
Sejak kepergian kedua orang tuanya, nama Elio masuk dalam jajaran Corporate Owner di bisnis hotel almarhum orang tuanya. Namun karena usianya yang dianggap belum cukup untuk mengambil keputusan, sang kakek ditunjuk sebagai wali hingga Elio berumur 21 tahun.
Selama sembilan tahun itu lah tante dan om Elio berebut jabatan sebagai Executive General Manager sementara di Elios Hotel. Posisi strategic yang bisa mengobrak-abrik tatanan perushaan sampai Elio dinyatakan siap. Namun sayang posisi itu selalu vacant (kosong) karena persengketaan antara keluarganya yang tidak berujung.
Banyak yang terjadi selama masa itu, salah satunya berkurangnya unit grup hotel dari enam unit menjadi tiga unit saja. Entah apa alasannya, sampai sekarang Elio belum paham kenapa mereka menjual 3 hotel yang berlokasi di Medan, Surabaya dan Makasar itu. Namun dilain sisi tidak dipungkiri 3 unit hotel yang tersisa berkembang cukup baik, terbukti dengan disematkanya bintang empat untuk Elios Hotel yang berlokasi di Jakarta, Bandung dan Jogjakarta.
Semua capaian ini membuat Elio bingung untuk menganalisa siapa yang benar-benar baik atau hanya berpura-pura baik saja selama ini. Tapi biarlah waktu yang membuktikannya nanti saat ia menjabat Executive GM Hotel setelah menyelesaikan pendidikan S2. Elio yakin dia akan mampu menjalankan bisnis ini seperti ayahnya dulu.
Menginjak usia 21 tahun, ketika Elio sedang menjalankan kuliah sarjana bisnis di Aussie. Ia mulai berani mengambil keputusan saat rapat dewan direksi, termasuk memutuskan formasi jabatan operasional, dan merotasi orang-orang yang dianggap tidak kompeten. Meskipun sedikit ragu, Elio memanfaatan intuisi dan data-data yang ia terima dari sumber yang terpercaya.
Elio tidak pandang bulu soal itu, bahkan ia tidak segan-segan menempatkan tante dan omnya pada level supervisor atau staff ahli saja jika terbukti tidak layak berada pada posisi strategis. Sedangkan Om Rian, orang yang ia anggap sebagai tangan kanannya, posisinya dikunci sebagai Executive Secretary yang akan memberikan laporan pada Corporate Owner.
Bukan tanpa alasan, Om Rian sudah menjadi asisten ayahnya dari awal Elios Hotel berdiri. Jadi soal kredibiltas dan kemampuan harusnya tidak dipertanyakan lagi. Ilmunya ngelotok sampai ketulang-tulang, melebihi Elio yang hanya mengerti teori dalam buku saja.
Meskipun tidak berada di Indonesia sampai usia 26 tahun, Elio tetap mengontrol dari jauh kondisi hotel melalui Om Rian. Saat itulah ia mulai belajar sedikit demi sedikit tentang operasional Hotel.
Sepulangnya Elio dari Aussie 2 tahun yang lalu, Elio langsung merangkap jabatan sebagai owner sekaligus Executive General Manager, membawahi Om Rian dan yang lainnya. Sudah saatnya Elio praktik langsung mengurusi operasional hotel yang ternyata cukup membuatnya sering mengonsumsi obat migrain dan tolak angin setiap malam.
Ada saja masalah kecil hingga masalah besar yang harus ia hadapi, dari perkara insiden pelabrakan pelakor oleh istri sah yang menghebohkan, penyeludupan obat-obat terlarang, skandal artis hingga korupsi berjamaah oleh keluarganya sendiri. Semua seperti lengkap ada di bangunan berlantai 19 itu.
Ini baru di Jakarta ya, jangan tanya di kota Bandung dan Jogjakarta, kasusnya lebih unik-unik membuat ia tidak habis pikir. Misalnya penyeludupan selimut dan handuk hotel oleh pengunjung hotel, hingga pembayaran menggunakan uang palsu.
Seperti siang ini, saat ia melihat bidadari cantiknya sedang bernyanyi di atas panggung, melantunkan lagu-lagu romantis dengan suara amat merdu yang membuatnya darahnya berdesir hebat, tiba-tiba saja Om Rian menelfonya. Om Rian memintanya agar segera datang ke hotel karena kondisi genting penting dan tidak bisa ditunda.
“Harus sekarang ya Om?” Tanya Elio mengeluh.
“Iya dong El… Masa nunggu besok. Keburu tikusnya kabur.”
Elio akhirnya mendesah panjang, “Satu jam lagi aku sampai Om. Pastikan semua baik-baik saja.” Akhirnya panggilan telfon ia tutup.
