My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
First Day of Work



Luna kembali mematut dirinya di depan cermin. Ini adalah pakaian ketiga yang dicobanya pagi ini. Dari mulai menggunakan ruffle blouse dengan rok, beralih pada vest blouse dengan kulot dan terakhir adalah kemeja biru muda dengan basic catton pants berwarna ivory.


“Gimana Kak…? Udah cocok belum?” Tanya Luna memutar tubuhnya meminta pendapat Elio yang tengah memasak sarapan untuk mereka.


Bagi mahasiswa seperti Luna, tantangan terbesar first day of work adalah persoalan dress up alias memilih pakaian. Perspektif bekerja dengan office look yang pantas, menjadikan dirinya takut salah kostum di hari pertama bekerja.


Bagaimana tidak, selama dia berkuliah, Luna tidak pernah absen menggunakan celana jeans dan kemeja flannel. Variasinya hanya pada warna saja setiap harinya. Sedangkan kesan pertama saat bertemu dengan Elen adalah perempuan elegan dan percaya diri dengan penampilan casualnya.


“Aslinya aku mau bilang not oke. Bukan karena nggak cocok ya, tapi kamu kelewat cantik kalau berpakian seperti ini. Jadi terlihat makin dewasa. Aku takut boss kamu salah fokus, malah suka sama kamu nanti.” Elio menghela napasnya.


“Tapi melihat kamu gonta-ganti pakaian dari tadi, bikin aku jadi makin pusing. Udah pakai yang ini aja.” Elio sambil menyeruput teh dari dalam cangkir dan kembali menyelesaikan masakannya.


“Baiqlaaah bossquuu.” Ucap Luna dan kembali melenggang masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas kerjanya.


“Kak… Aku pamit dulu ya.” Luna mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Sarapan dulu. Aku nggak izinkan kamu pergi kalau tidak sarapan.” Tegas Elio menyodorkan sandwich tuna yang baru selesai ia masak dan segelas susu UHT ke hadapan Luna.


“Nggak mau ah… nanti terlambat. Aku nge-brunch aja nanti.”


“Kamu pikir bekerja seperti kuliah. Mana ada istilah brunch. Kalau sudah waktunya bekerja, paling cuma bisa ke pantry membuat minum. Tidak bisa seenaknya makan di luar jam istirahat.” Tukas Elio dan kembali menyodorkan sarapan. Mau tidak mau Luna menggigit sebagian besar sandwich agar habis dengan cepat.


“Pelan-pelan makannya, Luna…! Nanti kamu tersedak.”


Meskipun sudah berubah status menjadi suami istri, dalam beberapa hal Elio tetap memperlakukan Luna seperti adiknya.


“Hemmm…” Jawab Luna sesukanya.


“Yakin kamu nggak mau aku antar aja…? Aku pengen tau kantor kamu di sebelah mana. Jadi kalau pekerjaan aku luang, bisa aku jemput sore nanti.”


“Nggak usah, Kak. Di sepanjang jalan Cakung ada pembangunan jalan toll layang, pasti macet banget ke arah Bekasi. Aku naik ojek online, Trans Jakarta atau KRL aja nanti.” Jawab Luna mengunyah sambil berdiri. Elio hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sudah dandan cantik-cantik, tapi cara makannya masih saja bar-bar.


“Makasih ya Kak. Sandwich-nya enak. Top markotop. Aku suka banget.” Luna akhirnya meneguk habis susu UHT-nya tanpa jeda, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


“Aku berangkat duluan ya. Nanti kalau sudah sampai aku kabari.”


Setelah mengecup punggung tangan Elio, Luna mendekatkan wajah mereka memberi satu kecupan di pipi sang suami. Elio yang semula ingin marah karena melihat istrinya makan terburu-buru, akhirnya tersenyum.


“Eh.. Sebentar…!” Elio menahan tangan Luna untuk pergi.


“Ish… Apa lagi Kakak… Aku terlambat beneran ini.”


“Ingat…! Jangan tutupi pernikahan kita sama mereka. Terutama boss kamu, si Kean itu. Aku lihat dia punya perasaan sama kamu”


“Iyaaaa… Kakak selesaikan aja masalah dengan Kak Ayya. Aku bisa menjaga diri dengan baik.” Elio mengangguk mengerti.


Sudah ia rencanakan hari ini akan menyelesaikan semuanya dengan Ayya. Bahkan dari semalam Elio dan Luna menyusun kalimat yang paling tepat untuk menyampaikan kabar pernikahan mereka pada Ayya.


Melihat rute jalan yang merah tua dipagi hari, transportasi umum KRL menjadi pilihan Luna. Meskipun harus mengganti moda transportasi sebanyak tiga kali, setidaknya waktu tempuh lebih efisen dari pada menentang macet di jalan arteri.


