My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Si Mbah Minta Cicit



Rumah milik Mbah Elio ternyata cukup jauh dari pusat kota Jogja. Bangunan rumah juga masih semi permanen khas rumah jawa dengan halaman luas dan biasa digunakan untuk menjemur gabah (padi). Ada lumbung kecil di bagian depan, tapi sepertinya sudah reot dan tidak digunakan lagi.


“Ya Allah Pak… Cucumu datang..” Mbah Uti dan Mbah Kung langsung berhamburan ke luar rumah menyambut kedatangan Elio.


“Assalamu’alaikum..” Elio semringah, ia berlari menyalami punggung tangan kakek dan neneknya.


“Wa’alaikumsalam Le… Ya Allah… Cucuku… Lihat Pak… Ganteng ya…” Puji Mbah Uti sambil terus mengecup pipi Elio.


Luna yang baru turun dari mobil tersenyum ramah dan ikut menyalami satu persatu Mbah Uti dan Mbah Kung.


“Reeen… Ini anak Renata kan?” Mbah Putri langsung memeluk Luna. Bahkan sampai menangis. “Kamu persis Renata, Nduk… Ayu benget.” Puji si Mbah sungguh-sungguh.


Jika dulu Renata ia anggap anak angkatnya, maka Luna berarti cucu angkatnya sekarang. Apa lagi sekarang Elio tinggal dengan Renata dan diperlakukan sangat baik oleh keluarga mereka. Tambah sayang saja si Mbah pada Luna.


“Ayo masuk…” Mbah Putri malah bergelayutan di badan Luna, mengabaikan cucu aslinya.


“Sek ya (sebentar ya)… Mbah siapkan makan malam dulu.”


“Luna bantu ya Mbah..” Akhirnya Luna mengekor di belakang Mbah Uti.


Selama menyiapkan makan malam Luna mendengarkan cerita Mbah Uti tentang mamanya, tentang Tante Riyana dan tentang Elio.


“Gusti Allah itu sudah menakdirkan Riyana dan Renata itu berteman. Mbah nggak kebayang nduk, kalau saja El tinggal sama Mbah atau sama Omanya, apa mungkin Elio masih bisa senyum kaya sekarang?” Mata Mbah Uti nampak menerawang.


“Dulu Elio itu sampai depresi karena om dan tantenya suka bertengkar.” Terang Mbah sambil menyalakan tungku api untuk memanaskan air.


Dapur mereka hanya terbuat dari tanah. Mbah masih menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Padahal di sudut ruangan ada kompor gas dengan gas terisi penuh. Di ruang tengah Luna juga melihat dispenser harga mahal tapi tidak dicolokkan ke listrik.


“Mbah sekarang nggak usah khawatir ya. Kakak sudah jauh lebih baik.” Ucap Luna.


“Iya… Itu berkat mama kamu. Berkat kamu juga. El pernah bilang, cuma kamu temannya.” Mbah Uti tersenyum menampakkan gigi palsunya.


Luna yang seseharinya jarang menginjak dapur, malam itu hanya membantu mengaduk saja. Itu pun dia terbaruk-batuk karena asap dari tungku. Si mbah terkikik, tingkah Luna sama persis dengan Renata yang apa adanya.


Setelah makan malam seadanya, Elio mulai membuka pembicaraan. Dia tidak mau lama-lama karena mungkin besok pagi mereka sudah harus kembali ke kota.


“Mbah gimana kabarnya?” Tanya Elio.


“Wes wes (sudah-sudah)… Langsung ke intinya saja. Kapan kalian mau nikah?” Mbah kung langsung memotong.


Elio tersenyum sedangkan Luna menatap Mbah Kung heran. Apa Mbah Kung punya indera keenam atau ketujuh?


“Hehe minggu depan mbah.” Elio cengengesan. “Kita ke Jakarta ya Mbah.” Ajak Elio.


“Nggak bisa. Gimana nanti anak-anakku. Siapa yang akan kasih makan.” Mbah Kung menunjuk 9 ekor kucing berbagai usia yang sedang menikmati makan malam dengan ikan asin.


“Dibawa aja Mbah.” Jawab Luna.


Mbah Kung dan Mbah Putri langsung tertawa. “Ke apartemen kalian yang kecil itu?”


“Hehe..” Luna tertawa. Jangan sampai apartemennya di acak-acak oleh kucing yang banyak itu.


“Yang penting mbah merestui dengan syarat…” Ucapan Mbah Kung terhenti. “Kalian sungguh-sungguh menjalani pernikahan. Menikah itu niatnya ibadah. Menceri ridho Allah.”


