
Monday is the time to get back to the reality. Senin memang waktunya kembali pada realitas kehidupan normal bagi semua orang, termasuk Luna dan Elio. Setelah tadi subuh Renata dan Gilang sudah terbang ke Aussie, apartemen pun kembali sunyi seperti semula.
“Kenapa? Sedih ya ditinggal Mama?” Tanya Elio melihat ke arah Luna yang melamun dengan kaki ditekuk di ruang keluarga.
“Tadi Papa bilang sama aku, mulai sekarang aku bukan tanggung jawab mereka lagi. Kok aku merasa dibuang gini ya?” Keluh Luna manyun.
“Hahaha… Emang... Tapi tenang aja, kan udah ada aku yang mungut kamu.” Jawab Elio terkekeh sambil menyuri satu kecupan di pipi sang istri.
“Ihhh Kakak nyebeliiiin banget…” Luna langsung masuk ke kamar siap-siap untuk berangkat ke kampus.
Satu jam Luna di kamar, gadis itu keluar dengan tampilan rapi. Ia mengenakan baju kemeja denim dan rok klok katun berwarna cream. Rambutnya dibiarkan tergerai namun diberi bandana warna hitam agar poninya tidak menutupi wajah. Entah angin dari mana Luna bisa menjadi feminin seperti ini.
“Sebentar… Kita harus bicara dulu sekarang.” Elio menarik tangan Luna untuk duduk di sofa ruang tengah. Luna langsung menarik nafas panjang merasa ada yang tidak beres.
“Mulai sekarang kita akan lebih banyak berkomunikasi satu sama lain agar tidak salah paham.”
“Seminggu ini aku akan ada audit di kantor Jakarta, minggu depan di Jogja, minggu depannya lagi di Bandung.”
“Kebetulan audit ini sebegai kelengkapan sertifikasi usaha hotel untuk penentuan rate atau bintang hotel. Jadi aku harus pantau langsung prosesnya.” Elio mencoba menjelaskan agar Luna lebih bisa memahami.
“Jadi kemungkinan bulan ini aku akan lebih banyak di hotel dari pada di cafe atau di apartemen. Kalau boleh kita nginap di hotel aja. Agak jauh sih dari kampus kamu, tapi nanti aku minta driver antar jemput kamu. Gimana?”
“Aku nggak bisa Kak. Minggu ini aku full responsi. Soalnya minggu depan sudah ujian semester.” Lagian mana mungkin karena Luna tidak mau ada orang lain yang tahu pernikahan mereka.
“Responsi? Apa itu?”
“Responsi sejenis ujian praktikum gitu. Kebetulan aku punya 4 SKS Praktikum semester ini, jadi bisa jadi aku pulang malam setiap hari. Biasanya responsi ada batch-nya jadi bisa sampai malam tergantung dapat jadwal jam berapa. Kecuali hari Kamis aku bisa pulang cepat karena jadwal kosong.” Jelas Luna panjang keli lebar. Ternyata dia tak kalah sibuk dari sang GM hotel.
“Eh tapi hari Kamis aku juga udah janji perform di daerah Radio Dalam ding. Aku manggung jam tiga sampai jam 5 sore.” Luna tiba-tiba ingat side job manggungnya.
“Hadeuuh…” Elio menarik nafas panjang.
“Jadwal manggung kamu masih di atur sama Lea?”
Luna mengangguk. “Iya masih. Tapi selama seminggu ini aku cuma confirm satu jadwal aja sih. Terus selama ujian aku nggak akan manggung.” Jelas Luna.
“Nanti aku minta Alea sebelum konfirmasi ke kamu, harus lewat aku dulu.”
“Sekarang kamu udah jadi tanggung jawab aku. Jadi aku berhak meng-assess job mana yang masih boleh kamu ambil mana yang tidak.” Tegas Elio.
Luna hanya mengangguk pasrah. Mau gimana lagi, sekarang dia hanya perempuan yang dipungut suaminya. Haha
“Ya sudah berarti kamu akan tetap tinggal di apartemen?” Luna mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan pulang tapi mungkin sudah larut malam. Nggak masalah kan?”
“Nggak pulang juga nggak apa-apa juga kok. Aku bisa jaga diri.” Balas Luna. Elio menarik nafas panjang kembali.
“Kamu tuh harus belajar konsep nikah lagi deh. Huuft…” Dengus Elio. Bibir Luna langsung mengerucut.
