
Elio memandangi handphonenya dengan tatapan dingin. Ada beberapa pesan masuk yang sempat ia abaikan semalam. Awalnya Elio fikir ini dari orang-orang yang biasa mengirim pesan tidak jelas. Ternyata salah satunya adalah Helena, mengaku salah seorang karyawan Pasific Exporia, tempat sang istri bekerja.
“Maaf saya baru membaca pesan dari Mbak Helena. Saat ini Luna masih di opname. Mungkin dalam beberapa hari kedepan belum bisa bekerja. Terima kasih sudah merawat Luna kemaren. Mohon doanya agar istri saya kembali sehat seperti sedia kala.”
Elen yang mendapat balasan pesan dari Elio, langsung mengabari Kean. Kean sedikit terkejut karena Kakak yang bernama Elio di CV Luna ternyata suaminya.
“Noh… Luna udah baik-baik aja. Mending darah lo buat bantu anaknya Mama. Mama Ren juga lagi butuh dara AB+.” Ucap Gara membujuk Kean.
“Mana tau anak Mama Ren itu cantik, bisa bikin lo move on dari Luna.” Gara tersenyum melihat Kean yang melotot ke arahnya.
Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Kean menyanggupi sebagai pendonor untuk anak Mama Renata. Sepanjang perjalanan mereka mengenal Renata, Kean hanya tahu Renata punya banyak anak asuh. Selain mereka berdua, mereka mengnal Bintang yang juga pernah di rawat di oleh Renata.
“Mama kalian itu bukannya di luar negeri?” Tanya Elen pada Gara dan Kean.
“Mungkin lagi pulang ke Indonesia. Setahu gue anak asuh Mama itu banyak. Mungkin selain kami, dia masih harus mengurus anak-anak lainnya.” Elen mengangguk mengerti.
“Ya udah. Kalian sana sungkem sama orang tua. Kantor biar gue yang urus.” Ucap Elen.
Siang itu Gara dan Kean berangkat ke Abrar Hospital. Selama di perjalanan dia sempat ingin menelfon Elio menanyakan apakah Luna masih membutuhkan darahnya atau tidak sebelum dia memberikan pada orang lain, tapi Gara mencegahnya karena kehadiran Kean di tengah rumah tangga Luna dan suaminya akan membuat masalah bagi Luna nantinya.
“Keanu…” Renata berdiri saat melihat Kean berjalan dari kejauhan. Beberapa tahun tidak bertemu, Renata merindukan anak asuhnya tersebut.
“Mana Sagara..?”
“Masih memarkir mobil, Ma.” Ucap Kean.
Tak lama setelahnya Gara menyusul mereka. Kedua pria itu berjalan menggandeng Renata. Meskipun sudah berusia tiga puluh tahuanan, mereka tetap bersikap manja dengan Renata.
“Mama… Apa kabar…?” Renata menggeleng sambil menyapu air matanya. Jawaban Renata memperlihatkan bahwa dia tidak baik-baik saja.
“Siapa yang sakit, Ma…?” Tanya Gara bersimpati.
“Luna, anak kandung Mama.”
“Siapa…?” Gara dan Kean bertanya serentak.
Belum sempat Renata menjawab, Elio keluar dari ruangan Luna. Kean dan Gara terkejut, begitu pun dengan Elio.
“Gimana Luna, El…?” Elio tergagap apalagi melihat Kean dan Gara menatap tajam ke arahnya. Butuh beberapa detik sampai Elio memahami bahwa Kean dan Gara adalah anak asuh yang dulu sempat diceritakan Sang Mama.
“Luna mencari Mama.” Jawab Elio. Ini kali kedua Luna mengusir dirinya dari dalam kamar. Elio semakin merasa sedih mendapat penolakan dari Luna.
“Keanu… Kamu langsung ke ruang donor ya. Luna butuh transfusi segera.” Ucap Renata pada Kean.
“El… Tolong kamu antar Keanu ya.” Elio mengangguk patuh.
Kurang lebih setengah jam Kean di ruang donor, barulah ia keluar. Saat di luar, Kean bertemu dengan Elio yang terlihat menangis di bangku tunggu.
“Tenanglah… Luna anak yang kuat.” Ucap Kean menepuk lembut bahu Elio. Elio hanya mengangguk. Sekarang dirinya merasa dirundung banyak rasa bersalah.
