My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Enggak Boleh Ya Luna



Azan subuh sudah berkumandang dan terdengar hampir bersahut-sahutan dari satu mushalla ke mushalla lain. Satu pemandangan yang menarik perhatian Luna adalah kebiasaan sholat berjamaah bagi laki-laki di kampung ini. Tidak peduli berapa pun usia mereka, dari anak-anak sampai lansia langsung serentak berjalan ke arah mushalla jika sudah mendengar panggilan azan.


Luna yang baru saja habis mengambil wudhu di kamar mandi yang terpisah dari rumah utama, tiba-tiba mematung mendengar suara azan yang sangat merdu dari mushalla yang terletak tidak jauh dari rumah ini.


“Loh… kok malah ngelamun toh, nduk? Ndang subuhan.” Tiba-tiba Mbah Uti merangkum pundak Luna dari belakang.


“Mushalla di sini banyak ya Mbah. Malah satu deket banget dari rumah ini.” Luna melirik mushalla yang ia maksud, jaraknya hanya terpisah satu rumah dari rumah Mbah Uti.


“Ho oh… Di sini kalau pada punya rejeki lebih suka langsung diwakafan untuk Langgar (Mushalla).” Ucap Mbah Uti sambil menimba air dari sumur.


“Ya ampun Mbah. Kenapa tidak pake pompa air aja? Ini bahaya Mbah nimba air dari sumur sendiri.” Luna langsung berlari membantu Mbah Uti menyambut air hasil timbaan.


“Pipa yang ini loh, Nduk. Rusak udah sebulan ini. Sarjono, tukang dari kampung sebelah masih sibuk katanya. Mbah kung mana bisa mengerjakan ini.” Keluh Mbah Uti.


Luna mendesah, dia khawatir sekali Mbah Uti tangannya tidak kuat, atau malah ketarik kedalam sumur. “Kakak mana ya Mbah?” Ia ingin minta Elio turun tangan bagaimana pun caranya. Kalau perlu Si Sarjono dibayar 10 kali lipat.


“Itu…” Mbah Uti menunjuk ke arah langit.


“Ha?” Luna menengadahkan kepalanya ke atas. Bingung kenapa Mbah Uti menunjuk langit.


“Itu yang azan.”


“Masa sih Mbah?”


“Loh gimana? Nggak kenal dengan suara calon suamimu sendiri.” Mbah Putri terlihat senyum-senyum.


Luna tercenung, masih tidak percaya Elio bisa azan. Lebih tepatnya azan semerdu ini. Luna bisa menebak pasti Elio punya suara yang bagus. Tapi kenapa dia tidak pernah mendengarkan kakaknya itu bernyanyi.


“Bisanya kalau calon suamimu itu yang azan, Langgar penuh sama gadis-gedis desa. Elio seperti kumbang desa disini. Banyak yang minta diginggapi.” Ucap Mbah Putri menghentikan lamunan Luna.


“Oh…” Luna tersenyum dan pamit untuk sholat di dalam kamar.


Setelah sholat subuh Luna langsung membongkar koper miliknya. Mencari baju yang kira-kira patut untuk dia gunakan ke kebun hari ini. Namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


“Luna…”


Suara Elio terdengar dari balik pintu.


“Ya Kak… Sebentar…” Luna berteriak seperti biasa.


“Sssttt… Aku mau ganti baju sebentar. Pinjam kamar.” Bisik Elio, menyadarkan Luna kalau suaranya tadi terlalu melengking.


“Iya-iya…”


Luna yang masih menggunakan mukenah keluar dari dalam kamarnya bergantian dengan Elio yang langsung melangkah masuk.


“Loh kamu bongkar koper sampai kaya gini. Cari apa?”


“Baju…”


Elio menyeringit bingung. “Ini kan baju semua..?”


“Iya… Masa aku pakai blouse ke kebun..?”


“Oooh… Sini pakai baju Bunda…”


Elio membuka satu lemari. Masih banyak baju Riyana di dalam lemari. Sebagian digantung, sebagian dilipat. Semua wangi dan terawat. Tidak seperti baju lama yang disimpan.


“Kok wangi kak?”


Elio tersenyum. “Semua kenangan tentang Bunda pasti aku rawat.”


Luna menciut, merasa tidak pantas untuk memakai pakaian kramat itu. “Aaah aku pakai punyaku aja Kak.”


“Eh nggak apa-apa, Dek. Bunda pasti senang kamu pakai baju dia. Bunda kan sayang sama kamu katanya. Apa lagi sebentar lagi kamu jadi menantunya.”


“Ya udah… Kakak pilihin aja. Mana yang boleh aku pakai.”


Elio menyeringai. “Ini…” Ia menunjuk satu kebaya putih yang digantung dan terlindung plastik binatu. “Baju nikah Bunda.” Elio terkekeh.


“Iiih kakak…” Luna langsung menyubit tangan Elio kesal. “Aku serius..” Ucap Luna dengan bibir mengerucut.


“Aku duarius malah.” Elio mengacungkan dua jarinya.


“Udah ah… Kakak pilihin aja. Aku mau bantu si Mbah bikin sarapan.” Luna berjalan ke luar sambil menghentak-hentakkan kaki, merungut manja sekali.


Selama di dapur, Luna baru tahu ternyata masak dengan tungku itu banyak tantangan. Tantangan terbesarnya adalah menyalakan api yang butuh kesabaran ekstra. Belum apa-apa pipinya sudah kena arang.


“Wes… Sini Mbah Kung bantu…” Mbah Kung akhirnya turun tangan.


“Mbah Kung sering bantu Mbah Uti masak ya?”


