
Melihat Elio mengagguk-anggukkan kepalanya tanda paham, membuat Renata bisa bernapas lega. Anak manisnya itu memang selalu bisa diandalkan dalam segala hal, kecuali bersih-bersih. Setelah dirasa cukup puas berceramah pada anak sahabat, selanjutnya Renata akan memberikan ceramah pada sang anak kandung.
Khusus yang satu ini, Renata harus pakai tenaga dan kesabaran extra, karena biasanya yang sudah-sudah, nasihatnya selalu mental entah kemana. Ibarat kata baru masuk telinga kiri, langsung keluar dari telinga yang sama. Alias tidak sempat masuk. Jadi mana mungkin bisa dicerna dalam kepala.
“Dan kamu Luna. Menjadi istri bukan sesederhana pajangan dalam rumah tangga. Menjadi istri yang baik itu harus taat, patuh, melayani sepunuh hati dan menjaga kehormatan suami. Ini yang mama ragu dari kamu.” Renata melihat Luna yang setia tertunduk. Tapi Sebantar… Ada yang aneh….
“El.. Si Luna tidur nggak sih?”
Ketiga orang tersebut langsung fokus melihat Luna yang ternyata sudah berselancar di alam mimpinya.
Elio yang duduk bersebelahan dengan Luna akhirnya mengarahkan jari telunjuknya berencana menoel-noel gadis itu agar bisa bangun.
“Luna…” Satu toelan mendarat di lengan kanan Luna.
BRAKKKK…!
Gadis itu oleng dan jatuh ke lantai. Kepelanya terbentur dinding, benjol kebiruan, pasti sakit sekali. Tapi seakan tidak merasakan sakit sedikit pun Luna langsung bangkit berdiri.
“Jadi kapan aku sama Kakak menikah?”
Luna bertanya seperti orang mabuk.
Renata dan Gilang saling bertatapan kemudian sama-sama menghela napasanya. Sepertinya mereka memang punya cobaan hidup yang berat. “Ngidam apa Mama dulu ya, Pap?” Lirih Renata.
Jika Renata dan Gilang masih setia dalam mode santai, tidak dengan Elio. Pria manis itu langsung bangkit dan membantu sang adik kembali duduk di kursi sidang.
“Kepalamu memar. Kakak kompres ya.” Dia langsung mengambil es batu di kulkas, dan meletakkannya di sapu tangan bersih.
“Pakai ini…! Tempel di kepalamu…!”
Seakan lupa ada Renata dan Gilang disana, Elio membantu mencontohkan cara mengompres kepala benjol yang baik dan benar di kepala Luna. Ilmu ini baru ia baca dari internet berapa menit yang lalu. Tapi sepertinya dia cukup ahli melakukannya.
“Terima kasih, Kak. Di rumah ini memang cuma Kakak yang peduli sama aku. Bahkan lihat….” Sindir Luna melirik Gilang dan Renata yang sibuk menyantap burger buatan Elio yang super enak.
“Mama dan Papa saja lebih memilih memikirkan cacing-cacing di perut mereka dari pada aku yang teraniaya ini.” Sambungnya lagi dengan nada suara yang dibuat semenderita mungkin. Tapi Renata hanya mencibir tidak peduli.
“Sssttt… Bicara yang sopan sama orang tua. Kan semalam sudah aku ingatin jangan pernah nyakitin hati Mama dan Papa.” Ucap si anak manis pada sia anak bar-bar yang hari ini penuh drama.
“Iya… Maaf Kak.”
“Jangan minta maaf sama aku. Mintanya maaf sama Mama dan Papa ya.”
“Kamu tadi tidur waktu Mama lagi nasehatin kita. Nggak baik kaya gitu. Gih minta maaf...!” Meskipun ikut kesal tapi tetap saja Elio bicara ramah pada adiknya itu.
“Iya… Iya…” Kesal, tapi Luna tetap menuruti perintah Elio.
“Maafin Luna Ma, Pa…” Nada suara Luna terdengar tidak ikhlas.
Renata tersenyum pias menonton drama anak kandung dan anak sahabat. Bisa-bisa ia kalah saing dengan anak sahabat dalam mendidik Luna. Tidak mau ambil pusing akhirnya Renata melanjutkan sidangnya. Tentu setelah memberi makan cacing-cacing di perutnya.
“Jadi gimana? Kalian masih tetap mau nikah setelah mama ceramahin?”
Luna bingung, jangankan isi ceramahnya, luna saja tidak tahu mamanya sempat berceramah tadi. Justru yang dia ingat mimpinya bertemu Yura Yunita di pasar malam. Absurd memang.
Diliriknya Elio yang ternyata juga sedang melihatnya.
“Jawab Kak…!” Bisiknya.
Elio gelagapan. Kenapa jadi dia yang harus menjawab? Bukannya ini masalah si Luna sama Mamanya.
“A.. Aku…” Jawab Elio terbata-bata.
“Hemmm?” Renata menunggu jawaban dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
“Sudah… Nikah saja kalian…!l
“Lihat Mam… Elio lebih jago dari kita dalam mendidik Luna.” Ucap Gilang terdengar asal tapi terbukti kebenarannya.
Uhuk… Uhuk…
“Aku sih mau nikah sama Kakak. Lebih enak negonya kalau mau main keluar malam-malam. Kalau jajan juga suka nambahin, meskipun cuma goceng sih.” Cicit Luna membuat bola mata Renata dan Gilang terbelalak sempuna. Hampir saja bola mata itu menggelinding di atas meja.
