My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Happy Couples Argue



“Eh ada neng geulis.” Langit yang baru keluar dari ruang briefing langsung menghampiri Luna yang tengah membantu Ayya menata croissant yang baru saja keluar dari oven.


“Bang Langit udah selesai meetingnya?” Luna melihat sekilas pada Langit dan kembali fokus pada croissant yang ada di hadapannya.


“Udah barusan. Eh apa nih? Aroma enak banget?”


“Croissant ala Chef Kahanayya, fresh from oven. Bang Langit mau?” Ditawari Luna cemilan enak, Langit yang langsung semringah.


“Aku nggak bisa nolak kalau kayak gini ceritanya. Yang nawarin cantik-cantik lagi.” Luna tersenyum mendengarkan gombalan Langit, sedangkan Ayya memutar bola matanya jengah. Langit memang lebih hangat dari pada Elio persoalan komunikasi.


“Ini menu baru ya, Hana? Kok aku baru lihat pastry begini di cafe?” Langit mengerutkan dahi melihat ke arah Ayya seperti menunggu jawaban.


“Bukan menu baru, Aku cuma bikin buat kalian kok.” Jawab Ayya menampakkan senyum manisnya. Matanya sesekali melirik ke arah Elio yang baru datang bersama Alea.


“El… Ini aku bikin croissant kesukaan kamu nih.” Ayya langsung meletakkan beberapa croissant tersebut di piring kecil dan memberikan ke hadapan Elio.


Langit dan Alea yang melihat interaksi sang koki cantik dengan Elio langsung saling berpandangan, kemudian baru melirik ke arah Luna. Tapi yang dilirik justru sibuk memainkan handphonenya sambil menyesap minuman jahe dari cangkir di depannya.


“Aku buatkan kopi hitam seperti biasa ya?” Tawar Ayya pada Elio.


“Nggak usah, Ya. Aku mau minta minuman Luna aja.” Elio berjalan ke arah Luna dan mengambil cangkir berisi minuman jahe yang sudah tersisa setengah.


“Yaah Kak… Itu kan punya aku…!” Protes Luna. Tapi Elio masa bodoh tidak mau meresponsnya dan justru meneguk habis minuman jahe yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai.


“Aku ambilkan yang baru saja, El. Masih banyak kok di kitchen.”


“Nggak usah, Ya. Kami harus pulang sekarang. Besok Luna ujian.” Tolak Elio ramah, lalu beralih memandang Alea.


“Lea, kamu juga pulang aja ya. Selama ujian tidak usah ke cafe. Langit yang akan handle semua seperti pembicaraan kita tadi.”


“Jangan lupa mulai besok pulang ke apartemen.” Titah Elio. Meskipun tidak sedekat Luna, Elio sudah manganggap Alea seperti adiknya sendiri. Apalagi mereka berdua sama-sama berstatus anak asuh Renata.


“Iya Kak. Aku siap-siap dulu.”


“Yuk Bang, kita handover job desk dulu.” Alea mengajak Langit ke meja kasir untuk serah terima pekerjaan.


“Eleuh si eneng, nggak bisa lihat Kakanda seneng dikit aja. Nanggung nih…!” Protes Langit pada Alea.


“Udah dibawa aja kueh nya. Aku harus buru-buru balik. Mau belajar nih.”


“Lu nggak mau kan, El. Buat gue aja?” Tanya Langit melirik piring di depan Elio.


“Hemm...” Elio mengangguk. Langit akhirnya mengambil piring El tadi untuk dibawa pergi. Ayya kembali berdecak sebal.


“Kalau gitu kami pamit pulang ya, Ya.” Pamit Elio ramah, kemudian menarik lengan Luna agar mengikutinya.


“Eh… Kak Ayya, aku pamit ya.” Luna mengangguk pada Ayya yang terlihat sangat kecewa.


“El tunggu…!” Tiba-tiba suara Ayya menghentikan langkah mereka.


“Ya?”


“Besok ke bandara bisa bareng nggak ya? Papa udah berangkat ke Bandung dari tadi pagi. Jadi nggak ada yang bisa antar aku ke bandara besok pagi.”


Bukannya menjawab Elio menatap ke arah Luna. Luna yang paham maksud Elio yang sedang meminta persetujuan darinya langsung bersuara.


“Tenang aja Kak. Nanti Kak El pasti jemput kok.”


“Haha sip… Makasih adikku.” Ayya berhambur memeluk Luna. Luna hanya tersenyum kaku melihat ke arah El.


Elio dibuat menghela nafas berat. Kenapa istrinya memperbolehkan dirinya berangkat dengan perempuan lain. Apa Luna tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun padanya.


Selama dalam perjalanan ke apartemen Luna tampak lebih diam. Ia berfikir apa keputusannya menikah dengan Elio sudah tepat. Apa Elio selama ini berkorban untuknya karena hanya ingin membalas budi pada Mama dan Papa saja.


“Kamu kenapa diam aja dari tadi?” Tanya Elio meraih tangan sang istri.


“Ha? Aku?”


“Iya kamu. Siapa lagi? Emang ada orang lain di sini selain kita?”


“Aku nggak kenapa-napa. Capek aja.” Jawab Luna yang justru menutup matanya seperti ingin menghindar dari obrolan mereka.


“Kamu itu nggak bakat bohong. Mending jujur. Diomongin apa-apa sama suami tuh. Jangan ditutupi.”


“Kalau diam, dipendam, nanti bisa meledak. Duar…! Pecah deh.” Elio menjelaskan berapi-api.


