
Sehabis sholat subuh, kedua anak manusia yang menyebut dirinya pengantin baru itu kembali bergulung di bawah selimut. Harus mandi keramas sebelum azan subuh, membuat keduanya merasa kedinginan. Apalagi Luna sudah mulai bersin-bersin, merasa tubuhnya kurang fit, entah karena kurang tidur dan kelelahan atau karena efek tidur tanpa pakaian dari malam hingga subuh.
“Minum dulu yuk tehnya. Aku sudah buatkan teh hangat untuk kamu.” Tawar Elio. Tapi Luna masih enggan dan justru merapatkan tubuhnya sepeti minta dipeluk.
“Duh duh… Manja begini sih istri aku.” Elio mempererat pelukannya, kakinya pun ikut menindih kaki Luna yang terasa sangat dingin.
“Kamu jangan sampai sakit ya. Kalau perlu kita istirahat seharian di kamar.”
“Hemmm… “ Hanya itu jawaban Luna seperti enggan banyak bicara.
Cukup lama Luna berada dalam dekapan sang suami, akhirnya suhu badannya mulai normal. Hidung yang tadi tersumbat sudah mulai kembali normal. Ternyata salah suatu nikmat punya suami bisa menjadi selimut hangat dikala kedinginan seperti ini.
“Kak…” Luna mendongakkan wajahnya, agar bisa melihat wajah Elio.
“Kamu butuh sesuatu?” Tanya Elio.
“Ini gesper Kakak copot dulu sih. Kena perut aku jadi sakit.” Keluhnya merasa perutnya tertekan benda tumpul.
Elio hampir tersedak karena menahan tawa. “Mana mungkin aku pakai boxer tapi pakai gesper.” Jawabnya.
“Terus ini apa..?” Luna menyentuh gesper yang ia maksud tadi.
“Astagfirullah…”
Luna langsung menjauhkan tubuhnya dari Elio. Malu bukan main ternyata benda yang ia maksud adalah benda keramat yang tadi malam sudah mengobrak-abrik tatanan kehidupannya.
“Hahaha… Beruntung banget ya aku, punya istri punya inisiatif tinggi.” Elio kembali menarik tubuh istrinya untuk kembali merapat.
“Iiih… Aku nggak tau dia bangun lagi. Cepat banget bangunnya, baru aja empat jam lalu aku tidurin.” Sungut Luna karena merasa terlalu polos.
“Tenang aja, dia memang suka ikut bangun kalau pagi. Mungkin biar bisa memulai hari dengan baik.” Elio menjelaskan sambil mengulum senyuman.
“Jadi kalau pagi jangan suka memancing ya. Apalagi suhu udara masih segar, aku suka bersemangat olah raga pagi sampai berkeringat.” Luna langsung melotot badannya kembali menjauh.
“Eiiiits… Sini…! Kenapa sih jauh-jauh terus…?” Elio kembali menahan tubuh istrinya agar tetap menempel.
“Tenang aja, khusus pagi ini kita ngobrol-ngobrol aja. Aku lagi pengin peluk sambil pacaran halal sama istri.”
Meskipun Elio bertutur demikian, tapi percayalah tangannya tidak tinggal diam. Semenjak semalam mendapatkan lampu hijau dari sang istri, dia sudah berani ugal-ugalan di jalan.
“Kak…”
“Hemmm…”
“Aku mau ngomong sesuatu.” Ucapan Luna terhenti karena ingin melihat perubahan wajah suaminya saat ia mulai bicara serius.
“Ngomong apa?”
Elio langsung menyeringitkan dahi, jarang sekali Luna meminta izin sebelum bicara. Pasti ada sesuatu yang serius yang ingin istrinya bicarakan.
“Aku… Aku…” Tiba-tiba saja Luna menjadi gugup apalagi tatapan mata Elio terlihat serius menunggu kelanjutan ucapannya.
“Kenapa kamu..?”
“Kakak nggak keberatan kan kalau aku minum morning pills?” Tanya Luna hati-hati. Ini harus dibicarakan terlebih dahulu agar tidak jadi kesalahpahaman seperti tadi malam.
Elio menghela nafas. “Aku sebenarnya sepakat kita menunda punya baby, mengingat usia kamu masih belum 20 tahun. Tapi apa itu aman untuk kesehatan kamu..? Aku nggak mau kalau misalnya punya dampak pada kesehatan kamu nantinya.”
