
Dua hari setelah kepulangan mereka dari Jogja, masih ada rasa sedih di hati Luna. Bayangan Mbah Uti yang sampai menangis saat ia berpamitan serta bayangan Mbah Kung yang menyeka sudut matanya yang basah, membuat kepulangannya ke Jakarta terasa berat.
“Gimana Lun, Technical layout nya udah lo review belum?” Satria mengambil lembaran kertas A3 yang ada di depan Luna.
“Kok belum lo cek sih? Ealah malah ngelamun.”
“Lunaaa…”
“Oooi Lunaaa…” Akhirnya Satria memilih menoyor kepala Luna agar segera terjaga dari lamunannya.
“Lo kenapa sih? Sakit tau…” Protes Luna.
“Eh Nyonyaaaah… Lo tu ngelamunin apaan sih?” Tanya Satria menahan kesal.
“Ini mau dikumpulin jam 3 ke Pak Cipto. Lo malah ngelamun. Review dong. Gue nggak ahli kalau udah bangun ruang gini.” Keluhnya.
“Eh iya… Sini mana kertasnya.” Luna langsung merebut kertas itu dan siapnya memang masih banyak yang salah.
“Lo kuliah ngapain aja sih Sat? Ini kenapa nggak nyambung garisnya. Kalau lo buka di adobe illustrator pasti masih berupa garis bukan gambar bangun.”
“Sini kasih gue macbook lo.” Luna menarik laptop Satria yang masih menyala dan langsung merevisi gambarnya.
“Kenapa nggak pake punya lo aja sih?” Ucap Satria.
“Lemot… Kaya lo payah.” Celetuk Luna sambil bercanda.
“Siyaal… Untung pinter. Kalau nggak udah gue ceburin danau kampus lo. Tau kan ada yang pernah mati bunuh diri di danau kampus.”
“Lagian kenapa nggak beli laptop baru sih? Punya Bokap diplomat, Nyokap dokter dan Abang punya cafe. Kurang apa coba?”
“Perhitungan banget.” Satria masih saja protes karena dari tadi tugas kelompoknya terkendala laptop Luna yang tiba-tiba saja nge-lag.
“Gue lagi nabung. Dikit lagi bisa beli kaya punya lo.”
“Orang tua gue baru aja beli apartment di Aussie pasti lagi seret duit. Kakak hemmm…” Luna lebih memilih tidak melanjutkan omongannya. Tidak mungkin dia mengatakan mereka bukan kakak adik.
“Kenapa kakak lo? Pelit ya kaya abang gue?”
“Dia… Dia masih butuh banyak duit kan baru buka cafe. Belum balik modal lah.”
“Secara perhitungan, BEP-nya masih Februari tahun depan.” Akhirnya Luna menemukan jawaban paling logis. Meskipun mau BEP-nya lima tahun lagi juga uang Elio tidak akan habis.
“Pengertian banget emang temen gue. Heran gue kenapa lu perpek ini. Si Mama ngidam apa dulu?”
Luna hanya memutar bola matanya. Malas menanggapi.
“Udah nih.”
“Perhitungan estimasi biaya udah gue kirim email barusan. Tinggal lu kasih cover terus kirim.”
Pastiin semua anggota kelompok ke-cc emailnya ya. Subject email harus sesuai format.” Luna meneguk es teh miliknya dan siap-siap berangkat pulang.
“Iya Nyaaah…” Satria langsung mengeksekusi sesuai perintah.
“Hehehe… Tengkyu ya. Gue harus balik duluan. Mau nemenin Kakak cari baju.” Pamitnya.
“Eh… Luna…”
“Apa?”
“Lo kalau ada masalah boleh banget loh cerita sama gue. Dari tadi lo ngelamun aja.”
“Enggak ada. Gue kepikiran sama Mbah aja. Kemaren dari Jogja, terus dia sedih pas gue pulang.”
“Oalah… Gue fikir soal Babang Presbem. Secara gue dapat kabar doi masih suka ngejar-ngejar lo.” Ucapnya sambil mencibir.
“Kemaren aja dia sampai nyamperin lo Teras Teduh. Dia kira lo weekend ini manggung lagi. Ternyata lo ke Jogja.” Satria cekikikan. Kabar Aries yang memang mengejar-ngejar Luna sudah meluas kemana-mana.
“Ngegosip aja lo. Pakai rok sana.” Ketus Luna.
Akhirnya Luna benar-benar meninggalkan cafentaria kampusnya. Setengah jam yang lalu ia sudah mengirim pesan pada Elio untuk minta dijemput di kampus karena Bee sedang dipinjam Alea untuk membeli perkakas praktikum ke Gramedia Margonda.
Jika kebanyakan orang melihat pria itu dengan kekaguman, Luna justru memilih menghindar. Sikap menghindar itu yang membuat Aries tertantang. Pria itu seperti menuntut jawaban paling logis dari Luna, kenapa ia tidak diterima masuk dalam circle pertemanan Luna yang harusnya sangat fleksibel menerima orang baru.
