
Dua hari kemudian.
Melika menyunggingkan senyum manisnya saat melihat Kevin begitu lahap memakan sarapan yang dia buat.
Berbeda dengan kemarin, kali ini Kevin tampak bersemangat.
"Apa Mas sedang bahagia?" tanya Melika.
Kevin menatap Melika dengan masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Heumm ..." Kevin berdehem dan menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa memangnya? Berbeda sekali dengan kemarin, Mas terlihat murung," ucap Melika.
"Ya, aku pikir, untuk apa terus murung? Jika aku berpikir positif, aku rasa masalahku akan cepat terselesaikan," ucap Kevin.
"Ya, baguslah. Setidaknya aku tidak melihat wajah murung Mas lagi," ucap Melika.
Kevin tersenyum dan mengangguk.
Melika tak sengaja melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Kevin, terlihat sudah jam tujuh lewat lima belas pagi.
"Sudah jam tujuh lima belas, Mas. Aku ambilkan tas kerja kamu dulu," ucap Melika dan akan bangun dari duduknya.
"Santai saja, aku akan pergi ke Kantor jam sembilan," ucap Kevin.
Brak ..!
"Apa?" Melika tak sengaja menggebrak meja karena terkejut mendengar ucapan Kevin.
"Kenapa? Kamu, kok, kayak yang kaget gitu?" tanya Kevin dengan bingung.
"Mas biasanya berangkat jam tujuh," ucap Melika.
"Iya. Tapi, jam sembilan nanti, aku akan bertemu dengan teman kuliah ku dulu. Dia punya teman yang memiliki perusahaan di bidang yang sama denganku. Dia akan mengajakku bertemu dengan temannya, itu," ucap Kevin.
"Tapi, Mas." Melika terdiam sejenak.
Dia teringat akan janjinya dengan Jian. Dia tidak bisa datang terlambat karena Jian orang yang tepat waktu.
Lagi pula, saat ini dia sangat membutuhkan Jian agar dapat membantu perusahaan Kevin. Jika kesan pertama saja sudah tidak baik, dia takut Jian justru akan kecewa dan tak akan tertarik dengan proyek yang dia tawarkan.
"Oh, ya, Mas. Aku akan ke rumah Mama," ucap Melika.
Melika mencoba mencari alasan yang tepat agar bisa pergi ke perusahaan Jian dengan tepat waktu.
"Baiklah, kita pergi bareng saja, nanti," ucap Kevin.
Melika menghela napas, dia tidak mungkin pergi bersama Kevin.
"Aku bisa pergi sendiri, Mas. Lagi pula, Mama minta ditemani belanja ke Mall," ucap Melika.
"Begitu kah? kapan perginya?" tanya Kevin.
"Sekarang, Mas," ucap Melika.
Kevin mengerutkan dahinya.
"Mana ada Mall yang buka sepagi ini," ucap Kevin sambil menatap Melika dengan tatapan menyelidik.
Melika pun tersenyum kikuk.
"Kami ini wanita, tentu saja kami akan ngerumpi dulu," ucap Melika dengan sembarang.
"Ngerumpi?" Ngerumpiin apa, sih?" tanya Kevin sambil terkekeh.
"Pria tampan," ucap Melika yang lagi-lagi mengatakannya dengan sembarang.
Kevin menatap Melika dengan tatapan tajam.
Sementara Melika hanya terkekeh.
"Bercanda, Mas. Yang jelas, ya, ngerumpi ala wanita. Lelaki tidak boleh tahu," ucap Melika.
Kevin menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, pergi saja," ucap Kevin.
"Serius? Mas tidak apa-apa kalau aku tinggal?" tanya Melika.
"Iya, sampaikan salam ku untuk Mama," ucap Kevin.
"Siap !" Melika bergegas pergi menuju kamarnya.
"Ada-ada saja," gumam Kevin sambil tersenyum.
Beberapa menit berlalu, Melika pun turun dengan penampilan kasual dan tangannya menjinjing sebuah tas laptop.
"Aku pergi dulu, Mas." Melika bergegas menuju garasi. Namun belum sampai dia keluar dari rumah, Kevin memanggilnya.
"Kamu belanja pakai pakaian seperti itu? Dan, laptop itu, untuk apa? Kenapa bawa laptop segala?" tanya Kevin dengan bingung.
Baru kali ini dia melihat seseorang akan pergi berbelanja tetapi penampilannya seperti akan pergi bekerja.
Melika menelan air liurnya, dia tak menyadari apa yang dia lakukan.
