
Sesaat sebelum restu yang katanya Mama dan Papa Mertua diterima Elio
...***...
Jika Renata dan Gilang sudah selesai memberi makan cacing-cacing di dalam perut mereka saat tadi Elio mengompres kepala benjol Luna, maka Elio dan Luna baru akan memulai sesi sarapan mereka kali ini.
Saat ini di depan Luna dan Elio sudah tersedia cheese burger daging rendah lemak, dengan roti gandum bertabur biji wijen. Di dalamnya terselip selada fresee, irisan bawang bombay merah dan beberapa potongan tomat. Burger terlihat menggiurkan setelah Elio menambahkan sedikit mayonnaise, saus tomat dan saus sambal di dalamnya.
Memandangnya saja membuat mata Luna berbinar-binar, apalagi aroma panggangan dagingnya menguap langsung membangkitkan selera. Gadis itu tidak sabar menyantap mahakarya tangan sang kakak. Tapi tunggu, sebelum makan, Luna akan mengabsen satu persatu kebutuhan makannya. Air putih sudah, pisau dan garpu sudah, serbet makan pun sudah. Ada satu yang belum, Susunya.
“Kakak, susuku?”
Pertanyaan yang harusnya biasa saja, tapi menjadi tidak bisa bagi Gilang dan Renata. Entah bagaimana fikiran mereka menjadi liar setelah kedua anaknya mengutarakan untuk sepakat menikah.
“Iyaaa… Sebentar aku ambilkan.” Jawab Elio sari arah dapur.
Renata dan Gilang akhirnya mengedikkan bahu seraya menghela nafasnya. Ternyata tidak seperti yang mereka fikirkan. Otak mereka saja yang tercemar.
Tidak butuh waktu lama, Elio datang membawa satu gelas susu UHT rasa vanilla, kesukaan Luna.
“Ini susumu.”
Elio letakkan gelas berisi susu sebelah priring Luna.
Lagi - lagi kata susu itu membuat Renata memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya otaknya perlu dicuci agar kembali suci.
“Makasih.” Ucap Luna tanpa melihat ke arah Elio Gadis itu tengah sibuk menuangkan saus sambal yang isinya nyaris habis pada burgernya.
“Susah ya?”
Luna mengagguk tanpa melihat ke arah Elio. Ia masih fokus mengeluarkan saus dari dalam botol kaca yang mungkin tinggal secuil jari itu. Tapi cukup membuat jiwa pantang ruginya meronta-ronta.
“Sini…”
Elio meraih botol saus itu dan membantu mengguncang-guncangnya agar saus segera turun ke mulut botol. Benar kata Luna, susah sekali mengeluarkannya. Ia pun kesal nyaris membanting botol itu.
“Lagian saus sambal tuh ditaronya di burger aja harusnya, kenapa sih harus dioles-oles dipiring segala, Kak.” Omel Luna melihat betapa cantiknya plating olesan saus sambal pada piring mereka. Kegiatan unfaedah menurutnya, terlebih saus itu seperti terbuang sia-sia di piring bekas makan mama dan papanya.
Pokoknya tidak mau rugi sedikit pun, Luna mengambil piring Renata dan mengoleskan jari telunjuk kanannya untuk mengambil olesan saus itu. Bagaikan melihat harta karun, matanya langsung berbinar melihat saus di jarinya.
“Sayang banget nih kalau dibuang.” Cicitnya. Luna langsung memasukkan telunjuk kanannya ke dalam mulut. Sudah tidak peduli dengan tatapan heran Mama dan Papanya.
“Nanti aku beli yang baru.” Ujar Elio yang masih berjuang sampai berkeringat. Sialnya jiwa mudanya tertantang mengeluarkan saus itu.
“Bagoos… Beli yang banyak…!” Ucap Luna cepat.
Piring renata sudah bersaih, selanjutnya Luna akan berpindah ke piring Gilang, sekali lagi ia oles telunjuknya pada saus yang ada pada pingguran piring itu, sampai tidak ada yang tersisa.
“Mau nggak?” Tanya Luna sambil mengarahkan telunjuknya di depan wajah Elio.
