My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Hubungan Terlarang



Renata terbelalak saat mendengar unit apartemen kecil miliknya berbunyi, pentanda kunci akses sedang dibuka dari luar.


“Pap… Anak-anak pulang.”


“Ya udah biarin aja. Papa ngantuk.” Gilang justru semkin mempererat pelukannya pada tubuh Renata.


“Ih… Pakai baju dulu.”


“Mama aja ya. Papa lemes.” Suara Gilang terdengar parau. Pria itu hampir terhanyut dalam mimpi.


“Makanya dibilang tadi udahan masih terus aja.”


“Kan enak.”


Renata yang ingin menanggapi ucapan suaminya dibuat ketar ketir saat suara nyaring Luna memanggilnya dari luar.


“Mamaaaa Luna masuk ya…”


“Eh tunggu…!” Renata langsung menghambur ke pintu dan menguncinya dari dalam.


“Ih… Kok dikunci sih? Aku mau bersihin kamar mandi kakak. Jorok banget itu udah tiga hari nggak disikat.” Protesnya.


“Sebentar. Mama lagi ganti baju.”


Elio yang sibuk memindahkan sate ayam untuk santapan makan malam Renata dan Gilang ke dalam piring dibuat senyum-senyum.


“Udah nanti aja.”


“Kalau nanti aku keburu ngantuk kak. Besok praktikum desain mabel dari siang sampai sore. Butuh tenaga banyak buat angkat-angkat board pasti.”


“Tuh kan… nyesel aku nggak langsung pulang tadi. Udah… Nanti aku aja yang bersihin.” Elio si anak manis langsung mengambil cairan pembersih dari tangan Luna. Lalu mendorong tubuh adik kesayangannya itu masuk kedalam kamar.


“Ih kakak mah nggak pernah bersih kalau nyikat kamar mandi. Aku nggak suka kalau nggak dibersihin sampai dinding-dindingnya.”


“Udah jangan bawel. Mandi terus istirahat...!”


Setelah Luna masuk ke kamarnya, Elio langsung menutup pintu dari luar. Saat berbalik badan, ia tersenyum melihat pintu kamarnya kamarnya yang digunakan Renata dan Gilang. Ah mungkin giliran dia sebentar lagi akan menutup pintu dari dalam, bukan dari luar seperti barusan.


Saat ia tersenyum, tiba-tiba pintu kamar terbuka, Gilang dan Renata keluar bersamaan.


“Kok kamu senyum-senyum. Ada apa?”


“Eh eng… nggak Ma.”


“Halah… Pasti bayangin yang nggak-nggak ya?”


Elio langsung menunduk malu. Dia terbiasa jujur. Tidak mau kalau harus berbohong.


“Tuh kan…? Kaya gini mau gayaan nggak akan nyentuh istrinya nanti, Pap.” Sindir Renata.


“Ma… nggak usah frontal kali. Biarin aja mereka.” Tegur Gilang.


“Aku udah bawain sate ayam. Papa Mama makan dulu aja. Aku boleh masuk pakai kamar mandi di dalam nggak?”


“Kamu pakai kamar mandi Luna aja ya. Nggak kebelet kan? Hehe.” Renata menyengir. Kamar milik Elio sudah tidak beraturan karena hasil pertempurannya dan suami.


Elio hanya menyengir. “En..nggak kok Ma.”


Satu jam menunggu, akhirnya Luna keluar kamar dengan rambut masih basah, lalu bergantian dengan Elio yang meminjam kamar mandinya.


“Kamu udah makan, Sayang?” Tanya Renata pada Luna yang langsung menyambar remot TV.


“Udah tadi sama kakak sama Om Rian.”


Gilang langsung tersedak. “Rian? Teman mama kamu itu?”


“Mantan pacar mama lebih tepatnya.” Jawab Luna mengkoreksi.


“Ngobrolin apa aja?” Selidik Gilang sambil melirik sinis pada Renata.


“Tikus kabur?”


“Apaaaa? Sekelas hotel bintang empat masa ada tikus sih? Elio kamu gimana sih ngerawat hotel?” Renata langsung bereaksi.


“Bukan tikus benaran, Ma…” Sahut Elio dari dalam kamar Luna.


“Tapi koruptor.” Sambung Luna.


“What… Ada KPK dong yang datang?”


“Haha benerkan..? nggak aku aja yang bilang lagi ada OTT KPK.” Luna terkekeh.


Akhirnya keempat orang keluarga ini kembali ke meja makan. Meskipun tadi sudah makan, Luna dan Elio masik ikut makan beberapa tusuk sate ayam. Seolah-olah lupa ada Renata di hadapannya, makan dalam satu piring yang sama.


