My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Cita-Cita Luna



“Luna… Gue cariin dari tadi nggak taunya di sini.” Alea datang menghampiri Luna yang duduk di salah satu gazebo kampusnya.


“Lo lagi ngapain sih? Serius banget.” Tanya Alea melihat Luna hanya sekilas melihatnya dan kembali fokus pada laptopnya.


“Gue kebetulan dapat proyek kecil-kecilan nih. Bulan lalu ada perusahaan start up bikin sayembara untuk renovasi ruang meetingnya, terus gue iseng submit konsep ke mereka dan alhmadulillah goal... Gue menang.” Ucap Luna serius.


“Wiiiih keren. Dapat hadiah nggak?”


Luna mengangguk cepat.


“Segini.” Luna mengacungkan dua jarinya.


“Dua juta?”


“Dua puluh juta…” Koreksi Luna.


“Alhamdulillah… Tabungan gue akhirnya cukup buat beli macbook khusus design nih.” Ucap Luna penuh rasa syukur.


“Bangga banget gue sama lo, Lun.”


“Tapi heran, kan laki lo udah kaya raya begitu. Ke apa masih susah-susah aja sih buat beli macbook doang?” Tanya Alea penasaran.


“Ssstttt… Mulutnya mbaaaak. Nanti ada yang denger…” Bisik Luna menutup mulut Alea.


“Ups… Sorry…”


“Tapi gue penasaran aja kenapa gitu?” Ternyata Alea masih penasaran.


“Hemmm… Ya inner satisfaction alias kepuasan batin aja sih. Gue merasa value barangnya meningkat kalau membeli dengan hasil keringat sendiri.” Alea mengangguk-angguk paham, meskipun terkesan klise tapi dia faham betul sifat Luna soal mengelola keuangan selama ini.


“Pak Cipto nyariin elo dari kemaren. Udah sempat ketemu?” Tanya Alea. Luna mengangguk.


“Hemm kenapa? Masih perkara ujian itu?”


“Enggak. Beda lagi.” Jawab Luna. Gadis itu langsung menutup laptopnya.


“Jadi gue direkomendasiin ikut interior design start up competition tahun depan di Jepang.”


“Weiiizz sangaaaar… Kapan?”


“Acaranya bulan Maret. Masih tiga bulan lagi. Tapi yang ikut bukan cuma gue tapi berkelompok, satu anak arsitek sama satu lagi anak ekonomi.”


“Siapa?”


Luna mengedikkan bahunya. “Belum tau. Masih dicari katanya.”


“Gue belum konfirmasi mau ikut sih.” Sambung Luna.


“Kok gitu? Ini kesempatan emas loh Lun.”


“Pertama persiapannya butuh waktu, usaha dan tenaga. Gue mesti fokus hanya untuk itu dari sekarang-sekarang. Gue juga harus kosongingin jadwal perform. Bisa-bisa manager gue ngamuk.” Luna berdengus menatap Alea. Manager yang ia maksud sudah pasti Alea.


“Kedua, Lo tau sendiri status gue sudah bukan Luna sebatang kara lagi. Udah punya satpam khusus anti huru hara. Haha…” Luna teryawa menyebutkan Elio dengan kata itu.


“Ketiga, hemmm…”


“Apa?”


“Kalau menang, gue akan double degree melanjutkan tiga semester lagi di sana, dan gue nggak mau ninggalin Kakak sendiri di sini.”


“Buhahahahaha….” Alea langsung tertawa.


“Sudah jatuh cinta rupanya anda nona Luna. Cieeeee…”


“Ssstttt… Brisik deh.” Sekali lagi Luna membekap mulut sahabatnya itu.


“Habisnya… Nggak nyangka kalian udah sebucin ini.” Alea masih saja terkekeh.


“Bukan bucin. Tapi kewajiban gue sekarang mendampingi dia. Ya meskipun kata Mama gue jauh banget dari kata ideal mendampingi dia, tapi gue nggak pernah main-main kok sama pernikahan ini. Lagian kan gue malas hidup di luar negeri.” Ucap Luna berbisik agar tidak ada yang mendengarkan ucapannya.


“Ya udah… Omongin aja baik-baik. Kalau nggak boleh ya udah. Jangan mengambil asumsi sendiri sebelum berdiskusi.”


Luna mengangguk-angguk sekaligus mencerna. Ternyata menikah membuat beberapa langkahnya terbatas. Bahkan untuk hal positif seperti ini saja dia merasa sudah tidak punya ruang gerak yang luas. Apa menikah memang harus mengubur dalam cita-citanya?


