My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Life After Marriage



Seiring meredanya hujan di luar sana, kemesraan antara pengantin baru ini pun perlahan sirna begitu saja. Rumah tangga mereka kembali dibumbui cekcok perkara memutuskan teknis menjalani kehidupan di apartemen setelah menikah.


“Mulai sekarang aku pindah ke kamar kamu. Kamar depan jadi kamar Mama dan Papa.” Tegas Elio sambil membaringkan tubuhnya di kasur Luna dengan posisi suka-suka.


“Eh… Kok gitu sih Kak?”


“Iya dong. Kita udah nikah sekarang. Nggak mungkin pisah kamar. Kamu fikir ini cerita di novel-novel nikah terus pisah ranjang. Aku nggak mau gitu.”


“Tapi Kak…”


“Aku nggak terima bantahan, Luna…!” Tegas Elio.


“Aku nggak membantah. Aku berdiplomasi dengan suami aku. Bedain dong. Kakak tu jangan suka emosian deh. Harus mendengarkan dulu orang lain bicara apa. Jangan maunya menang sendiri.” Kali ini giliran Luna yang protes. Kesal karena Elio mulai mengatur dan terkesan suka-suka.


Elio mendesah. Apa pagi yang ingin dinegosiasikan istrinya kali ini. “Ya udah mau kamu apa?”


“Pertama. Kakak harus faham kalau aku punya tanggung jawab menyelesaikan kuliah. Aku butuh fokus belajar, apa lagi minggu depan aku mulai ujian semester.”


“Please kasih aku privasi untuk belajar. Aku nggak akan fokus kalau satu kamar dengan Kakak.” Keluh Luna.


“Itu alasan kamu aja. Kamu harus bisa belajar hidup berdampingan sama aku.”


“Nggak gitu Kak. Toh tadi aku juga nggak memberontak waktu kakak nyolong kesempatan nyium aku lagi.”


Elio menahan senyumnya. “Itu karena kamu ketakutan aja. Paling kalau nanti-nanti aku minta kamu pasti nolak. Dari kemaren kamu cuma manfaatin aku aja emang.” Tuduh Elio.


“Jangan menuduh aku dong. Kita cari win-win solution lagi. Aku minta ruangan khusus belajar.”


“Kamar ini tuh kecil Kak. Nggak mungkin mindahin lemari dan meja kerja Kakak dari kamar sana ke sini. Belum lagi aku niatnya mau beli meja gambar. Mau aku taro di pojok sana.” Luna menunjuk sisi kamar yang masih kosong.


“Soal tidur terserah deh mau bareng atau gimana juga.” Ucap Luna penuh keterpaksaan.


Elio berfikir sejenak. Ada benarnya karena unit apartemen ini tidak terlalu besar. Dulu dibeli dengan pertimbangan penghematan tentunya. Terbesit di fikirannya membeli unit yang lebih luas dengan kamar utama yang besar. Atau malah sekalian beli rumah mewah saja. Tapi bisa ditebak Luna akan kembali ngamuk jika tidak didiskusikan terlebih dahulu.


“Okey. Kita tetap di kamar masing-masing tapi soal tidur, aku akan pindah ke sini.”


“Iya cuma tidur. Mandi dan lain-lain tetap di kamar masing-masing ya.” Sentak Luna.


“Mana bisa gitu. Suka-suka aku mau mandi dimana. Malah aku maunya mandi sama kamu.” Elio menampakkan seringai liciknya.


“Iiih kok mesum sih. AKU NGGAK SUKA YAAA…!” Luna langsung menyingkan tangan di tubuhnya.


“TAPI AKU SUKAAAAA.” Desis Elio memilih menggulung tubuhnya dengan selimut.


“Kenapa jadi aku yang terinmidasi gini sih setelah menikah. Tau gitu aku milih ke Aussie. Kakak tinggal aja di sini sendiri.” Cicit Luna dengan nada mengancam.


“TELAAAT…! weeelk…”


...***...


Elio POV


Istri, Haha…


“Kakak… Bangun dulu belum sholat isya loh.” Luna menepuk lenganku. Ternyata sudah dua jam aku ketiduran tapi kenapa sepertinya mata ini masih malas untuk terbuka.


“Hemmm ntar lagi. Nanggung.”


