
“Luna nggak apa-apa kan kalau nggak ikut perpisahan sekolah ke Jogja?” Renata memastikan sekali lagi bahwa putri kecilnya tidak terlalu kecewa dengan keputusannya.
Luna kecil yang masih berusia 11 tahun saat itu, menganggukkan kepala. Kedua matanya sudah cembung menampung bulir air yang siap tumpah kapan saja.
“Luna sabar ya, Sayang. Mama belum ada uang kalau sebanyak itu. Luna tahu kan, kakak harus mulai kuliah tahun ini, sedangkan tahun depan giliran Luna yang masuk SMP. Kita juga harus sewa apartemen yang lebih besar di Aussie. Semoga bulan depan mama udah ada rejeki, kita lihat papa sama kakak ke sana ya.” Renata kembali menyampaikan alasannya.
...***...
Luna tersenyum, kejadian sekian tahun silam kembali hadir dalam bayangan ya. Meskipun Luna sering kali mondar mandir ke luar negeri menemui sang papa, tapi dia hampir tidak pernah keluar dari kota Jakarta dan sekitarnya, termasuk Jogja.
Sudah menjelang malam, lampu kota Yogyakarta satu per satu mulai tampak menyala dari atas pesawat yang ditumpangi Luna dan Elio. Mereka mempercepat keberangkatan ke Jogja menjadi Jumat sore, karena tiba-tiba saja Sabtu pagi Elio dijadwalkan menghadiri rapat penting di Elios Hotel cabang Yogyakarta.
“Ladies and gentlemen, we are waiting for landing, please make sure your seat belt is securely fastened. Thank you.”
Pesawat siap mendarat, pramugari mulai memberitahu penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman masing-masing.
Luna yang masih setia dalam lamunannya, tiba-tiba dikejutkan saat tangan Elio terulur membantu memasangkan seat belt pada tubuhnya.
“Kamu ngelamunin apa?”
Luna hanya tersenyum tipis. Gadis itu tidak mau menjawab. Elio tidak perlu tahu bagaimana sang mama berusaha menyekolahkan kakaknya dulu.
“Nanti kita jalan-jalan di Jogja ya. Pasti kamu pingin jalan-jalan kan?” Tebak Elio.
“Kakak nggak sibuk?”
“Nggak. Cuma Sabtu pagi aja ada rapat sebentar. Se telah itu kita bisa jalan-jalan keliling Jogja. Aku pingin ngerasain pacaran kaya orang-orang. Kamu mau kan jadi pacar aku?”
Luna menempelkan punggung tangannya pada kening Elio. Panas. Pantas saja aneh.
...***...
Kedua calon pengantin ini berjalan menuju baggage claim area. Baik Elio maupun Luna tampak sibuk dengan ponsel pintar masing-masing. Luna langsung menelfon Renata untuk mengabari bahwa mereka sudah sampai di Jogja, sedangkan Elio mengatur penjemputannya oleh driver hotel miliknya.
“Iya. Mam… Luna tau. Luna nggak akan minta macam-macam sama Kakak kok.”
Renata berkali-kali memperingati Luna untuk mengurangi sifat manjanya selama di Jogja. Tidak boleh merepotkan Elio apa lagi Mbah Kung dan Mbah Uti.
“Udah dulu ya Mam. Koper Luna udah keliatan tuh. Assalamu’alaikum.” Tutup Luna sang langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam tas selempangnya.
Gadis itu masuk ke tengah kerumunan orang yang berkerumun di sisi conveyor yang sedang berputar. Saat tangannya meraih pegangan koper kuning miliknya, ternyata tangan Elio lebih dahulu menjangkau. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat, membuat jantung Elio berpacu sangat cepat. Kenapa Luna menjadi sangat cantik akhir-akhir ini..?
“Aku aja Kak…!” Ucap Luna menghentikan lamunan Elio.
Gadis itu mengangkat kopernya sendiri lalu menariknya ke arah stroli barang mereka. Setelah semua barang bawaan keluar dari bagasi, akhirnya mereka berjalan ke luar menuju pintu kedatangan penumpang.
Sudah ada Pak Saryono menunggu Luna dan Elio. Elio sudah sangat kenal dengan beliau karena sudah menjadi driver hotel puluhan tahun lalu. Usianya sudah tidak lagi muda, tapi soal bekerja beliau sangat cekatan dan bisa diandalkan. Nilai tambahnya Pak Saryono suka bergosip, jadi Elio bisa tau apa saja yang terjadi di hotel dari cerita Pak Sar, meskipun tentu tidak bisa dipercaya 100% kebenarannya.
