My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Trust Issue



Author POV


Tepat pukul 11 siang, Luna terbangun dari tidurnya. Kurang lebih tiga jam dia tertidur, tepatnya setelah Elio meninggalkan kamar untuk bertemu Om Rian tadi pagi. Gadis itu langsung menggulung diri dalam selimut.


“Dear My Beloved One and Only, Athanya Luna, Kupat tahumu sudah kakanda order ya. Selamat menikmati sarapan.”


“Makan duluan aja. Nggak usah nungguin aku. Aku pamit sholat Jumat ya. With love, Suamimu tercinta.”


Luna tersenyum membaca surat dari Elio. Sejak kapan suaminya seromantis ini. Candaannya tentang kupat tahu Cimahi juga ditanggapi serius oleh Elio dengan melakukan delivery order sampai puluhan kilometer.


“Alhamdulillah… Rejeki anak sholehah memang nggak ke mana.”


Satu jam menunggu di dalam kamar hotel, ternyata membuat pikirannya terasa suntuk. Setelah memastikan kamar mereka rapi kembali, Luna memutuskan menunggu di cafe hotel.


“Saya pesan frappuccino double shot dan dark choco muffin satu ya.”


“Baik Bu. Silakan menunggu, nanti akan saya antarkan ke meja.” Hampir saja Luna tersedak dipanggil Ibu. Apa gayanya terlalu tua atau wajahnya terlalu boros sampai sang kasir memanggilnya Ibu.


“Total berapa Mbak…?”


“Tidak perlu. Semua menjadi expense management nanti Bu.” Jawab petugas kasir tersebut.


Luna sedikit bingung, sampai akhirnya dia sadar petugas kasir sudah menyadari dia adalah keluarga Elio, pantas saja dipanggil Ibu dari tadi. Jadi berasa tua sebelum umurnya.


“Tau gratis, aku pesan banyak tadi.” Celetuk Luna tentu dalam hati saja.


“Oh… Baik kalau begitu. Terima kasih ya.” Luna beranjak meninggalkan bar menuju salah satu meja dekat kaca. Menunggu di cafe rooftop memang menjadi pilihan terbaik ternyata, setidaknya menunggu menjadi menyenangkan karena bisa melihat Dago dari lantai teratas gedung Elios Hotel


“Permisi. Kamu Luna bukan ya…?”


Seorang perempuan berpakaian casual office look datang menghampirinya. Pakaian wanita ini terlihat formal dengan blazer light gray dengan bawahan celana senada. Di lehernya dikalungkan ID card bertuliskan Elios Hotel berwarna biru. Rambutnya juga terlihat chic dengan half-headband. Cantik dan sangat elegan.


“Iya… Saya Luna, Bu. Maaf… Siapa ya…?” Luna tergagap karena merasa tidak mengenali wanita ini. Apa mungkin sales kosmetik karena sangat cantik dan wangi, tapi kenapa bisa tau namanya Luna, fikirnya.


“Aaah… Kamu udah lupa sama aku ternyata.” Perempuan itu menarik kursi dan langsung duduk di seberang Luna tanpa permisi.


“Saya Viara. Tantenya El. Adik bungsunya Mas Arkan, Almarhum ayah mertua kamu.” Bisiknya. Viara menyalami Luna, cara wanita ini bertutur sangat ceria dan energik.


“Ya Ampun Tante Viara ternyata. Maaf… Maaf banget aku lupa-lupa ingat sama wajah Tante.” Tante Viara, perempuan yang dulu sering menitipkan hadiah untuknya pada Elio, mana mungkin Luna lupa.


“Tante apa kabar…? Makin cantik sekarang.” Puji Luna.


“Baik… Kamu juga. Makin cantik, apalagi setelah married. Aura bahagianya semakin keluar.” Viara tersenyum tulus.


“Udah lama juga nggak ketemu kamu. Terakhir waktu kamu SMP kalau tidak salah.” Viara mencoba mengingat-ingat.


“Iya… Kita ketemu waktu Kakak wisuda sarjana di Canberra.” Viara mengangguk.


