
“Yuk Le…” Luna menepuk pundak Alea yang duduk di salah satu bangku tunggu di depan ruang dosen.
“Akhirnya… Gue nungguin lo sampai jamuran tau nggak…?” Dengus Alea dengan nada protes.
“Maaf….”
Luna segera menarik Alea pergi dari tempat itu sebelum ada orang lain yang kembali mengajaknya bicara.
“Hari terakhir ujian, bukannya happy-happy malah ngadep dosen. Emang susah ya jadi mahasiswa pinter kaya lo. Enggak bebas hidupnya.” Sambungnya karena menunggu lama.
“Untung baterai HP gue full jadi nggak terlalu bosan menunggu lo sampai dua jam. Bisa main game onet”
Luna malah menghela nafasnya. Kalau Alea sudah pundung begini dia jadi merasa bersalah.
“Sorry banget. Gue traktir makan ya..? Jangan marah lagi.” Tawar Luna.
Selang beberapa saat ia keluar dua orang yang sama. Salah satunya membuat Alea terbelalak. Ada apa Presbem yang berstatus mahasiswa fakultas ekonomi itu terdampar di ruang dosen fakultas teknik. Keterkejutannya bertambah saat sang Presbem justru menghampiri mereka.
“Luna… Kalau kamu berubah fikiran kabari aku ya. Nomor Hp aku pasti ada di chat whatsapp kamu. Tapi kalau kamu kesulitan mencarinya, aku chat lagi sekarang.” Ucap Aries ramah.
Pria itu mengeluarkan ponsel dan kantong celananya lalu terlihat mengetik beberapa kata di aplikasi whatsapp-nya.
“Sudah aku chat. Silakan di cek.” Luna merasakan getaran pad ponselnya lalu mengangguk.
“Jangan lupa di save nomor HP aku ya.” Pria itu kembali tersenyum.
“Iya Kak. Pesannya sudah masuk. Terima kasih, nanti kalau berubah fikiran aku kabari.” Luna berusaha terlihat biasa.
“Jangan lupa di save ya.” Aries tersenyum, wajah menjadi berkali lipa lebih tampan.
“Kalau gitu aku pamit ya. Mari…” Dia kembali tersenyum ramah pada mahasiswa lain ternasuk Alea.
“Dia…” Ucapan Alea terhenti karena Luna langsung menarik tangannya.
“Makan dulu. Gue laper banget.” Ucap Luna terburu-buru. Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai pada cafentaria yang mirip seperti food court itu.
“Pesan apa lo?” Tanya Alea.
“Nasi soto sama es jeruk aja deh.” Jawab Luna tanpa melihat buku menu. Sudah dua jam dia di ruangan Pak Cipto. Perutnya suduah melilit sakit karena melewatkan makan siang begitu saja.
“Ya udah. Nasi soto dan es jeruk dua ya Mba.” Ucap Alea pada penjual.
“Lo dipanggil Pak Cipto urusan kompetisi ke Jepang itu?” Tanya Alea dan langsung dijawab anggukan oleh Luna. Wajahnya terlihat murung tidak bergairah.
“Kenapa lo? Jangan bilang akhirnya lo menolak tawaran itu.” Tebak Alea. Lagi-lagi Luna hanya mengangguk dengan wajah lebih sulit diartikan.
Alea langsung menghela nafasnya. “Kak El nggak ngasih izin ya?”
Kali ini Luna menggeleng. “Gue bahkan belum ngomong sama sekali sama Kakak.” Ucap Luna.
“Lah? Terus kanapa ditolak neng geulis? Kesempatan emas loh itu. Nggak semua orang bisa direkomendasikan kaya elo. Sintia aja pengen banget ikut lomba itu sampai mengajukan diri ke dosen. Kok lo malah menolak?”
Luna mendesah. Jika ditanya hati kecilnya pasti dia ingin sekali ikut lomba itu. Tapi sekarang kondisi sudah berbeda, asa Elio dalam hidupnya. Luna tidak mungkin meninggalkan suaminya.
