
Kevin bergegas menuju mobilnya, dia berlari begitu mendengar kabar tentang Melika. Berkali-kali Melvin menghubungi tetapi tak dia respon.
Kevin memasuki mobilnya, dia segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
"Mas, gawat, Mas! Mbak Melika!' kata-kata Melvin itu terus terngiang di telinga Kevin. Membuat pikiran buruk memenuhi kepalanya.
"Jangan pergi, tolong! Jangan buat anak kita seperti diriku. Bahkan jika kamu pergi sekarang, dia takan pernah melihatmu!" ucap Kevin.
Kevin meneteskan air matanya, sungguh dia takut Melika akan meninggalkannya dan juga sang bayi. Kasihan sekali bayi sekecil itu jika tak mengenal ibunya.
Jalanan padat saat itu, Kevin benar-benar kesal dibuatnya. Bagaimana pun dia harus sampai dengan segera di Rumah Sakit.
Tin ... Tin ...
Berkali-kali Kevin membunyikan klakson. Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jantungnya berdetak tak karuan.
Mobilnya jalan merambat karena kepadatan tersebut, lambat sekali.
"Tunggu aku, Mel," ucap Kevin.
Dia tak dapat berhenti memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Melika. Sungguh, jangan sampai apa yang dia takutkan terjadi. Dia takan sanggup jika harus kehilangan belahan jiwanya. Dia tak ingin nasibnya sama seperti sang papa. Di mana sang papa harus kehilangan sang istri, kehilangan belahan jiwanya, kehilangan tempat berbagi, kehilangan tempat keluh kesahnya. Mungkin, sang papa terlihat tegar. Tapi, bagi seorang pria yang begitu mencintai pendamping hidupnya, kehilangan pendamping hidup adalah hal terberat dalam hidup.
Kevin sedikit bernapas lega saat jalanan mulai jalan normal hingga akhirnya dia sampai di Rumah Sakit.
Kevin keluar dari mobil dan berlari masuk ke Rumah Sakit. Dia bahkan lupa mengunci mobilnya dan hanya mencabut kuncinya saja. Di kepalanya hanya ada Melika saat ini.
Brak!
Semua orang yang ada di dalam ruang rawat Melika terkejut saat mendengar suara benturan pintu yang begitu kencang. Kevin tak sadar melakukannya karena terburu-buru bercampur cemas.
Di sana sudah banyak orang, diantaranya mertuanya dan sang papa. Melvin juga ada di sana.
Penampilan Kevin berantakan karena dia berlari saat di Kantornya juga ketika akan memasuki Rumah Sakit.
Jantung Kevin berdegup kencang melihat keadaan Melika. Di mana di atas brankar Melika terbaring sambil tersenyum samar menatapnya.
Kevin mendekati Melika. Tubuhnya gemetar. Mungkinkah dia salah lihat? Bukankah terdengar ketika Melvin bicara di telepon dengan nada bicara yang seolah sesuatu yang buruk telah terjadi pada Melika?
Kevin beralih melihat Melvin.
Bugh!
Kevin memukul wajah Melvin. Membuat Melvin tersungkur karena bogemannya.
"Kamu ini kenapa, Vin? Datang-datang langsung menghajar orang!" ucap papa.
Melika hanya terdiam melihat keributan itu, tubuhnya masih lemah. Dia bahkan tak sanggup untuk bangun.
"Dia yang akan menjawabnya! Dia sudah lancang berani menakutiku!" tegas Kevin sambil menunjuk Melvin yang tersungkur di lantai.
Melvin mencoba berdiri, sudut bibirnya sedikit berdarah karena robek akibat bogeman Kevin.
"Aku menakuti apa memangnya, Mas?" tanya Melvin bingung.
"Jangan pura-pura bodoh! Anak kecil berani sekali mencoba mempermainkanku! Kamu ingat, saat di telepon tadi kamu bicara apa? Kamu mengatakan ada hal gawat yang terjadi pada Melika!" geram Kevin.
Kevin emosi, marah, kesal pada Melvin. Melvin hampir saja membuatnya terserang penyakit jantung di usia yang tak sepantasnya.
