My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 39



Kevin pergi ke Kantor setelah berbicara cukup banyak dengan sang papa.


Sementara Melika melangkahkan kakinya dengan lemas menuju kamar. Dia tak menyangka dirinya lah penyebab terjadinya masalah di perusahaan suaminya itu.


Melika menatap telapak tangannya, dia menelan air liurnya. Masih teringat saat tangannya itu mendorong dan menampar wajah Prischa.


"Apa aku salah? Aku marah saat itu," gumam Melika.


Melika tak menyangka tindakannya justru akan mendatangkan masalah besar untuk suaminya. Saat kejadian itu Melika benar-benar tak dapat menahan amarahnya sehingga dia pun berbuat kasar pada Prischa.


Melika mengambil ponselnya dan menghubungi sekretaris Kevin.


Melika meminta nomor kontak perusahaan AW Group pada sekretaris Kevin.


"Ini dengan siapa, ya?" tanya Karin.


"Saya Istrinya Mas Kevin," ucap Melika.


"Benarkah? Anda tidak berbohong, kan? Pak Kevin tidak pernah mengatakan memiliki istri," ucap Karin.


Melika menghela napas perlahan, sekretaris Kevin benar-benar tidak sopan.


"Saya istrinya Mas Kevin, saya Melika. Kamu bisa tanyakan kepada orang-orang Kantor, siapa saya sebenarnya?" ucap Melika dengan nada mulai kesal.


"Maafkan, saya. Meski anda istrinya Pak Kevin, tetapi saya tidak bisa memberikan kontak client pada anda jika anda tak memiliki alasan yang cukup kuat," ucap Karin.


Melika menghela napas kasar, sepertinya percuma bicara dengan Karin. Entah orang macam apa Karin ini, sepertinya dia terlalu profesional sehingga terlalu menjaga kerahasiaan perusahaan meski pada istri pemilik perusahaan itu sendiri.


Dengan kesal Melika menutup telepon itu.


"Terlalu over," gumam Melika.


Melika teringat akan Angga, kebetulan dia masih menyimpan nomor ponsel Angga.


Dia menekan layar panggilan untuk Angga dan tak lama Angga pun menjawab telepon Melika.


"Halo, Mel," ucap Angga.


"Halo, Pak Angga. Apa Bapak sibuk?" tanya Melika.


"Tidak. Ada apa, Mel?" tanya Angga.


Melika pun mengatakan apa maksud dia menelepon Angga, dia meminta nomor kontak perusahaan AW Group kepada Angga. Dan beruntunglah Angga mau memberikan kontaknya, bahkan mau membantu Melika untuk bicara pada sekretaris Prischa agar Prischa bersedia bertemu dengan Melika.


"Aku akan mengabari mu jika sudah ada kabar dari mereka," ucap Angga.


"Baiklah. Terimakasih, Pak. Dan, tolong jangan beritahu Mas Kevin tentang masalah ini," ucap Melika.


"Baiklah, kamu tenang saja," ucap Angga.


Melika pun menutup telepon itu.


Dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar, dia pamit pada papa Kevin untuk pulang ke rumah.


*******


Di sisi lain.


Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia benar-benar pusing memikirkan masalah perusahaannya.


Dia bingung harus melakukan apa lagi untuk membujuk Prischa. Dia tak mungkin menikahi Prischa, itu adalah suatu hal yang amat sangat mustahil. Dia tak akan sanggup menikahi dua wanita sekaligus, meski dia memiliki segalanya saat ini. Namun dia belum tentu bisa adil pada keduanya.


Kevin memarkirkan mobilnya di basemant, dan dengan lemas pergi menuju lift. Dia menekan tombol lantai di mana ruangannya berada.


Ting !


Pintu lift terbuka, dia pun bergegas menuju ruangannya.


"Maaf, Pak. Tadi ada telepon dari seorang wanita yang mengaku istri Bapak. Dia meminta agar saya menghubungi perusahaan AW Group, dan meminta waktu pada mereka untuk bertemu," ucap Karin.


Kevin mengerutkan dahinya.


"Melika, istri saya maksud kamu?" tanya Kevin.


"Benar, Pak. Namanya Melika, apa dia benar-benar istri Bapak?" tanya Karin.


"Iya, apa saja yang dia katakan?" tanya Kevin.


"Tidak ada, Pak. Hanya meminta saya untuk menghubungi perusahaan AW Group," ucap Karin.


