
Melika merasa canggung ketika semua orang menatapnya, ah sungguh dia benar-benar merasa malu.
"Maaf, Saya ke toilet sebentar," ucap Melika.
Ketiga orang itu masih tampak diam. Jian pun tersenyum pada client-nya dan meminta maaf atas ketidak sopanan Melika.
"Sudahlah, membahas dia bukanlah hal penting. Kita lanjutkan saja meeting-nya," ucap client.
Jian pun melanjutkan meeting-nya.
Di toilet, Melika tampak menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Perutnya benar-benar merasa tak enak membuatnya semakin yakin bahwa dia tengah hamil. Pasalnya, dia pun melihat hal yang sama ketika sang mama mengandung Melvin. Ketika itu sang mama pun merasakan mual dan mengidam.
Melika mencuci mulutnya dan kembali menghampiri Jian dan client-nya. Dia meminta maaf atas ketidak sopanannya tadi. Semua itu terjadi di luar dugaannya.
Selesai meeting, Jian tak mengatakan apapun. Mereka sampai di kantor dengan saling diam membuat Melika merasa tak enak hati. Jian pasti marah padanya karena kejadian di restoran tadi.
"Pak!"
"Maafkan Saya atas kejadian tadi," ucap Melika merasa bersalah.
Jian masih tetap diam.
"Akhir-akhir ini Saya memang sering merasakan mual, dan itu tanpa disengaja," ucap Melika.
"Lain kali, jangan diulangi. Sungguh, Saya tidak menyukainya," ucap Jian.
"Ya, Saya akan berusaha untuk itu," ucap Melika.
Jian pun hanya diam dan tak menjawab lagi ucapan Melika. Jian pergi ke ruangan pribadinya, entah apa yang Jian pikirkan. Masa iya masih memikirkan kejadian di restoran, Melika bahkan sudah meminta maaf.
Waktu berlalu, jam pulang kantor pun tiba.
Melika bergegas pulang, dia tak sabar ingin mencoba alat tes kehamilan itu, sayangnya dia harus menunggu besok pagi. Rasanya, ingin sekali melakukannya sekarang.
Sesampainya di rumah, Melika tak menemukan Kevin, sepertinya Kevin belum sampai di rumah. Seharian itu pun Melika dan Kevin tak saling berkomunikasi, keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Melika memasuki kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lelah. Tak lama Kevin memasuki kamar dan mencari keberadaan Melika. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, Kevin pun berpikir Melika tengah mandi.
Beberapa saat kemudian Melika keluar dari kamar mandi dan tersenyum pada Kevin.
"Aku mau mandi, ya. Lelah sekali," ucap Kevin. Melika mengangguk dan memakai pakaiannya.
Waktu pun berlalu.
Selesai makan malam, Melika pergi menuju kamar dan merebahkan tubuhnya. Kevin pun merasa cemas, karena jam masih menunjukan pukul delapan malam dan Melika sudah berbaring di tempat tidur.
"Aku tidur duluan, ya, Mas. Aku mengantuk," ucap Melika.
"Ya sudah, tidurlah," ucap Kevin.
Melika pun terlelap. Dia sengaja tidur lebih awal, dia tak sabar menunggu besok pagi.
Keesokan paginya.
Melika bangun lebih pagi dari biasanya. Dia memasuki kamar mandi dengan membawa beberapa alat tes kehamilan yang dibelinya kemarin.
Setelah mengeluarkan urinnya, Melika mencoba alat itu. Satu menint menunggu hanya ada garis satu merah di alat tersebut.
"Ah, negatif," ucap Melika sedih.
Jika dia tak hamil, lalu penyakit apa yang dialaminya selama beberapa hari ini?
Melika pun tak sabar, dan mengambil alat kedua, dia pun mencobanya. Hasilnya sama, bergaris merah satu.
Tersisa satu alat lagi, dan dia pun kembali mencobanya. Dia berpikir, alat itu bermasalah sehingga efeknya selalu negatif.
Seletah mencobanya, ternyata sama. Hasilnya negatif.
Melika tersenyum kecil.
Melika meletakan sembarang alat-alat itu, dia tampak tak keberatan jika dirinya tidak hamil. Hanya saja, ada rasa sedih. Pikirannya ternyata salah.
Melika duduk di pinggir tempat tidur, dia memperhatikan Kevin yang masih tidur pulas. Dia menghela napas dan keluar dari kamar. Dia akan menyiapkan sarapan untuk Kevin sambil mengalihkan pikirannya agar tak terlalu merasa sedih.
Namun, ketika menyiapkan sarapan, Melika merasakan mual ketika memasak telur ceplok untuk isian sandwich. Dia tak tahan dengan bau amisnya dan lagi-lagi terduduk lemas di kursi makan. Melika menangis, sungguh rasa mual itu menyiksanya. Dia tak masalah jika rasa mual itu diakibatkan dari adanya makhluk kecil di dalam rahimnya, nyatanya tak ada apapun di perutnya. Bahkan alat itu negatif.