“Terima kasih. Maaf karena saya sempat berfikiran buruk.” Ucap Elio penuh sesal.
“Kamu tidak berfikiran buruk. Karena saya memang menyukai Luna.” Elio tersentak.
“Tapi saya cukup waras karena Luna sudah bersuami.” Sambungnya.
“Tapi sekarang, sebagai salah satu Kakak Luna, saya berhak menjaga adik saya dari orang yang menyakiti dia. Jika sampai terjadi sesuatu pada adik saya, saya akan mencari siapa orang yang paling bertanggung jawab nantinya.” Kean berdiri meninggalkan Elio begitu saja.
Tidak lama dari kepergian Kean, Viara datang. Sang Tante terlihat berlari dengan nafas terengah-engah.
“Tante telat ya…?”
“Nggak, Tan. Langsung masuk aja. Nanti di arahkan oleh perawat.” Ucap Elio.
Sudah ada dua kantung darah tersedia untuk Luna. Ini sudah lebih dari cukup membantu Luna recovery dari anemia dideritanya.
“Elio ini dulu anak asuh Mama juga, sama seperti kalian. Tapi ternyata Elio berjodoh dengan Luna. Mungkin karena sehari-hari Luna ya mainnya dengan El. Makanya di CV Luna menyebutkan Elio sebagai Kakaknya.” Renata memperkenalkan Elio sebagai menantunya pada Kean dan Gara.
“Keanu dan Sagara justru anak asuh pertama Mama, bahkan sebelum Luna lahir. Mereka duluan jadi anak Mama dan Papa, El.” Elio tersenyum. Renata memang sangat dermawan.
“Setelah ini, semoga kalian bisa akrab ya. Apalagi ternyata Luna sudah kenal sama kalian. Kapan-kapan kalian ngumpul deh. Kebetulan bentar lagi Alea, akan nikah dengan Langit.” Renata tersenyum haru mengingat semua anaknya sudah mandiri.
Disaat susana mulai mencair, Viara yang hendak berdiri ingin ke toilet tiba-tiba terhayung nyaris tersungkur. Untung Kean yang duduk di sebelahnya bergerak cepat menahannya.
“Pusing ya…?” Tanya Kean. Viara mengangguk lemah. Setelah mendonorkan darahnya, Viara merasa cukup pusing.
“Makasih Mbak Ren. Duh malah aku yang repotin.” Ucap Viara merasa sungkan melihat perhatian semua orang tertuju padanya.
“Mbak Viara belum makan jangan-jangan.” Tebak Kean.
“Sudah makan roti sih. Mungkin capek aja karena habis nyetir dari Bandung.” Jawab Viara.
“Ya udah nanti kami antar pulang aja sekalian kita makan dulu.” Usul Gara.
“Nggak usah. Takut merepotkan. Nanti saya pulang dengan taksi aja.” Tolak Viara. Baru kenal satu hari sudah merepotkan kakak beradik itu.
“Nggak repot kok, Mbak. Satu arah ini. Nanti kita konvoy aja. Biar kakak saya yang bantu nyetirin mobil Mbak Viara.” Ucap Gara dengan niat terselubung. Kean hanya melirik tahu maksud sang adik.
Malam itu Viara akhirnya diantar pulang oleh Kean, sedangkan Gara mengikuti mereka dari belakang. Selama di perjalanan keduanya hanya berkenalan ringan. Perempuan bernama Viara itu ternyata tante Elio dari ayahnya, namun usia mereka sama tahun ini menginjak 31 tahun.
Sementara itu di Abrar Hospital, Luna sudah mulai bangun dengan kesadaran penuh. Satu jam mendapatkan transfusi darah, berprogress nyata untuk kesehatannya.
“Ma… Tadi perawat info hanya satu orang keluarga yang diizinkan menemani pasien menginap. Mama dan Papa pulang aja ya, pasti lelah karena baru sampai tadi siang di Indonesia. Biar El yang menemani Luna.” Ucap Elio.
“El… Mama saja yang menemani Luna ya. Kamu sama Papa pulang.” Reanta meliahat ke arah Luna. Dia tidak begitu yakin dengan tawaran Elio pasalnya Luna banyak mengigau takut dengan Elio.
“Luna sama Kakak aja, Ma. Mama sama Papa pulang aja. Aku sudah lebih baik sekarang.”
“Luna yakin, Sayang?” Renata melihat sorot mata Luna. Mencoba melihat kejujuran anak perempuannya.