Pukul delapan kurang sepuluh menit, Luna sudah sampai di bangunan ruko berlantai empat yang menjadi kantor Pasific Exporia. Sedikit perbedaan dari saat pertama datang ke sini adalah jumlah karyawan yang sudah semakin bertambah. Bahkan di front office sudah disediakan meja sementara untuk resepsionis.


“Saya Athanya Luna. Ingin bertemu Mbak Elen.”


“Oh Mbak Luna langsung masuk saja. Sudah ditunggu Pak Kean di dalam ruangan office.” Luna akhirnya diminta masuk kedalam ruangan office yang tersedia beberapa meja. Sudah ada Kean, Sang Founder duduk ditemani laptop dan secangkir kopi creamer di meja paling ujung.


“Pagi Mas Kean.”


“Hai Luna... Selamat pagi. Sini masuk..!”


“Maaf ya Mas… Hari pertama sudah membuat Mas Kean menunggu.” Meskipun Luna tidak datang terlambat, tapi dia merasa bersalah karena Kean datang lebih dahulu dari pada dirinya.


“Saya yang datang kepagian. Biasa takut macet…”Kean tersenyum tipis.


“Saya sengaja berangkat jam enam pagi dari Tomang dengan perkiraan sampai sampai di sini pukul delapan. Ternyata pukul tujuh sudah masuk harapan Indah. Kebetulan pagi ini saya mencoba lewat highway karena trauma bermacet-macetan di Jalan Raya Cakung hari-hari sebelumnya.” Kean menjarakkan laptop dan fokus menatap Luna.


Penampilan Kean pagi ini memang tampak santai. Kemeja cerah, bawahan blue jeans dan dipadukan dengan slip on shoes. Millennials look seperti ini memang cocok menjadi pilihan bagi founder perusahaan start up seperti Pacific Exporia. Luna tersenyum merasa dapat inspirasi untuk make over Elio agar bisa berpenampilan casual saat bekerja.


“Sudah sarapan?” Tanya Kean memecah Lamunan Luna.


“Aku sudah sarapan, Mas. Tadi sempat makan sandwich di rumah.”


“Sandwich? Itu masih belum cukup kalorinya. Hari ini kita akan meeting dengan vendor. Setelahnya harus observasi untuk analisa proyek. Pasti kamu butuh banyak tenaga naik turun tangga.” Ternyata Kean sudah mempersiapkan pekerjaan di hari pertama Luna.


“Saya barusan order nasi kuning untuk sarapan kita. Makan khas Indonesia pasti lebih nikmat kan...?”


Kean melirik styrofoam di samping mejanya. Luna yang bingung menolak ajakan Kean, akhirnya pasrah mengambil kotak nasi sambil berdoa dalam hati agar Elen atau Gara datang lebih cepat.


“Widiiiiih… Hari pertama sudah sarapan bareng.”


Gara menarik kursi dan menyampirkan jaket di kursi. Sedangkan Elen langsung melakukan re-touch up pada wajahnya. Ternyata rahasia tampil elegan ala Elen adalah dengan selalu memperhatian penampilan secara berkala.


“Kalian berdua yang datang terlambat. Gue juga order tuh buat kalian.” Ketus Kean menunjuk bungkusan sarapan.


“Buruan sarapan karena jam 9 kalian meeting L/C (Letter of credit) dengan pihak bank.” Titahnya mengangkat lengan kiri melihat jam.


“Kalian…? Lo nggak ikut Mas..?” Elen menyeringitkan dahi.


“Kan gue udah bilang kemaren. Gue harus menemani Luna meeting sama vendor. This is her first meeting, Elen.”


“Ya… Ya….” Jawab Elen.


Gara terlihat mencibir ke Elen dan hanya dibalasan senyuman saja oleh Elen. Sedangkan Luna masih tidak percaya ternyata interaksi mereka bertiga seperti sahabat bukan rekan kerja. Gaya bahasa mereka juga terdengar santai.


“Oh ya Luna. Sementara tempat duduk kamu di sana ya. Karena kamu cuma satu bulan di sini, kami tidak memberikan desktop khusus untuk kamu.” Elen menunjuk meja di sebelahnya. Meja kecil yang masih kosong dengan satu kursi.


“Tidak masalah Mbak Elen. Aku bawa laptop sendiri. Lagi pula untuk design memang membutuhkan spec khusus agar bisa membuka aplikasi design.” Jawab Luna.


“Haha exactly… That’s way you are here. You know lah kita tidak ada budget membeli laptop khusus design, makanya kita serahkan pada kamu sebagai project designer yang bisa all in one.” Elen terkekeh. Luna tersenyum tipis sambil mengangguk.


Idealnya perusahaan baru memang ada tim khusus yang meng-handle persoalan gedung. Namun dikembalikan lagi ke kondisi masing-masing perusahaannya. Pasific Exporia yang baru saja merintis usaha, sudah pasti sangat hati-hati dalam mengelola budget dan cost. Wajar bila dia lebih memilih mengandalkan Luna yang bisa dipekerjakan dalam termin waktu tertentu agar menekan project cost.


