My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
I’m Falling in Love



“El… Hemmm…” Ayya menatap Elio sebentar lalu menunduk kembali.


“Mungkin nggak ya hubungan kita lebih dari sekedar teman atau atasan dan bawahan?” Akhirnya ungkapan perasaan itu lolos dari mulut Ayya.


Elio langsung tersedak bahkan sampai terbatuk-batuk. Bagaimana mungkin Ayya bisa menyukainya selama ini? Padahal mereka sudah bersahabat dari kecil. Apa yang salah kira-kira?


“Eh… Sebentar aku ambilin minum buat kamu.” Ayya langsung berlari menuju bar untuk mengambilkan segelas air putih.


“Minum dulu ini. Sorry-sorry aku bikin kamu jadi kaget.” Ayya terlihat sedikit panik bahkan berusaha membantu Elio untuk minum. Tapi tangan Elio terangkat seperti memintanya untuk memberi jarak.


Setelah semuanya tenang, Elio berniat membuka pembicaraan mereka kembali. Tapi belum sempat dia bicara Ayya memulai ucapannya terlebih dahulu.


“El harusnya ini dibicarakan di private room. Sorry, aku nggak tau ternyata ada orang tua angkat kamu di sini.”


Ayya melihat ke arah beberapa orang yang sedang menikmati makan malam bersama. Di sana ada Gilang dan Renata yang sudah Ayya ketahui sebagai orang tua angkat Elio sekarang.


“Astagfirullah. Aku lupa. Udah dulu ya Ayya. Aku harus ke tempat keluargaku.” Elio langsung beranjak meninggalkan koki cantik itu.


Elio bergabung di meja panjang yang sudah disediakan untuk makan malam keluarga itu. Masih ada Om Teguh, Tante Tias dan keluarga besar lainnya. Mereka baru akan kembali ke tempat masing-masing besok malam.


Kedatangan El langsung disambut muka masam beberapa orang. Terutama yang tadi sempat melihat Elio yang terlihat akrab dengan koki cantik sampai mengambilkan minum segala.


“Luna mana?” Tanya Renata berbisik.


“Istirahat di apartemen, Ma. Semalam dia begadang mengerjakan tugas kelompok sama teman-temannya.” Jawab Elio berbisik.


Renata mengangguk karena memang itulah yang dia intip di CCTV. Entah harus bangga atau kecewa dengan sikap Luna. Bahkan Renata bisa menebak Luna lah yang menjadi dalang dari tidak lancarnya acara pernikahan kedua anak itu kemaren.


Elio kembali melirik kebeberapa orang yang mungkin sudah punya presepsi kurang baik padanya.


“Gimana meetingnya persiapan auditnya, El? Lancar?” Gilang mengeraskan suaranya agar memecah rasa canggung di meja itu.


“Masih banyak yang harus disiapkan, Pa. Tapi El sudah mau pulang sebentar lagi.” Jawab Elio.


“Terus kenapa malah ngobrol sama orang lain di sini?” Sinis Teguh heran mewakili mereka yang tidak suka dengan pemandangan tadi.


Tiba-tiba seorang waitress mengantarkan goodie back pada Elio berisi rerotian yang ia pesannya.


“Ini… Aku pesankan Luna pastry kesukaannya. Tapi tadi ada masalah sedikit tentang kitchen makanya kepala kokinya laporan sama aku, Om.” Jelas Elio sesantai mungkin.


“Biasa soal budged, jadi bikin aku kaget sampai tersedak. Tolong jangan berfikiran buruk ya.” Kilah Elio, karena tidak mungkin dia jujur tentang ungkapan perasaan Ayya padanya tadi.


“Haha Om kira…”


“Nggak mungkinlah… Ini aja udah kangen, pingin cepetan pulang nemuin istri.” Elio menampakan senyum malu-malunya.


“Ya deh pengantin baru. Tapi masih puasa.” Cicit Teguh terkekeh.


Akhirna Elio bisa berbasa-basi kembali dengan keluarga besar. Setidaknya memperbaiki kesalahpahaman antar mereka. Setelah merasa kondusif, barulah Elio pamit untuk pulang.


“Aku pamit ya semua, kasihan Luna sendiri di unit. Nikmati fasilitas di sini. Nggak usah sungkan.” Tutup El bernafas lega.


Elio akhirnya meninggalkan hotel dengan perasaan bingung. Jika yang menyukainya adalah orang lain, dia akan terang-terangan menghindar seperti Luna memperlakukan fansnya. Tapi ini seorang Ayya, karyawan andalan sekaligus sahabatnya dari kecil.


Setelah turun dari lift dan memasuki lobby hotel, barulah dia sadar kalau di luar sedang hujan deras bahkan petir-petir. Pasti Luna ketakutan di rumah sendirian.


