My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Hidup Tidak Melulu Soal Cinta



“Mas Kean…”


“Pak Kean…”


Sapa Luna dan Arbi serentak. Sejak kapan Kean di sana? Apa jangan-jangan dari tadi Kean sudah menguping pembicaraan mereka berdua. Jika Arbi menatap khawatir sempat membicarakan proposalnya yang ditolak berkali-kali oleh Pasific Exporia, maka Luna merasa lega karena Kean datang di saat yang tepat. Luna tidak suka kehidupan pribadinya dicampuri saat dia bekerja secara profesional.


“Ehm… Luna bisa ikut saya…?” Titah Kean menatap dalam pada wajah Arbi lalu berpindah pada Luna sambil tersenyum. Luna mengangguk dan berjalan ke luar ruangan.


“Kamu duluan aja ke bawah. Gara dan Elen sudah menunggu. Kita lunch bersama di culinary center.” Ucap Kean ramah. Luna mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan Kean dan Arbi begitu saja.


Saat Luna sudah menuruni anak tangga, Kean mendekati Arbi. Pria itu menatap tajam sambil menyunggingkan sedikit senyum. Tindakan Kean seperti sedang mengibar bendera perang pada Arbi.


“Saya harap ini terakhir kali kamu menyinggung hal pribadi karyawan saya. Saya tidak suka karyawan saya merasa tidak nyaman karena kamu bertindak terlalu jauh.” Tegas Kean.


“Pak Kean tenang saja. Saya dan Luna hanya berteman. Saya iseng saja tanya-tanya tentang hal pribadi dia tadi. Ternyata dia sudah menikah.” Jelas Arbi. Kean mengangguk dan meninggalkan Arbi setelah merucap permisi.


Pagi tadi ada mereka memenangkan tender besar untuk exportir kayu manis dan hasil suling nilam asal Sumatera ke Jerman. Nilainya cukup besar sampai menyentuh 1,3 M. Jadi sebagai reword atas kerja keras mereka, Kean mengajak Elen dan Gara makan siang bersama. Namun sebelum mereka meninggalkan kantor, Kean terfikir untuk mengajak Luna. Tindakan itu semakin meyakinkan Elen dan Gara bahwa founder mereka memang punya ketertarikan pada anak magang yang baru satu minggu bekerja di Pasific Exporia.


Mereka berempat sampai dikawasan culinary center. Setelah perdebatan sengit antara Gara dan Elen, akhirnya,mereka memutuskan masuk ke retoran Jepang yang terkenal dengan menu sushinya.


“Kamu pesan apa, Luna?”


“Spicy beef curry ramen dan ocha dingin saja, Mbak.” Jawab Luna setelah membalik buku menu.


“Kamu nggak makan sushi? Ada salmon mentai roll loh.” Tawar Kean. Luna menggeleng.


“Ini aja mas. Ramen aja udah kebanyakan. Takut nggak habis.” Jawab Luna canggung sambil melirik ke arah Elen.


“Ya sudah saya pesan ini. But please feel free for share menu ya.” Ucap Kean.


Melihat perlakuan Kean, Gara langsung menggelangkan kepalanya. Dulu saat dirinya menunjukkan perhatiannya pada Elen, Kean memperingati untuk jangan terlalu berlebihan, karena dikhawatirkan akan mengurangi profesionalitas saat bekerja. Tapi Kean sendiri sangat berlebihan memperlakukan Luna.


“Luna share bareng gue aja nanti, Mas.” Ucap Elen. Mau tidak mau Kean akhirnya mengangguk.


Selama menunggu makanan datang, Kean beberapa kali melihat ke arah jari manis Luna. Kedua tangan baik kiri dan kanan terpasang cincin. Sedari pertama mereka bertemu, Kean sebenarnya sudah penasaran dengan cincin itu. Sehingga saat pertama kali wawancara, Kean sempat meminta CV Luna untuk memastikan status pernikahannya. Tapi bila mengingat usia Luna yang belum genap 20 tahun, rasanya mustahil apa yang di dengar tadi sebuah kebenaran.


Tiba-tiba Kean teringat, saat adiknya Gara mengungkapkan perasaannya pada Elen beberapa tahun yang lalu. Elen mengatakan dirinya sudah menikah, padahal wanita yang memegang teguh prisip feminisme itu memilih hidup independen. Dan sebagai perlindungan untuk mengelabui pria yang menaruh hati padanya, Elen selalu menggunakan cincin di kedua jari manisnya selayaknya cincin pernikahan. Apa Luna sama seperti Elen, pikirnya.


“Lo diam aja, Mas. Sambutan sedikit dong. Biar kita makin semangat kerjanya. Jarang-jarang nih lunch bareng kayak gini.” Elen cengengesan saat Kean terlihat melamun.


“Haaa… Iya… Pertama gue mau mengucapkan terima kasih untuk kerja keras kalian. Akhirnya perusahaan atsiri dari Jerman itu bisa percaya bekerja sama dengan kita. But please, jangan lengah dan jumawa. Pasific Exporia harus tetap berikan pelayanan dan servis paling maksimal sekuat dan semampu yang kita bisa. Bounding dengan petani juga harus kuat. Tekankan pembinaan dan jangan sampai merugikan mereka.” Tegas Kean.