“Aman kok. Aku sudah tanya Mama. Mama juga udah sempat konsultasi ke Tante Tiara. Teman Mama yang obgyn itu.” Jelas Luna.
“Kata Tante Tiara morning pills memang cocok-cocokkan. Tapi kalau misal merek satu nggak cocok, bisa dicoba mengganti ke merek lain. Aku cuma butuh explore aja mana yang paling nyaman. Atau mungkin injection juga bisa jadi pilihan.” Ternyata Luna memang sudah menyiapkan edukasi tentang pil penunda kehamilan dengan baik.
“Nggak bisa pakai pengaman aja?”
“Hemmm second alternative sih. Kalau pakai dua-duanya lebih baik. Low risk.” Jawab Luna.
“Hush… Jangan sebut risk dong. Anak itu anugerah dari Allah, bukan sesuatu yang membahayakan dan harus dihindari. Kata-kata risk itu identik dengan sesuatu yang buruk. Aku nggak suka.” Tegur Elio.
“Iya… Iya… hehe. Maaf Kakak. Aku salah.”
“Maksud aku tadi, risk untuk kehamilan yang tidak rencanakan bukan anaknya.”
“Bagaimana pun having baby without good planning is dangerous thing, lebih tepatnya membahayakan untuk anak itu sendiri. Aku nggak mau nanti anak kita tumbuh dengan kondisi orang tua kurang settled secara waktu dan tenaga.” Koreksi Luna. Elio mengangguk sepakat.
“Sampai kapan…?”
“Maksudnya?” Luna menatap suaminya dengan tatapan bingung.
“Sampai kapan kita mau menunda kehamilan?” Elio menggunakan kata kita, karena ini memang keputusan mereka berdua. Bukan Luna saja.
“Sampai aku lulus. Setelah itu aku janji publish pernikahan ini dan berhenti minum morning pills. Semoga Allah langsung kasih kita rejeki baby. Gimana?” Luna menatap Elio menunggu persetujuannya.
Pria itu tampak berpikir. Lima semester lagi Luna kuliah, berarti setara dengan 2.5 tahun lagi mereka akan menunda momongan. Itu terlalu lama, tapi seketika dia ingat kondisi istrinya memang masih belum cukup mampu untuk merawat seorang bayi mengingat Luna masih punya tanggung jawab menyelesaikan kuliah. Apalagi program studi Luna dianggap yang cukup ekstrim bagi seorang perempuan.
Ucapan Elio melegakan hati Luna. Ia langsung mengangguk, mengeratkan pelukannya, menempelkan bibir pada pipi Elio sesaat, barulah membenamkan kepalanya kembali di dada bidang suaminya.
“Makasih ya Kak… Makasih sudah mau paham kondisi aku sekarang.”
Ternyata berdiskusi dengan suaminya memang butuh waktu dan tempat yang tepat. Buktinya dengan bernegosiasi pagi ini, Elio bisa setuju dengan permintaannya menunda momongan.
“Kamu bangunin dia lagi nih, padahal tadi udah tidur.” Pelukan Luna membuat tubuhnya bereaksi.
“Eh…” Luna mengurai pelukannya.
“TELAT….! Kamu tadi memancing aku duluan. Kamu harus tanggung jawab sekarang.” Elio menyeringai sambil beranjang mengungkung tubuh Luna. Luna yang tampak panik, semakin panik saat Elio melanjutkan ucapannya.
“Kita coba lagi ya. Masih hafal kan doanya?” Luna langsung melongo, karena bingung letak salahnya di mana.
Tidak menunggu persetujuan, Elio sudah kembali mengukung Luna di bawahnya.
Luna POV
Mulai tadi malam, tepatnya setelah saat kami sepakat melaksanakan ibadah suami istri, cara pandangku terhadap seorang Elio Ukasyah Akandra sudah berubah total.
Laki-laki yang dulu aku anggap sebagai gundukan batu es bernafas ternyata bisa sekejap berubah menjadi api yang bisa melelehkan bahkan membakar apa saja. Terbukti pagi ini, lagi-lagi Kakak sudah mengukung tubuhku di bawah tubuhnya. Seketika aku tidak berdaya saat menyadari kami tidak lagi berjarak.
“Sayang, kamu harus tenang dan nyaman.”
“Coba untuk menikmati ya. Jangan malu. Jangan dilawan. Biar nanti nggak sakit waktu aku penetrasi.”
