My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Farewell



Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir Luna bekerja di Pasific Exporia. Jika sebelumnya Elen khawatir renovasi kantor akan delay karena Luna absen selma tiga hari, maka hari ini dia menjadi orang yang paling membaga-banggakan Luna karena bisa bekerja cepat dan bagus. Tidak tanggung-tanggung semua kesalahan yang sempat ia komplain pada pihak Arbista bisa diselesaikan dengan baik oleh Luna.


Sesuai dengan rencana awal, mereka akan mengadakan syukuran kantor baru dengan seremonial pemotongan pita dan makan nasi tumpeng bersama. Luna yang tidak tahu akan ada acara seperti ini agak terkejut saat pagi hari datang ke kantor sudah dipenuhi hiasan bunga.


Pemotongan pita dilakukan oleh jajaran founder yaitu Kean, Gara dan Elen. Luna yang berdiri di dekat sana tidak kuasa manahan haru. Dulu ia sempat bersiteru dengan Mama karena Mama khawatir Luna hanya terobsesi menjadi seorang arsitektur interior, tapi Elio selalu bisa meyakinkan Mama bahwa menggambar bukan hanya sekedar hobi seperti menyanyi bagi Luna. Elio yakin adiknya bisa menghasilkan satu yang besar dengan goresan tangan kelak.


“Saya berterima kasih pada semua tim yang terlibat dalam project ini, terutama adik saya, Luna.” Semua staff tampak bingung saat Kean mengakui Luna sebagai adiknya.


“Ya… Luna adalah adik saya. Meskipun saya dan Luna tidak lahir dari rahim yang sama dan tidak mengalir darah yang sama, tapi kami dibesarkan oleh orang tua yang sama. Orang tua kandung Luna adalah orang tua saya dan Gara semenjak kami kehilangan kedua orang tua kandung, bahkan sebelum Luna lahir, saya sudah diasuh oleh mereka.”


Semua tampak mengangguk. Sebenarnya beberapa isu tak sedap sempat tercium oleh karyawan. Beberapa dari mereka sampai ada yang berfikir Luna dianggap anak emas karena Kean menyukainya. l


“Baiklah… Karena kita sudah punya kantor baru, berarti kita punya sudah punya rumah yang nyaman. Harusnya bekerja juga lebih semangat. Saya harap mimpi-mimpi kita membangun Word Class Company bisa segera terwujud, seiring dengan mimpi-mimpi kita terhadap pertanian Indonesia dan juga mimpi kalian semua dalam menyejahterakan keluarga.” Semua bertepuk tangan. Kemampuan speech Kean memang di atas rata-rata membuat orang memujinya.


Seharian Luna terlihat santai. Dari pagi sampai sore ia hanya membereskan barang-barang pribadi yang jumlahnya tidak seberapa. Elan yang duduk disamping Luna sampai salah fokus saat ia mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam satu box kecil.


“Wait… Kamu beneran nggak mau ke sini-ini lagi..?” Tanya Elen.


“Hehe… Ya kalau sempat main sih Mbak Elen. Tapi mungkin sesekali banget. Mulai hari Senin aku sudah kuliah dan semester ini aku ambil 24 SKS, jadi pasti waktunya sempit banget nanti.”


“Terus kenapa itu di bawa semua…? Kan Mas Kean udah bilang meja itu tetap akan diisi oleh kamu kalau kamu pengen main-main kesini.” Sanggah Elen.


“Nggak usah lah, Mbak. Ruangan jadi sempit kalau ada meja ini. Lagi pula kalau aku datang ke sini kan sebagai tamu, jadi duduknya di sofa itu nanti. Terus disajiin cemilan sama Mbak Elen. Hehe..” Canda Luna sambil cengengesan.


“Ck… Kamu ih.” Elen berdecak sebal sambil menggelengkan kepala. Kehadiran Luna sudah seperti sahabat beda usia untuknya.


Sudah pukul empat sore, Luna mulai mengirim pesan pada Elio. Semenjak kejadian Luna sakit, Elio tidak lagi mengizinkan Luna mengendari Bee ke kantor. Dia akan mengantar dan menjemput Luna setiap hari kecuali saat banyak pekerjaan, Elio akan meminta tolong Kean atau Gara mengntarkan istri kecilnya itu ke Elios Hotel. Kesempatan itu tidak akan disia-sialan oleh Kean karena bisa menjadi alasan bertemu dengan Viara.


“Eh… Farewell Luna kita kayak harus makan-makan deh.” Sorak Elen.


“Sure. Kita makan shabu-shabu aja. Gue lagi your pengen makan kuah tomyam.” Ucap Gara.


“Setujuuuu….” Elen paling bersemangat. Soal selera ntah kenapa ia dan Gara selalu sama.


“Aduh… Jangan deh, Mbak.” Tolak Luna cepat. Pengalaman mengajarkan Luna pulang larut akan membuat suaminya cemburu dan marah.


“Why…?” Tanya Gara.