Lima tahun yang lalu mereka bertemu di Aussie saat wisuda Elio. Viara satu-satunya keluarga Elio yang datang ke sana. Luna masih terlihat kecil saat itu, Viara juga masih tampak lebih muda, wajar mereka sedikit lupa.


“Kamu sendirian aja di sini?”


“Iya Tan, Kakak sedang sholat Jumat. Aku bosan menunggu di kamar, jadi mau menunggu sambil melihat view Bandung aja dari rooftop.”


“Oh iya sampai lupa… Tante sudah pesan makanan belum?” Tanya Luna beramah-tamah.


“Sudah. Aku pesan lemonade dan cheese cake tadi. Kalau di Bandung suka pengen makan manis nggak sih…?”


“Iya. Aku juga tadi pesan kopi dan muffin.”


“Kopi? Haha…”


“Pasti kamu diminta begadang terus ya sama El.” Luna hanya tersenyum, ternyata pengantin baru memang identik dengan begadang, buktinya tebakan sang tante benar.


Tidak lama setelahnya, pesanan mereka datang. Lama mereka saling bercerita, seperti menepis jarak yang selama ini tercipta antara keluarga Luna dan keluarga El. Perempuan itu juga tampak semakin luwes saat tertawa menceritakan berbagai hal, terutama menceritakan nasibnya yang belum mendapatkan jodoh hingga usianya 32 tahun saat ini. Karakter ceriwisnya membuat Luna merasa nyaman memiliki teman berbeda usia. Bahkan mereka sampai bertukar nomor ponsel satu sama lain.


“Hemmm… Sebenarnya aku mau ngasih ini sama kamu. Jangan dilihat harganya ya tapi coba lihat valuenya. Aku harap bisa bermanfaat untuk kamu dan El.” Viara mengeluarkan satu paper bertuliskan MFK.


“Tante ini apa…?”


“Couple parfume asli dari Paris. Semoga bisa membuat hubungan kalian semakin hangat. Kamu pasti suka kalau pasangan wangi kan..?”


“Wah… Makasih ya Tante.”


“Anggap aja kado pernikahan dari aku untuk kalian.” Bisiknya seolah tau pernikahan keponakannya dirahasiakan untuk umum.


“Maaf ya. Sejujurnya aku ingin sekali datang hari itu. Oma dan Opa juga memaksa aku bisa datang diam-diam ke acara kalian. Tapi you know lah, Mas Ardi serius dengan ucapannya untuk mengusir kami.” Keluhnya.


“Tante kasih doa saja aku sudah senang banget. Tidak perlu repot-repot seperti ini harusnya.”


“Tidak repot. Ini memang sudah aku siapkan dari lama. Tapi baru bisa aku kasih sekarang. Sebenarnya dari kemarin-kemarin mau aku berikan ke El, tapi...” Viara menarik nafas dalam-dalam.


“Tapi El tidak mau bicara sama aku. Hubungan kami merenggang entah apa alasannya. Padahal aku orang yang paling dekat dengan El dari dulu.”


Luna mengangguk setuju. Setahu dia selama ini Elio kalau pulang ke PI pasti mencari Oma, Opa dan Tante Viara.


“Pernah ada masalah, Tante…?”


“Itu yang aku tidak tau. Apa kesalahan aku sampai anak itu menghindar seperti ini. Apa mungkin Elio sudah menganggap semua kami sama seperti Mas Ardi ya…?” Dia tampak berpikir.


“Dulu Mas Arkan dan Mbak Riayana sering menitipkan El sama aku. Kecilnya El sering main sama aku, maklum usia kami cuma terpaut lima tahun lebih. Makanya waktu El depresi, aku orang yang paling setuju El diobati oleh Mama kamu. Untuk aku pribadi, kebahagiaan El yang paling utama. Tidak peduli semua harta yang diperebutkan oleh Mas Ardi, Mas Arbi dan Mba Vania.”


Terlihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Arkan, Sosok Kakak pertama yang berwibawa, yang melindunginya dari dulu. Jadi kehilangan Arkan hal terberat dalam hidupnya, dan akhir-akhir ini Elio menjauh darinya.