“Luna, calon suamimu ada masalah. Please jangan nambah masalah dengan bikin aku cemburu sama kamu. Mana kita gagal nge-date ke supermarket.” Keluhnya melihat Luna bicara dengan banyak pria setelah selesai bernyanyi.
Seperti kata pepatah lama, there will be happiness after sadness, ternyata setelah aksi cemburunya yang sedikit tidak terkontrol, Luna setuju untuk mengalihkan acara yang katanya nge-date ke supermarket menjadi ikut ke Hotel mengurus tikus.
Aih… Senang sekali hati Elio. Yang penting dengan Luna kemana saja akan sangat menyenangkan dan menggetarkan hati. Harusnya begitu ya?
Tanpa ia tau ternyata Tuhan lebih menghendaki Elio berjalan kaki 875 meter menuju hotelnya tepat pukul 2 lewat 17 menit siang hari. Panas, gerah dan melelahkan.
Jadi, tolong ingatkan Elio agar segera mengurus SIM C, jika tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali.
...***...
Meskipun Elio pintar dalam hal teori, tapi soal praktik Elio harus belajar lebih keras sepertinya. Soal etika pelayanan konsumen contohnya. Elio terlalu mengandalkan tampang yang boleh dikatakan jauh di atas rata-rata tapi lupa cara berpenampilan layak. Lebih tepatnya malas pakai jas atau pun pakaian sejenisnya. Om Rian sudah berkali-kali mengingatkan tapi Elio selalu saja malas.
“Om Rian udah datang?” Tanyanya pada Herman. Si resepsionis hotel yang jauh lebih rapi dari Elio jika dilihat dari berbagai sisi.
“Sudah di office, Mas.” Jawab Herman ramah, tapi terkesan santai. Meskipun sering bersikap dingin, ternyata Elio sering makan ketoprak bareng Herman di depan hotel.
“Mau disiapkan kopi atau teh, Mas?”
“Es jeruk, lima gelas.” Jawabnya sambil berlalu menuju lift.
Herman langsung melotot. Ada apa gerangan si GM hotel sampai meminta es jeruk lima gelas. Tapi lihat dari wajahnya sudah ditebak secara fisik Elio kegerahan.
Sebelum menekan timbol lift, Elio teringat sesuatu. Luna… Dimana calon istri kecilnya itu? Harusnya Luna sampai lebih awal darinya, secara Elio berjalan, sedangkan Luna menggunakan bumblebeenya. Apa Luna pulang ke apartement dan tidak jadi ke hotel? Oh maygaaat….
Elio berbalik arah, ia kembali keluar hotel sambil menekan-nekan ponselnya untuk menelfon Luna. Tidak aktif, ponsel Luna tidak aktif. Akhirnya Elio menelfon mamanya.
“Belum. Luna belum pulang. Kalian misah ya?”
Akhirnya Elio menceritakan semua yang ia alami pada Renata. Sesuai dugaannya Renata malah tertawa terbahak-bahak. Puas sekali mentertawakannya.
Tidak perlu tes DNA, Luna ternyata memang jelmaan mamanya. Disaat dia sedang dilanda musibah, mereka bisa tertawa dengan semringah. Tapi Elio tidak sakit hati, mereka berdua adalah orang yang amat dia sayangi. Justru ia bahagia, meskipun sedikit menderita.
Saat tawa Renata menggelegar dari balik ponselnya, tiba-tiba pandangan Elio berhenti pada vespa kuning yang terparkir di depan gerobak ketoprak. Luna, si calon istri sedang mengisi perut disana.
“Alhamdulillah Ma. Ternyata Luna lagi makan ketoprak di depan hotel.”
“Ish anak itu. Bisa-bisanya bikin panik.”
“Ya sudah, Ma. Kebetulan El ada masalah di hotel. El minta izin pulang malam ya. Disini ramai, ada Om Rian juga. Jadi mama nggak perlu khawatir sama kami.”
“Iya… Hati-hati ya. Kalian jangan lupa sholat dan makan. Mama titip jaga Luna ya.”
Jika kalimat pertama sudah biasa ia dengerkan, maka kalimat kedua adalah kalimat baru bagi Elio.
Mama titip jaga Luna ya. Ah indah sekali terdengar di telinga Elio. Calon mertua yang menitipkan anak gadisnya. Tiba-tiba ia merasa manly sebagai pria.
“Yes, I promise you, Mom.”
“Halah…” Cibir Renata.
...😉-[Bersambung]-😉...
Update tipis-tipis dulu. Eh jangan lupa like dan comment yak.