My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
“Belum El..!”



Bercerita dengan Alea seharian rasanya bagi Luna masih belum cukup. Sebagai sahabat, Alea bisa menempatkan diri menjadi pendengar yang baik saat Luna mulai berkeluh kesah. Seperti malam ini, Alea tidak memberikan jawaban yang menghakimi sama sekali, tapi justru membuatnya bisa merasa lebih tenang.


“Apa pun pilihan lo, gue pasti dukung. Asal lo bertanggung jawab sama pilihan lo.” Tutup Alea bertepatan dengan dibukanya pintu depan cafe itu.


Baik Luna maupun Alea langsung menoleh memasang wajah terkejut. Siapa gerangan yang datang ke cafe ini malam hari.


“Kakak…”


Luna langsung bangkit melihat Elio datang dengan baju bekas rerintik hujan. Luna langsung mengintip ke arah luar untuk memeriksa apakah di luar sedang hujan atau tidak, dan ternyata memang sedang gerimis dan lumayan rapat.


“HP kamu nggak aktif lagi.” Ucap Elio datar sambil mengaibas-ngibaskan tangan pada baju yang basah. Manusia es itu terlihat sangat cool di hadapan Alea.


“Masa sih?” Luna langsung merogok ponsel dalam tasnya dan ternyata benar ponselnya kehabisan batrai lagi.


“Perasaan baru jam 4 tadi deh aku ngecas HP, kok udah mati aja sih? Emang udah soak kayanya nih.” Keluh Luna sambil mengarahkan ponselnya pada Elio.


“Bumblebee ditinggal di sini aja. Kita naik mobil, antar Alea dulu.” Titah El. Wajahnya yang dingin tidak memperlihatkan kekesalan yang ada dalam hatinya sama sekali. Padahal Luna sudah membuatnya khawatir berlebihan malam ini.


“Eh… Nggak usah Kak. Aku bawa Bee kamu aja ya. Ada jas hujan kan?” Ucap Alea.


“Ada sih. Tapi kasian elo.” Luna berkomentar.


“Nggak usah dipikirin aku mah. Kalian nikmati waktu berdua aja. Biar makin dekat.” Alea menyeringai tapi tetap terkesan kikuk di hadapan boss nya itu. Dia pun mengubah kata ‘lo’ menjadi ‘kamu’ pada Luna agar terkesan sopan.


Elio mentap Luna penuh tanda tanya. Apa Alea sudah tahu mereka akan menikah? Padahal Luna sendiri yang memberikan syarat untuk backstreet di depan semua orang.


“Iya… Ale udah tau.” Jawab Luna pasrah tanpa ditanya.


“Ya sudah baguslah…” Elio tersenyum, dia justru senang jika semakin banyak yang tau statusnya adalah calon suami Luna.


“Cuma Ale ya. Nggak ada lagi yang orang lain yang boleh tau.” Tegas Luna.


“Emang aku yang ngasih tau Alea? Kan kamu yang ngasih tau sendiri.” Sungut El membuat Luna berdecih.


“Kakak seneng kan tapi kalau ada yang tau kita mau nikah?”


“Kabar bahagia itu harus disampaikan. Dari pada fitnah? Ya kan Lea?”


“Eh… Iya Kak… Betul…” Alea langsung gugup ditodong pertanyaan itu.


“Aleeee…” Luna kesal karena sahabatnya itu justru membela Elio dari pada dirinya.


“Udah-udah… Aku janji nggak bocorin rahasia kamu kok.”


“Cih…” Luna kembali berdecih. “Sopan amat lo sama gue.” Sindir Luna membuat Alea kembali salah tingkat di depan boss nya itu.


“Santai aja, Lea. Kamu kaya ketemu siapa aja.” Elio terkekeh memecah kecanggungan Alea padanya.


Akhirnya sesuai kesepakatan, Bumblebee dibawa oleh Alea, sedangkan Luna pulang baik mobil dengan Elio.


“Kakak kenapa jemput segala sih? Aku kan udah bilang tadi mau naik Bee aja pulangnya?” Protes Luna karena Elio tiba-tiba saja datang mengacaukan sesi curhatnya bersama Alea.


“Aku khawatir sama kamu. Kan hujan, takut nanti ada petir.” Jawab Elio memasang tatapan fokus ke depan saat mengemudi.


Luna langsung bungkam, ternyata Elio sekhawatir itu padanya. Tapi gadis itu saja tetap enggan berterima kasih pada calon suaminya.


“Besok kita beli HP baru buat kamu ya?” Tawar Elio. Pasalnya ini sudah kali kedua Luna menghilang dan tidak bisa dihubungi, membuat fikirannya tidak tenang.


“Nggak usah.”


“Katanya HP nya rusak?”


“Batrainya aja yang soak. HP nya mah masih bagus.”


“Beli batrai baru sama HP baru nggak jauh beda harganya loh. Jadi langsung aja beli HP baru.” Bujuk Elio kembali.


“Ya udah nanti aja nunggu rusak sekalian. Aku nggak butuh HP banget kok. Paling buat urusan kampus dan aku bisa pakai power bank.” Gadis keras kepala itu masih saja kukuh dengan pendiriannya.


“Tapi aku yang butuh bisa hubungin kamu. Sebentar lagi kamu bakal jadi tanggung jawab aku. Jadi…”


“Kak… Please…” Luna langsung memotong ucapan Elio. Ia tidak suka Elio mengatakan soal tanggung jawab. Mungkin Elio bisa bertanggung jawab, tapi apa Luna bisa?


“Kenapa?”


Tiba-tiba saja Luna kehabisan kata-kata. Apa yang ada dalam kepalanya tidak bisa tertuang dalam kata-kata.


