My Lovely Fat Wife

My Lovely Fat Wife
Bab 30



Malam hari.


Kevin memasuki kediaman sang papa, siang tadi dia mendapatkan kabar dari Melika bahwa sang papa memintanya untuk menginap.


Dia melihat sekeliling rumah dan tak menemukan siapapun.


Dia pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata sudah pukul delapan tiga puluh malam.


"Pantas sudah sepi, papa pasti sudah istirahat." batin Kevin.


Kevin bergegas menuju kamarnya, dia melihat sekeliling kamar namun tak ada Melika di dalam kamar.


Pandangannya melihat ke arah pintu balkon yang terbuka, dia pun mendekati pintu balkon.


Kevin membulatkan matanya saat melihat Melika yang tengah berolah raga malam dengan lari cukup kencang di atas treadmill miliknya, dan yang membuat Kevin terkejut karena Melika hanya memakai tanktop berwarna hitam dengan celana legging selutut yang menampakkan lekuk tubuh besarnya. Melika bertubuh besar, namun dia tetap memiliki lekukan. Seketika Kevin jadi teringat pada apa yang dia lakukan bersama Melika kemarin malam, dia pun bergegas mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendeknya, setelah itu dia menghampiri Melika yang masih saja sibuk dengan olah raga malamnya.


"Ehheumm," dehem Kevin sambil menyandarkan punggungnya di pintu balkon.


Melika melihat ke arah Kevin dan tersenyum, dia pun turun dari atas treadmill dan menghampiri Kevin.


"Mas kapan pulang?" tanya Melika.


"Belum lama, kamu lagi ngapain, sih?" Kevin menatap Melika dengan tatapan penuh selidik, pasalnya selama tinggal bersama di rumahnya, baru kali ini dia melihat Melika berolah raga.


"Olah raga, Mas," ucap Melika.


"Olah raganya kenapa maksa begitu, sih? Pelan-pelan saja." Kevin melangkah menuju treadmill nya dan mulai berlari dengan pelan.


"Seperti ini, agar napas kamu juga tidak cepat habis," ucap Kevin.


"Iya ya, pantas saja aku cepat ngos-ngosan," ucap Melika.


"Apa sekarang masih ngos-ngosan?" tanya Kevin.


Melika pun mengangguk.


"Apa mau aku kasih napas tambahan?" tanya Kevin.


"Memangnya bisa?" Melika menatap Kevin dengan tatapan bingung.


"Bisa saja." Kevin mendekati Melika dan akan mencium bibir Melika, namun Melika langsung menjauhkan wajahnya dari Kevin.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Kalau caranya seperti itu, yang ada aku semakin kehabisan napas." ucap Melika.


Kevin pun terkekeh dan mengusap wajahnya dengan gemas.


"Baiklah, lanjutkan. Aku akan duduk dan melihat di sini." Kevin pun duduk di kursi sambil memperhatikan Melika.


Melika pun naik kembali ke atas treadmill dan mulai berlari pelan.


"Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku melihat kamu olahraga," ucap Kevin.


"Iya, aku sudah lama enggak olah raga," ucap Melika.


"Lalu, kenapa sekarang berolahraga? Apa kamu sudah sadar bahwa olah raga itu penting?" Kevin tersenyum tipis menatap Melika.


"Memangnya aku koma, pakai dibilang sadar segala," ucap Melika.


"Ya, aku pikir begitu." ucap kevin sambil terkekeh melihat wajah cemberut Melika.


"Oh iya, aku tahu sekarang, kenapa kamu jadi senang berolahraga?" ucap Kevin sambil mendekati Melika.


Dia pun mematikan treadmill itu sehingga membuat Melika berhenti berlari.


"Kamu mau kuat saat melayani aku, kan?" bisik Kevin.


Melika membulatkan matanya.


Plak.


Tanpa sengaja Melika memukul lengan Kevin, membuat Kevin meringis kesakitan.


"Bukan karena itu," ucap Melika sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jadi, karena apa?" tanya Kevin.


"Tidak, memangnya salah kalau aku mau olahraga?" Melika melihat Kevin sekilas.


"Tidak juga, hanya saja aku merasa heran." ucap Kevin.


Saat Melika akan masuk ke dalam kamar, Kevin pun langsung menahan tangan Melika.


"Masih berkeringat tidak boleh mandi, biarkan keringatmu kering dulu, baru mandi." ucap Kevin.


Melika pun mengangguk dan mengambil handuk kecil lalu mengeringkan tubuhnya yang memang mengeluarkan banyak keringat.


"Aku juga mau mandi." ucap Kevin.


Melika mengerutkan dahi dan melihat Kevin dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Bukannya Mas sudah mandi, ya? Sudah ganti baju, kan?" ucap Melika.


"Aku hanya ganti baju, belum mandi," ucap Kevin.


"Ya sudah, mandi saja duluan," ucap Melika.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Kevin menatap Melika sambil tersenyum penuh arti.


"Mesum," ucap Melika.


"Apa? Kenapa aku dibilang mesum?" tanya Kevin dengan bingung.


"Ya, pasti Mas mau macam-macam." ucap Melika.


"Tidak, aku ingin mandi bersama, karena supaya aku bisa cepat-cepat makan malam, aku sudah lapar sejak tadi," ucap Kevin.


"Apa? Jadi, Mas belum makan?" Melika terkejut mendengar suaminya itu belum makan, tetapi hanya diam saja dan baru memberitahunya.


Kevin mengangguk sambil memasang wajah sok memelas.


"Baiklah, ayo kita mandi." ucap Melika sambil mulai masuk ke dalam kamar mandi.


Kevin pun terkekeh pelan, akhirnya dia bisa mengelabui istrinya itu.


Sebetulnya dia sudah makan malam, dia berbohong karena ingin mandi bersama Melika.


Kevin mengunci pintu kamar mandi begitu sudah ada di dalam kamar mandi, Melika pun mengerutkan dahi sambil menatap Kevin dengan penuh selidik.


"Kalau enggak dikunci, nanti ada yang masuk." ucap Kevin.


Melika pun tersenyum dan mengangguk.


"Mas mandi pakai shower, aku mau berendam sebentar." ucap Melika.


"Kenapa enggak berendam bersama saja?" tanya Kevin.


"Enggak muat bathtub nya." ucap Melika.


"Muat, Kok." ucap Kevin.


"Enggak muat, Mas. Dibilangin ngeyel." ucap Melika.


"Muat, serius." ucap Kevin tak mau kalah.


Melika menghela napas perlahan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, Mas , berendam saja. Aku mau langsung mandi di bawah shower." ucap Melika.


"Ya sudah, aku juga." ucap Kevin.


"Ya ampun, labil sekali Mas, ini." ucap Melika dengan mulai kesal melihat tingkah suaminya itu.


"Ayolah, kenapa kamu enggak peka, sih?" ucap Kevin dengan nada mulai kesal.


"Apanya?"


"Ya ampun, kemari lah ..!" ucap Kevin.


Melika pun mendekati Kevin dan Kevin langsung memeluk tubuh Melika.


"Kenapa kamu lambat sekali memahami maksud aku? Aku ingin melakukan yang semalam lagi." bisik Kevin.


Melika membulatkan matanya dan melepaskan pelukannya.


"Tapi, ini di kamar mandi, aku takut kepleset. Semalam saja Mas main kasar sekali," ucap Melika.


Kevin menghela napas agak kasar, Melika benar-benar tak bisa diajak romantis.


Sebetulnya Kevin hanya ingin bersikap romantis pada Melika, dia ingin melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan mandi bersama sebelum nantinya melakukan apa yang mereka lakukan semalam.