
Sesampainya di kantor Jian, Melika pergi menuju pantry. Dia mengambil mangkuk dan memakan lontong sayurnya. Sebelumnya dia sudah membuatkan minuman untuk Kevin. Dan kini Kevin menunggu Jian di ruangannya. Rencananya Kevin dan Jian akan pergi bersama menuju lokasi proyek. Tumben sekali mereka bisa pergi bersama. Jian sendiri adalah orang yang amat sibuk, dia bahkan jarang datang ke lokasi proyek.
Tak lama Jian masuk ke ruangannya. Dia sedikit terlambat, biasanya dia sudah berada di Kantor lebih dulu dari Melika.
"Oh, Pak Kevin! Anda sudah datang rupanya," ucap Jian.
Kevin beranjak dari duduknya dan menjabat tangan Jian.
"Saya belum lama sampai," ucap Kevin.
"Hm ... Saya bangun terlambat hari ini, jadi terlambat datang ke Kantor," ucap Jian.
"Tak apa, Bos tak kan masalah jika datang terlambat," ucap Kevin tersenyum.
"Ah bisa saja. Sayangnya Saya bukan orang yang suka menyiakan waktu," ucap Jian.
"Tentu saja, Saya percaya itu," ucap Kevin.
Ha-ha-ha ... Jian tertawa mendengar ucapan Kevin.
"Ngomong-ngomong, apa Melika tidak ke Kantor hari ini? Dia tak terlihat," ucap Jian.
"Ke Kantor. Tadi, di jalan sempat ada insiden sedikit," ucap Kevin.
"Benarkah? Apa yang terjadi?" tanya Jian penasaran.
"Bukan apa-apa, hanya saja karena permintaannya Saya sampai harus mengejar penjual lontong sayur," ucap Kevin terkekeh.
Kevin berpikir, sungguh konyol mengingat tadi pagi dia harus berlari mengejar penjual lontong sayur.
"Astaga! Bawaan bayi mungkin," ucap Jian.
"Ya, begitulah. Katanya kalau tidak dituruti bisa bahaya," ucap Kevin.
"Rumit ya menghadapi wanita hamil. Hanya proses menjadikannya hamil saja yang tak rumit," ucap Jian terkekeh.
Kevin pun tertawa. Ternyata Jian bisa bercanda juga.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Melika yang baru saja memasuki ruangan Jian.
"Bukan apa-apa," ucap Kevin.
Melika menjadi penasaran. Kevin dan Jian tampak seru berbincang. Melika bahkan lupa batasan sebagai atasan dan bawahan, dia bertanya seolah Jian adalah temannya.
"Mel, hari ini kamu di Kantor saja. Bantu Saya memeriksa beberapa proposal proyek kerja sama yang masuk dari beberapa perusahaan. Saya akan ke lokasi proyek hari ini. Saya ingin melihat sudah sejauh mana pengerjaannya," ucap Jian.
"Baik, Pak. Ngomong-ngomong, Mas Kevin juga, kan?" tanya Melika.
"Ya, kami pernah berjanji untuk ngopi bareng," ucap Jian tersenyum.
Melika tersenyum. Dia mengangguk.
Jian dan Kevin pergi menuju lokasi proyek. Sesampainya di sana. Tak lupa Kevin dan Jian memakai helm proyek terlebih dahulu. Mereka berjalan bersama melihat bangunan-bangunan rumah yang tengah dalam proses pengerjaan. Masih ada waktu beberapa bulan lagi hingga mencapai waktu yang ditargetkan.
Bangunan-bangunan itu nantinya akan menjadi rumah-rumah berlantai dua yang memiliki konsep mewah dan berada dilingkungan komplek yang berada di tengah kota. Nilai jual di sana termasuk tinggi, itu sebabnya Jian mau bekerja sama dengan Kevin karena melihat peluang yang besar. Bisnis tanpa melihat keuntungan adalah sesuatu yang mustahil. Pertama kali orang melihat peluang sukses dalam suatu bisnis. Itu sebabnya setiap kerja sama harus memiliki detail perencanaan yang baik, dan juga peluang besar tercapainya targeqt di dalamnya.
Sepanjang langkahnya sambil melihat-lihat sekitar lingkungan proyek, Kevin dan Jian tampak berbincang tentang masalah pekerjaan.
Waktu berlalu. Waktu sudah menunjukan jam makan siang.
Kevin dan Jian pergi menuju restoran. Mereka makan siang bersama.
Selesai makan siang, mereka lanjut berbincang. Hari itu keduanya sedang tak banyak pekerjaan. Meski banyak berkas kerja sama yang masuk ke Perusahaan Jian, tetapi Jian sudah mempercayakannya pada Melika. Jian mengakui kemampuan Melika, Melika pasti bisa memutuskan proyek kerja sama terbaik.