“Aku nggak kuat berantem sama kamu. Hati aku nggak tenang kayak waktu itu. Apalagi aku mau ke Jogja besok, sedangkan kamu mau ujian.” Elio menghela nafasnya beberapa kali.


“Kak Ayya suka sama Kakak.” Ucap Luna lirih.


Ciiiiiiit….!


Elio menginjak pedal rem, menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ini bahaya kalau tidak di luruskan. Jangan sampai duri semacam ini menganggu pernikahan yang baru satu minggu mereka jalani.


“Kak Ayya yang bilang sendiri sama aku tadi.”


Elio kembali menghela nafasnya. Kenapa semua menjadi rumit seperti ini.


“Kakak kenapa nggak bilang kalau kalian pernah punya cita-cita serius sebelumnya. Aku jadi merasa bersalah gini nikah sama Kakak.”


“Harusnya aku nggak ngorbanin mimpi kalian karena ambisi aku tinggal di Indonesia.” Luna memalingkan wajahnya ingin menangis.


“Eh mimpi apa? Aku nggak punya mimpi apa-apa kok sama dia.” Elio mendengus kesal. Apa saja yang mereka bicarakan tadi sampai membuat Luna seperti ini.


“Iya… Buat Kakak mungkin ucapan masa lalu tidak berarti apa-apa. Tapi dia serius sampai mau jadi chef demi mewujudkan mimpi Kakak.”


“Kakak dari dulu emang nggak peka ya. Aku jadi heran kenapa sekian tahun berteman dengan Kak Ayya, Kakak nggak bisa sadar dia suka sama Kakak.” Gerutu Luna.


“Ya udah lah, Sayang. Ini udah takdir kita. Aku jodohnya sama kamu, bukan sama dia.”


“Sekarang udah tinggal kita yang menjaga pernikahan ini sebaik mungkin.”


“Nggak usah mikirin perasaan orang lain. Kamu kadang terlalu overthinking.” Tukas Elio.


“Jawaban Kakak terlalu normatif.” Lagi-lagi Luna memalingkan wajahnya, menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Elio.


Elio kemabali menghembuskan nafas berat. “Terus sekarang kamu mau apa?”


“Aku pecat Ayya gitu?” Tanya Elio kesal.


“Ha? Nggak gitu.”


“Justru aku kasihan sama dia. Dia kaya di-ghosting sama Kakak. Bussh… Tiba-tiba menghilang wae..”


“Apa lagi Kakak menghindar gitu dari dia. Dia merasa dikucilkan karena Kakak nggak ajak dia meeting tadi.”


“Aku kasihan liat dia sampai nangis sesegukan gitu.” Mata Luna sudah merah mengingat kejadian tadi. Kenapa dia kadi ikut sedih begini.


“Aku sedang membentuk barrier yang jelas. Aku nggak mau dia masih berharap sama aku.”


“Biarin dia benci sama aku. Nanti dia juga move on kalau ketemu yang lebih baik.” Jawab Elio.


“Perempuan itu punya perasaan Kak. Harusnya bisa ngomong baik-baik.”


“Ngomong baik-baik gimana? Kamu tu aneh deh. Sekarang nyalahin aku.” Elio mulai meninggikan suaranya.


“Satu-satunya cara agar Ayya nggak berharap sama aku adalah ngasih tahu kita udah nikah. Tapi kamu kekeuh nggak mau go public kan?”


Luna akhirnya terdiam. Benar apa yang Elio bilang, tapi dia masih belum siap jika mempublikasi pernikahan sekarang.


“Sekarang gini aja. Kamu tetap dengan rencana kamu, Ayya biar jadi urusan aku.”


“Satu hal yang harus kamu tau, aku nggak pernah jatuh cinta sama Ayya dulu atau pun nanti, dan aku nggak akan pernah melepaskan kamu.” Elio melepaskan seatbealtnya lalu menarik Luna dalam pelukannya.


“Tapi….”


“Nggak ada pakai tapi-tapian. Satu lagi, mulai sekarang jangan pernah ngobrol sama Ayya.”


“Kamu terlalu naif, sedangkan dunia ini dinamis. Hari ini dia baik sama kamu, belum tentu besok-besok baik lagi.” Ucapnya sambil mengusap rambut Luna.


“Kakak meragukan Kak Ayya? Dia kan sahabat Kakak sendiri?”


“Tidak sama sekali. Tapi Ayya bisa aja memohon kamu untuk pergi dari hidup aku, seperti tadi.”


“Asal kamu tau, siapa pun bisa jadi duri dalam pernikahan. Bahkan orang terdekat sekali pun.”


“Banyak kok yang pisah gara-gara mertua, gara-gara orang tua. Padahal orang tua udah dijamin akan memberikan yang terbaik untuk anaknya.” Jelas Elio. Bicara panjang lebar membuat nafasnya jadi sesak.


“Sekarang gini, I follow your wishes, and then you follow my rules.” Luna hanya mengangguk pasrah.


“Gitu dong. Kalau nurut gini aku makin cinta.” Dikecupnya kening Luna beberapa kali.


“Lihat aku sini…” Elio mengangkat dagu Luna sehingga kepalanya terangkat, lalu menyatukan bibir mereka penuh semangat.


“Kak hemmmpp…” Luna memukul-mukul dada Elio, minta segera diselesaikan. Setelah merasa puas, barulah Elio melepaskan.


“Di rumah lagi ya?”


Akhirnya capitan Luna mendarat di perut Elio. Pria itu hanya bisa mengaduh lalu kembali memasang seatbelt melanjutkan perjalanan pulang.


...🤦‍♀️-[Bersambung]-🤦‍♀️...


Mumpung senin bagi vote nya ya 🤧