"Lalu? Apa kamu mengiyakannya?" tanya Kevin.


"Tidak, maafkan saya. Saya awalnya ragu, karena itu saya menolak membantu istri Bapak. Karena, jika saya sampai salah memberikan informasi perusahaan kepada orang asing, tentu itu tidak baik untuk perusahaan," ucap Karin.


Kevin pun mengangguk.


"Tidak apa-apa, saya mengerti kamu hanya menjalankan tugasmu," ucap Kevin dan berlalu meninggalkan Karin.


Kevin memasuki ruangannya, dia kepikiran ucapan Karin tentang Melika.


"Apa Melika tahu sesuatu?" batin Kevin.


Kevin teringat saat dia bicara dengan sang papa. Di sana masih ada Melika, bisa jadi Melika memang mendengar percakapannya dengan sang papa.


Kevin mengambil ponselnya dan memanggil nomor Melika. Hanya terdengar nada sambung, Melika tak menjawab sampai panggilan itu berakhir.


Kevin tak ingin ambil pusing, dia meletakkan ponselnya di atas meja. Lagi pula Melika tak mendapatkan kontak perusahaan AW Group, jadi Melika tak akan mungkin bertemu dengan Prischa, pikirnya.


Kevin memejamkan matanya, dia menyandarkan kepalanya yang terasa berat di kursi kebesarannya.


Dia teringat saat pertama kali mendirikan perusahaan miliknya.


Dia memulai semuanya benar-benar dari titik terendah. Dari yang dia hanya bisa menyewa ruko kecil untuk di jadikan sebagai kantornya, sampai akhirnya dia bisa membeli unit berlantai dua di gedung perkantoran itu untuk dijadikan kantornya.


Jika dia sampai kehilangan kerjasama itu, sudah dapat di pastikan dia harus menjual kantornya untuk menutupi segala kekurangannya, dia juga kemungkinan akan menjual mobil bahkan bisa jadi menjual rumahnya agar semua hutang-hutang perusahannya pada perusahaan bahan-bahan properti dapat terbayarkan.


*******


Pukul enam sore.


Melika tengah bersiap, belum lama dia mendapatkan kabar dari Angga bahwa Prischa mau menemuinya di salah satu restauran di Jakarta Pusat tepat di jam makan malam.


Melika pun teringat saat Kevin mengatakan akan pulang terlambat, itu artinya dia memiliki cukup waktu untuk bertemu Prischa.


Melika bergegas melajukan mobilnya menuju restauran tersebut, dia tak ingin datang terlambat karena Angga mengatakan Prischa tak akan mau menemuinya jika sampai lewat dari jam makan malam.


Beberapa menit kemudian, karena jalanan cukup ramai malam itu akhirnya Melika sampai di restauran.


Dia belum melihat keberadaan Prischa, tentu saja karena waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


Melika pun duduk di kursi yang sebelumnya sudah di reservasi.


Sambil menunggu Prischa datang, dia memesan minuman terlebih dahulu.


Waktu pun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Itu artinya Melika sudah menunggu satu jam di sana.


"Kemana, sih, dia?" Melika mendengus kesal karena justru Prischa lah yang datang terlambat.


Mereka bahkan janjian bertemu jam tujuh malam.


"Ehheumm ..."


Seseorang berdehem, dan Melika kenal suara itu.


Dia mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara dan melihat Prischa tengah berdiri menatapnya.


"Katakan, waktumu lima menit. Aku sibuk," ucap Prischa sambil mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Melika.


Melika menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Dia bahkan sudah menunggu Prischa selama satu jam. Namun Prischa justru hanya memberinya waktu lima menit untuk bicara.


"Aku ingin membicarakan soal perusahaan," ucap Melika.


"Benarkah? Kenapa dengan perusahaan? Perusahaan siapa yang kamu maksud? Apa perusahaan suami tercinta mu yang sebentar lagi akan bangkrut itu?" Prischa tersenyum mengejek sambil menatap Melika, membuat Melika benar-benar kesal melihatnya. Namun sebisa mungkin dia mencoba meredam amarahnya, niatnya bukan untuk menghajar Prischa melainkan ingin bicara baik-baik pada Prischa.


"Tolong, aku serius. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak membatalkan kerjasama itu?" tanya Melika.


Prischa berpikir sejenak.


"Aku tidak yakin kamu akan menyetujuinya," ucap Prischa dengan santai.