Berkali-kali Elio mencoba menelfon istrinya itu tapi telfon tidak ada jawaban. Rasanya ingin sekali ia menelfon security apartemen untuk memastikan Luna baik-baik saja di dalam unit, tapi rasanya berlebihan sampai mengizinkan orang lain masuk.


Akhirnya Elio memilih memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Seakan tidak peduli keselamatan dirinya sendiri ketika mengemudi dengan kecepatan tinggi disaat kondisi hujan badai.


“Luna… Kenapa handphonenya tidak di angkat sih? Padahal aktif.”


“Jangan-jangan anak itu tidur lagi atau malah menghancurkan kamar lagi.”


Beberapa kali pria itu hampir menubruk truk disisi kiri jalan karena menghindari macet. Tapi untungnya masih bisa selamat.


Setelah berhasil masuk ke dalam apartemen, Elio melihat apartemen sepi. Tidak ada orang sama sekali. Handphone Luna sedang di charge di ruang keluarga tapi tidak ada orang di sana


“Luna…” Teriak Elio memanggil Luna.


“Luna kamu di kamar mandi ya? Aku buka ya?” Elio membuka kamar mandinya tapi kosong.


“Apa mungkin tidur di kamarnya?” Setengah berlari Elio masuk ke kamar Luna, tapi keadaan sama. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Elio langsung membuka handphonenya untuk melihat CCTV, ternyata sejak satu jam yang lalu, Luna masuk ke kamarnya dengan kondisi berlari dan belum keluar hingga sekarang. Diperkirakan Luna pasti panik setelah mendengar suara petir pertama yang cukup keras.


“Ha? Mana dia? Tidak mungkin dicuri makhluk astral kan?” Gumam Elio dengan wajah masih panik.


“Luna…” Panggil Elio lagi dengan suara lebih keras.


Bukan jawaban yang ia dengar tapi suara tangisan yang terisak-isak. Suara itu berasal dari dalam lemari pakaian. Sudah di pastikan Luna bersembunyi di dalam sana.


Sesaat dia bisa bernafas lega. Namun dia mulai berfikir tidak mungkin Luna akan terus-terusan seperti ini, Luna harus bisa mengatasi rasa takutnya sendiri.


Akhirnya Elio mengambil selimut, lalu menyambar handset yang ada di meja belajar Luna. Mengatur musik di ponselnya.


“Luna aku buka lemarinya ya.” Elio membuka lemari dan benar Luna meringkuk di dalam sana dengan tubuh masih bergetar hebat.


Elio langsung berjongkok mendekat pada tubuh Luna lalu menutup kepala mereka dengan selimut agar Luna tidak bisa melihat ke arah jendela. Kemudian ia menyalakan lampu dari handphone dan memindahkan satu haedset pada salah satu telinga Luna.


Barulah Elio menarik tubuh sang istri masuk dalam pelukannya, menempelkan bibir pada telinga Luna yang lain agar bisa berbisik.


“Sayang… Sudah ada Kakak sekarang. Kamu aman sama Kakak.”


“Di luar cuma petir. Semua akan baik-baik aja.” Bisik Elio berusaha mensugesti Luna.


“Aku takut Kak. Aku hampir mati karena itu dulu.” Lirih Luna, suaranya tercekat.


Perlahan Elio memberi jarak tubuh mereka dan menatap lekat mata basah Luna. Tangannya terangkat merangkum wajah Luna.


“Mulai sekarang lupain kejadian waktu itu. Kamu ganti sama memori yang baru.”


“Percaya sama Kakak. Pasti bisa…!”


Entah bisikan dari mana Elio mulai memiringkan kepalanya, mendekat perlahan wajahnya pada wajah Luna. Elio mempertemukan bibir mereka lalu menahannya beberapa saat. Membiarkan Luna berusaha mengganti memori buruknya dengan ciuman mereka malam ini.


Tidak ada penolakan dari Luna. Gadis itu sudah pasrah dan sengaja menutup matanya saat Elio mulai menyapu lembut bibirnya. Luna akan berusaha mengingat malam ini untuk selamanya. Keinginannya untuk sembuh dari trauma lebih besar dari rasa apa pun saat ini.


Dan Ku Tlah jatuh cinta


Ku wanita dan engkau lelaki


Perasaanku berkata I'm falling in love


Sang cinta mendekatlah


Malam menyanggupi jadi saksi


Hati kecilku berkata I'm falling in love


I'm falling in love


Ternyata lagu Melly Goeslaw berjudul I'm Falling In Love itu telah menjadi saksi ciuman pertama mereka yang sesungguhnya.


...🥱-[Bersambung]-🥱...


Kalau udah nulis teh susah berhenti sebenarnya. Tapi kalau nulis terus besoknya aku yang diamuk atasan. 🤣