Entah nanggung kemana. Tapi persiapan audit satu minggu, dedegan akad nikah, dan perasaan was-was Luna bekerja kelompok dengan laki-laki membuat energiku seperti habis begitu saja. Jadi please Luna satu jam lagi bangunin aku ya.


“Kakak… Iiih buruan bangun… Belum sholat. Nanti ketiduran sampai pagi malah jadi nggak sholat.” Luna malah menarik-narik tanganku sekuat tenaga.


Sejak dulu Mama, Papa memang membiasakan kami saling mengingatkan untuk kewajiban utama ini. Tapi rasanya hari ini jadi beruntung karena pasti tabungan pahala kami semakin banyak kalau yang diingatkan pasangan sendiri. Aku pun bisa merasa menjadi suami yang sempurna diingatkan soal kewajiban.


“Cium dulu…” Hahaha boleh kan manja-manja sama istri? Boleh dong.


“Nggak mau… Sholat itu buat Kakak. Bukan buat aku.” Luna merungut dan melepaskan tangannya. Tapi buru-buru aku tangkap lagi.


“Tapi menyenagkan hati suami itu juga pahala buat kamu. Ayo sini cium dulu…” Aku tunjuk bibirku. Luna langsung merungut tidak suka.


“Di pipi aja. Aku belum terbiasa.” Gerakan cepat dia langsung mendarakan bibirnya di pipiku.


“Udah tuh… Sana bangun…!” Bibirnya sudah maju lima centi karena merungut tidak ikhlas. Haha…


Ya sudah… Sudah ada kemajuan jadi tidak masalah. Nanti kita biasakan yang lain. Akhirnya aku bangkit untuk sholat isya.


Sepertinya aku memang harus banyak bersyukur dalam hidup, terutama setelah punya istri seperti Luna. Kalau disebutkan satu-satu terlalu banyak pujian yang harus dia terima nanti dia makin kegeeran. Jadi aku hanya mengingat soal cantik dan bibir mungilnya yang ciumable tadi. Aaak mau lagi lagi lagi.


Sekian tahun yang lalu aku sempat meminta untuk menjadi anak angkat Mama Renata secara hukum. Tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasannya sudah pasti tidak mau mengambil resiko apa pun dengan keluarga asliku. Selain itu secara hukum pasti akan sulit dilakukan, karena aku masih punya keluarga besar dengan garis keturunan lebih dekat dengan orang tua kandung.


Sekarang semua seperti terwujud. Mempunyai satu kartu keluarga dengan nama Luna di bawah namaku, membuatku kembali tenggelam dalam banyak doa dan harapan untuk rumah tangga harmonis seperti yang Mama dan Papa rasakan. Seperti Ayah dan Bunda dulu perlihatkan padaku.


Ah tiba-tiba ingat Ayah dan Bunda akhirnya aku kembali berdoa yang panjang untuk mereka. Barulah aku selipkan curhatan ringan tentang perasaan bahagiaku hari ini.


“Ayah… Bunda… El sudah menikah dengan Luna. Sekarang El sudah merasa punya keluarga seutuhnya. Luna gadis terbaik yang pernah El temui.” Ternayata berdoa seperti ini cukup bikin hati berdenyut, dan mata berair. Memang kalau sudah menyangkut Bunda dan Ayah aku jadi rapuh seperti ini.


Sebentar, kenapa tiba-tiba kamar ada suara dengkuran halus? Ya Tuhan…. Anak itu tidur dengan posisi phythagoras. Sengaja ya biar aku tidak bisa ikut tidur di sana. Baru saja aku puji tadi, sudah menunjukkan sifat aslinya.


Jangan-jangan kamu nyuruh aku sholat biar kamu bisa menguasai kasur ya. Tapi mana mungkin aku semudah itu kalah.


“Luna… Geser nggak?”


“Hemmm…” Jawabnya masih dengan mata tertutup. Tubuhnya malah bergerak terlentang agar aku tidak punya tempat untuk tidur.


“Geser atau aku tindih kamu? Posisinya udah pas banget ini” Bisikku tepat di telinganya.


“KAKAAAAAAAAAAK….” Dia langsung terlonjak menggeser posisi kepinggir kasur bahkan sampai ke pojok dengan menggulung tubuhnya dengan bed cover.


Haha jangan coba main-main sama aku ya. Cukup sekali aku kalah di tinggal di pinggir jalan dulu. Mulai sekarang aku yang menguasai permainan.


...😛-[Bersambung]-😛...


Extra up…