
Malam ini energi Elio terisi penuh. Matanya berbinar. Pipinya mengembang sempurna. Dia tidak mungkin salah dengar saat Luna memanggilnya calon suami, meskipun sampai sekarang Luna terus saja menyangkal dengan berbagai alasan, tapi Elio tetap senang.
Selama menunggu Om Rian di cafe rooftop hotelnya, pria masih saja memandagi Luna dengan tatapan menggoda. Tidak peduli wajah Luna sudah semerah apa karena terus saja dibuat tak berkutik dengan bullyan jahilnya.
“Mau pesan apa calon istriku?” Tanya Elio masih saja menggoda Luna.
“Kakak please… Kakak benaran salah dengar tadi aku nggak mungkin ngomong kaya gitu.”
“Ya… Ya… Salah dengar juga nggak pa pa kok. Yang penting aku tetap senang.”
“Iiiih…” Luna merengek kesal karena Elio masih saja menggodanya.
“Jadi mau pesan apa? Yang paling favorit disini beef steak with blackpaper souce. Mau coba, calon istriku?” Elio menyeringai.
Puas sekali dia bisa menjahili Luna sekaligus menikmati pacaran mewah seperti orang-orang. Yang pasti sebelum Om Rian ikut bergabung dengan mereka.
“Iya udah itu aja.” Jawab Luna ketus.
“Ngomongnya yang sopan dong sama calon suami. Iya aku mau itu, calon suamiku. Gitu…” Ucap Elio mencontohkan sambil tertawa kegirangan.
“Aaaaaakh…” Luna menutup kedua telinganya, frustasi.
Untung saja Om Rian datang di saat yang tepat, jadi Elio bisa berhenti menggoda Luna. “Maaf ya om telat. Si Ayya minta jemput dulu tadi di cafe kamu.”
“Ayya? Chef Hana maksudnya Om?” Luna penasaran apa hubungan Om Rian dan koki cantik yang bekerja di restoran kakaknya itu.
“Iya. Kahanayya Arumi.” Jawab Om Rian sambil memanggil waitress untuk menyiapkan makan malam mereka.
“Ayya itu anaknya Om Rian, Luna. Ayya sekarang jadi Executive Chef di sini. Cuma aku minta tolong dia buat training chef junior di Teras Teduh selama 3 bulan kedepan.” Jelas Elio.
“Dulu Elio dan Ayya itu dari masih pakai popok sudah berteman. Maklum Om sama ayahnya Elio sudah bersahabat dari dulu. Jadi mereka udah bareng dari semenjak dibedong.” Ucap Om Rian sambil mendekatkan kedua jari tunjuknya untuk menggambarkan kedekatan mereka.
Luna mengangguk-angguk. Pantas saja kakaknya dekat dengan Chef Hana, ternyata mereka sudah bersahabat dari kecil. Bahkan Chef Hana pasti sudah tahu kalau Elio anak tunggal dan Luna bukan lah adik kandung Elio.
“Oohh Aku baru tau. Terus kenapa Om bisa kenal sama mamaku?” Tanya Luna masih penasaran.
“Haha kamu pasti kaget kalau om jelasin. Renata itu mantan pacar Om.”
“Whaaat?”
Luna terkejut bukan main. Bagaimana bisa di satu meja dengan orang yang pernah mengisi hati mamanya. Kalau saja mereka jadi menikah sudah dipastikan Luna tidak ada muka bumi ini.
“Hanya dua minggu kami pacaran. Mamamu itu, Hahaha….” Ucapannya terputus karena masih tertawa terbahak-bahak. “Mamamu itu luar biasa tomboynya. Suka ngamen di jalanan jogja, suka main bola sama cowo-cowo. Oooo ya… suka backpaker-an makanya bisa ketemu papamu yang diplomat itu. Mereka ketemu di Jepang waktu itu.” Mata Om Rian mengawang. Seperti masih banyak yang ingin dia sampaikan tentang aib Renata pada Luna.
“Om salut dengan perjalanan cinta orang tua kamu. Gilang orang yang sabar sekali, sedangkan Renata berhasil membuat hidup Gilang yang biasa-biasa saja jadi bewarna. You know lah hidup di luar negeri itu seperti apa, tapi dua-duanya bisa setia.” Puji Om Rian tulus.
Elio yang mendengar itu mengangguk-angguk sambil menatap Luna sesekali. Meresa wejangan itu tepat juga untuk hubungannya dengan Luna.