"Ngomong-ngomong, bagaimana Anda bisa bertemu Melika, sampai akhirnya bisa sampai menikah," tanya Jian.
"Dia dulu sekretaris Saya," ucap Kevin.
"Oh, ya? Lalu kalian saling jatuh cinta, dan akhirnya menikah?" tanya Jian.
"Ya, begitulah. Kita tak pernah tahu jalan hidup kita akan seperti apa ke depannya, Saya pun tak pernah menyangka bisa menikah dengan Melika," ucap Kevin.
Kevin tak mengatakan bahwa dia menikah karena keinginan sang papa. Nyatanya, Kevin memang sudah mulai mencintai Melika.
"Ya, ya. Jodoh tak ada yang tahu. Siapa tahu suatu saat nanti, Saya pun akan berjodoh dengan seseorang yang di luar dugaan Saya," ucap Jian.
"Memangnya kenapa?" tanya Jian.
"Melika kan Istri Saya," ucap Kevin tersenyum.
"Ha-ha-ha ... Anda ini bisa saja. Tentu saja Saya tidak suka bermain dengan milik orang lain. Percayalah, Melika pun takan mau pada Saya. Dia tahu betul siapa Saya," ucap Jian.
"Oh, ya? Anda Sendiri, berapa lama mengenal Melika?" tanya Kevin.
"Berapa lama, ya? Hm ... Saya tak ingat tepatnya kapan, yang jelas saat itu dia pun menjadi sekretaris Saya. Cukup lama juga," ucap Jian.
Kevin mengangguk.
"Anda beruntung mendapatkan Melika," ucap Jian.
"Kenapa begitu?" tanya Kevin.
"Melika itu pintar. Di balik sikapnya yang terkadang aneh, dia memiliki ide-ide brilian yang membuat Saya kagum," ucap Jian antusias.
"Karena itu Anda memintanya untuk kembali bekerja di perusahaan Anda," ucap Kevin tersenyum.
"Ya, dia juga menyenangkan. Dia juga pengertian," ucap Jian tersenyum.
Kevin mengerutkan dahinya mendengar ucapan terakhir Jian. Sedangkan Jian menjadi tak enak hati karena keceplosan bicara seperti itu.
"Bukan apa-apa, Saya tak ada maksud apa-apa. Percayalah," ucap Jian.
"Santai saja. Saya percaya, kalian takan pernah mengkhianati Saya," ucap Kevin.
Jian pun tersenyum.
Kevin berpikir, Jian seperti mengenal betul seperti apa Melika. Jian juga terkesan antusias saat menceritakan tentang Melika. Dan yang membuat Kevin sedikit terkejut, ternyata Jian adalah orang yang banyak bicara.
Selesai berbincang, Kevin dan Jian keluar dari restoran. Mereka berpisah dan kembali ke Kantor masing-masing.
Waktu sudah menunjukan jam pulang kantor.
Kevin menjemput Melika di Kantor Jian. Tak menunggu lama, Kevin kembali melajukan mobilnya menuju rumah setelah Melika masuk ke mobil.
Di perjalanan menuju rumah, Kevin tampak diam. Dia tak mengatakan apapun. Membuat Melika bingung, karena sebelumnya Kevin tak seperti itu.
"Mas!"
"Hm ..." Kevin tak menoleh ke arah Melika. Pandangannya fokus ke depan jalanan sambil mengemudi.
Tak seperti pagi tadi, kini Kevin mengemudikan mobilnya sendiri, tak memakai supir.
"Apa Mas baik-baik saja?" tanya Melika.
"Baik, seperti yang kamu lihat," ucap Kevin.
"Syukurlah. Aku kira Mas sariawan," ucap Melika.
Kevin melihat Melika sekilas.
"Habisnya diam saja," ucap Melika.
"Memangnya harus bagaimana? Aku sedang mengemudi," ucap Kevin.
"Biasanya juga Mas bicara," ucap Melika.
"Sedang tak ada topik pembahasan," ucap Kevin.
"Yang benar saja. Masa bicara dengan Istri harus menunggu adanya topik untuk dibicarakan," ucap Melika.
"Hm ... Aku tak suka basa-basi. Aku tak suka memanfaatkan situasi demi untuk mencapai keinginanku. Aku bukan orang seperti itu," ucap Kevin.
Melika merasa bingung mendengar ucapan Kevin. Entah apa maksud Kevin bicara seperti itu.
Aku bukan Jian, gumam Kevin.
"Apa?" Melika mengerutkan dahinya saat sekilas mendengar gumaman Kevin. Mengapa Kevin justru menyebut nama Jian? Pikirnya. Melika yakin, dia mendengar nama Jian disebut oleh Kevin.