“Cuan memang yang menjadi tujuan, tapi ingat ada doa di setiap petani yang bekerja sama dengan kita. So, please be wise dalam tawar-menawar harga. Semakin banyak yang mendoakan kita semakin berkah untuk perusahaan ini. Ingat tujuan kita mendirikan Pasific Exporia bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi mengangkat nilai komoditi dan juga taraf hidup petani Indonesia.” Kean ternyata punya cara pandang yang adil baik untuk customer luar negeri maupun supplier yang tidak lain adalah petani dalam negeri.


“Terakhir dari gue. Kalau kerja, jangan lupa makan. Ini udah jam makan tapi malah minta sambutan.” Selorohnya, mereka berempat langsung tertawa dan akhirnya menyantap hidangan yang menggoda selera itu.


...***...


Jika merajuk pada peraturan perusahaan, seseorang dapat berhenti bekerja satu bulan dari surat pengajuan diserahkan. Tapi dengan meminta kebijaksanaan Elio, Rian dan Ayya hanya menjalankan tiga hari saja. Itulah yang menjadi penyebab berhembusnya issue bahwa Elio dan Rian berselisih paham.


“Saya dengar kamu dan Rian sudah end. Akhirnya kalian bubar juga. Haha…” Ardi yang merupakan adik kandung sang ayah datang siang itu ke ruangan Elio. Kedua pria yang harusnya menjadi paman dan keponakan itu berbicara layaknya sepasang musuh yang siap berperang kapan saja.


“Pak Rian resign karena ingin mensupport bisnis chef Kahanayya, anaknya.” Jawab Elio sambil berusaha tetap santai menghadapi laki-laki yang selama ini cukup serakah terhadap harta orang tuanya.


“Kamu fikir hal spele seperti itu bisa membuat dia pergi dalam hitungan hari..?”


“Itulah kenyataanya. Saya akan menjelaskan di rapat dewan direksi dan komisaris nanti. Jadi saya harap anda tidak terlalu memusingkan hal kecil seperti ini. Tetaplah bekerja dengan baik dan profesional, karena semua cabang dalam pemantauan saya.” Tegas Elio pada Ardi yang saat ini mau tidak mau ia percaya memimpin Elios hotel cabang Bandung.


“Jangan sombong kamu, El. Setelah Rian pergi, kamu tidak akan lebih dari wayang yang kehilangan dalang. Kami tinggal menunggu kapan pemimpin hotel ini akan digulingkan.” Ardi tersenyum sinis. Selama ini Rian cukup menjadi penghalangnya untuk naik ke puncak kepempinan.


“Dan satu hal lagi, soal akuisisi hotel di Bali. Kamu fikir keputusanmu sudah tepat? Siapkanlah argumen yang kuat, karena saya adalah orang pertama yang akan menentangnya nanti di rapat dewan direksi dan komisaris.” Ardi memperingati dengan keras. Elio langsung mengepalkan tangan karena merasa dirinya diancam dan direndahkan secara bersamaan.


Saat amarahnya terasa memuncak, tiba-tiba satu pesan masuk dari Luna.


“Kak… Jangan lupa makan ya. Aku siang ini lunch meeting berempat sama para atasan. Maaf baru sempat meminta izin karena diajaknya dadakan. Love you too.”


Elio tersenyum membaca pesan lucu itu. Luna sekarang sudah bisa mengatakan kalimat romantis meskipun selalu menambahkan kata “too” seolah-olah menyangkal bahwa dia mengungkapkan kalimat cinta itu duluan.


“Ya makanlah yang banyak sebelum nanti malam kamu yang aku makan.”


“Eitsss… Puasa dulu. Aku lagi datang bulan. Sabar ya. Hahaha.”


“Masih banyak wahana lain yang bisa aku kunjungi. Jadi jangan berfikir bisa terbebas.”


Elio terkekeh saat membayangkan mata Luna yang melotot saat membaca pesan terakhir darinya. Kadang disaat seperti ini satu dua pesan Luna bisa meringankan beban pekerjaannya.


Tapi hidup tidak melulu soal cinta, Elio punya banyak permasalahan yang harus dia selesaikan. Kedepannya mungkin Luna menjadi terabaikan, tapi percayalah bagi seorang Elio, Luna adalah hidupnya.


...☺️-[Bersambung]-☺️...


Author : Daebak… Aku bisa update tiga hari berturut-turut. Emejing gak tuh? Biasanya seminggu juga sekali. Itu pun gak yakin kalian sabar nungguin aku update.


Nitizen : Sehari satu aja bangga thooor. Aku kasih vote kalau bisa update tiga bab sehari.


Author : okeeeh.


Novel torooos (tiba-tiba terdengar suara mencekam dari paksua) 🤣


Nitizen : Ayolooooh rasain…


Author : Eh nggak jadi deh. Aku masih butuh rumah buat tempat tinggal. Amit-amit sampai di usir. 🤣