“Selamat datang kembali di Jogja, Mas El.” Pria itu menyapa Elio seraya mengambil alih troli barang dan menariknya ke mobil. “Tumben datangnya tidak sama Pak Rian atau si chef cantik, Mas?” Tanya Pak Sar pada Elio.
“Kalau semua di sini, siapa yang jaga di sana?” Jawab El, sambil membukakan pintu penumpang untuk Luna.
“Yang ini lebih cantik, lebih imut Mas.” Bisik Pak Sar lagi namun masih dapat di dengar jelas oleh Luna.
“Iya… Setuju.” Jawab Elio.
Luna berdecak malas, ia memasang wajah tidak nyaman karena di merasa digosipkan oleh dua orang laki-laki itu.
“Saya duduk di belakang ya Pak Sar. Nggak pa pa kan?”
“Oh monggo… monggo…” Pak Sar tersenyum. Pasti dia tahu sang boss sedang melancarkan aksi pendekatan pada gadis yang baru pertama kali ia bawa ke sana.
“Luna, ini Pak Saryono. Beliau yang sering bantu aku disini.” Elio memperkenalkan Pak Sar pada Luna. “Ini Luna, Pak. Anaknya Mama Renata.”
Luna berusaha tersenyum. Gadis itu bingung, ternyata dulu dia pernah ke Jogja, tapi mungkin masih bayi sekali, jadi sudah lupa.
“Mau saya ceritain sesuatu nggak? Pasti kalian nggak percaya.”
“Tentang mama ya Pak?” Luna menebak pasti ini tentang aib mamanya yang suka ngamen di jalanan Jogja.
“Dulu Bu Renata sama Bu Riyana pernah liburan bareng kesini bawa keluarga masing-masing. Mba Luna masih kecil banget waktu itu, Mas El sudah SD. Lucunya dari pertama kali lihat Mba Luna, Mas El udah kesengsem sampai nggak mau kalau dipisahin.” Pak Saryono bercerita sambil menahan tawa.
“Masa sih Pak?” Luna menatap heran ke arah El.
“Iya… Bahkan sampai minta dinikahin saat itu juga. Haha…” Pak Saryono akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Terus?”
“Ya nggak mungkin dinikahin lah. Orang Mba Luna baru bisa merangkak, Mas El juga masih SD.”
“Oooh…” Luna akhirnya bernafas lega, dia fikir mereka sudah menikah dari bayi. Tapi mana mungkin?
“Tapi Mas El pantang menyerah. Dia milih mogok makan seharian. Akhirnya mau nggak mau di iyain deh sama bunda dan ayahnya.”
“Apaaa?” Luna langsung terpekik.
“Bohongan saja. Tapi sampai dibeliin beskap dan blangkon sama Pak Arkan. Mba Luna juga pakai baju adat jawa. Lucu banget. Foto-fotonya pasti masih ada di tempat si mbah.” Pak Saryono langsung terbahak-bahak meningat kelakuan Elio kecil yang ternayata sangat absurd.
Elio tersenyum. Umurnya sudah 7 tahun saat itu pasti masih sangat polos. Sedangkan Luna, jangan ditanya seberapa manyun mulutnya. Ternyata dari bayi dia sudah pernah menikah bohongan dengan Elio, hanya karena Elio tidak mau makan.
“Jadi malam ini mau nginap di hotel atau di tempat si mbah, Mas?”
“Kamu nyaman dimana?” El justru bertanya pada Luna.
“Terserah kakak aja. Aku ikut.”
“Ya udah tempat Mbah aja ya. Biar nanti kamu bisa langsung kenalan sama mbah aku.”
Luna mengangguk pasrah. Dimana saja buat Luna bukan masalah, dia pintar bergaul.
“Wah Mas El sama Mba Luna udah mau nikah beneran toh?” Tebak Pak Sar.
“Iya…”
“Nggak…”
Luna dan Elio saling lihat-lihatan, saling sembari kode, hanya mereka berdua yang tahu artinya.
“Yang benar yang mana?”
Tidak ada yang jawab, Elio dan Luna memilih sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Cie… Cie… Kok pada malu-malu gitu sih…?”
...😉-[Bersambung]-😉...
Nitizen : Kapan nikah sih mereka, thor?
Author : Kan udah tuh waktu bayik.
Nitizen : Elah… Nikah beneran thoor…
Author : Kok pada julid kaya tetangga sih? Suka tanya-tanya kapan nikah.