“Iya… Lagian aku mau pulang besok. Jadi kita bisa ketemu di apartemen.” Jawab Luna dengan senyun khasnya.
“Siapa bilang kamu udah boleh pulang besok?” Tanya Renata dengan nada mengejek.
“Iih… Aku nggak mau lama-lama di sini.” Luna merajuk kesal.
“Mam please bilangin dokternya… Aku mau di rawat sama Mama aja di rumah.” Luna kembali merengak manja.
“Ya udah. Makanya manut sama perawat ya. Kalau di suruh makan, dihabiskan. Obat jangan lupa dimakan.” Renata memperingati.
“Iya ih. Bawel... Sana Mama pulang.” Usir Luna.
Malam itu akhirnya hanya ada Elio dan Luna di ruang inap. Luna yang masih mendapatkan transfusi darah, kembali berbaring.
“Maaf…” Elio menggenggam erat tangan Luna.
“Aku salah. Aku menyesal nggak mau mendengar penjelasan kamu.” Luna berusaha menarik tangannya, tapi genggaman Elio sangat kuat.
“Aku minta Kakak yang jaga aku supaya Mama dan Papa tidak berfikir buruk tentang rumah tangga kita.”
Luna menahan suaranya yang tercekat. Rasa takutnya belum sepenuhnya hilang. Apalagi perlakuan Elio masih sama, memaksa dengan menggenggam kuat tangannya.
“Aku mohon. Seharian aku bingung harus gimana. Kalau sampai ada apa-apa sama kamu rasanya hidup aku selesai.” Suara Elio seperti laki-laki lemah bingung harus berbuat apa.
Luna menatap Elio yang terus saja menunduk mencium tangannya. Terasa basah sepertinya Elio sedang menangis. Keinginan Luna untuk mengusir Elio seketika sirna. Timbul rasa kasian, haru, sedih karena rumah tangganya bermasalah.
“Ya udah. Aku mau istirahat.” Luna memilih membuang pandangnnya ke samping.
“Aku mohon kita komunikasi seperti biasa ya. Aku nggak sanggup lihat kamu menjauhi aku seperti ini. Aku janji… Aku janji nggak akan mengulangi lagi.”
Meski pun tidak ada yang secara terang-terangan mengatakannya, Luna tahu saat ini semua orang seperti menyalahkan Elio. Bahkan Sang Papa terlihat dingin pada suaminya. Itulah sebabnya Luna ingin memperlihatkan rumah tangganya baik-baik saja di depan orang tua mereka.
“Bagimana aku bisa percaya Kakak berubah kalau sekarang saja Kakak memaksa aku seperti ini.” Luna menarik tangannya dengan kasar. Genggaman kuat Elio membuatnya merasa takut kejadian semalam akan terulang kembali.
“Tolong kasih aku waktu. Bukannya Kakak yang bilang, kalau dipaksakan menyeselesaikannya sekarang, semakin memperburuk keadaan.” Luna terisak.
Elio yang sadar perlakuannya kembali membuat Luna terluka akhirnya menyerah. Dia berjalan ke sofa, memilih menjaga Luna dari jauh.
Luna terbangun saat mendapati Elio tidur dengan posisi duduk si sofa. Wajah Elio tampak lelah dan rapuh. Luna teringat perkataan Elio tadi malam, bahwa saat ini Elio tengah berjuangan mati-matian di kantor karena kehilangan Om Rian dan Ayya setelah mengungkapkan pernikahan mereka.
“Andai waktu itu aku tidak egois meminta Kakak menikah dengan aku, pasti Kakak akan baik-baik saja.” Lirih Luna.
“Apa sudah saatnya kita menyerah…? Rasanya aku nggak sanggup melihat Kakak seperti ini. Bertahan dengan aku hanya akan membuat Kakak kembali ke empat belas tahun silam. Aku ingin Kakak seperti dulu. Kakak yang kuat. Kakak yang sabar.” Luna tersenyum pias.
Luna merasa dirinya gagal menjadi istri yang baik untuk Elio. Dia tidak bisa banyak membantu Elio melewati masa sulitnya dan justru malah membuat masalah baru bagi Elio.
...-[Bersambung]-...
Terima kasih sudah bertahan membaca hingga bab ini. Cerita Elio dan Luna sudah 80% rampung. Jangan Luna vote comment dan like. Hihihi