"Katakan saja, apa itu?" tanya Melika.


"Ceraikan Kevin," ucap Prischa dengan santai.


Brak ..!


Entah wanita macam apa yang kini ada di hadapannya, tenaga Melika benar-benar kuat. Pikir Prischa.


"Baiklah. Karena, kamu tidak mau, dan waktumu sudah habis, maka aku akan pergi." Prischa bangun dari duduknya dan akan meninggalkan meja itu. Melika pun mencoba menghalangi langkah Prischa.


"Tolong Prischa, pikirkan lagi keputusanmu," ucap Melika.


"Minggir ..! Aku sibuk ..!" ucap Prischa dengan kesal.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu membatalkan keputusanmu," ucap Melika.


Prischa mendengus kesal, dia kesal pada Melika. Dia benar-benar tengah di kejar waktu dan harus pergi ke lokasi syutingnya.


"Dengar, ya. Aku ini orang sibuk, aku sibuk banyak pekerjaan. Aku tidak sepertimu yang hanya menumpang hidup pada Kevin ..!" ucap Prischa dengan geram.


Melika mengepalkan tangannya, dia sungguh tak terima dengan apa yang Prischa katakan.


Melika mengangkat tangannya dan akan menampar wajah Prischa.


"Tampar saja, maka tidak hanya perusahaan suamimu yang akan bangkrut. Kamu pun akan aku jebloskan ke penjara. Aku memiliki bukti rekaman saat kamu mendorong dan menamparku di basemant waktu itu," ancam Prischa.


Melika mengurungkan niatnya untuk menampar Prischa, sementara Prischa hanya terkekeh melihat Melika yang tak berdaya di hadapannya.


"Ingat ini, Melika ..! Aku akan tetap membatalkan kerjasama itu. Kecuali, jika kamu mau meninggalkan Kevin, maka aku tidak akan membatalkan kerjasama itu," ucap Prischa sambil menyunggingkan seringai liciknya.


"Batalkan saja kerjasama itu ..!" ucap seseorang dengan lantang.


Melika dan Prischa melihat ke arah orang itu, mereka terkejut karena Kevin dan Angga ada di sana.


Saat di kantor tadi, Angga datang ke ruangan Kevin dan memberitahukan bahwa Melika dan Prischa sedang bertemu di restauran.


Tadinya Angga memang tak ingin memberitahu Kevin. Namun dia menjadi cemas sendiri saat teringat ucapan Kevin waktu itu, saat dia mendengar bahwa Melika mendorong dan menampar wajah Prischa.


Karena itu, akhirnya Angga pun memberitahukan nya pada Kevin.


Kevin pun syok dan bergegas menyusul ke restauran bersama Angga.


Kevin melangkah mendekat ke arah Melika dan Prischa.


Dia menggenggam tangan Melika.


"Kamu tahu Prischa? Setelah aku pikir-pikir, aku setuju kerjasama kita di batalkan. Dengan begitu, aku tidak akan pernah berurusan denganmu lagi. Masalah perusahaan, aku pernah berjuang dari nol dan aku sukses mencapai titik sekarang. Tidak akan sulit untukku jika harus memulainya lagi dari nol. Lagi pula, istriku akan tetap tinggal bersamaku meski aku tak memiliki uang. Benar begitu, Sayang?" Melika menelan air liurnya. Jantungnya berdegup kencang mendengar Kevin memanggilnya sayang.


Prischa terkekeh mendengar ucapan Kevin. Sungguh ucapan Kevin tak masuk akal, mana ada wanita yang mau hidup susah tanpa uang. Pikirnya.


"Tentu saja, aku akan ada di samping mu apapun yang terjadi, Mas." Melika menatap Kevin dengan tatapan penuh keyakinan, membuat Kevin menyunggingkan senyum tipisnya.


Ada rasa lega mendengar ucapan Melika, meski dia sendiri tak tahu pasti apa dia bisa memulainya dari nol.


"Baiklah, terserah kalian. Kalian keras kepala, selamat kehilangan segalanya," ucap Prischa sambil tersenyum sinis.


Kevin mengepalkan tangannya, dia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Melika.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kevin.


"Iya, kenapa Mas melakukan itu? Kenapa Mas setuju begitu saja?" tanya Melika.


"Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang sudah menghina keluargaku," ucap Kevin.