Memberikan ruang dan waktu. Kalimat itu seperti cocok untuk Elio dan Luna. Total lima hari mereka beraktifitas dengan ritme tegangan tinggi. Elio dengan aktifitas auditnya, Luna dengan kegiatan kampusnya. Hingga tidak terasa hari mereka bertemu kembali di akhir pekan.


“Aku udah di apartemen. Kok kamu nggak ada?” Elio langsung menelfon Luna saat mendapati apartemen kosong Sabtu pagi itu, namun anehnya titik tracking location Luna masih berada di area apartemen.


“Aku di bawah Kak. Lagi di ATM. Bentar lagi aku naik.” Jawab Luna seperti terburu-buru.


“Kakak mau Thai tea nggak?” Tawarnya.


“Boleh.”


“Okey. Tunggu ya Pak Sua. Istrimu segera datang.” Luna ternyata sudah bisa memanggil Elio dengan sebutan seromantis itu.


Tidak sampai lima belas menit, pintu apartemen pun berbunyi. Luna datang membawa beberapa cemilan dari bawah.


“Kakaaaaak…” Suaranya sudah melengking memanggil sang suami yang langsung semringah.


“Salam dulu…” Sambil berlari kecil ke arah Elio, ia langsung mencium tangan suaminya.


“Kamu ngapain ke ATM?” Tanya Elio penuh selidik.


“Ha?”


“Ngapain ke ATM..?” Elio mengulangi sekali lagi pertanyaannya.


“Enggak apa-apa.”


“Nih…Thai tea punya Kakak. Kebetulan ada stand baru di bawah. Masih diskon 25% loh.” Luna menyodorkan satu cup thai tea hits bergambar gajah pada Elio. Diskon 25% membuatnya merasa bangga bisa berhemat sepuluh ribu rupiah.


“Pertanyaan aku belum di jawab. Kamu ngapain ke ATM?”


“Ambil duit lah. Hehe…”


Elio langsung mendesah panjang. “Aku bodoh banget. Minggu kemaren belum kasih kamu jajan ya.”


“Don’t worry, be happy. Aku masih punya tabungan.” Jawab Luna.


“Lagian aku tu kan juga kerja. Aku punya masukan lah sedikit-sedikit. Kalau buat jajan seminggu mah cukup.”


“Kamu minta Mama sama Papa?” Tanya Elio.


“Enggak mungkin lah. Kan aku udah dibuang sama mereka. Malu-maluin kalau minta sama orang tua. Lagian yang mungut aku jauh lebih kaya haha.” Luna terkekeh.


“Udah ah… Aku laper. Belum sarapan.”


Luna bangkit menuju meja makan yang ternayta sudah ada banyak lauk dari restoran hotel yang di bawa oleh Elio pulang. Kalau dipanaskan bisa cukup sampai malam.


“Waaah… Aku suka nih ayam rica-rica gini.” Luna semringah.


Elio menggeleng-gelengkan kepalanya merasa bersalah karena tidak mengerti kode yang diberikan Luna minggu lalu soal dibuang orang tuanya.


“Aku ngerasa zolim gini sama kamu. Udah ditinggal seminggu nggak pulang-pulang. Nggak di kasih nafkah lagi istrinya.” Ucap Elio masih penuh sesal.


“Udah ah Kak. Santai aja.” Ucap Luna menyajikan makan untuk Elio.


“Ini kartu ATM. Mulai sekarang ambil kebutuhan dari sini ya. Jangan pernah minta Papa lagi.” Elio mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya.


“Makasiiih… Aku nggak akan nolak. Mau aku beliin aksesoris Bee aaaah…” Luna tersenyum girang. Tiba-tiba teringat vespanya yang yang sudah lama ingin ia modifikasi macam-macam.


“Yaudah terserah. Nafkah lahir sudah kamu terima, berarti malam ini nafkah bathin ya…?” Bisik Elio tepat di telinga Luna.


“KAAAAAAKKKK……” Pekik Luna.


Sehabis sarapan pagi itu, Elio langsung tertidur pulas di kamarnya. Pria itu balas dendam karena merasa seminggu kurang tidur. Sedangkan Luna tampak serius dengan buku bacaannya.


Seminggu ke depan akan tiba gilirannya bertempur untuk ujian semester. Lebih cepat lulus akan lebih baik. Cita-citanya bisa lulus cukup tujuh semester saja. Setelah itu biarkan Elio yang mengatur hidupnya.


...🥱-[Bersambung]-🥱...


Jangan lupakan jejak kalian guys. Boleh tahu nggak ya kenapa kalian masih tetap mau baca Elio Luna?


Ini cerita jauh banget banget loh dari standar novel yang hits di NT/MT. Bahkan jauh dari novel pertama aku reputasinya.