"Eh, itu, Mas. Ini, si Melvin laptopnya rusak. Jadi, dia pinjam laptop aku," ucap Melika dengan canggung.
"Benarkah? Ya sudah, hati-hati di jalan," ucap Kevin.
Melika pun tersenyum dan bergegas menuju mobilnya.
"Huh, pagi ini aku sudah banyak berbohong. Maaf, Mas. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang," gumam Melika dan bergegas melajukan mobilnya menuju Kantor Jian.
Beberapa menit di perjalanan, Melika mendengus kesal karena jalanan pagi itu justru padat.
"Ya ampun, ada-ada saja. Pakai macet segala," gumam Melika.
Dia melihat jam tangannya, sepuluh menit lagi waktu menunjukkan pukul delapan.
"Aku bisa terlambat," gumam Melika.
Melika terlihat khawatir karena dia bisa saja terlambat datang ke Kantor Jian.
Melika mengerutkan dahinya saat melihat seseorang yang tak asing baginya.
Orang itu tengah duduk di dalam mobil sedan hitam di kursi penumpang dengan kaca mobilnya yang terbuka sedikit.
"Itu, kan, Pak Jian," gumam Melika.
Melika membuka kaca mobilnya, dia pun melihat ke arah Jian yang ternyata Jian pun tengah melihat ke arah mobilnya.
"Pak Jian ..! panggil Melika.
Jian mengerutkan dahinya.
"Melika," sahut Jian.
"Bapak kejebak macet juga?"
"Iya, jalanan pagi ini cukup padat," ucap Jian.
Tin tin ...
Melika tersentak saat mobil di belakangnya terus membunyikan klakson. Dia tak menyadari bahwa jalanan sudah cukup lengang.
"Duluan, Mel." Jian menutup kaca mobilnya dan mobilnya pun melaju terlebih dahulu.
Melika pun melajukan mobilnya kembali.
*******
Sesampainya di Kantor Jian, Melika bergegas turun dan menghampiri Jian yang baru turun dari mobil.
Jian terkekeh melihat Melika ngos-ngosan saat meminta kartu masuk pada resepsionis.
"Kamu kenapa? Habis maraton?" tanya Jian.
"Saya, kan, tidak ingin datang terlambat," ucap Melika.
Jian melihat jam tangannya.
"Kamu terlambat sepuluh menit," ucap Jian.
Melika melihat jam tangannya, dia pun menatap Jian.
"Bapak juga terlambat," ucap Melika.
"Kamu benar. Karena itu, saya memberikan toleransi," ucap Jian sambil tersenyum.
Mereka pun pergi bersama menuju unit kantor Jian.
Jian mengajak Melika ke ruangannya, dia meminta sekretaris nya membuatkan minuman untuk Melika.
"Duduklah dulu, saya mau ke kamar mandi," ucap Jian.
Melika mengangguk dan duduk di sofa.
"Ya ampun, beberapa bulan tidak ke sini, kangen juga." Melika menatap seisi ruangan yang tampak sama dengan saat dia bekerja dulu. Tidak ada yang berubah, aroma ruangan itupun Melika masih sangat mengenalnya.
Tak lama kemudian, sekretaris Jian memasuki ruangan dan meletakkan minuman untuk Melika dan kembalu keluar dari ruangan Jian.
Tak lama Jian keluar dari kamar mandi, dia menyemprot kan hand sanitizer ke tangannya dan duduk di samping Melika.
Melika pun menjelaskan segalanya. Dia menjelaskan dari mulai pertengkarannya dengan Prischa hingga menyebabkan proyek itu berhenti di tengah jalan.
Hahahaha ...
Melika mengerutkan dahinya saat mendengar Jian tertawa keras. Padahal tidak ada yang lucu menurutnya.
"Apa ada yang lucu?" tanya Melika dengan bingung.
"Ya. Menikah membuatmu jadi seorang pegulat," ucap Jian sambil masih terkekeh.
"Iisshhh ..." Melika menatap malas pada Jian.
Dia dan Jian memang sudah seperti teman, Jian pun tak keberatan dengan sikap Melika dulu yang terkadang tak menganggapnya sebagai atasannya, karena Melika memang terlihat cepat akrab anaknya.
"Itulah yang membuat saya malas untuk menikah. Entah akan ada berapa banyak wanita yang akan menjadi biang masalah di pernikahan saya, nanti," ucap Jian sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika wanita itu normal, tentu saja dia tidak akan mau mendekati suami orang lain. Dia akan punya harga diri," ucap Melika.
