
Minggu demi minggu berlalu.
Di rumah Kevin dan Melika tampak berkumpul semua keluarga, dan juga teman-teman terdekat Melika dan Kevin. Hari ini, tepat empat bulan kehamilan Melika.
Melika tampak cantik menggunakan gaun berwarna putih. Di sana juga ada beberapa anak yatim yang sengaja diundang untuk melengkapi acara empat bulanan tersebut.
Melika duduk di sebuah kursi dengan senyuman tak lepas tersungging di bibirnya. Dia begitu bahagia melihat semua orang berkumpul di rumahnya. Sementara Kevin tengah berbincang dengan Jerry.
"Istrimu hamil empat bulan, tapi terlihat hamil tujuh bulan," ucap Gerry.
"Iya, sepertinya anakku jagoan," ucap Kevin tersenyum.
"Dan dilihat-lihat, ya. Makin cantik saja," ucap Jerry terkekeh.
Kevin pun tersenyum dan terus memperhatikan Melika. Semenjak hamil, aura kecantikan Melika memang semakin terlihat, bahkan bertambah dua kali lipat. Dan yang membuat Kevin semakin gemas, istrinya itu terlihat semakin seksi. Meski tambah gemuk, tetapi Kevin justru tak melihat tubuh Melika semakin jelek, melainkan semakin seksi di matanya.
Kevin melihat Melika beranjak dari duduknya, dengan cepat dia menghampiri Melika.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Aku mau minum, Mas," ucap Melika.
"Ya sudah, akan aku ambilkan," ucap Kevin.
Kevin bergegas mengambilkan air minum untuk Melika. Dan tak lama acara pun dimulai.
Kevin dan Melika mengikuti satu perasatu prosesi tersebut. Kevin duduk di samping Melika dan tak hentinya menggenggam tangan Melika.
Setelah acara empat bulanan selesai, Kevin dan Melika membagikan ampao dan juga bingkisan pada anak-anak yatim yang dia undang. Setelah itu satu persatu tamu undangan pun mulai meninggalkan rumahnya.
Di sana masih tersisa keluarga Kevin dan Melika. Semuanya tampak asyik berbincang.
Di tengah perbincangan, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah Kevin. Tak lama bibi pun memberitahu Kevin bahwa ada seorang wanita dan seorang pria yang datang. Bibi memberitahu, wanita itu adalah wanita yang pernah datang ke rumah Kevin.
"Prischa?" Kevin dan Melika bersamaan dan melihat satu sama lain.
"Mau apa dia, Mas? Mas undang dia?" tanya Melika bingung.
"Tentu saja nggak. Ngapain aku harus ngundang dia?" ucap Kevin yang juga heran.
Kevin dan Melika pergi menuju keluar rumah. Dan ya, benar saja wanita itu Prischa.
Kevin dan Melika terlihat bingung, Prischa datang bersama pria yang mereka temui di Rumah Sakit saat itu. Yang pernah menghajar Kevin di Rumah Sakit.
"Prischa!" panggil Melika.
"Hai," Prischa menyapa Melika dan Kevin. Dia tersenyum seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka.
"Sedang ada acara, ya?" tanya Prischa.
"Hm ... Hari ini empat bulanan kehamilan Melika," ucap Kevin.
"Oh, ya? Selamat, ya." Prischa lagi-lagi tersenyum.
Pria itu mendekati Prischa dan merangkul bahu Prischa. Dia adalah Bryan.
"Selamat untuk kehamilan Istrimu," ucap Bryan tersenyum.
"Terimakasih. Ada urusan apa kalian datang ke sini?" tanya Kevin curiga.
Prischa membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop. Dia memberikannya pada Kevin.
"Apa ini?" tanya Kevin.
"Kami akan menikah. Itu undangan pernikahanku dengan Bryan," ucap Prischa.
Kevin dan Melika saling tatap. Benarkah Prischa akan menikah? Pikirnya.
Kevin memberikan undangan itu pada Melika, dan Melika membukanya.
Benar, di dalam undangan itu tertulis nama Prischa dan Bryan.
"Satu minggu dari sekarang?" ucap Melika.
"Ya, aku harap kalian datang," ucap Prischa.
"Hm ... Akan kami usahakan." Kevin merangkul Melika dan tersenyum.
"Aku harap juga begitu. Kalian harus turut menyaksikan kebahagiaan kami," ucap Bryan tersenyum melihat Prischa.
"Ya sudah, kami permisi. Masih banyak yang harus kami urus. Sekali lagi selamat untuk kehamilan Istrimu," ucap Prischa.
Prischa dan Bryan akhirnya pergi dari rumah Kevin. Sementara Kevin dan Melika masuk kembali ke rumah.
