
Setelah menutup panggilan telfon dari Elio, Luna bergegas masuk ke dalam bangunan ruko berlantai empat di depannya. Sebenarnya dia kurang yakin apakah ruko ini merupakan kantor Pacific Exporia yang sedang ia tuju. Tapi setelah memastikan pada sekuriti yang bertugas, serta melihat papan reklame yang terpajang di depan ruko semakin meyakinkan Luna bahwa dirinya tidak salah tempat kali ini.
Baru saja Luna masuk ke dalam ruko tersebut, seorang perempuan dengan pakaian casual dengan bawahan jeans datang menghampirinya.
“Hai… Kamu Athanya Luna Gemilang ya?”
“Iya Bu. Panggil Luna saja.” Luna mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Luna… Hemmm nama yang indah.” Perempuan itu langsung menyambut salam Luna dengan ramah.
“Aku Helena, Panggil Mba Elen aja. I'm still under thirty years old. Hehe..” Ia tersenyum ramah.
“Baik Mba Elen. Maaf ya. Just for formal communication tadi” Ucap Luna.
“Hahaha. Disini semua santai, Luna.” Ucap Elen ramah.
“Maaf sebelumnya aku terlambat dari jadwal.” Luna melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan setengah 2 siang. Terlambat 30 menit dari jadwal.
“Tadi macet di jalan. Aku baru jalan dari kampus jam 11 karena tadi ada ujian pagi.” Luna mencoba menjelaskan keterlambatannya. Semoga saja pihak perusahaan bisa memaklumi.
“Tenang saja. Kami masih start up jadi ya waktu kerja masih cukup fleksibel lah.” Jawab Elen. Luna langsung berbafas lega. Hampir saja ia berfikir Helen akan marah padanya.
“Langsung masuk ke ruang meeting saja ya. Mas Kean sudah menunggu kamu.” Elen mengajak Luna menuju salah satu ruang meeting di lantai satu.
“Mba Elen maaf sebelumnya, di sini ada tempat sholat? Saya belum sholat zuhur, tidak keberatan kan menunggu sebentar?”
“No worries. Di sana ya mushollanya. Kamu sholat dulu saja. Nanti susul saya ke ruangan ini ya. Langsung masuk saja..!” Titah Elen.
Setelah bermacet-macetan di jalan, rasanya empat rakaat ini bisa membuat suasana hatinya kembali tenang. Setelah menunaikan kewajiban, barulah Luna menuju ruangan meeting yang dimaksud.
Ternyata di ruang meeting sudah Helena dan dua orang pria berwajah bule menunggunya. Mereka seperi tengah asik bercerita sampai tertawa terbahak-bahak.
“Oh kamu sudah selesai ya.” Ucap Elen menghentikan tawanya.
“Guys, ini Luna. Pemenang sayembara kemaren sudah datang.” Elen memperkenalkan Luna dengan bahasa yang cukup friendly pada dua orang tersebut.
“Silakan duduk Luna.” Ucap salah seorang pria dengan wajah lebih dewasa. Ternyata pria itu bukanlah warga asing mungkin hanya blasteran saja. Dari aksen bicaranya saja sepertinya pria ini sudah lama tinggal di Indonesia. Hampir Luna kagok karena harus bicara bahasa inggris dengan orang lain.
“Terima kasih Pak. Maaf saya telat 30 menit dari jadwal. Saya terjebak macet di Lingkar Luar, tadi ada truk yang terguling.” Luna kembali merasa tidak enak karena sudah membuat mereka menunggu.
“Biasa itu. Depok ke bekasi meskipun sama-sama di Jawa Barat, tetap harus lewat Jakarta.” Jawabnya santai.
“Oh ya Perkenalkan, saya Kean as founder disini, ini adik saya Gara dan ini Helena.” Ternyata pria ramah yang menyambutnya itu bernama Kean.
“Salam kenal Pak. Saya Luna. Terima kasih sudah di undang kesini.” Jawab Luna ramah.
“Waduuh… Jangan panggil Pak. Kami disini pada masih muda-muda. Haha.” Protes Gara sambil tertawa.
“Panggil Mas aja ya. Biar akrab.”
Akhirnya setelah berbasa basi, Luna tahu perusahaan ini baru berdiri empat bulan yang lalu. Karyawannya masih 9 orang, dan mereka bertiga ini adalah jajaran foundernya. Kean sebagai Founder dan dua lainnya co-founder. Semua seperti ramah menyambut kedatangan Luna.
“Saya masih tidak menyangka pemenang sayembara itu dari kalangan mahasiswa. Semester 3 lagi.” Ucap Kean.
“Sebenarnya saya juga tidak cukup confident menjadi pemenang, Mas. Apalagi melihat peserta lain sudah lebih senior dan bahkan ada yang sudah menjadi konsultan.” Luna membenarkan pernyataan Kean.
“Ternyata kamu rendah diri ya.” Kean tersenyum.
“Mungkin lebih tepat kurang percaya diri atau malah sadar diri, Mas. Hehe. ” Koreksi Luna sambil tertawa kecil.
“Tapi buktinya kamu yang menang. Sepertinya kamu harus merubah how the way you look your self. Your concepts are brilliant.” Puji Kean.
“Kalau boleh tau kamu punya ide dari mana membuat desain seperti ini?” Tanya Kean masih memperhatikan layar laptopnya yang menampilkan gambar rancangan Luna.