“Hemmm Tante… Nanti coba aku tanyakan pada Kakak ya. Semoga bukan masalah yang besar.” Luna mengulurkan tangan mengusap lengan Viara. Sisi perempuannya tersentuh saat melihat perempuan lain menangis di depannya.


Sudah pukul satu, makanan di meja sudah habis. Akhirnya Luna dan Viara berpisah. Viara akan pulang ke Jakarta. Perempuan itu menyetir sendiri mobil MPV-nya.


“Hati-hati ya, Tante. Menyetir sendiri ke Jakarta rawan mengantuk. Sediakan kopi dan cemilan untuk teman nyetir bila perlu.” Viara mengangguk.


Viara hampir tidak percaya sosok perempuan yang ada di depannya belum berusia 20 tahun. Semua tutur kata Luna memperlihatkan gadis itu lebih dewasa dari umurnya. Viara suka dengan Luna, seperti dia menyukai Renata, sahabat kakak iparnya dulu.


Berjalan menuju kamar, hati Luna berkecamuk. Apakah selama ini Elio hanya salah paham dengan Tantenya, atau sebenarnya memang Sang Tante bukan orang baik seperti Om Ardi yang jelas-jelas menghina keluarganya dari dulu.


Masih dengan semua pikiran yang ada, Luna masuk ke dalam kamar. El ternyata sudah menunggunya di sana. Pria yang sangat romantis dengan surat cintanya, tampak kembali dingin seperti saat subuh mereka bertengkar.


“Kakak sudah pulang ternyata.” Luna mengembangkan senyumnya.


“Maaf ya. Tadi aku—”


“Lain kali jangan pernah mengobrol dengan dia lagi. Aku nggak suka…!” Potong Elio.


“Dia siapa…?” Luna mengerutkan dahi. Luna merasa tidak berbicara dengan laki-laki mana pun dari tadi. Cemburu pada siapa lagi suaminya sekarang?


“Tante Viara. Jauhi dia.”


“Kenapa? Tante Viara baik kok. Asik lagi diajak ngobrol. Aku suka sama dia.” Jawab Luna.


“Lihat deh. Dia kasih kado parfum buat kita. Ini couple parfume dari Paris. Merek terkenal loh Kak.” Luna memperlihatkan lambang pada paper bag yang dia bawa.


“Kata orang-orang kalau pakai parfum ini, bisa awet sampai dua hari lebih.” Luna mengeluarkan dua buah parfum yang satu berwarna maroon, yang satu putih. Baru kali ini dia berkesempatan pakai parfum mahal keluaran Kota Mode itu.


Elio berjalan mendekati Luna, kemudian merebut paper bag dengan kasar.


“Rupanya kamu tidak bisa mendengar aku dengan baik.”


“JANGAN PERNAH BICARA DENGAN DIA LAGI.”


Elio melempar paper bag itu ke sembarang arah hingga membentur dinding lalu terhempas ke lantai. Tidak lama aroma ruangan itu langsung wangi. Rupanya salah satu botol pecah membentur sudut nakas.


“Astagfirullah Kakak.”


“Kenapa? Kalau kamu mau parfum itu aku bisa belikan 10 pasang.” Ketus Elio.


Luna terdiam. Sejauh ia mengenal Elio selama ini, belum pernah Kakaknya sekasar ini. Apa yang membuat Elio begitu marah.


“Asal kamu tau, aku sudah muak dengan mereka. Mereka yang harusnya melindungi aku dulu, tapi kenyataannya mereka lah yang membuat aku hampir gila.” Ada banyak luka yang terlihat dari tatapan Elio.


“Kak…”


“Kalau kamu tega membuat aku merasakan sakit kembali. Silakan aku tidak akan melarang.” Lirih Elio. Luna menggeleng cepat. Tidak seperti itu maksudnya.


Elio berbalik badan, berjalan cepat ke atas kasur lalu menutup diri dalam selimut. Luka yang tertoreh dalam hatinya begitu besar. Masa kecilnya terasa berat bukan karena dia menjadi yatim piatu kala itu, tapi karena hidup dalam kondisi penuh tekanan dari keluarga menjadikan hari-harinya penuh penderitaan.


Siang itu Elio akhirnya tertidur pulas. Pria itu melewati makan siangnya begitu saja. Sedangkan dikamar berbeda, Luna berbisik-bisik menelfon Renata.


