My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Fakta



Sementara itu, di salah satu kamar hotel, Luna harus bekerja keras menjalankan permintaan sang suami yang dari tadi mengeluh lelah dan kecapean.


“Udah dong, Kak. Aku udah capek banget.” Keluh Luna, tangannya sudah terasa pegal karena dari tadi dipaksa memijat Elio.


“Punggung aku belum terasa. Tangan juga pegel banget, Sayang. Habis ini kepala ya. Cenut-cenut dari tadi pagi meeting terus.” Keluh Elio. Padahal dia sudah meminta Luna memijat tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu balik lagi ke kepala sebanyak dua kali.


“Udah ih… Pakai jasa pijat aja.”


“Emang kamu mau aku digrepe-grepee orang lain? Sekarang ada jasa berkedok pijat tapi plus-plus dengan tambahan jasa lain loh.”


“Yeee… Pakai aplikasi yang profesional dong. Pasti disesuaikan dengan gender customernya.”


“Ya kalau terapisnya bohong. Misal pura-puranya laki-laki ternyata perempuan. Gimana..?” Elio bergidik ngeri.


“Itu mah Kakak aja yang mikirnya kemana-mana.” Luna merajuk dan memilih tidur membelakangi Elio.


“Cieee… cemburu ya…” Elio berbalik memeluk Luna dari belakang.


“Nggak…! Sana pesan yang plus-plus. Aku juga mau cari tempat spa plus-plus.”


“Apa….?” Elio terbelalak.


“Oh aku tau… Kamu ternyata rindu sentuhan aku ya. Lima hari ini puasa karena dipantau Mama ternyata kamu udah rindu mendesaah ya. Ayooo…! Kita jadikan kamar ini saksi bisu desahaan kamu. Hahaha…”


“Aaaaak…” Luna meringkuk saat Elio mencoba menciumnya.


“Ampuuun… Nggak aku nggak mau…”


“Ayo nona… Saya bisa melayani spa plus-plusnya. Saya izin buka baju nona ya…” Elio berbisik membuat Luna semakin menjerit.


“Kakaaaak….”


“Ya, Sayang… Sebentar dong… Nggak sabar banget sih.” Elio melepas kancing bajunya tanpa rasa bersalah.


“Huaaaa bukaaan itu…. Mamaaaa Kakak mesuuuum.” Pekik Luna menarik selimut bersembunyi di dalamnya.


“Aku atau kamu yang mesum, humm..? Bukannya tadi mau pesan spa plus-plus.” Tangan handal Elio ternyata sudah hasil menemukan apa yang dia cari.


“Hahaha… Aku becanda, Kakak.” Ucap Luna menahan geli.


“Tapi Kakak nggak becanda, Sayang. Jadi sekarang tanggung jawab ya.”


“Hemmmmmppp”


Bukan Elio namanya kalau menyerah sebelum berperang. Malam itu setelah lima hari menahan rindu Elio kembali berhasil membuat Luna pasrah. Meskipun hanya dilakukan sekali tapi semua dilakukan dengan lembut dan penuh damba. Misi Elio hanya satu, ia ingin menghapus semua kenangan buruk Luna malam itu.


Masih dengan berpelukan di balik selimut, keduanya mulai berbincang ringan. Waktu seperti ini memang sering mereka manfaatkan untuk saling bertukar cerita.


“Kakak belum jadi cerita tentang Tante Viara.” Luna ingat malam itu Elio ingin bercerita tentang sang Tante.


“Jujur aku masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi. Tapi sekarang bukti-bukti semakin kuat ke arah sana.” Elio membuka ceritanya. Luna mencoba menjadi pendengar yang baik.


“Tante Viara bilang, dia terpaksa mengambil uang perusahaan karena beberapa kali meminjam ke hotel tidak di ACC oleh Om Rian. Alasannya dianggap pinjaman terlalu besar dan gaji Tante Viara tidak akan cukup untuk menyicil setiap bulan. Om Rian butuh penjamin lain, tapi tidak ada yang bersedia menjadi penjamin. Bahkan Om Ardi juga tidak mau mengajukan diri sebagai penjamin.”


“Tante Viara memang butuh uang berapa?”


“Hampir delapan ratus juta.” Luna langsung terbelalak.


“Untuk apa uang sebanyak itu…?” Pertanyaan Luna membuat Elio meneteskan air matanya.


“Berobat Opa ke Singapura. Aku tidak tahu selama ini Opa butuh biaya besar untuk berobat. Kata Tante, Om Ardi melarang memberitahu aku karena dia merasa terlalu malu untuk meminta padaku. Lalu Om Ardi memaksa Tante Viara untuk korupsi, tapi Tante Viara menolak dan memilih meminjam secara resmi ke perusahaan tapi ternyata proposalnya tidak disetujui Om Rian. Jadi dia terpaksa melakukan semua itu.” Elio seperti kebingungan.


“Om Rian tau nggak alasan Tante Viara mau pinjam uang itu untuk berobat Opa…?”


“Selama ini Om Rian memang banyak membantu aku di bisnis hotel. Tapi setelah dia pergi, beberapa orang mengeluhkan kepemimpinannya yang kurang humanis. Bahkan aku baru tahu seorang staff hotel pernah dimarahi karena mengajukan cuti dadakan karena anaknya masuk rumah sakit. Ada juga yang diberikan SP karena datang terlambat dengan alasan orang tuanya sakit.” Keluh Elio.


“Satu lagi, aku baru tahu selama ini supplier bahan segar yang dipilih Ayya semua dari keluarga terdekatnya. Vendor Release yang dia susun rupanya banyak kecurangan. Tante Viara yang menjadi buyer tidak bisa berbuat apa-apa karena menurut Ayya supplier lain punya quality issue.” Elio menarik nafas panjang.


