My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Luna vs/cs Renata



Luna POV


Akhirnya setelah sholat ashar, aku memutuskan pulang ke apartemen. Tidak ada lagi yang menemaniku, karena setelah makan di kantin tadi Ale langsung dijemput oleh Bang Langit. Haha tidak menyangka anak itu sebentar lagi akan dilamar orang.


Masih ingat lima tahun yang lalu saat pertama kali Mama membawa Ale ke Jakarta, kondisinya bisa dibilang jauh dari kata sehat secara psikis. Ayahnya dipenjara karena membunuh preman yang memerkosa dan membunuh kakak kandungnya. Tidak lama setelah itu ibunya meninggal karena serangan jantung. Jadilah Ale hidup sendiri, mengandalkan saudara orang tuanya.


Satu tahun Ale mengalami depresi hingga tidak bisa melanjutkan sekolah, untunglah dia segera dipertemukan dengan Mama. Setelah kondisinya membaik, Ale disekolahkan di Jakarta, namun dia memilih tinggal terpisah dari kami karena merasa sungkan tinggal satu rumah dengan Kak El yang saat itu ia ketahui adalah Kakak kandungku.


Sejak saat itu aku sudah merasa memiliki seorang kembaran dengan perbedaan umur 11 bulan lebih tua. Kami seperti hidup dalam dunia yang sama. Kuliah satu jurusan, dia juga berperan sebagai managerku untuk perkara menyanyi, suka tour dengan Bee, suka bermain futsal dan yang pasti tempat bergosip yang nyaman. Haha.


Aku menghembuskan nafas berkali-kali, tidak ada Ale di apartemen rasanya sangat sepi. Aku lirik ponselku tidak ada pesan atau panggilan masuk. Hemmm… Apa Kakak sesibuk itu? Bisanya banyak tanya dan suka mengatur. Ingin rasanya memulai komunikasi sekedar bertanya kabar pada Kakak, tapi ternyata aku masih gengsi mengirim pesan duluan.


Ya sudah… aku putuskan mengisi daya baterai HP lalu merapikan apartemen, mengganti seprai dan terakhir barulah membersihkan diri disambi membersihkan kamar mandi.


Drrrtttt…. Drrrttt…


Baru saja aku keluar kamar mandi masih menggunakan handuk, ponselku bergetar tanda panggilan masuk. Oooww…. Video call dari Kakak.


“Ottokeeee….” Tanganku otomatis mereject panggilan tersebut.


“Kenapa di reject. Kemana lagi kamu?”


Langsung saja pesannya masuk. Aku langsung membayangkan wajah kesalnya.


“Atulah… Jangan galak-galak sama aku. Aku habis mandi, belum pakai baju.” Balasku.


Eee… Malah dia video call lagi. Sekali lagi aku reject.


“Angkat. Aku mau lihat.”


Aduuuh… Aku langsung mengambil baju kaos paling longgar dan memakai tanpa dalaman. Barulah panggilan ke tiga ini aku angkat.


“Assalamu’aikum Kakak.” Aku tersenyum sambil mengacungkan tanda damai.


Kakak langsung menghela nafasnya “Wa’alaikumussalam.” Wajahnya tampak kecewa.


“Gerak cepat kamu ternyata.” Imbuhnya. Aku langsung tertawa menang.


“Kakak jangan macam-macam dulu. Emang kerjanya udah beres?” Tanyaku. Kakak langsung menggeleng, kasian sekali mukanya seperti kelelahan.


“Tapi aku pusing banget. Gara-gara audit jadi banyak masalah di operasional. Soalnya sebagian besar strategic man power di alokasikan untuk audit, jadi operational kurang dapat supervisi. Alhasil banyak complaint dari pengunjung.” Keluhnya. Aku hanya mengangguk-angguk meskipun tidak mengerti.


“Mana kalau udah beres kerja, aku suka nggak bisa tidur.” Kakak memijit pangkal hidungnya, sepertinya dia benar-benar kelelahan.


“Kenapa? Kakak Insomnia ya?” Tanyaku bersimpati.


“Iya… Terkesan gombal, tapi aku beneran kepikiran kamu. Sampai aku liatin aja tuh foto-foto kamu di Instagram. Nggak penting banget kan..?” Ehh… Kenapa senang gini akunya.


“Jangan senyum-senyum, aku jadi nggak tahan nih.” Ancamnya sambal memperbaiki duduk jadi lebih tegap. Mau ngapain…


“Kenapa sih Kakak jadi suka bicara aneh sekarang? Kakak tu udah kaya pedofil kalau lihat aku. Jadi merinding gini akunya.” Aku langsung manyun.