“Bagi seseorang yang mengalami trust issue seperti El, akan sulit bagi dia untuk percaya pada orang lain. Perlu kamu pahami, Elio pernah dikecewakan keluarganya sampai dia depresi. Jadi wajar saja kalau dia takut kamu ikut menjadi bagian dari mereka.“


“Tapi Tante Viara berbeda, Ma. Selama aku ngobrol sama dia, kelihatan kalau dia tulus sayang sama Kakak. Bahkan dia sampai menangis waktu cerita Kakak menjauhi dia.” Protes Luna.


“Apa yang Elio rasakan, sama persis dengan apa yang kamu rasakan saat melihat kilat dan mendengar petir.” Renata mencoba menganalogikan.


“Beda dong, Ma. Aku kan memang melihat bukti kalau pohon kelapa itu terbakar setelah tersambar petir. Sedangkan Kakak hanya melihat CCTV tanpa mau mengklarifikasi.”


“Mama bukan sedang membahas peristiwanya, Sayang. Mama sedang membahas kondisi trust issue-nya. Kalau kamu tidak percaya kalau petir itu tidak berbahaya, begitu juga El tidak percaya keluarganya tidak berbahaya. Kita tidak bicara spesifik pada kasus Viara, tapi in general kepercayaan itu sudah terkikis, bahkan sudah tidak ada lagi saat ini.”


“Sekuat apa pun dia berfikir secara logic, tetap saja ada rasa kecewa pada masa lalunya yang membuat dia takut untuk kembali terluka. El sedang menarik garis batas yang jelas saat ini agar tidak mengalami hal yang sama kembali.”


Menurut Luna, salah satu keuntungan mempunyai orang tua berprofesi psikiater adalah Luna selalu bisa menjadikan Renata tempat cerita ternyaman. Pengalaman Renata manangani banyak kasus depresi pada anak, menjadikan dia cakap dalam meng-handle berbagai karakter manusia. Hanya satu kekurangan Renata, dia tidak bisa meng-handle Luna, anak kandungnya sendiri yang membuat sakit kepala.


“Menurut aku berbeda konteks ya dengan kasus aku.” Luna sang gadis keras kepala masih saja mencoba melayangkan protes.


“Dasar keras kepala kamu.” Sewot Sang Mama.


“Ya sudah, bicarakan pelan-pelan. Jangan sampai kalian bertengkar karena hal kecil seperti ini. Untuk sementara, kamu jaga jarak dulu dengan Viara ya.”


“Ingat Luna…! Perlu bertahun-tahun untuk Mama menyembuhkan El. Jangan kamu buat dia kembali pada luka masa lalunya.” Tegas Renata dari seberang telefon.


Luna kembali ke kamar mendapatkan Elio masih tertidur pulas sambil memeluk bantal kepala. Tidak ada guling di sana. Rupanya meskipun menjabat GM hotel berbintang empat, pria itu tetap tidak bisa tidur tanpa guling di sisinya.


Luna ikut berbaring, memperhatikan dengan lekat wajah polos suaminya. Ujung bibirnya tampak basah seperti siap mencetak pulau-pulau jejak petualangan dari alam mimpi.


Luna tersenyum sedih. Wajah tampan tanpa cela, harta yang juga tidak terhitung jumlahnya, namun sayang sekali ada luka yang orang lain tidak ketahui di dalam diri suaminya. Dia harus bisa mendukung El terlepas apa pun masalahnya.


“Aku tidak mungkin tega menyakiti Kakak.” Lirih Luna. Tangannya terulur merapikan sedikit rambut Elio yang menutupi dahi. Elio yang sadar kehadiran Luna di dekatnya, langsung menangkap tangan kecil itu dan mengecupnya beberapa kali.


“Makasih ya. Maaf aku bikin kamu sedih.”


...☺️-[Bersambung]-☺️...


Jangan lupa serbu dengan bunga. Jangan lupa tinggalkan jejak. Jangan lupa vote. Jangan lupa bahagia. 😝


Ini udah 2000 kata. Tapi aku malas jadiin 2 Bab karena bingung kasih judul.