“Dan setelah Ayya keluar, koki baru mulai menata ulang melalui sistem yang lebih trusted dan ternayata vendor pilihan Ayya punya banyak masalah. Aku sengaja mengadakan audit khusus untuk divisi F&B dan ternyata dalang di balik ini semua Om Rian dan Ayya. Om Rian seperti punya jejaring bisnis sendiri di hotel ini yang aku tidak tahu.” Mata Elio menerawang seperti tidak percaya selama ini dia dibodohi oleh Om Rian.


“Sekarang Om Rian sudah tidak berkerja disini, terus Kakak mau apa…?”Elio menggeleng bingung. Pria itu menarik nafas berkali-kali.


“Kalau Ayah tau aku abai dengan kesehatan Opa dan Oma pasti dia kecewa. Aku kecewa sekali dengan Om Rian yang membuat keruh hubunganku dengan keluarga. Pantas saja Om Ardi sangat benci dengan Om Rian.” Keluh Elio merapatkan pelukannya pada tubuhnya pada Luna. Pria itu memejamkan mata sambil menghirup napas panjang, seperti meminta kekuatan lebih.


“Aku menyesal dulu tidak mengindahkan kata-kata Om Rian. Dia yang mengatakan padaku harus hati-hati dengan semua orang termasuk pada dirinya. Harusnya aku aku tidak tertipu dengan kalimat pleonasmenya.” Elio menarik napas panjang.


“Ya sudah… Saran aku yang sudah berlalu ya udah, di lupakan. Toh Om Rian banyak membantu sebenarnya. Cukup ambil yang baik-baik saja dari dia. Aku nggak mau karena di sini ada dendam, Kakak feel uneasy lagi dan terbawa stress.” Ucap Luna meletakkan telapak tangannya di dada Elio.


“Terus sekarang Kakak sudah tahu alasan Tante Viara melakukan itu. Mulai sekarang jangan lupa mulai menyesihkan uang untuk berobat Opa, membantu Mbah di Jogja juga.” Elio mengangguk tersenyum. Ternyata setelah di pikir-pikir selama ini memang Luna punya rasa peduli yang tinggi pada sekitar. Berbeda dengan dirinya yang lebih cuek dan menganggap semua terlihat ideal.


“Kamu bisa aku percaya nggak untuk mengelola keuangan kita?” Pertanyaan Elio membuat Luna terdiam.


“Setiap bulan semua gaji aku aku berikan ke kamu. Nanti kamu atur pos-posnya sesuai kebutuhan rumah tangga kita.” Elio memperjelas masukannya.


“Aku takut, Kak…”


“Takut apa…? Aku lihat kamu cukup pintar mengelola keuangan. Cara kamu atur uang pribadi sampai membuat budget untuk proyek Pasific Exporia saja sudah bisa meyakinkan aku kalau kamu compatible and qualified.” Elio mempererat pelukannya lalu mengecup sekilas dahi Luna.


“Haha compatible and qualified. Berasa mesin produksi saja.”


“Kamu memang mesin aku. Mesin yang bikin senang. Meskin yang bikin candu. Mesin yang bisa nyimpan anak juga di sini.” Elio mengusap-usap perut rata Luna, sedangkan yang di usap mengelinjang gelian.


“Ya udah. Aku coba sebisa aku. Emang gaji Kakak berapa sih?”


“Yakin mau tau…?” Tanya Elio. Luna mengangguk cepat.


Elio membisikkan sejumlah angka. Luna langsung melotot. “Waaaw…. Ternayata hampir sama dengan gaji aku setengah tahun di Pasific Exporia.”


“Hahaha… Mau aku aku rekrut jadi tukang pijit plus-plus aku nggak? Gajinya dua kali gaji kamu di tempat Mas Kean. Gimana..?” Elio tersenyum menggoda.


“Heh… Lupa ya. Mulai sekarang aku yang pegang gaji Kakak. Yang ada Kakak yang aku kasih jajan. Dua puluh lima ribu sehari all in one, sudah sama bensin. cukup kan…?” Luna menyeringai licik.


“Hah..? Mana cukup segitu.”


“Hemat dong, Kak. Kalau mau tambahan jajan, Kakak harus bisa bantu aku bebersih rumah. Cuci piring sepuluh ribu, sapu rumah lima ribu, antar baju ke laundry lima ribu. Oh iya khusus masak aku kasih dua puluh ribu deh, soalnya masakan Kakak enak.” Luna mendiktekan aktifitas rumah tangga yang selama ini dia kerjakan.


“Aaaaaak… Istri aku tega banget ya Allah.”


“Hahaha… Biar kita cepat kaya.” Balas Luna sambil terbahak.


“Kaya tapi sengsara. Asal kamu tahu, bensin sama parkir mobil saja lebih dari dua puluh lima ribu. Aku bisa kurus nggak makan, kalau jajan aku segitu.”


“Kan ada makanan di restoran hotel, Kakak.” Meskipun sedang bercanda wajahnya dibuat seserius mungkin.


“Bosen, Sayang. Aku suka jajan ketoprak di depan sama Herman. Kalau aku makan ketoprak semua staff yang sedang makan di sana aku yang bayarin soalnya.”


“Ya udah aku punya ide… Nanti Kakak bekal aja. Kakak kan pinter masak. Okeee…?” Luna mengacungkan jempolnya sambil terkikik.


“Ya Tuhaaaan… Turunkanlah hidayahmu pada istri hamba.”


“Hahaha….”


Elio… Pria itu tersenyum melihat Luna yang dari tadi tertawa lepas. Perempuan yang hingga sekarang keberadaannya selalu ia syukuri. Elio berjanji akan selalu membuat Luna sebahagia ini setiap harinya.


...-[Bersambung]-...