“Terus minggu depannya berarti kamu juga nggak bisa ikut ke Jogja sama aku?” Tanya Elio lagi.
“Iya… Enggak bisa juga. Aku ujian bahkan sampai Rabu depannya lagi.”
“Sayang banget ya. Pasti Mbah Uti tanya kamu.” Luna tertunduk merasa bersalah
“Tapi ya udah lain kali kita ke sana. Aku sendiri aka ke Jogja, mungkin cuma tiga hari. Aku usahakan lebih cepat kalau bisa.”
“Nanti aku minta Alea nginep di sini.” Ucap Elio
“Ya terserah. Kalau dia nggak mau nggak usah. Aku bisa sendiri.” Jawab Luna terkesan asal.
“Kamu tuh ngomong bisa sendiri terus. Tapi kalau hujan aja nanti masuk lemari lagi.” Protes Elio.
“Minggu depannya aku ke Bandung. Kalau bisa setelah ujian kamu nyusul bisa kan? Sekalian kita honey moon.”
“Iya… Honey moon. Kita belum honey moon kan?” Elio tersenyum penuh arti.
Luna langsung menghela napas panjang. “Iya udah… Tapi jangan ada orang lain yang tau. Kalau perlu kita nginapnya bukan di hotel Kakak.”
“Gampang…”
“Ya udah aku berangkat dulu.” Luna meraih tangan Elio untuk bersalaman.
“Eiiitsss mau kemana?” Elio langsung memeluk Luna.
“Pamitnya jangan cuma salam dong. Kasih cium dulu buat suami kamu.” Luna langsung terlonjak kaget.
“Lepas atuh Kakak. Sesek akunya.” Protes Luna.
“Kamu cium aku dulu. Atau nggak aku izinin pergi. Izin suami itu penting loh. Kalau suami nggak ridho jadi dosa.” Ancam Elio menahan tawa.
Luna langsung melirik kesal pada suaminya itu.
“Pilih kamu yang cium aku, atau aku yang cium kamu? Kalau aku yang cium kamu nggak bisa sebentar.”
“Iya iya…” Luna langsung bergerak cepat mencium pipi Elio, tapi ternyata gerak Elio lebih cepat, dengan gerakan menoleh alhasil bibir Luna mendarat pada bibir Elio.
“Hemmmppp…”
Penuh semangat Elio menyergap bahkan menahan kepala Luna agar tidak bergerak. Setelah puas barulah ia melepaskan sang istri. Nafas Luna langsung mengusap-usap bibirnya yang basah, dadanya naik turun karena baru bisa bernafas.
“Kakak jangan kasar dong.” Air mata Luna langsung menetes.
“Eeh kok nangis?”
“Cup cup cup… Aku terlalu semangat ya tadi. Maaf ya, Sayang.” Elio mengusap-usap punggung istrinya. Harus dipanggil sayang biar bisa dimaafkan.
“Aku tuh belum terbiasa. Jangan kayak gitu. Aku… Aku meresa jadi perempuan murahan aja kalau kaya gini caranya.” Luna masih saja terisak-isak.
“Siapa bilang. Karena kamu terlalu berharga makanya aku takut kamu lepas. Maafin ya…” Bujuk Elio.
“Aku terlalu semangat pengen yang lebih. Duh… Salah nih aku…” Sesal Elio.
“Aku nggak akan maksa lagi kalau kamu belum siap.” Ucapnya.
Luna langsung mengurai pelukan mereka. “Ya udah aku berangkat dulu.”
“Naik apa?”
“Busway sambung KRL. Bee masih di kos kosan Alea soalnya.” Jawab Luna sambil berlalu keluar dari unit.
“Heh… Kamu naik Bee pakai rok?” Teriak Elio di lorong apartemen.
“Aku udah bawa celana di dalam tas kok.” Balas Luna sambil berteriak juga.
“Yaudah hati-hati. Kabarin aku kalau sampai kampus…!”
“Mas…. Tolong kalau teriak-teriak jangan disini. Bisa mengganggu penghuni lain.” Tiba-tiba satpam apartemen memperingati Elio.
“Salah lagi gue. SALAHIN AJA TEROOOOS.” Elio berdengus kesal pada satpam.
“Loh kok marah sama saya?” Sang Satpam langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
...🤣-[Bersambung]-🤣...
Hidup memang keras El. Nyari duit emang sampai kaya gitu. Kudu kerja lembur bagai kuda.