Kakak berucap dengan sorot mata yang dalam. Dia seperti seorang hypnotherapist yang mencoba mensugestiku dan entah kenapa aku mengangguk.
Mata Kakak beralih ke bibirku, diam sesaat, lalu menciumku dengan lembut. Aku meremas ujung kaosnya sambil memejamkan mata, menikmati sekaligus menunggu kejutan apa setelah ini.
Kakak mulai melesakkan wajahnya di ceruk leherku. “Kamu wangi banget. Aku suka.” Hembusan nafas hangat Kakak di permukaan kulit leherku membuatku bergetar.
Eh tunggu… Aduh kenapa digigit, sudah pasti berbekas. Tapi ternyata itu semacam kepuasan untuknya, terutama saat bekas itu tercipta, dia kembali tersenyum bangga dengan mata sayu berkabut nafsuu. Ternyata setelah menjadi api, Kakak bertransformasi menjadi drakula.
Kami saling berpandangan di antaranya birunya langit subuh. Sesaat aku terbuai dengan tatapan penuh damba itu, sampai akhirnya aku tercekat menahan nafas karena ternyata sentuhan yang tadinya terasa asing menjadi melenakan. Selanjutnya tidak bisa aku ceritakan karena selain pedih, melelahkan, ternyata ini enak sekali. Hehe…
Aku menarik selimut, menatap ke samping, melihat Kakak berbaring tengkurap dengan wajah nyaris menempel pada wajahku. Ternyata kalau kelelahan dia seperti bayi besar yang manja. Bahkan tidak mengizinkanku untuk pergi barang sebentar saja.
“Aku kebelet pipis.” Lirihku.
“Jangan. Tahan dulu.”
“Mana bisa Kak. Nanti jadi penyakit kalau ditahan.” Aku mengurai pelukan Kakak lalu beringsut turun dari kasur dan aaakhhh…. ini sakit sekali.
“Tuh kan jangan gerak dulu… Sebentar aku bantu.”
“Enggak usah. Aku minta tolong ambilkan handuk aja.” Aku menarik selimut menutup tubuhku. Kakak hanya tersenyum seperti enggan membantu.
“Kakak… Please…”
“Nggak usah pakai handuk.” Dia menyeringai sambil mengeratkan pelukan, ngeselin.
“Jangan Kak. Kakak mau tubuh aku dilihat sama jin..?” Ancamku.
“Istri aku, pinter banget sekarang ceramahnya.” Dia mengacak-acak rambutku. Kebiasaan.
Kakak turun dari kasur, mengambil baju kaosnya yang masih bersih di lemari. Karena aku lihat pakaian tadi sudah kotor terkena darah. Melihatnya saja aku sudah ngeri, bahkan ragu untuk mengulangnya kembali.
“Ini pakai baju langsung aja. Takutnya nanti masuk angin lagi.” Aku mengulurkan tangan eh dia malah berjalan menghampiri.
“Tapi aku mau mandi sekalian.” Protesku, minta di ambilkan handuk malah diambilkan baju.
“Jangan mandi dulu. Nanti aja siangan takut kamu flu lagi.”
“Sini aku bantu aja.”
“Jangan…! Aku bisa pakai sendiri. Kemarikan aja bajunya.” Aku merebut baju dari tangan Kakak dan secepat kilat menghilang di balik selimut untuk memakai kaos baru.
Setelah keluar dari kamar mandi, badan terasa lebih segar. Berjalan pun sudah bisa normal meski pelan. Aku tidak perlu dibantu lagi oleh Kakak seperti tadi saat masuk ke kamar mandi.
“Cieee.. Istri aku udah jadi mantan perawan.” Ya Allah punya suami kenapa ngeselin banget.
“Tiduran lagi yuk. Masih ada waktu sebelum jam delapan.”
Aku melirik jam dinding, ternyata sudah pukul enam. Tiba-tiba aku teringat dengan janji memberi jawaban ke Mas Kean. Sekali lagi aku akan berjuang untuk bernegosiasi dengan laki-laki tampan berstatus suamiku. Apakah aku akan berhasil kembali kali ini..?
...😉-[Bersambung]-😉...
Gimana guys… Berhasil nggak kira-kira?
Btw Senin is Vote day 🤣 Ngarep dapat vote padahal kalau cuti suka lama. 😂