Melika menjadi tak mengerti, penyakit apa yang dia alami sebenarnya? Apakah berbahaya? Bagaimana jika dia mati karena penyakit tersebut? Ah sungguh, Melika berpikir jauh sekali.
Melika tak tahan melanjutkannya, dan meminta bibi yang melanjutkan. Sedangkan dia pergi ke dekat kolam renang, mencoba menghirup udara shubuh itu yang masih terasa segar.
Sedangkan di kamar, Kevin terbangun dan pergi menuju kamar mandi. Melika mungkin turun ke bawah lebih dulu pikirnya. Sambil setengah mengantuk, Kevin memejamkan matanya sambil membuang air kecil. Begitu selesai, dia mencuci tangannya di wahtafel. Namun, matanya menangkap tiga buah benda kecil.
Ya, itu alat tes kehamilan yang Melika pakai tadi. Kevin mengambil satu persatu alat itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Kenapa ada alat seperti ini di sini? batin Kevin.
Kevin teringat pada Melika, dia pun kemudian teringat beberapa hari ini Melika merasakan mual.
"Ya ampun!" Kevin sontak terkejut dan berlari menuju keluar kamar, rasa kantuk seketika hilang. Dia berlari cepat sekali mencari keberadaan Melika. Bibi yang melihat pun tampak bingung karena Kevin berlari sambil tak hentinya tersenyum.
"Astaga!" Melika terkejut saat tiba-tiba Kevin memeluknya dari belakang.
Kevin mencium kepala belakang Melika berkali-kali, membuat Melika merasa bingung. Semalaman mimpi apa suaminya itu sehingga seperti mendapatkan undian saja?
"Kamu hamil, kenapa nggak bilang aku?" tanya Kevin.
Melika mengerutkan dahinya.
"Kenapa Mas bilang gitu?" tanya Melika heran.
"Ini milikmu bukan? Aku menemukannya di kamar mandi. Dan aku mengerti, tanda garis merah dua seperti ini tandanya wanita sedang mengandung," ucap Kevin sambil menunjukan ketiga alat tes kehamilan yang tadi Melika pakai.
Melika sontak terkejut dan mengambil ketiga alat itu, dia memperhatikan dengan seksama. Sungguh ajaib, alat itu bergaris dua semua.
"Bukankah tadi hasilnya negatif?" gumam Melika dan terdengar oleh Kevin.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin heran.
"Tadi, pas aku coba. Alat ini negatif, Mas. Kenapa sekarang positif? Tapi tunggu, tanda garis keduanya terlihat samar, bahkan di ketiga alat ini. Apa benar aku hamil?" ucap Melika bingung.
"Ha? Bisa saja ini sebuah keajaiban dari Tuhan? Tuhan bisa merubah apapun bukan? Lagipula, bukankah akhir-akhir ini kamu merasakan hal yang aneh?" ucap Kevin.
Melika terdiam dan bergegas masuk ke rumah, dia menghampiri bibi dan menunjukan alat tersebut. Bibi tersenyum dan mengucapkan selama atas kehamilan Melika. Tak lama Kevin pun menyusul Melika.
"Apa benar Saya hamil, Bi? Kenapa garis keduanya terlihat samar?" tanya Melika bingung.
"Itu bisa jadi, karena bisa jadi kehamilan ibu masih sangat muda. Dan juga, ini Saya yakin ibu hamil, atau jika ingin lebih jelas, ibu periksa ke Dokter saja," ucap bibi.
"Kita akan ke Dokter hari ini, kita akan cek," ucap Kevin.
"Tapi, Mas. Aku kerja," ucap Melika.
"Aku akan bicara pada Jian," ucap Kevin.
Waktu pun berlalu.
Sesuai rencana tadi pagi, Kevin dan Melika benar-benar pergi ke Dokter.
Dokter meminta Melika berbaring di atas brankas dan menyentuh perut bagian bawah Melika. Tak jelas terasa, tetapi terdapat gumpalan kecil. Dokter pun mengoleskan gel di perut Melika. Gel yang biasa di pakai sebelum melakukan USG.
Dokter mulai memakai alat USG dan menempelkannya di perut Melika. Terlihat di layar monitor, ada bulatan kecil sebesar biji kacang. Kecil sekali. Dokter pun menunjuknya pada Melika dan Kevin.
"Selamat ya, Bu. Untuk kehamilannya," ucap Dokter.
"MAS ..." Melika pun histeris mendengar ucapan Dokter, membuat semua yang ada di dalam ruang periksa itu menjadi panik melihat Melika.