Elio menyeringitkan keningnya. Tapi mengingat perjuangannya mengeluarkan saus yang tersisa seupil tidaklah mudah, akhirnya tanpa pikir panjang Elio memasukkan jari telunjuk Luna dalam mulutnya. Puas juga ternyata. Hatinya lega.
Sekeli lagi mereka lupa ada Renata dan Gilang yang memperhatikan gerak gerik mereka.
Sarapan pagi penuh drama kehabisan saus sambal itu selesai. Luna si anak tomboi dan rapi mulai bersih-bersih dapur. Jangan bayangkan dia seperti gadis manis yang anggun saat membersihkan dapur.
“Kakak iiih… Kan aku udah bilang, taro lagi di tempatnya. Aku tu gak tau mana ketumbar mana merica. Apa coba bedanya.” Teriaknya pada Elio yang sibuk menonton kartun kucing biru dari negara sakura.
“Yang bulat sempurna merica, yang agak lonjong dan enteng itu ketumbar.” Balas Elio.
“Ini juga tepung… Bedanya apa lagi nih…?” Ada beberapa bungkus tepung yang ia tidak tau kenapa harus dipisah-pisah.
“Yang halus itu tepung terigu, yang agak kasar itu tepung beras. Yang partikelnya paling kecil itu pati jagung. Jangan digabung ya…!” Jelas Elio seperti memiliki ilmu pengetahuan bahan dasar pangan.
“Lain kali kita beli toples kaca deh Kak. Kita labelin nih bumbu-bumbu kamu. Pusing aku membersihkannya.” Terbesit ide cemerlang dari si anak OCD itu.
“Iya… Nanti kamu pilih aja di supermarket sekalian temenin aku belanja kebutuhan dapur.” Jawab Elio dengan suara yang terkesan malas-malasan
“Kapan?” Teriak Luna lagi. Padahal tidak teriak juga akan kedengaran. Apalagi apartemen itu tidak besar.
“Siang ini.” Jawab Elio singkat.
“Kan aku udah bilang ke Kakak dari kemaren kalau mau ke cafe hari ini. Aku janji sama Alea nyanyi di cafe Kakak jam sebelas siang.” Protes Luna sambil menghentikan aktifitas bersih-bersihnya.
“Iya… Habis kamu nyanyi aja kita ke supermarketnya.”
“Ya udah. Catat dulu mau beli apa aja disana. Aku males muter-muter supermarket kaya minggu kemaren.”
Elio mengambil ponselnya. Mencatat semua kebutuhannya. Sampai segala sabun dan shampoo pun ia masukkan dalam daftar belanja. Lalu dengan suara lantang ia bacakan daftar belanja itu pada Luna.
“Tambahin pembalut aku sama cairan pembersih kamar mandi. Kamar mandi kakak belum aku bersihin kemaren karena habis.” Teriak Luna.
“Okey, aku masukin.” Balas Elio.
“Udah itu aja? Ada lagi nggak?” Suara Elio memecahkan lamunannya.
“Kayanya udah. Tanya Mama sama Papa tuh. Mau mitip apa apa? Biasanya suka ribet.” Ucap si mulut cabe.
“Mama sama Papa mau nitip sesuatu?” Tanya Elio ramah.
Renata dan Gilang gelagapan. Tiba-tiba ditodong pertanyaan saat mereka tengah terperangah melihat anak kandung dan anak sang sahabat yang akrab.
“Eng… Enggak.” Jawab Renata terbata-bata.
“Nanti kalau butuh apa-apa telfon aja ya Ma. El pagi ini mau keluar sama Luna. Dia janji sama Lea manggung di cafe Elio. Hitung-hitung promosi gratis, kan temen Luna banyak Hehe. Siangnya kita mau ke supermarket Ma.”
“I…ya..” Renata yang biasanya banyak bicara, akhirnya bertransformasi pendiam.
Cukup lama Renata dan Gilang berdiskusi berbisik-bisik di meja makan. Entah apa yang mereka diskusikan tapi terlihat sangat serius, seperti sedang menyiasati sebuah perperangan besar.
Sedangkan Luna dan Elio membersihkan dirinya di kamar mandi masing-masing. Sepertinya agenda keduanya cukup padat hari Minggu ini.
Setelah keduanya tampak rapi, mereka berencana pamit untuk pergi.
“Ma, Pa… Kami berangkat ya.” Tangannya terulur untuk mencium punggung tangan Sang Mama. Tapi Renata tidak membalasnya.