“Hampir setiap setiap pagi pasti membantu. Biar cepat sampai kebun ndak kesiangan.” Jawab Mbah Uti yang sibuk memarut kelapa dengan alat parut.


Cukup lama mereka masak bertiga. Luna akhirnya tahu cara mengupas kentang yang baik dan benar dengan melihat Mbah Uti mencontohkannya.


“Mudah toh? Terus potong kotak-kotak, kita buat sambal krecek.” Ucap Mbah Uti.


“Okey Mbah...” Luna memberi simbol okey dengan jarinya. Senyumnya mengembang sempurna.


Luna sang perfectionist sangat handal untuk urusan ini. Ia bisa memotong kentang membentuk kotak kecil-kecil yang simetris tanpa perlu penggaris. Kalau ada yang iseng mengukur mungkin penyimpangan ukurannya hanya plus minus satu milimeter saja. Sampai-sampai saat melihat hasilnya, Mbah Putri dan Mbah Kung ternganga tidak percaya bisa serapi ini. Luna langsung tersenyum bangga.


“OCD dilawan…” Gumamnya dalam hati.


Memasak sarapan pagi ini adalah aktifitas memasak yang paling menyenangkan bagi Mbah Uti. Sudah lama ia tidak kehadiran anak perempuan di dapurnya. Tante-tante Elio hampir jarang datang berkunjung. Sibuk di hotel alasan mereka. Padahal jika goes dengan motor tidak sampai 45 menit mereka juga sampai ke rumah ini. Tapi semua memilih menyewa kos atau membeli rumah sendiri di kota.


“Waah… Aromanya…” Elio datang ke meja makan sudah dengan pakaian rapi. Pria muda itu siap akan memimpin rapat penting pagi ini.



“Gusti Allah… Putuku… Persis Arkan kamu.”


“Ganteng… Riyana dulu kalau lihat suaminya seganteng ini bisa langsung klepek-klepek.”


“Inggih, Pak. Jadi inget pertama lihat si Arkan pakai jas datang kesini, dipikir dia langsung mau nikahin Riyana hari itu. Padahal baru pulang kerja.”


“Ho oh. Hahaha… Bapak Udah tegang takut dia bawa penghulu. Nggak tau nya ngapel malam minggu.”


Mbah Uti dan Mbah Kung saling bersahutan menceritakan masa muda Bunda dan Ayah Elio zaman pacaran dulu.


“Luna ndak ikut Elio aja toh, Nduk? Di kebun itu panas loh. Nanti gosong.” Tanya Mbah Uti.


“Aku di sini aja, Mbah. Justru aku pengen main di kebun. Kan di Jakarta nggak ada kebun beneran. Adanya kebon jeruk.” Ucap Luna terkekeh sambil menunggu Mbah Putri mengambilkannya nasi.


“Ih manja…” Ledek El.


“Ya ndak pa pa toh, Le. Calon cucu mantu si mbah kok.” Ucap Mbah Uti membela.


Luna langsung mencibir ke arah El. Senang Mbah Uti membelanya.


“Aku juga mau diambilin. Tapi sama calon istri.” Ucap El sambil mengerling melirik Luna. Kejahilannya selalu menukik tajam jika sudah bersama adik yang naik level jadi calon istrinya itu.


“Ih… Kakak juga manja… Ngatain aku aja bisanya. Weelk.” Luna mencibir lalu cemberut.


“Ini piringnya. Sajikan untuk calon suamimu.”


Mbah Uti menyerahkan piring kosong ke tangan Luna.


“Kamu harus belajar melayani suami. Meskipun Elio yang masak, tetap kamu yang harus mengambilkan untuk dia. Itu namanya berbakti. Suami itu akan merasa dihargai kalau istrinya patuh dan melayani sepenuh hati.” Ucap Mbah menasehati. Akhirnya Luna mengangguk pasrah, tidak bisa dibantah lagi.


Elio langsung tersenyum penuh kemenangan. Ingatkan Elio untuk memberikan mbahnya hadiah karena sudah membelanya kali ini. Hadiah cicit.


Jika menurut aturan table manner, selama makan tidak boleh bicara, maka itu tidak berlaku di keluarga ini. Mbah Putri masih terus bercerita berbagai topik pada cucunya itu, bahkan mereka bisa sambil tertawa bersama mendengar cerita Mbah Uti dan Mbah Kung yang sudah banyak makan asam garam dunia. Jadilah meja makan itu terasa hangat dan menyenangkan bagi.


“Kamu sampai sore di hotel?” Tanya Mbah Kung.


“Siang aku usahakan pulang, Mbah.”


“Langsung susul aja ke kebun ya. Sepertinya kami makan siang di kebun nanti.” Titah Mbah Kung.


“Sudah bisa dipastikan itu… Apa lagi kalau ada yang cantik gini… Pasti pemuda-pemuda ingin kenalan dulu dengan Luna. Tadi aja anak Pak Sapto udah tanya-tanya Luna sama Mbah Uti.” Ucap Mbah Uti menimpali.


“NGGAK BOLEH YA LUNA..!”


Elio gusar.


...☘️☘️☘️-[Bersambung]-☘️☘️☘️...


Edisi kena teror mimin NT lagi. Haha 😂



Nitizen : Nah kan kemaren dibilangin jangan telat up.


Author : Iya iya maaf…


Nitizen : Sibuk sih ngurusin yang sebelah.


Author : Eh kok tau.


Nitizen : Tau lah… Apa sih yang kami nggak tau.


Author : Nggak tau kan kalau Elio hemmmmm hemmm (Auto-nyanyi lagu religi).