“Saya baca profil Pacific Exporia ini sebagai perusahaan start up dibidang exportir produk ke berapa negara dengan visi go global.” Luna menjeda kalimatnya.
“Dari sana saya mencoba menginterpretasikan visi tersebut dalam bentuk desain dimana atmosfir semua benua dapat terasa dalam bangunan ini. Ruang meeting yang ada akan dibuat sesuai dengan benua yang ada. Kebetulan jumlah ruangan meeting ada 5 ruangan. Setiap ruangan akan diberi nama benua dan dibuatkan suasana serupa dengan budaya yang ada di benua tersebut.” Luna semangat menjelaskan latar belakang pemilihan desainnya.
“Selain itu saya cukup paham bagi perusahaan start up tentu pengelolaan dana perlu diperhatikan. Budget harus dimaksimalkan sesuai kebutuhan. Jadi selain memilih furniture tepat guna, saya lebih menekankan pada art for creative room. Jadi mural-mural ini lah yang menjadi nilai tambahnya pada desai rancangan saya.” Tiga orang yang menyaksikan pemaparan Luna langsung tersenyum.
“Smart. That's why we chose you as the winner. Kamu bisa memikirkan kebutuhan kami terutama terkait financial.” Kean mengangguk-angguk.
“By the way… Congratulations. Hampir saya lupa.” Kean mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Terima kasih Mas Kean.”
“Kamu menarik. Aku jadi ingin tahu banyak tentang kamu. Bawa CV nggak ya?” Tanya Kean melirik ke Luna lalu berpindah ke Helen.
“Maaf Mas. Saya tidak bawa CV. Tapi harusnya di form peserta saya lampirkan CV saya yang terbaru.” Jawab Luna. Dia tidak mempersiapkan apa pun untuk datang hari ini. Bisa datang ke sini saja sudah alhamdulillah.
“Langsung aja kali Mas. Luna masih ada jadwal ujian besok.” Elen tiba-tiba memetong pembicaraan. Dia adalah orang yang membujuk Luna untuk datang hari ini, jadi tau persis Luna sedang mengikuti ujian semester.
“Haha ya ya… Sayang sekali ya. Saya masih ingin berdiskusi padahal dengan Luna.”
“Hemmm… Bisa dibelakang layar aja kalau tertarik. I will give you her phone number.” Elen mengerling sambil melihat Gara. Mereka saling mencibir melihat pada Kean yang sepertinya bicara terlalu banyak dan sudah keluar jalur.
“My bad nih. Kalau sudah klop sama seseorang. Bisa bicara panjang lebar begini.” Lirih Kean sambil melirik Helen dan Gara. Lagi-lagi Elen tersenyum mencemooh.
“Jadi begini Luna, kami sudah menemukan vendor designer interior untuk pengerjaan kantor ini. Tapi dia butuh diskusi banyak dengan kamu sebagai designer utama. Kalau kamu tidak keberatan, saya mau menjadikan kamu part time disini sebagai tim project mewakili perusahaan selama 1 bulan ke depan. Bagaimana?” Ternyata ada maksud undangan mereka pada Luna hari ini.
“Part time?”
“Ya… Soal salary kami sudah siapkan. Dua setengah kali lipat dari reword sebelumnya.” Luna langsung terbelalak. Dua setengah kali dari 20 juta, berarti 50 juta.
“Tapi saya masih harus kuliah, Mas.”
“It’s fine. Kamu hanya mengunjungi kapan dibutuhkan saja. Week end pun boleh. Asal dalam satu bulan ruko ini siap digunakan sebagai kantor dan tentu sesuai dengan konsep yang kamu tawarkan.” Kean membentangkan tangannya.
“Oh ya kamu juga diperbolehkan remot pekerja dari jauh.” Imbuhnya.
Luna terdiam beberapa saat. Tawaran ini menggiurkan. Selain uang 50 juta, dia juga akan punya portofolio yang bagus sebagai seorang designer interior nantinya.
“Okey… Kami tahu kamu pasti masih butuh waktu untuk berfikir. Silakan dipertimbangkan dulu terutama dengan jadwal kuliah kamu.” Ucap Gara membantu memecah kebingungan Luna.
“Yap setuju. Ini pasti butuh waktu untuk berfikir.” Keli ini Helen membenarkan ucapan Gara.
“Guys please…” Kean bersuara.
“Come on. Let her think it over.” Ucapan Elen tertuju pada Kean.
Kean langsung mendesah. Jika tidak diputuskan sekarang maka pengerjaan kantornya akan semakin tertunda. Tapi memaksakan Luna menjawab hari ini juga tidak tepat tentunya. Bagaimana pun dia sudah jatuh cinta dengan desain Luna.
“Ya sudah. Saya kasih waktu dua minggu ya. Bagaimana?” Tawar Kean.
Luna menarik nafasnya beberapa kali. “Baik. Nanti coba saya pertimbangkan Mas, Mba.”
“Jika bisa dapat jawaban lebih awal, let me know ya Luna…!” Ucap Kean.
Luna mengangguk, fikirannya menerawang. Terlalu banyak tawaran yang ia terima mulai dari mengikuti interior design competition ke Jepang, bekerja part time untuk menambah portofolio. Itu semua mimpi yang pernah ia tuliskan di dream booknya. Tapi apakah semua harus ia kejar mengingat sudah ada Elio dalam hidupnya saat ini.
...🙂-[Bersambung]-🙂...
Gimana guys? Terima nggak nih?