My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Meminta Izin



Author POV


“NGGAK BOLEH…!”


“Kamu kan masih kuliah. Jangan aneh-aneh deh…!” Sesuai tebakan Luna, nada suara Elio langsung saja meninggi.


“Kakak… Jangan marah-marah dulu dong. Dengarkan aku bicara sampai selesai, baru memberikan keputusan.” Luna langsung cemberut.


Elio menghela nafas panjang. Mendengar nama Pasific Exporia saja dia langsung teringat aktivitas telfon Luna dengan seorang pria yang berhasil membuatnya cemburu tadi malam.


“Kan sudah jelas. Kamu minta izin aku untuk kerja part time dan aku tidak izinkan. Apa lagi sekarang?” Ketusnya sambil menatap Luna penuh arti.


“Aku ingin kasih tau Kakak alasan aku mempertimbangkan tawaran mereka.”


“Jadi vendor yang mereka tunjuk meminta aku sebagai designer ikut terlibat untuk men-define aesthetic needs-nya. Katanya sih pendekatan graffiti art itu akan berbeda jika orang yang menggambar tidak terlibat. Berbeda kalau aku hanya menggunakan design industrial atau kontemporer yang memang lazim digunakan saat ini.” Jelas Luna.


“Aku sih senang ya, karena setidaknya bisa menambah portofolio aku sebagai seorang project designer. Ini mampi aku dari dulu dan pas banget ada kesempatan. So, why not…?”


“Yaa… walaupun aku nggak tau ke depannya Kakak mengizinkan aku bekerja atau tidak. I just wanna prepare all the best for my future, at least for taking this opportunity yang jelas-jelas di depan mata saat ini.”


“Soal kuliah, Kakak tidak usah khawatir. Aku hanya kontrak satu bulan dengan Pasific Exporia dan itu berlangsung selama liburan semester ini. Jadi aku pastikan tidak akan mengganggu kuliahku.”


“Lagian aku tidak setiap hari ke sana, beberapa pekerjaan bisa di remote dari rumah.” Luna tersenyum yakin.


“Satu lagi… Aku janji nggak akan lalai dengan tanggung jawab aku. Membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan Kakak, kecuali memasak aku nggak bisa. Termasuk yang tadi kita lakukan, kalau Kakak mau lagi aku penuhi. Hehe.” Luna mencoba mengarahkan seluruh kemampuan bujuk rayunya untuk meyakinkan sang suami dia cukup bisa membagi waktu jika diizinkan part time


“AKU TETAP TIDAK AKAN MEMBERI KAMU IZIN.”


Luna menarik nafas panjang. Sepertinya dia tidak bisa berharap banyak lagi untuk kali ini. Part time di Pasific Exporia yang bertempat di Bekasi saja suaminya sudah keberatan, apalagi kalau dia harus minta izin ikut kompetisi ke Jepang.


Elio melirik wajah istrinya yang terlihat putus asa, tapi hatinya masih keras dan keberatan jika mengizinkan Luna banyak berinteraksi di luar dan bertemu banyak laki-laki.


“Kasih aku alasan yang masuk akal kenapa aku nggak dibolehkan bekerja part time?”


Bukannya menjawab Elio memalingkan wajahnya, ia enggan memberikan tanggapan karena memang tidak ada alasan lain selain kecemburuannya yang begitu besar.


“Ya sudah. Kalau Kakak tidak setuju aku punya kegiatan selain berhubungan dengan kampus, berarti Kakak setuju aku ikut kompetisi desain ke Jepang. Kompetisi ini untuk mewakili universitas?”


Sebenarnya Luna tidak benar-benar meminta izin untuk kompetisi ini karena dia sudah mengambil keputusan untuk menolak. Hanya saja ini bisa trik negosiasi, mana tau jika diberikan pilihan Elio bisa memilih salah satunya.


“Aku ditawari Pak Cipto ke ikut kompetisi bulan Maret. Team Leader-nya Kak Aries, Presbem yang waktu itu diceritakan teman-teman aku.” Luna melirik wajah Elio yang terlihat memerah.


“Kompetisinya dua minggu, tanggal 1 sampai tanggal 14 Maret, tapi persiapan mulai dari bulan ini. Kalau misalnya kami menang, aku berkesempatan double degree di sana.”


Elio langsung terbelalak. Mendengar nama Aries saja dia panas, konon pula dia harus ditinggal Luna keluar negeri sampai selama itu.


“MAKSUD KAMU APA, HAH?” Teriak Elio kesal.


“Kakak jangan teriak-teriak dong. Kita biasakan bicara baik-baik.”


“Gimana aku nggak emosi..? Kamu menolak ke Aussie ikut Mama Papa, tapi malah ke Jepang sama laki-laki itu?” Ucap Elio sinis.