“Kenapa sih? Coba cerita sama gue. Jangan sampai karena terburu-buru mengambil keputusan, terus menyesal.” Ucap Alea.
Hampir lima tahun bersahabat dengan Luna membuat Alea paham kalau selama ini Luna selalu overthinking terhadap sesuatu. Kadang perlu diarahkan biar selamat sampai tujuan dengan tepat dan selamat.
“Waktunya udah mepet, tapi gue belum sempat cerita sama Kakak.” Jawab Luna sambil menerima pesanan mereka yang diantarkan oleh penjual.
“Heleh… Alasan lo nggak masuk diakal. Phone se x aja bisa, masa cerita hal yang penting kaya gini nggak bisa. Jangan suka bikin alasan yang enggak-enggak.” Alea tersenyum sinis. Luna langsung melotot, takut ada yang mendengarkan mereka.
“Entahlah… Setiap kali gue video call atau telfon, gue lihat dia udah capek. Jadi nggak tega buat diskusi hal berat. Yang ada dalam fikiran gue, gimana dia bisa terhibur dari penatnya aja.” Jawab Luna sambil mulai memasukkan soto kemulutnya.
“Tapi komunikasi itu penting.”
“Iya… Gue juga tau Aleeee…” Sangkat Luna.
“Komunikasi itu nggak cuma bicara dan mendengarkan. Tapi tepat waktu dan tepat tempat.” Luna mencoba memberikan pendapat.
“Gue butuh ruang dan waktu yang tepat kalau diskusi. Suasana tenang, sama-sama adem. Cukup sekali lah gue ribut karena miskom sama dia.” Luna ingat betul kejadian cekcoknya sebelum pernikahan karena keduanya sama-sama lelah dan kurang tidur.
“Gue pernah bilang kan sama lo sebelumnya. Kakak itu bukan orang biasa. Dia punya tanggaung jawab besar. Gue rasa kehadiran gue dalam hidup dia cuma bisa jadi pengacau kalau gue tetap dengan cara yang lama berkomunikasi sama dia.” Luna menghentikan makannya agar bisa bicara panjang lebar.
“Hemmm… Gue rasa itu hanya argumentasi, bukan fakta. Kak El itu diplomatis kok.”
“Termasuk soal kemaren ya? Bisa-bisanya dia minta jatah jarak jauh, dan elo mau lagi.” Untuk kesekian kalinya Luna melotot kesal. Bagiamana tidak usaha menghibur suaminya diketahui oleh Alea.
“Tapi lo lebih baik coba dulu deh. Setidaknya lo tau pendapat dia. Jangan menyimpulkan sendiri. Rugi tau overthinking tuh…!”
Luna terdiam beberapa saat. “Tadinya mau begitu. Tapi tau Kak Aries salah satu membernya, gue semakin yakin kalau Kakak pasti nggak bolehin.” Ucap Luna.
“Bhaahaha… Emang dia suka jealous?” Tanya Alea.
“Banget…!”
“Ya… Ya… Paham gue persoalan hati memang sulit.” Alea mengangguk-angguk. Tapi tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu.
“Masa sih? Gue masih nggak percaya dia cemburuan, orang sendirinya dekat sama Chef Hana.” Ucap Alea terlihat heran.
Luna langsung terdiam bahkan sampai meletakkan sendoknya di piring kembali. Kenapa dalam hal ini hanya dia yang dicemburui, sedangkan Luna berushaa memaklumi kedekatan Elio dengan sahabat kecilnya.
“Ups… Sorry… Gue nggak maksud bikin lo patah hati. Tapi lo pasti tau gue speak by data kan?” Ucap Alea merasa bersalah.
“Semua orang di cafe juga taunya mereka dekat.” Alea memberi tanda kutip dengan jarinya saat mengatakan kata dekat.
“Mereka sahabatan dari kecil. Kata orang tua Kak Ayya, mereka sejak masih pakai popok udah bersama.” Jawab Luna berusaha terlihat santai.