“Hahaha pedofil. Jangan sok muda kamu. Bentar lagi 20 tahun.” Eh malah ingetin umur.


“Eh Udah azan maghrib…! Ayuk sholat dulu.” Ajakku. Eh si Kakak malah menghela nafas.


“Eh diajakin sholat kok malah malas-malasan gimana sih?”


“Sholat di awal harus diutamakan atuh Kak. Malah harusnya Kakak tu sholat ke masjid, berjamaah.” Kenapa aku jadi kaya Mamah Dedeh begini.


“Iyaaaa… Aku tadi cuma ngebayangin kamu disini, kita bisa sholat bersama. Aaakkk…” Kakak malah memegang kedua kepalanya seperti frustasi. Aku langsung melongo tidak pernah melihat dia sekacau ini.


“Hehe iya ya.” Aku jadi kepikiran waktu sholat subuh berjamaah pertama dengan Kakak setelah menikah. Deg-degannya masih terasa sampai sekarang.


“Ya udah… Nanti sholat berjamaah lagi kapan-kapan.” Aku semringah, tidak mau terbawa sedih.


“Hmmm kapan?”


“Ya nanti kalau sudah ketemu. Kita langsung sholat bareng.” Ucapku.


“Aku matikan ya. Jangan lupa doain aku, nanti aku juga doain Kakak biar urusannya lancar. Haha barter doa istilahnya.” Dia langsung tersenyum, aku jadi lega.


“Daah Kakak. Assalamu’alaikum.” Eh lupa Kakak belum jawab sudah aku matikan. Pasti dia kesal. Haha.


Tadinya aku kepikiran untuk menyusul Kakak hari Jumat sore saja, Sabtu dan Minggu kami bisa jalan-jalan di Bandung, tapi melihat dia seperti tadi jadi kepikiran berangkat lebih awal.


Setelah sholat isya, aku mulai packing barang untuk dibawa ke Bandung lalu memasukkan ke dalam ransel travellingku. Setelah semua rapi, bukannya lega, aku malah deg-degan gini. Jadi takut ketemu dengan Kakak yang lebih frontal mengatakan keinginannya. Huaaa… Jadi aneh-aneh gini mikirnya.


Drrrtttt…. Drrrttt…


Baru saja ingin tidur, ponselku berbunyi lagi. Kali ini dari Mama. Ya Allaaaah… Kangen banget sama Mama. Terakhir telfon hari minggu kemaren, tapi kenapa kangen banget gini.


Bentar… Bentar… Aku langsung mengacak-acak rambutku, naik ke atas kasur dan memasang wajah mengantuk. Ini wajib… Karena aku harus terlihat bandel di depan Mama. Ibarat kata Auto-default seperti itu biar dapat perhatian dan omelan.


“Assalamu’alaikum…” Aku menjawab dengan suara berat, bahkan mata sengaja aku tutup seperti orang bangun tidur.


“Wa’alaikumussalam. Kamu udah tidur? Kan masih jam 8 malam.” Mama menyeringit, tapi wajahnya penuh selidik.


“Iya… Ngantuk. Mama ngapain nelfon aku? Ganggu orang tidur aja.” Ucapku. Pasti Mama langsung kesal. Aku jadi senang kalau begini.


“Kamu tuh di telfon orang tua ya… Bukannya tanya kabar malah nanya ngapain telfon.” Mama langsung sewot, aku tertawa dalam hati.


“Mama tuh khawatir sama kamu. Malam ini beneran kamu bisa tidur sendiri?” Ternyata Mama khawatir karena aku sendirian di apartemen.


“Ya bisa lah Ma. Kenapa sih? Ini barusan aku tidur. Mama bangunin aku.” Aduh dosa nggak sih ngebohong. Ampuuunkan aku ya Allah.


“Terus… Kamu fikir Mama percaya? Mama lihat di CCTV kamu habis membereskan apartemen kok.” Whaaat…. Mama ternyata lebih pinter dari aku.


“Haha…” Aku langsung terbahak.


“Kok Mama masih aja sih bisa akses CCTV apartemen? Kan aku sudah menikah.”


“Memang kenapa? Kan cuma di ruang tengah CCTV nya.”


“Mama nggak akan ngintip kalian asal kalian mainnya nggak di ruang tengah.” Aku langsung terbelalak.


“Ih… Mama tuh difilter kek ngomong sama aku.” Jawabku sewot.