Jian tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, silahkan, Ibu Melika. Saya ingin mendengar keuntungan apa yang akan saya dapatkan jika saya bekerja sama dengan perusahaan anda?" tanya Jian.
Melika tersenyum dan membuka laptopnya. Dia pun menjelaskan detail proyek itu dan apa saja keuntungan yang akan Jian dapatkan.
Dengan cekatan Melika menjelaskannya, dia pun tak canggung lagi karena sudah pernah bekerja dengan Jian sebelumnya.
Jian mengangguk setelah selesai mendengar penjelasan dari Melika.
"Menarik." Jian bangun dari duduknya dan kembali ke kursi kebesarannya.
"Jadi, apa Bapak mau menerima kerjasama ini?" tanya Melika.
"Ya, saya rasa begitu," ucap Jian.
Melika tersenyum lebar. Dia benar-benar tak menyangka Jian mau bekerja sama dengan perusahaan Kevin.
"Siapkan saja berkas kerjasamanya, akan saya tanda tangani," ucap Jian.
Melika pun mengangguk cepat dengan senyum yang semakin lebar. Tak ada yang bisa dia katakan saat ini selain tersenyum lebar saking bahagianya. Akhirnya dia dapat membantu memecahkan masalah Kevin.
"Apa kamu tidak ingin menuntut wanita itu, dan perusahaannya?" tanya Jian.
"Saya tidak bisa melakukannya, dia itu licik sekali. Dia punya bukti rekaman cctv saat saya mendorong dan menamparnya," ucap Melika.
"Kamu masih saja polos," ucap Jian.
"Maksud Bapak?" tanya Melika dengan bingung.
"Kamu juga punya bukti saat wanita itu merayu suamimu. Ambil bukti itu, dan serahkan pada Polisi. Setelah itu, tuntutlah Perusahaannya," ucap Jian.
Melika terdiam sejenak.
Benar yang Jian katakan. Sebelum kejadian dia menampar Prischa juga pasti terekam kejadian saat Prischa merayu Kevin.
Melika menghela napas saat dia teringat Kevin yang menarik Prischa ke pelukannya saat itu.
Tentu saja jika Polisi melihat semua itu, dia akan menganggap apa yang terjadi bukanlah karena Prischa menggodanya, melainkan karena Kevin pun menginginkannya. Meski pada kenyataannya maksud Kevin bukanlah karena menanggapi keinginan konyol Prischa.
"Aku tetap tidak bisa," ucap Melika.
"Kalau begitu, tuntut saja Perusahaannya. Mereka terbukti melanggar perjanjian kerjasama," ucap Jian.
Melika kembali menghela napas. Jian memang tidak mengerti maksudnya.
"Saya bisa membantumu dan memberikan keadilan untuk perusahaan suamimu," ucap Jian.
"Dengan cara apa?" tanya Melika.
"Dengan cara apa, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Karena, saya yang akan melakukannya. Kamu cukup melakukan sesuatu untuk saya. Anggap saja sebagai kerjasama yang menguntungkan," ucap Jian.
"Apa itu?" tanya Melika.
"Bekerjalah kembali di Perusahaan saya," pinta Jian.
"Apa? Tapi, kenapa? Bapak, kan, sudah memiliki sekretaris," ucap Melika.
"Menjadi asisten pribadiku," ucap Jian dengan santai.
Brak ..!
"Apa Bapak bercanda?" Melika terkejut dan tak sengaja menggebrak meja, membuat Jian sampai terkejut dibuatnya.
"Ya ampun, tidak usah terkejut begitu," ucap Jian sambil menatap malas pada Melika.
Melika benar-benar tidak berubah, dia masih senang menggebrak meja.
"Bagaimana saya tidak terkejut? Saya tahu betul bekerja menjadi asisten pribadi Bapak, itu, berarti saya juga harus memenuhi kebutuhan biologis Bapak," ucap Melika.
Melika ingat betul saat dia masih menjadi sekretaris Jian. Saat itu Jian memiliki asisten pribadi yang tak hanya menjadi asisten pribadi saja. Melainkan juga harus memenuhi kebutuhan biologis Jian. Melika bahkan pernah memeregoki Jian dan asisten pribadinya dulu tengah bercinta di dalam ruangannya.
"Apa saya menyuruh kamu melakukannya? Saya bahkan tidak mengatakan apapun. Saya hanya memintamu menjadi asisten pribadi saya, karena saya bosan dengan wanita-wanita itu. Mereka selalu saja mengejar saya," ucap Jian dengan kesal.