Ternyata pemahaman Luna tentang pernikahan hanya sebatas minta izin pergi dan minta jajan pada siapa.
“Iya Ma. El mau nikahin Luna. Biar Luna jadi tanggung jawab El disini. El janji menjalankan nasehat mama tadi, meskipun sambil belajar. Mama sama Papa fokus sama kebahagiaan yang tertunda dua puluh tahun ini ya.” Manis sekali tutur katanya.
Renata masih menggeleng-geleng tidak percaya. Apakah Indonesia punya magnet besar untuk anak gadisnya? Sampai-sampai dia rela menikah dari pada ikut ke Aussie bersamanya.
“Apa kalian menikah dengan kontrak seperti cerita di novel-novel?” Selidik Renata.
“Memang ada novel begitu?” Elio bingung, Luna tidak peduli.
“Aaah… Begini… Maksud Mama, apa kalian punya perjanjian sebelum menikah?”
“Ooo…” El ber-ooo-ria
“Aku akan mendiskusikannya nanti Ma.” Jawab El tenang.
“Ha?”
“Ya… Nanti El bicarakan pelan-pelan dengan Luna bagaimana cara kami mengatur finansial, keturunan, prinsip hidup, mendidik anak dan lain-lain. Semacam kesepakatan sebelum menikah.” Ucap Elio penuh dengan kesungguh-sungguhan. Luar biasa…
Renata mengerjap-ngerjapkan matanya. Ternyata anak sahabatnya itu sudah benar-benar matang untuk menikah. Hampir saja ia lupa usia Elio sudah 26 tahun. Layaknya seorang ibu, baginya Elio masih berumur 14 tahun, seperti dua belas tahun silam, saat ia memutuskan membawa Elio ke tengah keluarganya.
“Maksud Mama kalian, semalam kalian tidak buat kesepakatan apa pun kan untuk mengelabui kami? Pura-pura menikah lalu membuat perjanjian konyol misalnya.” Gilang mencoba meluruskan pertanyaan Renata sebelumnya, agar lebih bisa dipahami kedua anak-anaknya yang punya IQ di atas rata-rata itu.
“Tentu.” Jawab Luna cepat.
“Apa?” Tanya Renata tidak kalah cepat.
“Aku mau kakak kasih aku waktu buat main-main sampai umur 21 tahun.” Tegas Luna.
“Main-main apa?” Nada suara Renata mulai meninggi.
“Luna cuma butuh waktu untuk fokus mengembangkan dirinya, Ma. Luna minta El untuk tidak…hemmm… hemmm…” Elio menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Tidak apa?”
Tanya Gilang dan Renata bersamaan dengan suara tegas
“Tidak menyentuhnya.”
“HA.. HA.. HA.. HA..” Renata dan Gilang tertawa terbahak-bahak bersamaan.
“Hanya sampai umur Luna 21 tahun saja Ma.” Sambung Elio. Jangan sampai orang tuanya berfikir dia akan berpuasa seumur hidup. Sudah pasti tidak sanggup.
“Mana mungkin? Kalian tanpa status pernikahan saja bisa tidur berpelukan.” Cicit Renata kesal. Sombong sekali gaya anak-anaknya itu.
“Hemmm… Nanti aku coba bujuk Luna biar mau ngasih korting. Aku juga mungkin tidak tahan menunggu selama itu.” Ucap Elio seperti tengah melakukan transaksi jual beli di pasar ikan.
“Aku tuh orangnya nggak mudah dibujuk ya.” Celetuk Luna seakan lupa siapa tukang nyosor yang sesungguhnya. Bahkan pipi Elio saja ia perawani secara paksa karena sang kakak berbaik hati berbagi es krim dengannya dua belas tahun silam.
Renata dan Gilang sama-sama terdiam beberapa saat. Mereka menatap kedua anaknya yang sedang menyantap sarapan. Akrab sekali. Mereka saling berbagi. Elio membantu menyajikan dan menuangkan saus sambal di piring Luna. Luna pun memberisihkan meja makan dan mencuci piring mereka.
Kedua anaknya sudah masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri, akhirnya Renata mulai berbicara serius pada Gilang. Ini sangat serius seperti sedang membicarakan persiapan perang.
“Mama sudah Ikhlas.” Akhirnya dengan berat hati Renata harus setuju. Sepertinya suaminya benar, Elio jauh lebih bisa mendidik Luna dari pada mereka. Ditatapnya sang suami, memberi kode untuk ikut memberikan jawaban.
“Papa juga setuju. Titip anak Papa ya El.” Suara Gilang seperti tercekat. Ternyata begitu rasanya melepaskan bayinya yang sudahmenjadj gadis pada seorang pria yang mengatakan akan mengambil alih tanggung jawab membahagian putrinya dari dirinya.
“Alhamdulillah. Terima kasih Papa dan Mama Mertua.”
Krik… krik… krik…
...😂[Bersambung]😂...
Terima kasih sudah mampir dicerita suka-suka ini ya. Pastikan cerita aneh ini masuk di keranjang favoritmu. Pencet like terus komen sesukamu. Aku baru sadar, ternyata aku tipe penulis yang suka baca komen terus cekikikan. Tolong hibur akuh para pembaca… Biar aku bisa cemerlang bikin dua novel beda genre. Wawas kecampur jadi gak seru.