Akhirnya selama satu jam lebih Elio dan Luna mendengarkan nasehat pernikahan. Jika sebelumnya Luna tertidur saat Renata berceramah, kali ini gadis itu harus menahan kantuknya berusaha mendengarkan dengan baik. Ah apa bisa dia seperti itu?


“Semoga mbah masih dikasih umur bisa lihat cicit dari kalian ya.” Ucap Mbah Uti memeluk Luna sambil menangis.


“Aamiin…” Elio mengamini doa tersebuh bersungguh-sungguh.


“Iya boleh Mbah. Mohon doanya ya.” Ucap Luna. Dia tidak bisa diam saja, hati kecilnya tercubit melihat Mbah sangat berharap kehadiran cicit.


Elio yang duduk di sebelah Luna tersenyum. Sekarang dia tau bagaimana cara membujuk Luna agar mau mengkorting perjanjiannya.


Setelah meminta restu. Luna akhirnya sibuk melihat foto-foto keluarga El yang terpasang pada dinding rumah. Wajah Tente Riyana sangat cantik dengan hidung mancungnya sama dengan milik Elio.


“Itu Bunda waktu habis melahirkan aku.” Ucap El memegang pundak Luna dari belakang.


“Tante Riyana cantik ya. Om Arkan juga, wajahnya oriental banget.”


“Mulai sekarang jangan panggil Om dan Tante sama orang tua aku ya. Panggil Ayah dan Bunda sama kaya aku manggil mereka.” Ujar El, dijawab anggukan oleh Luna.


“Yuk tidur. Besok pagi kita harus ke hotel.”


“Aku disini aja boleh nggak kak? Aku pingin ikut mbah ke kebun.”


Elio tampak terkejut, pria itu sama sekali tidak menduga Luna justru lebih betah dengan mbahnya dari pada dengannya.


“Kamu yakin?”


“Iya…”


Elio masih menyerungit bingung. Apa Luna menghindar karena dia selalu mengejar? Sama seperti pria-pria yang suka dengan Luna.


“Kamu nggak lagi menghindar dari aku kan?”


“Enggak lah. Ngapain menghindar. Toh seminggu lagi aku bakal jadi istri kakak. Aku cuma pingin quality time sama mbah. Kasihan kita udah jauh-jauh kesini tapi cuma sebentar aja sama mereka.”


Elio mengangguk setuju sambil tersenyum, tangannya terangkat merapikan anak rambut Luna dan menyelipkan di telinganya. Cantik sekali calon istrinya. Hatinya pun cantik dan penyayang.


“Kamu suka sama mbah aku?”


“Suka. Mereka sayang sama aku. Lagian aku udah nggak punya mbah. Jadi bisa sharing Mbah lah sama kakak, kaya kita sharing Mama dan Papa.”


“Ternyata kita terlahir untuk saling melengkapi ya.” Ucap El masih menatap wajah cantik Luna. Pantas mamamya menjauhkan Luna darinya, ternyata Luna indah seperti mutiara. Dia suka, bahkan sangat suka. Sekarang malah jatuh cinta.


“Udah ah Kak… Aku merinding diliatin gini.” Luna bergidik ngeri. Ia langsung masuk ke kamar yang merupakan kamar Elio. Sedangkan Elio tidur di ruang tengah dengan alas tikar.


Sampai di dalam kamar, Luna langsung memegang dadanya yang bergemuruh. Apa yang terjadi padanya? Kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak secepat ini. Wajahnya juga merona merah. Apa Elio baru saja menghipnotisnya?


Elio, mungkin malam ini pria itu tidak akan tidur sampai pagi. Seminggu lagi terlalu lama untuk menunggu Luna menjadi istrinya. Takut Luna berubah fikiran. Takut Luna hilang di curi orang. Takut Luna sampai memilih untuk ikut ke Aussie, dan meninggalkannnya sendiri di Indonesia. Ah… kenapa menyiksa?


...😛-[Bersambung]-😛...


Nitizen : Thor,,, itu si El udah pegang-pegang aja.


Author : Maklum namanya bucin… Mumpung nggak ada mamanya. Kalau ada pasti kena omel.


Nitizen : Lapor ah… Biar cepet dinikahin.


Author : Eh jangan atuuuh nggak gitu konsepnya… Ntar Luna malah dipaksa ke Aussie. Biarin aja mereka ehm ehm dulu.


Nitizen : Ya udah lah ngikut.


Author : Good…