“Hemmm… Ya gue percaya. But sorry to say ya Luna cantiiik, dalam kamus gue nggak ada yang namanya sahabatan beda gender, apalagi cuma berdua. Salah satunya pasti ada yang baper.” Alea berusaha membaca tatapan Luna tapi sahabatnya itu terlihat baik-baik saja.
“Tapi dalam hal ini, gue yakin Kakak lo setia kok. Jadi tenang saja…” Ucap Alea sambil menepuk-nepuk lengan Luna.
“Hemmm..” Luna hanya tersenyum. Jangan sampai Alea tau kalau dugaannya benar.
“Setelah gue fikir-fikir, kalian itu butuh waktu berdua deh. Kadang nggak semua komunikasi berat itu diselesaikan dengan kepala dingin, tapi juga harus sesuatu yang PANAS. Hahahhaa…” Alea terbahak-bahak.
Plataaak…!
Luna langsung menjitak kepala Alea. “Diem lo. Mesuuum…!” Bisiknya.
“Eh siapa yang mesum. Elu aja yang mikir kesana. Maksud gue tu, kalian butuh waktu main ke pantai, panas-panasan. Atau mungkin masak bareng di dapur dekat api. Kan juga panas… Huuuuu…!” Alea makin terbahak mebully sahabatnya itu.
“Tapi gue serius soal kalian butuh waktu me time berdua. Ini kan ujian udah selesai, susul gih dia ke Bandung.” Saran Alea.
“Ceritain semuanya, termasuk soal part time itu. Mana yang boleh, bisa dijalankan. Mana yang enggak boleh, ya udah direlakan. Jangan menyimpulkan sendiri.” Alea ternyata cukup dewasa memberikan saran.
“Ya… Ntar gue fikirin dulu deh. Gue masih mau beresin apartemen dulu. Mau istirahat juga…!” Jawab Luna.
“By the way, lo yakin nggak apa-apa gue tinggal mulai malam ini?” Tanya Alea.
“Iyaaa… Yakin…! 100% yakin…!” Jawab Luna. Dia tidak mungkin menahan Alea pulang kampung ke Sukabumi. Meskipun hanya ada ayahnya yang di penjara dan beberapa saudara jauh, setiap libur semester pasti Alea pulang ke sana.
“Lo berangkat sama siapa?” Tanya Luna. Alea langsung tersenyum dan tidak menjawab.
“Eeh malah senyum-senyum… Berangkat sama siapa? Mama udah tau belum?” Tanya Luna dengan suara tegas.
“Sama Bang Langit. Hehe…” Gadis itu tersenyum malu.
“Kalian…?”
“Enggak…! Kita cuma teman.” Sangkal Alea.
“Jangan menjilat ludah sendiri anda yaaaa…! Tadi bilang nggak ada teman beda gender, sendirinya begitu. Ciuh…” Luna berdecih.
“Jangan bilang berdua..! Gue laporin Mama lo..!” Ancam Luna mengayunkan jari telunjuk. Bagaimana pun Mamanya ikut bertanggung jawab pada Alea sekarang.
“Enggak… Gue berangkat sama orang tua Bang Langit juga. Sekalian mau lihat Ayah di penjara.” Jawab Alea.
“Eh… Lamaran begitu maksudnya?” Alea kembali tersenyum malu kemudian mengangguk.
“Astagfirullaaaaah… Tega lo nggak cerita sama gue…” Ucap Luna terlihat kesal.
“Lo aja yang enggak peka. Kak El, Tante Rena sama Om Gilang tau kok.” Luna makin melotot. Kemana saja dia selama ini tidak tau sahabatnya akan dilamar orang.
“Lo terlalu sibuk pacaran virtual sampai lupa sama dunia nyata. Apalagi setelah ngerti yang enggak-enggak. Beuuuh makin-makin lupa sama gue” Sindir Alea. Luna jadi melotot kesal.
...✍️-[Bersambung]-✍️...
Jangan lupa votenya ya. Mumpung hari Senin. 😂