“Maa… Yang bener aja ah. Ngurus administrasi pernikahan itu nggak secepat itu.” Jawab Gilang. Dia yang bekerja sehari-hari sebagai diplomat merasa sedikit banyak paham urusan administrasi pernikahan. Entah apa hubungannya.


“Iya ih mama… Dikira kaya di novel-novel yang bisa kawin semaunya.” Tukas Luna.


“Nikah Luna.” Ucap Gilang dan Renata serentak.


“Kasih Elio waktu dua minggu buat urus administrasi ke KUA ya Ma.” Tiba-tiba Elio bersuara.


Luna langsung melemparkan pandangannya pada Elio. Menikah? Dua minggu lagi? Nggak mungkin.


“Kakak. Kita belum ngobrolin ini loh…!” Protes Luna menyalak.


“Jadi kamu mau kapan?” Elio balik bertanya.


Luna bungkam. Kapan? Ya mungkin tiga sampai empat bulan lagi atau malah setahun lagi, yang penting bukan dua minggu.


“Setahun, maybe.” Jawabnya.


“Yeesss…!” Renata bersorak. “Ya sudah ke Aussie dulu berarti.” Ucap Renata bangga.


“Eeh… Kok gitu..?”


“Lah kan kalian nikahnya setahun lagi?”


“Nggak… Aku berubah fikiran. Kalau bisa besok, besok…!” Jawab Luna seolah lupa mereka bukan sedang di dunia novel. Eh…


Gadis itu langsung bangkit dari tempat duduknya berlari masuk ke kamar dan membanting pintu. Sontak membuat Elio dan Gilang terkekeh, sedangkan Renata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya masih bingung dengan sikap Luna.


“Apa coba yang bikin dia betah banget di Indonesia?”


“Aku Ma.” Cicit Elio.


Heleh


...***...


Keesokan harinya, setelah praktikum mabel yang mengharuskannya membuat bed side table sampai pukul 8 malam, akhirnya Luna datang ke Teras Teduh. Ia ingin menemui Alea dan minum gratis di cafe milik kakaknya itu.


“Kenapa nggak langsung pulang sih?”


“Haus. Gue lagi miskin nih, jadi mau minum gratis di sini.” Keluhnya.


“Dih… Menghina ceritanya?” Sinis Alea, sebagai anak yatim yang disekolahkan orang tua Luna, tentu ia lebih miskin dari Luna, menurutnya.


“Beneran… Kemaren dipalak kang ketoprak.” Keluh Luna, lalu ia bercerita panjang lebar membuat Alea tertawa terbahak-bahak. Sikap Luna yang seperti ini membuat teman-temannya betah berteman dengan Luna. Apa adanya dan terkesan humble.


Saat tengah asik bercerita, tiba-tiba ponselnya berdering, Elio menelfon untuk menanyakan kapan calon istrinya itu pulang.


“Aku baru beres praktikum. Sekarang lagi di cafe kakak. Nggak usah di jemput. Aku bawa bamblebee terus mau antar Ale pulang.” Jawab Luna setengah kesal. Selalu saja Elio menelfonnya kalau terlambat pulang barang semenit saja.


“Lo beneran mau nganterin gue pulang?” Alea semringah.


Luna mengangguk. “Iya.. Selesai jam berapa sih?”


“Sebentar lagi tutup kok.” Jawab Alea.


Setelah menunggu sekitar setengah jam di cafe sambil minum beberapa gelas es teh manis, akhirnya semua karyawan pulang.


“Yuk…”


Luna yang hendak bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba tangannya di cekal oleh Alea.


“Luna… Duduk dulu bentar. Gue mau bicara serius sama lo.” Alea manarik tangan Luna untuk duduk kembali.


“Kenapa? Lo ada masalah?” Luna langsung bersimpati. Beberapa kali Alea sering punya masalah keuangan dan biasanya Luna akan jadi orang pertama yang akan membantunya.


“Nggak… Bukan tentang gue, tapi tentang lo.” Alea memandangi Luna sangat serius.


“Gue?”


Alea mengangguk. “Jujur sama gue sekarang. Lo sama Kak El menjalin hubungan terlarang ya?”


Mata Luna langsung membola, “Hubungan terlarang? Maksudnya?”


“Udah nggak usah pura-pura nggak tau. Istigfar Luna, dia kakak lo. Dosa kalau kalian main perasaan. Kemaren gue nggak sengaja dengar Kak El minta lo jaga hati lo buat dia.” Tuduh Alea yang masih belum tau status Luna dan Elio bukan lah saudara kandung.


GUBRAAAK


...🤭-[Bersambung]-🤭...


Nah…