
Author POV
Rian yang melihat Luna berdiri mematung melihat ke arah panggung, akhirnya mendekati gadis itu. Meskipun Luna tampak berusaha tersenyum, tapi ia tahu betul perasaan Luna sedang kacau.
“Hai Luna…” Rian menepuk pundak Luna membuat gadis itu langsung menoleh ke belakang.
“O…Om…”
“Ayo duduk. Kamu pasti capek berdiri dari tadi.” Luna akhirnya duduk kembali di sofa, begitu pun Rian memilih duduk di seberangnya.
“Kamu sudah sampai di Bandung ternyata. Pantas El sempat hilang beberapa jam tadi. Pasti kalian sudah puas melepas rindu ya. Haha..” Rian mencoba berbasa basi mencairkan susana. Terutama melihat Luna terlihat tidak nyaman.
“Kamu sudah pesan makanan…?” Tanya Rian.
“Sudah Om. Mungkin sebentar lagi pesanan aku datang.” Jawab Luna berusaha tampak biasa saja.
“Om mau pesan juga…? Biar aku panggilkan waitress.” Tanya Luna sambil melirik waitress yang mondar-mandir mengantarkan pesanan.
“Cukup… Sudah full…” Tolak Rian.
“Bagaimana kabarmu…? Sehat…?” Tanya Rian. Belum sempat Luna menjawab, dia sudah melanjutkan kata-katanya kembali.
“Oh ya… Selamat ya untuk sesuatu yang dirahasiakan itu.” Rian memasang tanda kutip dengan kedua tangannya saat mengatakan kata itu.
“Awalnya Om mau datang, tapi El bilang acaranya private party untuk keluarga saja. Benar begitu?” Tanya Rian berbisik.
Luna mengangguk ramah berusaha tersenyum. “Terima kasih Om. Mohon tetap menjaga rahasia.” Sambungnya.
“Of course… Semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan.” Bisik Rian kembali.
Sepertinya Elio benar, Rian memang bisa dipercaya. Buktinya dia sangat hati-hati dalam berucap, agar tidak bisa di dengarkan orang lain.
“Hemmm… Satu hal yang kalian harus tau. Semua keputusan pasti ada konsekuensi. Dalam teori pengambilan keputusan, tidak ada pilihan yang mutlak benar atau salah. Semua pasti ada pro-cons nya. Kita harus jeli menelaah dampak positif dan negatif yang ditimbulkan agar dapat menentukan pilihan yang paling tepat.” Ucapnya seperti sedang memberi pengarahan pada staff.
“See…!”
Rian mengarahkan pandangannya ke panggung tempat Elio dan Ayya berdiri.
“Andai saja Om bisa mengatakan pada Ayya, mungkin kejadian ini tidak terjadi. Tapi Om menghormati keputusan kalian. Pasti kalian sudah mempertimbangkan dengan matang.” Rian mendesah.
“Hanya saja sebagai Papa, Om takut Ayya kecewa saat sedang berada di atas angin.”
“Bagaimana pun sangat menyakitkan untuk Ayya saat mengetahui kenyataannya jika ini semakin berlarut.” Rian menatap ke arah panggung, melihat Ayya yang sedang menerima piring pertama dari El.
“Maaf Om. Aku tidak tau kalau Kak Ayya…” Luna bingung melanjutkan ucapannya.
“Hemmm…” Rian mengangguk.
“Sama… Om juga baru tau, begitu pun dengan El.” Rian menarik nafas panjang.
“Terlambat… Kita sama-sama terlambat.” Sambung pria itu kembali.
“Tapi itulah yang namanya jodoh kan…? Manusia tidak bisa mengintervensi kehendak-Nya sedikit pun. Itu sudah menjadi hak prerogatif Sang Pencipta.” Akhirnya Luna tertunduk.
“Situasi ini rumit sekali Luna. Bahkan lihat semua menjadi tersakiti, termasuk kamu. Benar begitu…?” Luna mengangkat wajahnya.
“Om harap kamu dan El bisa segera mencari jalan keluar yang tepat. Om titip satu hal. Jangan buat diri kalian lebih terluka lagi dari pada saat ini.” Ucapan Rian terhenti saat pesanan Luna datang.
“Black coffee?” Tanya Rian melihat segelas kopi yang diletakkan waitress di depan Luna.
“Bukan aku Om. Kak El.” Jawab Luna.
“Aku pesan ini, matcha latte.” Luna mengambil gelas minumannya dan menyesapnya beberapa kali.
“Hahaha… Anak itu mau begadang ternyata.” Rian kembali tergelak.
“Semanjak punya kamu, dia sering tertawa sendiri.”
“Waduh bahaya kalau begitu Om. Aku harus minta Mama segera pulang ke Indonesia.” Ucap Luna pura-pura panik. Rian mengerutkan dahinya.