"Itu Prischa, Vin?" tanya sang papa. Sang papa terlihat memperhatikan keluar, di mana mobil Prischa sudah tak lagi terlihat.
"Ya, dia mengundangku dan Melika datang ke acara pernikahannya," ucap Kevin.
"Hm ... Papa pikir, mereka juga akan mengundang Papa," ucap papa Kevin.
"Biarkan saja, kalau diundang datang. Kalau tidak, sebaiknya Papa istirahat di rumah. Jangan terlalu lelah, jagalah kesehatan Papa," ucap Kevin.
"Ya, tentu saja." sang papa tersenyum. Kevin memang seperti itu, meski anak pria tetapi Kevin selalu memperhatikannya.
*****
Hari sudah semakin malam. Rumah Kevin tampak sepi, semua keluarga sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini Melika dan Kevin tengah berada di dalam kamar. Setelah seharian ini mereka sibuk dengan acara empat bulanan kehamilan Melika, Melika pun memutuskan untuk istirahat. Melika memijat kakinya yang terasa pegal. Meski dia lebih banyak duduk, tetap saja sesekali dia berdiri dan mengakibatkan kelelahan.
Kevin masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, dia keluar dan melihat Melika masih memijat kakinya.
"Apa masih sakit?" tanya Kevin.
"Iya, pegal," ucap Melika.
Kevin mengambil minyak kayu putih, dan mengoleskannya di kaki Melika. Dia memijat kaki Melika.
"Berbaring saja!" pinta Kevin.
Melika pun berbaring dan begitu menikmati pijatan Kevin.
"Mas pintar pijet juga," ucap Melika tersenyum.
"Aku multitalent, bisa apa saja. Jangankan pijet, buktinya membuatmu berbadan dua saja aku sanggup," ucap Kevin terkekeh.
Melika ikut terkekeh mendengar ucapan Kevin. Tak lama dia tertidur dan Kevin menghentikan pijatannya. Kevin menyelimuti Melika dan mencium dahi juga perut Melika yang mulai terlihat menonjol. Melika memang gemuk, tetapi perutnya rata sebelum hamil. Dan kini mulai terlihat gendutan.
Kevin menyimpan minyak kayu putihnya, dan terdengar dering telepon. Di sana ada nama Jian. Kevin langsung menjawab telepon Jian.
'*Halo, Pak Kevin.' sapa Jian.
'Ya, Halo. Pak Jian? Ada apa, Pak? Telepon malam-malam, apa ada masalah di proyek?" tanya Kevin.
'Tidak, Saya menelpon, karena Saya tak bisa datang ke acara empat bulanan Melika tadi siang. Harap maklum, Saya benar-benar sibuk hari ini. Saya pun, menyayangkan. Jika saja tak sibuk, Saya pasti akan datang,' ucap Jian.
'Saya mengerti, Anda sangat sibuk. Tidak usah dipikirkan,' ucap Kevin.
'Ya, tolonglah keluar. Saya mengantar bingkisan untuk Melika. Semoga dia menyukainya. Tidak apa-apa, ya, orangnya tidak datang, bingkisannya saja yang datang.' Jian terkekeh setelah itu.
'Wah, merepotkan Anda kalau begitu,' ucap Kevin.
'Tentu saja tidak, Saya senang,' ucap Jian.
'Baiklah, Saya akan keluar. Terimakasih untuk bingkisannya,' ucap Kevin dan menutup teleponnya*.
Kevin bergegas keluar kamar dan pergi keluar rumah. Dia membuka pintu pagar rumahnya dan melihat sekeliling. Tak ada apapun di sana.
Tak lama, dari kejuahan lampu mobil tampak menyilaukan pandangannya. Mobil itu berhenti di depan rumahnya. Itu sebuah mobil pick-up yang bagian atasnya tertutup. Mobil itu biasa dipakai untuk mengantar barang.
Seorang supir keluar dari mobil, dan menghampiri Kevin.
"Dengan Pak Kevin Bramasta? Suaminya Bu Melika?" tanya supir itu.
"Ya," ucap Kevin.
"Ini Saya mengantar barang dari Pak Jian, untuk Ibu Melika," ucap supir.
"Iya, Jian sudah memberitahu Saya," ucap Kevin.
Supir itu membuka pintu belakang pick-up dan mengeluarkan beberapa bingkisan kado tak terlalu besar.
Kevin mengambilnya, dan akan masuk ke rumah.
"Yang ini, mau dibawa langsung ke dalam, Pak?"
Kevin melihat ke arah orang itu, dan betapa terkejutnya dia melihat kini supir itu tengah mengangkat barang yang cukup besar dengan dibantu olah temannya.