"Lho ... Aku pikir, kan, Mbak Melika tadi kenapa-kenapa. Mama tahu sendiri tadi keadaan Mbak Melika bagaimana. Kalian juga suruh aku hubungin Mas Kevin di saat Mbak Melika kejang tadi. Selesai aku hubungin Mas Kevin, ternyata Mbak Melika sadar. Mas Kevin juga nggak jawab teleponku. Padahal aku mau kasih kabar kalau Mbak Melika sudah sadar," ucap Melvin tak terima disalahkan.
Melvin menjadi kesal karena disalahkan. Dia pun tak tahu apa-apa. Para orangtua itu yang menyuruhnya untuk menelepon Kevin untuk memberitahukan keadaan Melika dan agar Kevin cepat datang ke Rumah Sakit.
Saat Melvin menghubungi Kevin tadi, keadaan Melika memang membuat semua orang khawatir. Termasuk Melvin. Bagaimana tidak? Sebelum sadar, Melika mengalami kejang hebat. Semua tampak panik, tetapi tidak dengan Dokter yang jauh lebih paham keadaan pasiennya. Maklum saja, mereka tak memiliki pengalaman di Dunia medis.
Papa Kevin menceritakan keadaan Melika sebelumnya. Bahwa Melika memang membuat mereka khawatir sebelumnya. Beruntungnya, itu ternyata sesuatu yang baik karena akhirnya Melika sadar dari komanya. Terkadang, kejadian yang dianggap buruk bagi manusia, ternyata membawa dampak baik. Buktinya, meski sebelumnya Melika mengalami kejang, nyatanya kini Melika sudah sadar.
Kevin menghela napas panjang. Dia melihat Melika dan mendekati Melika.
"Kamu tahu, aku hampir meninggalkan Dunia ini. Aku pikir terjadi sesuatu denganmu," ucap Kevin.
Melika hanya tersenyum lemah.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Kevin sambil mengusap lembut kepala Melika.
Melvin keluar dari ruangan itu, perih sekali luka robek di sudut bibirnya. Dia pergi menuju toilet, melihat luka di bibirnya.
"Benar-benar gila, kuat banget pukulannya. Dia kenapa, sih? Main hajar saja. Kalau wajah gantengku rusak bagaimana? Bisa-bisa aku dijauhi gadis-gadis cantik!" kesal Melvin.
Melvin menghelan napas. Dia tersenyum. Meski dia kesal karena Kevin menghajarnya, tetapi dia pun bahagia melihat Melika sudah siuman.
Di ruang rawat.
Semua orang meninggalkan Melika bersama Kevin, mereka memberikan waktu untuk sepasang suami istri itu.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kevin.
Melika hanya mengangguk kecil. Dia belum bisa banyak bicara.
"Aku bahagia, sungguh," ucap Kevin tanpa sadar meneteskan air matanya. Rasanya, sebagai pria dia berubah menjadi sosok wanita, hatinya berubah menjadi berhati lembut dan gampang menangis layaknya seorang wanita.
Melika yang melihat Kevin menangis pun jadi ikut menangis. Baginya, adalah anugerah ketika dapat melihat dunia ini kembali, salah satunya melihat Kevin. Dia semakin menangis ketika teringat terakhir kali dia terjatuh di kamar mandi atas kecerobohannya. Bagaimana anakku? Pikirnya.
Kevin mengusap air mata Melika, dia mengambil ponselnya dan menunjukan sebuah foto pada Melika.
"Ini setelah beberapa saat dia lahir. Dia bayi yang lahir dari rahim mu, dia anak mu, anak kita," ucap Kevin tersenyum.
Melika semakin jadi menangis, dia melihat foto bayinya saat pertama kali lahir ke dunia ini. Di mana foto itu Kevin dapatkan dari sang papa yang ketika itu mengambil foto sang bayi setelah beberapa jam terlahir ke dunia.
"Kamu bahagia?" tanya Kevin.
Melika mengangguk kecil.
"Cepat sembuh, agar bisa bertemu dengannya dan memeluknya," ucap Kevin.
Melika mengangguk lemah, namun penuh antusias di hatinya. Hanya saja tubuhnya tak mendukungnya untuk menunjukkan respon berlebihan.
"Aku mencintaimu, Mel. Aku merindukanmu," ucap Kevin tersenyum.
Melika hanya dapat menatap Kevin dengan mata basahnya, di mana air mata kebahagiaan tak hentinya mengalir.
"Sstttt ... Sudah cukup menangisnya, setelah ini, tersenyumlah selalu," ucap Kevin tersenyum sambil terus mengusap air mata Melika yang membasahi pipi Melika.