
Baru saja Luna turun panggung, teman-temannya sudah berhamburan seperti anak ayam mencari induknya. Ada yang meminta satu dua jepretan foto, ada juga yang mengajak Luna sekedar bergabung ke meja mereka untuk minum.
“Luna… Gila lo… Makin keren euy main gitarnya.”
Seorang pria bernama Satria menghampiri Luna. Teman kampusnya itu memang dekat sekali dengan Luna. Mereka satu organisasi juga di pentas seni.
“Elah… Biasa aja kali. Gitu-gitu aja perasaan.” Ngeles. Padahal tiap malam Luna meningkatkan teknik main gitarnya melalui tutorial yang ia tonton di youtube.
“Luna… Sini…” Kali ini gadis bernama Dessy melambaikan tangannya dari jauh. Luna pun berjalan menghampiri gadis itu.
“Bagi dong…!” Luna langsung merebut es lemon tea dari tangan Dessy dan meneguknya sampai habis.
“Buset deh. Lo udah kaya onta kalau minum.”
“Haus tau. Gila aja lima lagu, nggak pake jeda. Entar gue ganti minuman lo.” Jawab Luna sambil menarik kursi agar dia bisa bergabung duduk dengan Dessy, lalu meminta waitress menambahkan dua gelas lemon tea lagi ke meja mereka.
“Btw, kakak lo free nggak?”
Luna langsung tersedak air ludahnya sendiri. Kenapa jadi bahas Elio sih.
“Free gimana?”
“Maksud gue udah punya calon belum?” Dessy memperjelas pertanyaannya.
“Oh itu…” Luna kebingungan.
“Udah ada yang punya. Chef di cafe ini.” Tiba-tiba saja Alea datang kemeja mereka membawakan lemon tea yang tadi mereka pesan. Ternyata posisi kasir sudah digantikan oleh Langit, karena saat ini cafe butuh waitress lebih banyak makanya Alea turun tangan.
“Tau dari mana lo?” Dessy menatap Alea dengan wajah penasarannya.
“Tanya aja sama Luna kalau nggak percaya. Makin so sweet lihat mereka sering ngobrol tiap hari. Mana manggilnya aja beda dari yang lain. Deket banget kaya sendok sama garpu. Urusan itu pasti gue lebih tau dari Luna. Kan gue yang sehari-hari jaga cafe ini.” Ucap Alea sambil berlalu mengantar minuman ke meja lain.
“Bener Lun?”
Luna mengangguk. Entahlah… Malas membahas lebih jauh. Tapi apa iya? Sendok sama garpu? Tindih-tindihan dong? Masa sih? Elio kan cupu.
“Eh… Gue ke toilet dulu ya.” Luna bangkit hendak menuju ke dapur. Tiba-tiba ia menabrak seseorang. Mereka berdua terjatuh.
“Astagfirulllah. Maaf maaf…” Luna langsung berusaha membantu orang tersebut untuk berdiri. Sialnya pria itu Aries. Orang yang ia hindari dari beberapa bulan yang lalu.
“Are you okey?” Tanya Aries justru tampak lebih khawatir.
“Eng… nggak pa pa. Sorry ya aku buru-buru tadi.” Luna berkilah, padahal kakinya sakit bukan main. Bukan semata-mata karena insiden barusan, tapi sebelumnya ia sempat cidera setelah bermain futsal. Jadi terjatuh sedikit saja kakinya nyeri lagi.
“Aku yang minta maaf.”
Luna mengangguk kecil, “Permisi.” Luna hendak meninggalkan Aries. Tapi sialnya kakinya tiba-tiba saja susah digerakkan.
“Auuuu…” Rintihnya.
“Kayanya kaki kamu sakit. Duduk dulu aja ya.” Aries mengangkat satu kursi kosong ke dekat Luna. Mau tidak mau Luna duduk dikursi itu.
“Boleh aku periksa?”
“Nggak usah. Aku nggak pa pa kok.” Luna langsung menarik kakinya. Tidak mau Aries membuka sepatu kets putihnya. Jangan sampai citranya buruk karena dipijit di depan teman-temannya.
“Kalau nggak diobati nanti makin sakit.” Bujuk Aries sambil berjongkok berusaha menggapai kaki Luna lalu membuka sepatu itu pelan-pelan.
Luna menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jangan…” Tolaknya, tapi apa boleh buat, kakinya tidak bisa begerak menjauhi tangan Aries. Tidak ada pilihan lain selain pasrah.
“Biar aku saja.” Suara bariton itu hadir kembali.