“Sebegitu senangnya kamu didekati oleh laki-laki lain? Merasa bangga menjadi objek yang diidam-idamkan orang lain, Hah?”


“PERLU AKU INGATKAN KALAU KAMU SUDAH PUNYA SUAMI?” Teriak Elio kesal.


Luna langsung terbelalak tidak menyangka Elio sampai semarah ini.


“Aku nggak mungkin lupa dengan status pernikahan kita. Aku minta izin karena aku menghargai Kakak sebagai suami aku.” Tidak terasa air mata Luna sudah menggenang di pelupuk matanya, tapi berasaha ia tahan.


“Sebanarnya aku juga sudah menolak tawaran Pak Cipto untuk ke Jepang, karena aku ingat janji aku tidak akan meninggalkan Kakak waktu di Elios Hotel dulu.” Luna menarik nafas panjang.


“Aku sengaja meredam semua mimpi aku karena aku tau sudah ada Kakak dalam hidup aku sekarang. Jadi Kakak nggak usah khawatir soal ke Jepang. Aku akan tetap di Indonesia.”


Elio kembali memalingkan wajahnya. Dia tau betul Luna punya potensi. Dari kecil adiknya memang punya mimpi menjadi seorang arsitek. Tapi bagaimana pun sulit untuk Elio mengizinkan Luna berkerja dengan laki-laki lain.


“Ya sudah tidak usah diperpanjang. Aku mau mandi.” Luna bangkit mengambil handuknya. Percuma bicara dengan Elio jika hanya membuatnya sakit hati.


“Aku cemburu. Aku takut.”


Tiba-tiba saja suara Elio terdengar. Langkah Luna langsung terhenti. Sudah ia tebak suaminya pasti punya alasan personal. Selama ini Elio tidak pernah cerewet soal pendidikannya, tanpa diingatkan untuk belajar pun Luna sudah bergelimang prestasi. IPK juga nyaris sempurna.


“Kakak nggak percaya sama aku?”


“Dari semua yang sudah aku lakukan, termasuk menyerahkan diri aku sepenuhnya hari ini. Apa mungkin aku mengkhianati Kakak?” Elio yang tadi memalingkan wajahnya, kembali mengarahkan pandangannya pada Luna.


“Apa sesusah itu percaya sama aku?” Tanya Luna kembali, kali ini suaranya terdengar bergetar.


“Aku percaya sama kamu, tapi aku tidak bisa percaya sama orang lain.” Jawab Elio.


“Sama seperti kamu.” Sambung Elio.


“Maksudnya? Aku percaya kok sama Kakak.”


“Iya kamu memang percaya sama aku, tapi apa kamu bisa percaya pada Ayya?” Luna langsung terbelalak.


“Aku… Aku…” Luna tergagap.


Setelah kejadian di café malam kemarin, rasanya sulit bagi Luna bisa menerima kehadiran Ayya dalam hidup Elio. Hatinya kembali berdenyut sakit saat melihat Elio seperti mengakui hubungannya dengan Ayya lebih dari seorang teman meskipun semua dilakukan karena terpaksa keadaan.


“Sulit kan?”


“Ya… Seperti itu yang aku rasakan. Kita tidak akan bisa mengontrol perasaan orang lain, Luna.” Elio menghela nafasnya.


“Awalnya aku fikir mudah menyingkirkan Ayya dari hubungan kita. Ternyata begitu sulit. Kamu tau kenapa?” Tanya Elio. Luna hanya diam tidak menjawab.


“Karena Ayya tidak tau kita sudah menikah. Ayya hanya tau aku suka sama kamu, dan merasa tidak masalah jika harus menunggu cinta dari aku.”


“Apa dia salah? No… Not completely wrong. Yang salah kita, memilih kucing-kucingan dari semua orang.” Jawaban Elio berhasil membuat Luna semakin bungkam.


“Aku izinkan kamu bekerja sama mereka, asal kita sepakat memberi tahu status pernikahan kita pada orang-orang yang berpotensi mengganggu rumah tangga kita. Termasuk Ayya dan semua laki-laki yang kamu sebut tadi.” Meskipun tidak bersuara keras, tapi ucapan itu terdengar tegas.


“Sekarang pilihan ada pada kamu.” Elio berjalan mengambil handphone Luna, lalu meletakkan pada telapak tangan Luna.


“Sekarang kamu telfon dia. Kasih tau keputusan kamu sekarang. Aku tunggu..!”


Luna yang menerima handphone ditangannya langsung mematung. Ia bingung, apa memang secepat ini pernikahan backstreetnya harus terbongkar.


...🥱-[Bersambung]-🥱...


Jangan lupa lempar bunga sebanyak2nya.