My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Iya Calon Suamiku



Masih dengan posisi Luna yang bertengger di punggungnya, Elio melangkahkan kaki keluar lift tepat di lantai 18 atau satu lantai di bawah rooftop cafe and restaurant di lantai tertinggi Elios Hotel Jakarta.


Lantai ini memang khusus dijadikan ruangan meeting dan ruangan office untuk beberapa divisi yang bekerja di back office, seperti accounting and finance, human resourse, executive secretary dan yang terakhir adalah executive general manager yang merupakan ruangan kerja Elio.


Ruangan kerja Elio sebenarnya tidak begitu besar, namun memiliki interior design yang tepat. Beberapa sisi sengaja dipasang kaca futuristik agar terkesan luas. Semua furniture ruangan di dominasi warna putih dan abu-abu muda. Minimalis dan terkesan elegant.


“Waw… Aku nggak nyangka kakak kerja di tempat sekeren ini.” Gumam Luna sambil merotasi kepalanya ke semua sudut ruangan.


Sebagai mahasiswi arsitektur interior di universitas ternama di negeri ini, Luna mengakui bahwa design ruangan ini sangat memukau dan cocok menjadi salah satu company pride hotel ini. Bahkan ia yakin, hotel ini menyewa jasa designer interior ternama untuk mengahasilkan tata ruang seepik ini.


“Boleh sombong nggak nih?” Timpal Elio.


“Apa?”


“Aku bukan cuma kerja di sini. Tapi yang punya gedung ini.” Elio terkekeh. Sekali-kali sombong sama calon istri boleh lah.


“Ih ngaku-ngaku… Ini punya Om Andra.” Remeh Luna sambil mencibir.


“Kan aku anaknya.”


“Jadi kakak bukan anak mama sama papa lagi sekarang?” Jawab Luna cepat.


“Kamu lupa? Sekarang kan mereka calon mertua aku.” Elio kembali terkekeh karena merasa menang.


“Ish.. Gimana kalau ada yang dengar, kan malu?” Luna menjambak rambut Elio saking kesalnya.


Akhirnya setelah sampai pada sofa tamu di ruangannya, Elio menurunkan Luna dengan hati-hati. “Kamu duduk di sini dulu ya. Aku ke ruangan Om Rian.” Titahnya.


“Nggak perlu Om sudah di sini.” Ucap Pria yang berusia 48 tahun yang bernama Om Rian itu. Sangat berbeda dengan Elio, meskipun sebagian rambut Om Rian sudah putih, tapi tampilannya sangat rapi, memakai jas dan berambut klimis.


Keduanya langsung menoleh dan wajah terkejut ke arah pintu. Ternyata Om Rian mengikuti mereka dari belakang semenjak keluar lift tadi.


“O… Om..” Elio menyapa pria itu sedikit gugup. Tangannya mulai merapikan pakaiannya yang kusut.


“El… El… Pastikan kamu mandi dulu sebelum keluar ruangan ini. Pakai pakaian yang pantas. Ingat El. Terserah kamu mau berpakaian seperti apa di luar sana, tapi saat masuk ke dalam hotel ini, kamu harus tahu posisi kamu di sini.” Tegas Om Rian seperti tengah menasehati anaknya sendiri.


“Iya Om.” Jawab Elio sambil menyengir merasa bersalah.


“Itu kesalahan pertama El. Kesalahan kedua, kamu terlambat. Harusnya kamu sampai satu jam yang lalu.” Ujar Om Rian dengan nada kecewa.


“Maaf Om. Tadi ada insiden kecil di jalan. Makanya aku harus berjalan kaki ke sini.”


Seakan tidak mau peduli dengan penjelasan Elio, pria itu melanjutkan kalimatnya lagi.


“Tikusnya sudah kabur.”


Mendengar kata tikus dan kabur, badan Luna auto-tegak lurus. Luna perlu jeli mendengarkan pernyataan Om Rian. “Apa? tikus kabur?” Tatapan penuh tanda tanya dan dijawab anggukan oleh Om Rian


“Iya… Tikusnya sudah kabur.”


Tikus kabur? Apa Tikus kabur, telinganya masih berfungsi dengan baik. Ada tikus kabur.


“Aaaakkkkkk…”


Luna yang tadi mengeluh sakit kaki langsung lari menuju meja Elio, lalu naik ke kursi kebesaran dan terus ke atas meja. Tangannya menghalau semua dokumen yang ada di atas sana. Alhasil ruangan itu langsung seperti kapal pecah.


“Kok bisa? Masa hotel sekelas bintang empat nggak punya punya pest control? Iiiih…” Ucapnya setengah menyalak dan bergidik geli. Posisi gadis itu sekarang sudah berdiri di atas meja menatap heran pada Elio dan Om Rian di bawahnya yang malah terlihat biasa-biasa saja bahkan menahan tawa.


Bukannya menjawab pertanyaan Luna yang terdengar menggebu-gebu itu, Om Rian malah tertawa terbahak-bahak. “Kamu bawa siapa sih ke hotel?” Tanyanya berusaha menahan tawa.


“Adik aku, Om.” Jawab Elio menggaruk-garuk tengkuknya.


Om Rian menyatukan kedua alisnya. “Adik? Adik-adikan? Adik ketemu dewasa?”


“Anak Mama.” Jelas Elio.


“Sini turun.” Om Rian mengulurkan tangannya membantu Luna turun.


“Nggak mau.” Luna masih memilih berdiri di atas meja putih itu. Kakainya masih menggelinjang, geli sekali membayangkan tikus.


“Bukan tikus benaran. Tapi koruptor?”