“Lumayan kan punya jasa psikiater gratis untuk mengobati suami yang hampir gila.” Rian langsung terbahak.
“Rena… Rena… Ternyata kamu punya duplikasi semirip ini.” Rian menggeleng-geleng tidak percaya Luna punya sifat yang sama persis dengan mantan pacarnya.
“Jangan nostalgia ya Om. Papa aku orangnya galak.” Rian kembali terbahak.
“Nggak berani lah Om. Galakan Mama kamu dari Papa kamu kayaknya deh.” Timpal Rian.
“Eh betul juga sih. Kata Kakak, Mama aku nyonya besar. Tidak ada tandingannya.” Rian kembali tertawa mengingat semua tingkah bar bar Renata.
Mengobrol bersama Rian malam itu, membuat Luna cukup terhibur. Sejenak ia lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Rasa sakit yang entah apa namanya sampai dadanya terasa sesak.
Setelah rangkaian acara pemotongan tumpeng selesai, Elio bergegas turun dari panggung menuju table 9, tempat Luna dan Rian sedang mengobrol. Ia melihat keduanya tengah asik mengobrol bahkan Luna sampai tertawa lepas. Elio akhirnya bisa bernafas lega, setidaknya kondisi Luna tidak semurung tadi saat acara pemotongan tumpeng.
“Sudah ada El. Kalau begitu Om pergi dulu ya, Luna.” Ucap Rian. Luna langsung mengangguk ramah.
“Makasih Om. Sudah menemani Luna dari tadi.” Ucap Elio pada Rian. Rian memang seperti penyelamat untuknya.
“Ya memang harus ditemani. Karena kalau dibiarkan sendiri, orang lain yang akan mengambil kesempatan itu.” Ucap Rian.
“Ingat El. Kedewasaan seseorang ditentukan dari bagaimana dia bersikap.” Pria itu menepuk lembut pundak Elio sebelum melangkah pergi.
Setelah bayangan Rian melangkah pergi Elio langsung menghempas dirinya di sebelah Luna.
“Sayang… Maaf…” Ia raih satu tangan Luna, menganggemnya dengan erat. Luna langsung menepis tangannya agar terlepas.
“Kak, banyak yang lihat.” Lirih Luna.
“Kita ke kamar ya. Aku ingin bicara sama kamu.” Ajak El saat menyadari banyak pasang mata melihat ke arahnya dan Luna.
“Ngomong di sini aja. Aku mau makan dulu. Hari ini aku cuma makan nasi goreng seperempat porsi.” Tolak Luna. Dia langsung mengambil sendok dan garpu bersiap menyantap makan malam yang sudah terhidang di hadapannya.
“Aku butuh makan sekarang biar bisa bertahan hidup.” Luna mengangkat satu tangannya memperlihatkan jari-jarinya sudah tremor. Menahan lapar dan emosi membuat gadis itu merasa lemas tiba-tiba.
“Ya sudah. Kamu makan dulu.” Terpaksa Elio mengalah. Diletakkannya kembali piring makan itu agar Luna bisa melanjutkan makannya.
Selama menunggu Luna makan, Elio hanya bisa melihat Luna yang lahap makan tanpa jeda. Sampai-sampai ia berfikir apa makanan ini terlalu enak, atau memang Luna yang sangat kelaparan.
“Kamu mau pesan lagi..? Aku panggilakan waitress untuk menambah makanan lain.” Tawar Elio.
“Udah… Aku udah kenyang Kak.” Disesapnya matcha latte yang tinggal setengah sampai habis.
“Mending Kakak pesan makan dari pada cuma liatin aku. Pasti butuh energi kan setelah seharian bekerja.” Luna menyerahkan buku menu ke tangan Elio.
Setelah ia fikir-fikir ada benarnya apa yang Luna katakan. Rasa lapar membutnya tidak bisa berfikir jernih. Setidaknya jika sekarang sudah makan, nanti di kamar dia lebih fokus mengobrol dengan Luna. Akhirnya Elio memesan sup iga untuk santapannya malam ini.
Sepuluh menit menunggu, sup iga datang. Langsung di antar oleh executive chef Kahanayya. Elio langsung tercekat. Kenapa Ayya yang harus mengantarkan pesanannya. Kenapa bukan waitress saja.
“Ya… Kamu harusnya di dapur kan..?” Tanya Elio melihat Ayya menyajikan makan itu untuknya.
“Kamu lupa ini site Bandung. Sudah ada Daniel, Executive Chef yang bertugas di sini. Aku di sini membantu dia saja.” Jawab Ayya seperti lues berbicara tanpa melihat posisi Elio sebagai GM hotel.
“Kalau begitu, harusnya Daniel yang mengantarkan tumpeng tadi ke depan?” Tanya Elio.