Pukul sembilan, Kean dan Luna sudah berada


di ruang meeting. Vendor yang ditunjuk adalah Arbista Studio. Sebagai consultant design, Arbi mulai banyak melakukan diskusi dengan Luna. Kean yang tadinya sempat meragukan kemampuan Luna dalam berkomunikasi dengan vendor, justru menjadi orang yang paling minum bersuara. Sesuai dugaannya, Luna benar-benar mampu menjadi perwakilan perusahaannya dalam men-define functional dan aesthetic needs project ini.


“Kita langsung observasi saja ya, Mas Arbi. Saya perlu pertimbangan untuk melengkapi requirement specification untuk project charter terbaru.”


Akhirnya seharian Luna dan Arbi menelusuri setiap lantai. Kean yang harusnya bisa duduk santai, memilih menemani Luna. Ada perasaan khawatir dalam dirinya membiarkan Luna berinteraksi dengan Arbi berdua saja, apalagi di lantai tiga dan empat masih kosong.


Pukul 11 lewat, urusan dengan Arbista studio sudah selesai. Luna dan Kean kembali ke office, sedangkan Gara dan Elen masih belum kembali dari brunch meeting dengan pihak bank garansi.


“Waw… Tidak terasa ya. Sudah dekat sama makan siang. Kita berangkat ke Meli Melo sekarang saja, Luna. ” Ajak Kean.


“Meli Melo…?” Luna menautkan alis, bingung.


“Nggak jauh dari sini ada culinary centre. Hari ini saya traktir makan siang. Anggap saja rasa terima kasih karena kamu bersedia bergabung.”


“Kita tidak makan siang di sini saja, Mas? Kata Mbak Elen, karyawan dapat katering. Aku ada rencana akan membuat project charter. Targetnya besok sudah selesai jadi bisa direview oleh Mas Kean.”


“Makan siang satu jam tidak akan membuat terlambat. Lagi pula saya sudah percaya sama kamu. Pasti proposal kamu langsung saya approved.” Luna menarik nafas panjang. Benar kata Elio, kalau tidak diberitahu Kean akan seenaknya memaksa seperti ini.


“Maaf Mas Kean. Aku masih kenyang.” Tolak Luna tegas. Kean tersenyum dia mengerti pasti Luna belum terbiasa dengan makan bersama pria. Entah kenapa dirinya merasa tertantang.


“Ya sudah. Lain kali kalau sudah ada Elen dan Gara kita harus makan siang bersama. Ada restoran Sunda yang enak dekat sini. Ada saung-saungnya juga.” Luna mengangguk. Setidaknya seperti itu lebih baik, batinnya.


Luna kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan proposal. Banyak yang dia pelajari saat berbicara dengan Arbi tadi. Ilmu pengetahuan tentang material masih sangat dangkal, sedangkan Arbi yang memang sudah biasa memilih material memberikan banyak masukan. Kemungkinan besar akan ada beberapa adjustment harga dari proposal yang dia ajukan saat sebelum sayembara.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu, baik Luna maupun Kean masih asik dengan laptopnya masing-masing. Kotak katering makan siang belum sempat mereka sentuh sama sekali.


Bersamaan dengan itu, handphone Luna berbunyi. Terlihat nama ‘Kak El’ terpampang di layarnya. Luna sekilas melihat ke arah Kean. Tidak enak rasanya mengangkat telfon dalam ruangan kecil seperti ini. Pasti Kean bisa mendengar semua pembicaraannya.


“Angkat saja Luna. Tidak masalah.” Luna mengangguk.


“Halo Assalamu’alaikum, Kak…” Luna mengangkat telfon Elio setengah berbisik merendahkan suara, kepalanya ia tundukkan ke meja agar meredam suara.


“Iya… Sebentar lagi. Ini sudah ada makan siangnya. Cuma belum sempat aku makan.” Kean menatap Luna seperti penasaran dengan siapa Luna menelfon saat ini. Meskipun berbisik tetap saja dia bisa mendengar jelas suara Luna yang sedang menjawab telfon.


“Iya… Iya… Mengerti. WA saja ya, Kak. Assalamu’alaikum.” Tutup Luna.


“Ternyata sudah ada orang yang mengingatkan kamu makan siang. Hehe.” Kean tersenyum kecut.


“Tadi itu siapa, Luna?” Luna tersentak mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kean.


Belum sempat Luna menjawab pertanyaan Kean, Elen datang dengan tawa riang memasuki ruangan.


“Goal doooong… Approved…”


Sepertinya meeting kali ini membawa berita bagus untuk perusahaan.


...🌛-[Bersambung]-🌛...


Naaah loh