“Kenapa?” Sekali lagi Elio bertanya.


“Aku masih bisa pakai HP ini. Nanti aja ganti nya ya. Duit kakak ditabung buat kebutuhan kita yang lain, yang lebih bermanfaat.” Kalimat yang berbeda dari isi di kepalanya dan terkesan sangat dewasa. Padahal hanya dimulutnya saja.


“Ya udah.” Elio langsung tersenyum mendengar Luna menyebut ‘kebutuhan kita’. Ia fikir Luna sudah mulai membuka hati padanya, padahal kenyataannya hati gadis itu tengah bergejolak memikirkan kelanjutan rencana pernikahan mereka.


“Kemana saja kamu?”


“Tadi praktimum mebel sampai jam delapanan. Terus ke cafe kakak.” Jawab Luna tidak malas-malasan.


“Kenapa sih pakai mampir segala? Udah tau kuliah sampai malam tapi masih aja keluyuran.” Renata sudah mulai mengeluarkan jurus omelannya.


“Aku haus, Ma. Mau minum gratis. Lagi pula kasian Alea, harus jalan pulangnya. Jadi nunggu dia beres kerja dulu.” Luna membela diri.


Renata langsung terdiam, dia ingat janjinya akan memberi Alea motor. Namun jiwa hematnya tiba-tiba menggelora saat itu. Berharap Luna ikut ke Aussie dan bisa memberikan Bee pada Alea. Sekarang Luna tidak jadi ke Aussie, berarti Renata harus segera membelikan motir untuk Alea.


“Iya besok Mama beliin Alea motor.”


“Vespa aja Ma.”


“Mahal.”


“Enggak kok. Nanti aku tambahin pakai tabungan aku.”


Elio langsung memasang muka masam. Tadi saja bilang harus hemat, duit ditabung untuk kebutuhan lain, giliran vespa jadi tidak berlaku lagi kata-kata bijak itu. Luna memang anugerah sekalian cobaan untuknya. Cobaan agar lebih banyak bersabar.


“Ya udah. Kamu bersihin diri dulu sekalian sholat isya gih..! Mama mau bicara.”


Luna langsung menghela nafasnya dengan kasar. Mau bicara apa lagi semalam ini? Pasti tidak jauh-jauh dari pernikahan. Pernikahan yang ia rencanakan sendiri tapi justru membuatnya pusing tujuh keliling.


Setelah Luna membersihkan diri dan sholat isya sekaligus meminta petunjuk untuk pilihannya, gadis itu kembali keluar menuju ruang keluarga. Sudah ada Elio dan kedua orang tuanya menunggu di sana, membuat perasaannya makin berkecamuk.


“Sini duduk..!” Renata menggeser posisi duduknya agar Luna bisa duduk di sebelahnya.


“Mau ngomong apa, Ma?” Tanya Luna.


“Elio yang mau ngomong.”


Elio tersenyum dan mengambil beberapa berkas dari dalam tasnya.


“Ini surat-surat nikah kita. Kamu tanda tangan disini.” Elio menyerahkan surat-surat itu pada Luna di depan Renata dan Gilang.


Luna yang masih terkejut dan tidak menyangka semua secepat ini. Ia langsung meremas ujung kemejanya sambil menatap tumpukan berkas itu.


“Kita nikah beneran?”


Semua langsung memasang wajah tegang, termasuk Luna sendiri. Jelas kekecewaan di wajah Elio, kenapa Luna tiba-tiba berubah fikiran? Elio berfikir keras sampai tidak sengaja menjatuhkan pulpen di tangannya.


“Maksud kamu?”


“Hehe… Biasa aja kali, Kak. Aku becanda. Lagian kakak semangat banget mau kawin.” Luna tertawa sambil mengambil berkas dan bulpen yang terjatuh di lantai.


“Luna… Luna… Lihat calon suamimu sampai shock tuh. Kan kasian kalau darah tinggi.” Renata yang tadinya terkejut langsung mengendurkan tubuhnya. Begitu juga dengan Elio dan Gilang. Bisa-bisanya Luna bercanda untuk urusan sekrusial ini.


Luna membaca semua surat pengajuan pernikahan yang sudah dibubuhi matrai di kolom tanda tangan. Sebelah kiri ada tanda tangan Elio sedangkan di sebelahnya lagi ada kolom tanda tangan untuk Luna yang masih kosong.


“Bismillah…” Ucapnya lirih. Dengan tangan berkeringat dingin, serta hati yang masih bergejolak, pulpen itu sudah tergores tanda tangan Luna.


“Sah…”


Tiba-tiba suara Elio mengagetkan Luna.


“Belum El..!” Bentak Renata emosi dan langsung membuat Elio terkekeh.


“Emang Luna dong yang bisa becanda?” Cicit El.


...- - - - -...


Sehabis sholat isya tadi, Luna menyempatkan sholat istikharah. Memohon diberi petunjuk untuk pilihannya.


“Dooor…” Suara petir terdengar dari luar untung saja suara petir itu tidak begitu kencang, sehingga Luna masih bisa mengatasi rasa takutnya sendiri.


“Lunaaa…” Elio mengetuk kencang kamarnya. “Kamu baik-baik aja kan?” Suara Elio terdengar panik.


“Iya… Aku baik-baik aja.” Teriak Luna dari dalam kamar.


Hitungan detik, Luna terbayang bagaimana perlakuan Elio melindunginya. Memberikan rasa aman dan nyaman. Bahkan terbesit rasa takut di hatinya, takut jika suatu saat mereka harus berjauhan seperti beberapa tahun silam.


Luna tersenyum. “Apa ini jawaban dari-Mu?”


...😊-[Bersambung]-😊...


Jangan lupa jejaknya…


Typo revisi bertahap ya.