Muta Luna langsung membulat saking terkejutnya. “Apa? Koruptornya kabur? Jadi ada DPO (Daftar Pencarian Orang) KPK lagi sembunyi di hotel ini?” Makin sesak saja dada Luna mendengar ada koruptor di hotel ini.


“Hahaha… El kamu jelasin deh.” Om Rian justru memilih duduk di sofa.


“Nggak ada koruptor Luna, ini cuma terduga karyawan hotel yang nyoba nyuri duit disini aja. Ayuk turun…!” Elio langsung berbalik mengarahkan punggungnya, meminta Luna naik agar bisa turun dengan mudah.


Tok Tok Tok…


Saat membantu menurunkan Luna, tiba-tiba ruangan Elio di ketuk dari Luar.


“Masuk…”


Pintu ruangan terbuka, seorang perempuan berseragam office girl datang membawakan lima gelas jus jeruk ke dalam ruangan Elio.


“Alhamdulullah. Rejeki Luna sang gadis sholehah… Sini Mba.” Luna mengarahkan sang office girl mendekat padanya. Tanpa ba bi bu ia meneguk tiga gelas jus jeruk tanpa henti.


Elio yang melihat gelas demi gelas diteguk secara sempurna tanpa jeda hanya bisa menelan air ludah, jakunnya tampak naik turun seiring dengan tegukan Luna. Elio hanya berharap gelas ke empat dan kelima disisakan Luna untuknya.


“Eh maaf. Yang ini buat kakak sama om saja.” Jawab Luna mengarahkan sang office girl meletakkan jus jeruk di depan Elio dan Om Rian.


“Buat saya aja dua-duanya mba. Buat Pak Rian tolong dibuatkan lagi ya.” Ucap Elio sopan, tapi se per sekian detik jus jeruk itu langsung ia teguk sampai habis.


“Nggak perlu. Om udah kenyang lihat kalian haha” Om Rian masih belum bisa menahan tawanya. Luna terlalu menghiburnya.


“Ya sudah sekalian tolong bawa ke belakang kalau gitu.” Ucap Elio pada office girl yang tampak malu-malu melihat ketampanan pimpinan tertinggi hotel ini dalam jarak yang sangat dekat.


Setelah office girl itu keluar, Elio dan Om Rian akhirnya terlibat pembicaraan serius. Mereka bahkan melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang perempuan melakukan manipulasi kwitansi pembayaran.


“Ini kan tante Viara?” Elio nampak terkejut, ternyata perempuan yang ada di CCTV itu adalah adik bungsu ayahnya. Menjabat sebagai supervisor finance hotel ini.


Om Rian mengangguk-angguk. “Tadinya om mau langsung minta dia klarifikasi ini. Tapi berhubung Viara adalah keluargamu lebih baik kamu juga ikut mendengarkan penjelasan dia secara langsung. Tapi ya keburu kabur.” Desahnya.


Elio hanya diam, pria itu masih tidak percaya. Dari sekian banyak tantenya, Viara adalah orang yang termasuk ia percaya. Tante yang paling sering bertanya kabar, paling ramah jika dia datang ke rumah keluarga aslinya. Bahkan Elio selalu membawakannya oleh-oleh jika pulang dari Aussie. Usia mereka hanya terpaut tujuh tahun membuat mereka sering bertukar cerita. Apa lagi saat ini Viara berusia 31 tahun dan belum menikah.


“Ya begitulah hidup El. Semua bisa terjadi, tidak ada orang yang terlalu baik, tidak ada juga yang terlalu buruk. Itu sebabnya kamu harus tetap waspada. Jangan terlalu percaya pada seseorang. Termasuk pada Om. Itu pelajaran penting bagi seorang pemimpin sepertimu.” Om Rian menepuk pundak El, sedangkan El masih diam tidak bisa berkata-kata.


“Permasalahan hotel ini complicated alis rumit, El. Sukses atau tidaknya hotel-hotelmu yang tersisa tergantung padamu, pada pemimpinnya. Mulai sekarang kamu harus lebih serius dan fokus mengurus hotel ini.” Sambung Om Rian menatap Elio penuh arti.


“Ya Om. Terima kasih.”


“Bagus. Mulai sekarang kamu harus disiplin, tidak ada lagi terlambat seperti tadi. Tidak ada lagi pakaian berkeringat dan bau seperti ini. Kami bawahanmu, tidak akan peduli dengan alasanmu. Kami hanya butuh pemimpin yang kuat dan bijaksana.” Ucap Om Rian, dan dibalas anggukan oleh Elio.


“Sekarang kamu mandi, pakai pakaian yang rapi. Kita makan malam di rooftop, ajak adikmu.” Om Rian akhirnya ke luar ruangan Elio meninggalkan mereka berdua.


Mendengar ucapan Om Rian pada Elio membuat Luna merasa bersalah. Semua karena dia, kalau saja Luna tidak meninggalkan Elio tadi di jalan, terus mengajak makan ketoprak pasti Elio tidak akan terlambat dan buluk seperti ini.


“Aaakh kenapa jadi salah aku, kan kakak yang salah. Udah tau nggak punya SIM kenapa bawa bumblebee?” Gumamnya dalam hati masih mencoba membela diri.


“Tapi kasian ya kakak. Berat banget masalahnya. Ya Allah… Kenapa calon suamiku harus pimpinan hotel sih?” Balasnya masih dalam hati.


“Luna… Hei… Luna…!” Elio mencolek-colek tangan Luna yang terlihat melamun.


“Eh… Iya calon suamiku.”


...🤭-[Bersambung]-🤭...


Jangan lupa like dan commentnya guys. Votenya buat sebelah aja (Mendadak Jadi Mommy and Daddy) ya. 🌝