“Haha… Masih malu-malu aja kamu. Padahal mah udah enggak-enggak kan..?” Eh ini Si Mama malah lebih ngeselin dari aku.


“Udah ah… Aku mau tidur beneran aja kalau Mama ngomong aneh-aneh terus.” Ancamku


“Eh jangan…! Mama mau ngomong serius sama kamu.” Mama menahanku.


“Kamu susul El ya…” Entah kenapa suara Mama seperti penuh harap.


“Kenapa memangnya, Ma?” Aku jadi terbawa ikut serius.


“Iya… Kalian kan cuma terpisah jarak Jakarta – Bandung, kamu juga sudah selesai ujian. Disusul aja. Bagaimana pun suami itu pasti butuh dukungan dan perhatian istrinya terutama dalam kondisi sulit. Jangan sampai dia mendapat perhatian dari orang lain, karena merasa kurang dapat perhatian dari kamu…!” Aku terbelalak, aku lihat Mama justru tersenyum.


“Iya… Kenyataan memang begitu. Godaan seperti itu pasti ada. Makanya sebagai istri kita juga harus memastikan suami merasa nyaman, sehingga tidak mau berpaling.”


“Sekarang kalau memang kamu memang belum bisa melayani secara sempurna seperti yang kalian rencanakan, minimal bisa membuat El nyaman dengan kamu.” Mama kalau sudah bicara seperti ini aku jadi mengangguk-angguk.


“Mulai besok, belajar menyiapkan kebutuhan El ya. Siapkan handuk sebelum mandi, siapkan pakaian sebelum ke kantor, siapkan sepatunya.” Entahlah Mama menyebut apa lagi panjang kalimatnya intinya Kakak akan menjadi raja kalau sama aku. Enak betul…


“Whaaaat….? Ini kenapa jadi kaya ART begini?”


“ART kan asisten rumah tangga. Dia hanya membantu pekerjaan rumah, bukan jadi penanggung jawab. Jadi kewajibannya tetap ada di kamu.” Aku jadi menerawang, pantas kalau Papa pulang, Mama jadi terlihat rajin. Aku kira selama ini Mama cari muka saja sama Papa. Haha emang dasar aku selalu berpikir negatif.


“Mama…”


“Hemmm…”


“Aku pengen tau, kenapa Mama milih jadi wanita karir dulu?” Tanyaku. Sepertinya perlu melihat dari kaca mata Mama kenapa dia memilih bekerja bukan jadi full Ibu Rumah Tangga saja.


“Jadi IRT atau jadi wanita karir itu sama saja, sama-sama punya tanggung jawab dan pasti sama-sama punya tantangan. Sekarang dikembalikan pada kebutuhan dan value dari rumah tangga masing-masing.” Andai semua berfikir seperti Mama pasti tidak ada tuh perdebatan IRT vs Wanita Karir. Haha…


“Bagi Mama pribadi, selain butuh biaya tambahan untuk menyekolahkan kalian berenam, Mama ingin ilmu yang Mama punya bisa bermanfaat untuk banyak orang.”


“Sejatinya pekerjaan dokter itu menolong, jadi rasanya bekerja sambil beramal saja. Untung Mama berjodoh dengan Papa yang mendukung keinginan Mama, bahkan sampai punya anak enam. Alhamdulillah…” Eh Mama malah tersenyum.


Setelah pembicaraan malam ini ada dua hal yang aku simpulkan, pertama melayani semua kebutuhan Kakak. Yang kedua adalah value apa yang aku terapkan dalam rumah tanggaku dengannya. Harus bekerja atau hanya cukup menjadi support system Kakak di rumah. Poin ke dua ini harus jelas aku tanyakan pada Kakak nanti di Bandung.


Malam itu bukannya tidur, aku justru memilih membereskan kamar Kakak. Mengganti seprainya, membersihkan debu, menata beberapa dokumen yang entah kenapa banyak yang berantakan dan terakhir ini yang paling penting menata lemari. Aku memindahkan sebagian pakaiannya ke kamarku, begitu pun sebagian pakaianku ke kamarnya.


Setidaknya dengan begini aku merasa lebih bebas akan tidur dikamar mana nanti. Anggap saja kamar kami memang ada dua. Suka-suka mau pakai yang mana, tergantung mood dan kenyamanan. Tiba-tiba jadi ingat kata Kakak, habis atraksi di kamar satu, pindah ke kamar satunya. Hahaha dasar aku ikutan mesum gini. Au ah… Gelap…!


...🤭-[Bersambung]-🤭...