“Hemmm…. Nggak usah lah, Mas. Udah kaya mau pisah lama aja. Kan aku nanti-nanti kesini lagi.” Tutur Luna memberi alasan.


“No worries, Adikku. Bukan berarti kalau farewell kamu nggak boleh kesini lagi. Just as a thank you. Come on lah.” Bujuk Gara. Luna terlihat ragu. Kean yang melirik Luna tergagap dipaksa oleh Elen dan Gara langsung tersenyum. Banyak berinteraksi dengan Elio membuat pria itu paham kalau adik iparnya memang sangat posesif pada Luna.


“Tenang aja. El biar aku yang urus.” Ucap Kean tiba-tiba.


“Aduuuh… Jangan Mas Kean. Please… Nggak usah.” Luna sampai mengatup tangannya memohon.


“Udah tenang aja. Aku kakakmu sekarang. Seharusnya El itu patuh sama kakak iparnya.” Kean mengambil posennya lalu mengetik beberapa kalimat diaplikasi whatsapp.


Luna yang mendapat desakan seperti itu hanya pasrah sambil menarik napas panjang. Alamat nanti malam akan menjadi horor kembali. Tidak lama satu notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Kean.


“Oke… Ayo berangkat.” Kean bangkit sambil mengrahkan ponselnya pada Luna. Satu pesan dari Elio mengatakan bahwa dia setuju dan menitipkan Luna pada Kean.


“Eh ini beneran…?” Luna mentap tidak percaya pada pesan itu sampai dia mendekatkan wajahnya pada ponsel Kean.


“Mau ditelfon aja biar kamu yakin…?”


“Ehehehe… Nggak perlu.” Ucap Luna.


“Kakak beneran izinin aku kan?”


Luna mengirim pesan pada Elio. Dia harus memastikan dulu semua akan baik-baik saja sebelum perang dunia terjadi.


“Iya…. Tapi nggak gratis ya. Kamu harus bayar.”


Satu pesan masuk dari Elio membuat Luna mengerutkan dahinya.


“Bayar gimana? Aku yang bayarin mereka makan gitu…?”


Pertanyaan polos Luna membuat Elio terbahak. Luna memang selalu saja membuat Elio tertawa.


“Bukan sama mereka, tapi sama aku. Malam ini aku jemput. Kita pulang ke hotel aja. Aku mau nyobain posisi baru. Tapi kamu yang kerja ya. Aku capek soalnya.”


“Astagfirullah. Sinting.” Luna tidak tahan mengumpat sampai langsung mematikan ponselnya. Kean, Gara dan Elen sampai terdiam menatap Luna bingung.


“Kenapa kamu…?” Tanya Gara.


“Ooh… Nggak Mas. Nggak apa-apa. Ada orang iseng yang kirim pesan.” Ucap Luna.


“Siapa…? Dia ganggu kamu…?” Tanya Kean layaknya Kakak posesif.


“Hemmm…” Luna mengangguk bingung.


“Lihat sini…!” Gara menjulurkan tangannya untuk melihat HP Luna.


“Eh… Nggak usah, Mas. Nggak penting.” Kilah Luna.


“Nggak bisa gitu. Aku nggak suka kamu digangguin orang. Mana HP nya. Biar aku kasih pelajaran orangnya.” Tegas Gara.


Luna menggeleng-gelengkan kepalanya ketakutan sambil menyembunyikan HPnya ke samping.


Saat Luna menyembunyikan HP nya, satu pesan kembali masuk dari Elio. Luna yang terkejut sampai menjatuhkan ponselnya dari tangan. Satu pesan pop up notifikasi terpampang nyata di layar ponsel. Kean, Gara dan Elen langsung ternganga membaca pesan tersebut.


“Kok nggak balas…? Berarti kamu siap ya aku minta yang di atas nanti malam. Baju dinas kamu udah aku siapin. Aku mau pasrah aja nunggu digoyang sama kamu.”


“Hadeuuh… Panas dingin gue bacanya.” Ucap Elen.


“Siyal… Cucunguk mesum banget. Heran gue bisa kalah start dari bocah ingusan kayak dia.” Keluh Gara.


“Inget ya… Kalau dia macam-macam sama kamu, telfon aku.” Titah Gara.


“Udah… Santai aja. Namanya juga suami istri. Luna lebih tau lah dari pada kita.” Timpal Kean.


Malu bukan main. Luna tidak menyangka hari terakhirnya bekerja, image Luna terjun bebas. Mau dijelaskan seperti apa juga tidak akan berarti apa-apa. Ternyata meskipun berusia paling muda di antara mereka, Luna satu-satunya yang sudah merasakan aktifitas panas.


“Kakaaaaaaak…. Ngeseliiiin…. Nggak bakal aku kasih jatah seminggu.”


...-[Bersambung]-...


Hai hai… Maaf ya baru nongol. Biasalah… Ekapektasi tak sesuai realita. Giliran pekerjaannya selesai badannya ngedropp.


Btw ada yang udah mampir cerita baru aku…?