"Aku akan mengirimkan berkas kerja sama kepada beberapa perusahaan kenalan ku, siapa tahu mereka mau bekerja sama denganku. Dan, proyek itu akan tetap berjalan," ucap Kevin.


"Aku akan mendukungmu," ucap Melika.


Kevin tersenyum dan memeluk Melika.


"Kita pulang?" tanya Kevin.


"Iya," ucap Melika.


"Ehheumm ... Kalau begitu, aku juga akan pulang," ucap Angga.


"Baiklah, hati-hati," ucap Kevin.


Mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


Di sepanjang perjalanan, Kevin hanya fokus mengemudi. Dia tak mengatakan apapun.


Sementara Melika berpikir, bagaimana caranya agar dia bisa membantu Kevin memecahkan masalah perusahaannya.


Melika teringat ucapan Kevin tadi di restauran, yang mana Kevin akan menawarkan proyek kerjasama itu pada kenalan bisnisnya.


Melika teringat akan mantan bosnya dulu. Sebelum dia bekerja di perusahaan Kevin, dia memang pernah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan Kevin.


"Aku akan mencobanya," batin Melika.


Melika adalah anak yang mudah bergaul di lingkungan pekerjaannya dulu, dia pun dekat dengan atasannya dulu karena posisinya adalah sekretaris.


Sesampainya di rumah.


Kevin langsung menuju meja kerjanya dan membuka laptopnya. Dia akan menyiapkan beberapa berkas untuk mengajukan kerja sama pada beberapa perusahaan yang dia kenal dan pernah bekerja sama dengannya.


Melika pun tak ingin diam saja, dia mengambil laptopnya dan membawanya menuju tempat tidur.


Kevin begitu fokus dengan apa yang dikerjakannya, sehingga tak menyadari apa yang tengah dilakukan Melika.


Waktu pun berlalu, Melika selesai lebih dulu dengan pekerjaannya. Dia pun menghampiri Kevin dan meminta Kevin untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.


"Tidur duluan saja, tidak usah menungguku," ucap Kevin.


Melika menghela napas dan menatap wajah lelah Kevin. Kevin terlalu memaksakan dirinya sendiri, Kevin bahkan sudah terlihat mengantuk.


Melika pun tak akan bisa tidur melihat suaminya justru tengah bekerja keras. Dia keluar dari kamar dan pergi menuju dapur.


Dia membuatkan kopi susu kesukaan Kevin dan membawanya ke kamar.


Dari kejauhan Kevin sudah mencium aroma kopi, dia pun melihat ke arah Melika yang baru saja memasuki kamar dan tengah memegang cangkir kopi.


"Apa itu untukku?" tanya Kevin.


Melika tersenyum dan mengangguk.


"Aku lihat Mas sepertinya mengantuk sekali, jadi aku buatkan kopi," ucap Melika.


"Makasih, ya." Kevin tersenyum dan menyesap kopi itu.


"Ouhhh ..." Kevin terkejut saat merasakan kopi itu ternyata masih sangat panas.


Dengan cepat Melika memegang wajah Kevin dan meniup pelan bibir Kevin yang terkena air panas.


Kevin tersenyum saat menghirup harumnya napas dari mulut Melika.


Dia jadi kepikiran ingin mengerjai Melika.


"Apa masih sakit?" tanya Melika.


Kevin mengangguk sambil memasang ekspresi kesakitan.


"Apa mau minum air dingin?" tanya Melika.


"Obatnya bukan itu," ucap Kevin.


"Jadi?" Melika menatap Kevin dengan bingung.


"Cium dia, maka dia akan langsung sembuh," ucap Kevin sambil memasang wajah memelas.


Melika berpikir sejenak.


"Dia siapa?" tanya Melika dengan bingung.


Kevin menghela napas lelah dan memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Melika.


"Cium dia, maka dia akan sembuh," ucap Kevin sambil menempelkan jar telunjuk di bibirnya.


Melika membulatkan matanya dan mendorong wajah Kevin.


"Ouhhh ,,, ya ampun. Kenapa aku di dorong, sih?" Kevin meringis memegangi kepalanya.


"Mesum, sih." Melika pun meninggalkan Kevin dan naik ke atas tempat tidur.


Sedangkan Kevin hanya terkekeh melihat tingkah Melika.


Dia menghela napas perlahan, dia merasa beruntung ada Melika di saat-saat sulitnya. Melika bisa menjadi penghibur untuknya.