Sosok iron man selalu datang disaat yang tepat. Menyelamatkan kaum tertindas seperti Luna. Ingatkan Luna untuk memberi hadiah pada Elio nanti.
“Kita obati dibelakang.”
“Terima kasih sudah berniat membantu Luna. Lain kali panggil saja aku kalau Luna kenapa-napa.” Ucap Elio dingin, lalu berlalu meninggalkan kumpulan orang-orang itu.
Sikap dingin Elio membuat hati para wanita menjerit-jerit. Masyaallah… nikamat mana lagi yang kau dustakan. Sudahlah tampan, baik, bertanggung jawab pula.
Sampai di ruang briefing Elio langsung melepas sepatu Luna. Memijit pelan-pelan tapi lama-lama mulai terkesan menindas. “Aaak sakit kak..”
Tidak peduli dengan pekik Luna, ia masih menarik sampai terdengar bunyi krek. “Aaaampuuuuun… Ya Allah tobaaat…” Luna menjerit sampai mengis. Tapi memang begitu kan kalau pijit kesleo. Jangan berfikir seperti di film-film yang penuh dengan keromantisan. Tidak… Luna sakit sungguhan.
“Udah nggak usah cengeng. Salah sendiri udah dibilang entar dulu main futsalnya tunggu kaki sembuh, tetap aja bandel. Sekarang jatuh sedikit aja kesleo lagi kan.” Elio makin galak. Hatinya sudah panas dari tadi, apa lagi si calon istri hampir dipegang-pegang pria lain.
Tau letak salahnya dimana, Luna diam tak berkutik. Perkara kaki ini memang sudah lama diingatkan Elio, tapi Luna selalu merasa kakinya baik-baik saja, dan kembali main futsal.
“Udah…! Kita nggak usah ke supermarket. Kamu pulang, aku antar. Habis itu aku mau ke hotel.” Ucap Elio dingin sambil berjalan meninggalkan ruang briefing. Jarang sekali Elio bersikap seperti itu pada Luna. Membuat gadis itu ketakutan.
“Kakak maaf…” Suara Luna lirih.
Deg…!
Elio menghentikan langkahnya, ia diam beberapa saat.
Dia salah. Harusnya tidak boleh seperti itu pada Luna. Jangan sampai rasa cemburunya membuat hubungan mereka berjarak seperti hubungan Renata dan Luna.
Elio memutar tubuhnya lalu tersenyum manis. Ia berjalan kembali ke arah Luna. “Ayo sholat zuhur. Mau pulang atau ikut aku hotel?” Kali ini suara Elio kembali ramah. Tangannya juga terulur mengacak rambut Luna.
“Kita nggak jadi ke supermarket?”
“Nggak usah dulu ya. Kaki kamu sakit. Barang yang penting-penting aku beli di minimarket dekat apartement kita aja.”
Luna mengangguk. Lega. Gundukan batu esnya kembali mencair. Elio tidak boleh marah, nanti mereka tidak jadi menikah. Kan gawat kalau Luna diseret mamanya ke Aussie.
“Jadi gimana? Ikut ke hotel atau pulang?”
“Ikuuut…” Rengek Luna.
Elio mengangguk. “Aku panggil Alea buat bantu kamu wudhu. Habis sholat, kita langsung berangkat.”
...***...
Bumblebee pun kembali ugal-ugalan. Vespa kuning itu melaju tidak menentu hampir oleng. Jangan ditanya jumlah pengendara lain yang nyaris ia tubruk. Banyak.
“Ya Alllah… Pelan-pelan kakak. Aku belum kawin.”
“Ya sabar. Bentar lagi kita kawin.”
“Bukan gitu konsepnya. Kakak jangan ugal-ugalan. Kalau kena tilang gimana?” Ancam Luna, dan benar saja di depan ada plang razia polisi. Beberapa orang berseragam polisi sudah bersiap-siap mencegat dari kejauhan.
“Kaaak… Punya SIM kan?”
Elio menelan ludahnya kasar. “Punya. SIM A.”
“Mana bisa. SIM C?”
“Enggak.” Jawab Elio cepat.
“Turun….!”
Akhirnya Elio meminggirkan Bumblebee. Pria itu menyerah. Bahaya kalau dilanjutkan. Bisa-bisa citranya sebagai pria tampan nan dingin rusak karena ketahuan melanggar peraturan negara.
“Dadaaah Kakak…” Ucap Luna girang sembari melambaikan tangan kirinya. Luna meninggalkan Elio di pinggir jalan. Gadis itu tersenyum mengendarai vespanya tanpa rasa berdosa.
...😅-[Bersambung]-😅...
Selamat malam senin. Ingat besok kerja ya.