Dia tak habis pikir Melika akan mengatakan semua itu. Meski dia brengsek, tidak mungkin dia meminta istri orang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
"Maksud Bapak bagaimana? Saya benar-benar tidak mengerti," ucap Melika.
"Ya, selain jadi asisten pribadi saya, kamu juga akan menjadi bodyguard saya. Kamu akan menjaga saya dari wanita-wanita itu," ucap Jian.
"Tapi, saya tidak ada bakat menjadi bodyguard. Seharusnya Bapak mencari bodyguard pria," ucap Melika.
"Kamu memiliki bakat itu. Buktinya, kamu berhasil memberikan pelajaran pada mantan kekasih suamimu, itu. Lagi pula, pria sejati tidak akan memukul seorang wanita. Tetapi, jika kamu yang menjadi bodyguard saya, kamu bisa memukul mereka jika mereka terus keras kepala," ucap Jian sambil terkekeh.
Dia sudah membayangkan jika Melika menjadi asisten pribadinya, sudah pasti wanita-wanita yang mengejarnya akan ketakutan saat melihat Melika.
"Saya bisa berakhir di penjara kalau begitu caranya," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.
Lagi-lagi Jian terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Mantan sekretaris nya masih saja begitu naif.
"Ada saya, saya yang akan menjamin kamu," ucap Jian.
"Saya tidak bisa, Pak." Melika menjawab dengan tegas.
"Baiklah. Tapi, pikirkan lagi. Wanita itu mencoba menghancurkan suamimu, apa kamu sebagai Istri tidak ingin memberikan keadilan untuk suamimu?" ucap Jian.
Melika menghela napas, dia mengepalkan tangannya saat teringat Kevin kesulitan karena ulah Prischa.
"Baiklah, saya akan pikirkan," ucap Melika.
"Saya beri waktu dua hari, sekalian kamu bawa berkas kerjasamanya yang akan saya tanda tangani," ucap Jian.
"Baiklah."
Melika pun pamit setelah urusannya selesai.
Dia melajukan mobilnya sambil terus memikirkan ucapan Jian, dia ingin memberikan keadilan untuk Kevin. Namun, apa mungkin Kevin akan mengizinkannya bekerja? Pikirnya.
********
Di sebuah Restauran.
Kevin menghela napas lelah saat lagi-lagi berkas kerjasamanya di tolak.
Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi. Dia tidak mungkin membiarkan perusahaannya hancur begitu saja.
"Maaf, Vin. Aku tidak bisa membantu banyak," ucap Deri, teman kuliahnya dulu.
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah membantuku sampai sejauh ini," ucap Kevin sambil mencoba menyunggingkan senyumnya.
"Setelah ini, apa rencana mu?" tanya Deri.
"Sepertinya, aku akan menjual seluruh aset milikku," ucap Kevin.
"Ya Tuhan, apa harus sampai seperti itu?" tanya Deri.
"Ya. Jika tidak, aku akan masuk penjara," ucap Kevin.
Kevin tak bisa membayangkan jika dia harus berakhir di dalam penjara. Bagaimana pun perusahaannya tidak akan sanggup membayar semua hutang. Kevin bahkan bisa memperkirakan tak hanya perusahaannya saja yang lenyap, melainkan rumah dan seluruh asetnya bisa habis.
"Aku turut prihatin, Vin. Semoga masalah mu akan cepat mendapatkan jalan keluarnya," ucap Deri.
Kevin tersenyum dan mengangguk. Dia pun kembali ke Kantornya.
********
Pukul enam sore.
Kevin memasuki rumah dengan langkah lemas. Tubuhnya tak lelah. namun pikirannya benar-benar lelah. Kepalanya bahkan terasa sangat sakit. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tak ada Melika di sana.
Dia pun pergi menuju kamarnya, terlihat Melika tengah duduk di kursi kerja miliknya sambil matanya terfokus pada laptop.
Melika tak menyadari kehadiran Kevin, membuat Kevin penasaran dengan apa yang tengah Melika kerjakan.
"Kamu ngapain?" tanya Kevin.
Melika tersentak dan melihat ke arah Kevin. Dia bergegas menghampiri Kevin dan menarik Kevin duduk berhadapan dengan terhalang meja kerjanya.
"Aku ada kabar baik untuk Mas," ucap Melika.
Kevin mengerutkan dahinya, dia merasa bingung melihat Melika terlihat begitu bahagia.