkesan bagi aku, Mas. Apapun itu, sekecil apapun yang Mas lakukan untukku, semuanya berarti bagiku. Dan aku bersyukur bisa menikah dengan Mas. Pria yang mau menerimaku apa adanya. Apalah aku ini? Cantik nggak. Kaya juga nggak, aku seksi? Hm ... Iya aku seksi. Mungkin, hanya itu kelebihanku. Seksi di semua sisi," ucap Melika membanggakan dirinya sambil tersenyum.
Kevin terkekeh mendengar ucapan Melika.
"Sini!" Kevin beranjak dari duduknya dan memeluk Melika yang tengah duduk. Kevin mencium kepala Melika.
"Aku nggak tahu sih, takdir awalnya kejam bagiku. Tapi, ternyata Tuhan punya rencana lain untukku. Aku sekarang bahagia. Terimakasih, Mel," ucap Kevin.
Melika memeluk Kevin. Dia pun bahagia, bahkan saking bahagianya dia tak dapat mengatakan apapun lagi. Tuhan begitu baik padanya, hidupnya tak pernah kekurangan kebahagiaan. Menikah dan di cintai oleh Kevin adalah sebuah keberuntungan bagi Melika. Di mana setiap pria tampan, bahkan mapan dalam segi ekonomi, biasanya akan memilih wanita yang sederajat dengannya. Namun, benar kata Kevin, Tuhan punya rencana lain. Manusia tak pernah tahu takdir hidupnya akan seperti apa di masa depan.
Beberapa bulan berlalu.
Kevin tengah melakukan perjalanan bisnis di luar negeri. Tepatnya di negara Singapura.
Pukul sepuluh pagi waktu Singapura. Kevin tengah melakukan sebuah meeting. Dia tengah menjelaskan sebuah proyek terbarunya di depan beberapa client yang ada di ruang meeting tersebut.
Di sisi lain ...
Melika baru saja bangun dari tidurnya. Hari itu, tumben sekali dirinya bangun siang. Dia sudah tak lagi bekerja, karena kehamilannya kini sudah memasuki trimester ketiga dan tinggal menunggu beberapa hari lagi melahirkan.
Melika mencoba mengumpulkan nyawanya, kepalanya terasa berat. Dia pergi ke kamar mandi, bersiap untuk mandi.
Melika membuka seluruh pakaiannya, dia mengambil botol sabun cair dan memulai acara mandinya. Dia melemparkan begitu saja botol sabun tersebut tanpa memeriksa putaran tutupnya belum kembali dia tutup.
Botol itu pun tak tersimpan di tempatnya kembali, melainkan jatuh ke lantai. Namun, Melika berpikir akan mengambilnya nanti saja setelah dia selesai mandi.
Selesai membilas tubuhnya, Melika mengambil bathroobs dan memakainya. Dia pun akan keluar dari kamar mandi.
Brugh ...
"Aahhhh ... Melika memekik ketika tak sengaja menginjak tumpahan sabun cair yang sebelumnya terjatuh. Dia terpeleset dan terhempas ke lantai dengan cukup keras.
Pandangan Melika kabur, dia melihat banyak sekali darah yang mengalir dari pangkal pahanya.
"Bi ...!" Melika mencoba berteriak ditengah mulai lemasnya tubuhnya karena melihat begitu banyaknya darah yang keluar. Dia tak memikirkan apapun, selain bayi di dalam perutnya.
"Bi ...!" Melika terus memanggil bibi tetapi tak ada respon apapun.
Rumah itu begitu besar, jauh dari kamar asisten rumah tangga ataupun ke dapur. Belum lagi kamar Melika yang luas memungkinkan teriakannya tak terdengar oleh bibi.
Melika menyeret tubuhnya menuju keluar kamar mandi. Bathroobs yang dia pakai sudah tak lagi berwarna putih, bathroobs itu tampak merah karena darah yang terus mengalir. Melika tak boleh tumbang, dia tak boleh tak sadarkan diri, dia harus segera keluar dari kamar agar ada yang menolongnya. Bukan dirinya, melainkan dia memikirkan bayinya. Jangan sampai bayinya kenapa-kenapa karena dia takan mampu membayangkannya.
Melika masih terus menyeret tubuhnya, perutnya begitu besar dan banyaknya darah yang keluar membuat tenaganya semakin melemah.
"Bi ..." Melika berteriak tertahan, suaranya mulai lemah. Dia tak punya cukup banyak tenaga lagi.
"Ya ampun, Bu ...!" bibi berteriak melihat Melika terkapar lemah di depan pintu kamarnya. Bibi semakin terkejut melihat banyak darah di lantai.
"Tolong, Bi!" itu kata terakhir, sebelum akhirnya Melika tak sadarkan diri.