Jika dulu ia tidak punya alasan yang jelas untuk menolak orang-orang semacam Aries, maka sekarang harusnya Luna sudah bisa menjawab kalau dirinya akan menikah. Tapi sekali lagi apa dia sudah siap mengumumkan pernikahannya.
Terlalu banyak resiko yang mungkin dia terima saat semua orang tau dia menikah muda, dan Luna tidak siap untuk itu. Mungkin karena stigma menikah muda sangat identik dengan berbagai hal negatif. Bagi Luna impression is number one, dan dia amat menjaga prespektif orang lain terhadap dirinya.
“Yuk Dek…”
Si Ironman pun datang dengan mobil city car putihnya. Langsung saja Luna melompat masuk dan memasang seatbelt siap berangkat.
“Si kutu kinclong banget. Habis dimandiin ya Kak?” Luna mengoles jarinya pada dashboard mobil Elio yang ia panggil kutu itu. Benar saja tidak ada debu dan yang sudah berkilau. Aroma mobil juga lebih freh dan wangi.
“Iya dong… Jemput calon istri emang harus gitu.” Elio cengengesan.
“Ih apaan sih Kak..” Luna kembali sewot.
“Aku tadi ditelfon sama WO. Kita harus sudah fitting hari ini ya.”
“Terus sesuai yang aku info tadi, nikahnya jadi hari Jumat setelah sholat Jumat. Sekitar jam 2 siang lah.”
“Iya… Kok mendadak ganti gitu sih? Untung aku nggak ada kelas.” Keluh Luna.
“Iya… Jadwal KUA udah penuh kalau weekend. Apa lagi kita daftar nikah mepet.” Elio melirik Luna, ada hal lain yang ingin dia sampaikan.” Ucap Elio memberi penjelasan. Semoga saja Luna dapat menerima alasannya.
“Hemmm tapi nggak masalah juga sih. Jumat hari yang baik. Harapannya nikahnya juga lebih berkah.” Balas Luna dengan pandangan mata lurus ke depan. Ia masih malu harus berbicara seserius ini pada orang yang dari dulu sudah ia anggap kakaknya.
Elio tersenyum. Tangannya terulur mengusap rambut Luna. “Aamiin… Aku senang kamu udah bisa lebih wise menerima pernikahan ini.”
“Aku tu nggak pernah main-main ya. Cuma nggak diungkapin aja kaya Kakak.” Luna memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela.
“Iya… Kenapa gitu?” Tanya Elio penasaran.
“Nggak nyaman aja. Belum terbiasa.”
“Padahal kamu pinter banget bergaul. Aku fikir gampang buat kamu belajar mencair sama aku dengan status baru kita.” Gumam Elio.
“Kamu belum jatuh cinta ya sama aku?” Kali ini Elio bertanya lebih hati-hati.
“Aku sayang kok sama Kakak.” Ucap Luna lirih tapi sangat jelas terdengar.
Elio semringah. “Sayang? Beneran? Sebagai Kakak atau calon suami.” Tanya Elio antusias
“Ih… Udah ah…”
“Eh jawab dulu.” Paksa Elio.
“Nggak mau jawab…” Teriak Luna.
“Kenapa? Jangan malu dong.” Elio melirik ke arah Luna yang pura-pura tidur.
“Jawab Dek. Kamu pura-pura tidur kan?” Luna masih bungkam dengan mata terpejam, tapi mulutnya tersenyum.
“Ya udah… Aku anggap kamu sayang sama aku sebagai calon suami kamu. Calon suami yang keren dan tampan.” Elio memberi penekanan pada keren dan tampan.
Sepanjang jalan, Elio tersenyum senang. Ternyata satu sifat yang ia baru tahu dari Luna, gadis itu cukup tertutup soal perasaan. Cukup aneh memang mengingat kepribadiannya yang sanguinis dan cukup dinamis dalam bergaul.
“Maybe, sanguine and melancholy.” Gumam Elio. Bukan tanpa alasan, sifat Luna yang selalu memperhatikan hal yang rinci, terukur dan perfectionist, namun memiliki ambang stress yang rendah.
Kedepan pasti akan banyak tantangan yang mereka hadapi, apalagi Elio sadar ia memiliki kepribadian koleris dan pelegmatis. “Harusnya kita bisa melengkapi.” Ungkapnya cukup yakin sambil melihat Luna yang ternyata sudah menyelam di lautan mimpi.
...🤗-[Bersambung]-🤗...
Author : Itu udah dicepetin sehari nikahnya.
Nitizen : Nggak ngaruh, Thor.
Author : Ooh kalau gitu bulan depan aja ya mereka nikahnya. Aku telfonin Pak Soleh si petugas KUA neh.
Nitizen : Bubar…. Bubar… Author pundung.