“Hemmm… Aku hanya membantu dia tadi. Daniel sibuk di dapur.” Ayya berkilah. Elio langsung membuang pandangannya. Sudah ia tebak pasti ini hanya akal-akalan Ayya saja.
“Luna… Ternyata kamu di Bandung?” Ayya menyalami Luna dan memeluk gadis itu seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
“Hai... Apa kabar, Kak..?” Ucap Luna berbasa basi meskipun terasa hambar dan tidak sehangat biasanya.
“Very well.” Tanpa permisi Ayya ikut duduk di seberang Elio dan Luna.
“Kapan kamu sampai di Bandung..?”
“Tadi pagi. Aku naik kereta paling pagi.” Jawab Luna. Entah kenapa untuk pertama kalinya ia tidak suka melihat Ayya yang menatap lekat wajah suaminya.
Melihat Ayya yang terus saja mencoba mendekati Luna, membuat Elio mempercepat makannya. Berlama-lama di sini hanya membuat keduanya semakin akrab.
“Aku udah selesai. Ayo ke kamar. Kamu pasti lelah seharian jalan-jalan keliling Bandung.” Ucap Elio seraya bangkit dari duduknya.
“El… Tunggu…!”
Elio langsung berdecak. “Ada apa lagi, Ya…? Aku lelah. Ingin istirahat.”
“Aku mohon El. Duduklah sebentar. Aku perlu bicara sama kamu.” Ucap Ayya memohon. Elio akhirnya kembali duduk.
“Aku minta maaf soal kejadian tadi. Aku nggak menyangka mereka sampai menjodoh-jodohkan kita.” Ucap Ayya.
“Ya sudah. Mau gimana lagi. Untuk sementara waktu sebaiknya kita menjaga jarak. Aku tidak mau ada yang menggiring opini seperti tadi.”
“Ini perusahaan. Bukan sekolahan. Terlalu childish…!”
“Kita butuh kenyamanan dalam bekerja. Aku ingin mulai sekarang semua bekerja secara profesional, termasuk kamu.” Tegas Elio.
“El…” Lirih Ayya dengan mata berkaca-kaca. Penolakan Elio benar-benar membuatnya kecewa.
Luna yang berada di antara mereka hanya diam tertunduk, sampai akhirnya dering ponselnya terdengar. Luna mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas kecilnya, ternyata nomor Kean yang belum sempat ia beri nama tengah menelfonnya.
“Aku… Aku izin mengangkat telfon sebentar ya.” Ucap Luna melirik Elio dan Ayya lalu bangkit berdiri.
“Angkat disini…!” Sentak El.
“Ha…?”
“Angkat di sini…!” Tangan Elio mencekal pergelangan tangan Luna.
“Iya… Tapi lepas dulu Kak. Sakit tangan akunya ditarik begini.” Keluh Luna dengan nada memohon. Tapi pria itu tampak tidak peduli. Ditariknya tangan Luna sekali lagi agar Luna kembali duduk.
“Halo. Assalamu’alaikum”
“Iya… Maaf Mas Kean tadi sore HP aku kehabisan baterai. Jadi belum sempat menjawab pesan Mas Kean.”
“Aduuh iya… Aku juga nggak bisa mendengar jelas suara Mas Kean. Aku lagi ada di restoran yang ada live music.”
“Sebentar ya Mas… Aku cari tempat agak sepi biar lebih clear suaranya.” Ucap Luna.
Rupanya baik Kean dan Luna tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
“Kak… Ini Founder Pasific Exporia yang menelfon aku. Disini bising banget, nggak kedengeran beliau ngomong apa.”
“Aku telfon di balkon sana ya.” Ucap Luna meminta izin. Elio hanya menatap tajam tidak menjawab.
“Nggak lama. Aku nanti kesini lagi.” Luna bangkit dari duduknya.
“Aku tinggal sebentar ya Kak Ayya.” Pamit Luna pada Ayya. Setelah mendapat anggukan dari Ayya barulah ia pergi meninggalkan Elio dan Ayya yang saling menatap tajam.
Setelah bayangan Luna tidak tampak, Ayya langsung mendesah.
“Tidak usah terlalu memperlihatkan kalau kamu sedang cemburu sama Luna, El.”
“Luna pasti nggak nyaman kamu kekang seperti itu, apa lagi hubungan kalian hanya sebatas Kakak adik.” Ucap Ayya.
“Aku tau pasti rasanya sakit. Sama seperti yang aku rasakan sekarang, sakit banget waktu tau orang yang aku suka malah suka sama orang lain.” Ayya tertawa pilu.
“Ayya… Aku rasa case closed. Kamu harus bisa melupakan aku mulai dari sekarang.”
Elio akhirnya bangkit menyusul Luna ke balkon meninggalkan Ayya sendiri di meja. Melihat Luna menerima telfon sambil sesekali tersenyum membuat hatinya sakit.
...✍️-[Bersambung]-✍️...