“Elio, Luna sini dulu. Papa mau bicara.” Gilang sepertinya kembali ingin melakukan sidang paripurna.
“Mama sudah ikhlas.” Ucapnya membuat senyum Elio mengembang, sedangkan Luna biasa saja. Dia sudah memprediksi ini dari semalam.
“Papa juga setuju. Titip anak papa ya El.” Hati Elio bergetar. Entah kenapa kata-kata titip itu menjadi sakral untuknya. Rasanya ia punya tanggung jawab untuk membahagiakan si adik yang akan berganti status menjadi istrinya seumur hidup sampai ke akhiratnya.
“Alhamdulillah, Terima kasih Mama dan Papa Mertua.”
Krik… Krik… Krik…
“Tapi… Ada tapinya…”
Elio terkejut, tidak Luna, tidak Mama sama saja. Suka memberikan harapan disertai dengan kata ada tapinya.
“Tetap sering-sering ke Aussie ya. Atau mama nanti akan datang kesini. Kalian juga tetap harus kabari mama. Mama belum sanggup kehilangan kalian sebagai anak. Jangan mentang-mentang sudah menikah lupa sama kami.”
Elio semringah, hampir saja ia berfikir Renata meminta perpanjangan kontrak kebebasan bermain Luna dari 21 tahun menjadi 25 tahun. Bisa gila dia.
“Sampai kapan pun kami akan tetap jadi anak Mama dan Papa.” Ucap Elio tersenyum.
Sedangkan Luna tertunduk, entah untuk pertama kalinya ia ingin meraung. Sedih sekali. Bagaimana mungkin orang tua ternyata sesayang itu padanya. Tapi egonya terlalu tinggi, dia memilih diam saja. Takut dipecat dari ketua geng anti mewek-mewek club, fikirnya.
“Luna…”
“Hemmm…” Ia hanya berdehem, kepalapun masih ditekuk.
“Luna senang kan?” Tanya Gilang.
“Pastilah Pa…” Jawabnya cepat.
“Senang karena menikah dengan Elio atau senang karena bisa tinggal di Indonesia biar bisa main sama teman-teman?”
Ah… pilihan lagi, membuat kepalanya pusing saja.
“Aku… Aku… akan belajar untuk senang menikah dengan Kakak.”
Jawabnya mencari aman, seperti mempertegas bahwa dirinya senang karena tinggal di Indonesia dan bermain bersama teman-temannya bukan karena menikah dengan Elio.
“Masih belajar…? Jadi belum senang menikah dengan Elio?”
Sialnya Luna terjebak dengan jawabannya sendiri. Dibilang belum ya tidak juga, senanglah dapat El. Banyak gadis-gadis yang menitipkan bunga dan cokelat padanya dari dulu untuk sang kakak. Cukup kuat menjadi bukti Elio termasuk pria idaman. Tapi dibilang sudah rasanya dirinya belum mau mengakui itu.
Kembali pada pertanyaan papanya, kali ini Luna harus extra hati-hati dalam memberikan jawaban. Jangan sampai restu yang sudah di dalam genggaman lepas begitu saja, kemudian mengancam kelangsungan hidupnya di Indonesia. Tidak… Tidak… Dia tidak boleh gegabah. Luna akan mempersiapkan perangkap untuk menjerat sang papa agar percaya padanya.
“Papa tenang aja. Aku bakal cepat jatuh cinta sama kakak kok.” Luna mengangkat wajahnya, sambil menyeringai menampakkan deretan gigi putih miliknya.
“Kalau kakak gerak lambat, aku paksa dia buat jatuh cinta juga sama aku.” Sambungnya membuat Elio terkekeh.
“Nggak perlu Luna. Aku udah jatuh cinta sama kamu.”
“WHAAAT…?”
Lagi-lagi sialnya Luna masuk dalam perangkapnya sendiri.
...😂[BERSAMBUNG]😂...
Jangan lupa jejaknya yaa…
Pastikan cerita aneh ini masuk keranjang favoritmu ya. Pencet like terus tinggalkan komen sesuka hatimu. Kalau ada yang mau kasih kembang dan kopi boleh juga. Aku tuh gak bisa nolak orangnya. Eh…