Setelah pembicaraan ringan itu akhirnya Elio kembali membicarakan tentang hotel, terutama masalah yang ada pada divisi housekeeping yang akhir-akhir ini paling banyak mengamhadapi masalah. Pembicaraan yang membosankan bagi Luna tapi mau tidak mau dia hanya mendengarkan saja.
Belum lagi pembicaraan mengenai keuangan denhan satuan milyar membuat ia terkaget-kagetet. Banyak sekali nominal uang yang mereka bicarakan, sedangkan dia tak punya uang seperser pun karena habis dipalak tukang ketoprak tadi sore. Andai saja Luna bisa bilang bagi dua lembar saja yang gambar Presiden Soekarno, pasti ia sangat senang bukan main.
Menyadari kebosanan Luna, akhirnya Elio menawari Luna untuk nyanyi saja di panggung live music yang tersedia di cafe rooftop itu.
“Mau nyanyi nggak?” Tawar Elio. Sebenarnya Luna sudah lelah, tapi dari pada mendengarkan Elio dan Om Rian yang masih serius membicarakan masalah hotelnya, lebih baik Luna bernanyi di panggung menghibur banyak orang.
“Boleh?” Ucapnya dengan nada bertanya.
“Boleh dong. Gih…!”
Elio mengantarkan Luna ke panggung live music itu. Mengenalkannya dengan tim akustik kemudian meninggalkan mereka untuk kembali ke mejanya.
Tidak lama setelahnya Luna sudah duduk di kursi penyanyi siap dengan gitarnya. Elio dari kejauhan tersenyum padanya. Mungkin dalam beberapa manit ke depan ia akan kembali dibuat meleleh oleh sang calon istri.
Luna mulai memetik gitar dengan jari-jarinya dan diiringi dentuman cajon oleh tim akustik yang sangat cocok dengan lagu ini. Penampilan Luna disambut tepuk tangan dari pengunjung cafe, termasuk Elio yang tersenyum penuh rasa kagum. Seakan lupa kalau Om Rian ada di depannya.
Melihat tawamu mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu
Menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Sifatmu nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, oh
Belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah 'ku miliki
“Terima kasih semua.” Hanya satu lagu yang sanggup ia nyanyikan. Padahal banyak dari pengunjung memintanya untuk menyanyikan lagu lain tapi ditolak oleh Luna.
“Kenapa cuma satu lagu?”
Elio yang membantu Luna turun dari panggung langsng bertanya. Tumben sekali, biasanya Luna bisa menyanyikan lima lagu tanpa jeda. Jangan kan orang lain, Elio yang tiap malam mendengar suara Luna saja merasa kurang puas jika mendengarkan Luna bernyanyi satu lagu saja.
“Capek kak.” Keluh Luna.
“Maafin aku ya. Ya udah… Kita pulang sekarang yuk.”
“Eh nggak usah. Kakak ngobrol dulu aja sama Om Rian.” Luna jadi tak enak hati karena mengganggu urusan Elio. Apa lagi mengingat hampir semua urusan Elio hari ini berantakan karena ulahnya.
“Bisa besok mah kalau cuma ngobrol sama Om Rian. Lagi pula ini hari Minggu. Besok kamu kuliah kan?”
Luna mengangguk. “Tapi nggak pa pa aku masih pingin disini, lagian besok aku kuliah siang kok. Tapi aku boleh nunggu di sana nggak? Aku pengen lihat Jakarta dari atas gedung.” Luna menunjuk salah satu spot cafe dengan view epik dari lantai 19 gedung ini.
“Iya udah. Tapi ingat… Jangan nakal…!”
Elio mencubit gemas hidung Luna. Tidak tahan melihat calon istrinya manis sekali di bawah lampu cafe bernuansa kuning itu.
“Ish… Malu kakak…!”
“Biarin… Kan kamu bilang kalau aku calon suamimu.” Elio kembali terkekeh.
Elio akhirnya meninggalkan Luna di sana. Meminta waitress membawakan teh hangat untuk gadis itu.
Ada satu hal yang mengganjal dalam hati Luna dari tadi. Perasaan tidak tenang, perasaan tidak nyaman dan tidak mudah ia ungkapkan. Lambat laun perasaan itu mengusiknya membuat Luna ingin menghindar sejenak dari hadapan Elio.
...😀-[Bersambung]-😀...
Kira-kira Luna kenapa ya? Tumben kan dia pendiam.