My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Virtual Relationship



Elio POV


Ini adalah perjalanan dinas pertamaku meninggalkan Luna setelah kami menikah. Terpisah jarak lebih dari 500 km dalam beberapa hari, justru membuat aku dan Luna semakin dekat. Hubungan kami lebih cocok diberi nama Virtual Relationship dari pada Long Distance Relationship.


Hampir setiap waktu aku mengirim pesan atau jika bisa menelfon Luna. Video call pun juga kami lakukan setiap malam, meskipun dia masih saja malu-malu karena ada Alea yang bisa mendengarkan percakapan kami.


Hari Kamis pukul 12 siang, audit cabang Jogja sudah selesai dilaksanakan. Continuous improvement yang dilakukan setelah audit Jakarta minggu lalu, membuat tim banyak belajar. Jadilah audit kedua ini bisa selesai lebih cepat dengan minor finding. Aku perlu apresiasi semua kerja keras mereka dengan makan siang bersama.


Baru saja acara ditutup, aku langsung menelfon istri kesayanganku yang entah kenapa dia selelu saja terlihat lebih sibuk dariku. Buktinya telfon pertamaku di reject sampai akhirnya sebuah pesan masuk.


“Kakak… Hp aku lagi dipakai buat maps. Aku mau ke Pacific Exporia di Harapan Indah, Bekasi.” Pesannya.


“Ngapain ke sana?”


“Naik apa?”


“Sama siapa berangkatnya?”


Langsung saja aku introgasi. Kebiasaan tidak minta izin kalau pergi-pergi. Membuat cemas saja.


“Aku diminta tim CSR yang mengadakan sayembara desain untuk bertemu dengan Foundernya.”


“Aku naik taksi online dari kampus tadi.”


“Aku berangkat sendiri. Ya sekarang sama drivernya sih hehe…” Balas Luna.


Aku langsung mendesah. Anak ini sedang ujian bukannya belajar malah banyak kegiatan. Kemaren setelah ujian minta izin untuk rapat kegiatan bakti sosial dengan teman-temannya, sekarang malah pergi ke Bekasi.


“Ya sudah. Kabari aku kalau sudah sampai di sana.”Titahku.


“Lain kali kabari aku kalau mau pergi. Aku sedang nggak di Jakarta. Kalau terjadi apa-apa nggak bisa cepat membantu.” Jadi was-was gini kalau dia banyak kegiatan di luar.


“Yaa suamiku…”


Kalau sudah merasa bersalah saja panggilnya jadi berbeda.


“I love you.” Balasku, berharap dijawab i love you too, tapi malah dijawab emot melet. Astagfirullah anak ini.


Belum sempat aku memesan tiket pesawat untuk pulang, Hendy Wicjaksono seorang pebisnis properti asal Surabaya menelfonku. Kami bicara cukup lama sampai hampir satu jam.


Ternyata Pak Hendy adalah sahabat Ayah dulu. Dia menawarkan hotelnya di Bali untuk dijual padaku. Alasannya karena anak satu-satunya memilih berbisnis e-commerce di negara tetangga dari pada melanjutkan bisnis properti keluarganya.


Aku berfikir tidak ada salahnya jika Elios Hotel bisa ekspansi ke pulau dewata. Apa lagi dia menjual dengan harga miring. Tapi kalau tidak langsung pulang berarti aku baru ketemu Luna minggu depan. Aaarrrghhh…


Ternyata ini lah gunanya mencari tanggal yang pas untuk menikah. Tidak sepertiku, menikah asal cepat akhirnya waktu bersama istri jadi hilang begitu saja. Padahal aku belum sempat menikmati indahnya nirwana. Eh…


Setelah mendapatkan pesan kalau Luna sudah sampai di tempat, aku langsung melakukan panggilan telfon untuk ceritakan rencana keberangkatanku ke Bali. Aku fikir dia akan menangis karena aku tidak bisa pulang lebih cepat, tapi ternyata aku salah. Dia bahagia…


“Santai kali Kak. Aku malah senang kalau Kakak nggak di apartemen. Haha…” Dia tertawa puas.


“Ih kamu bukannya sedih suami nggak pulang.”


“Ngapain sedih sih? Emang Kakak nggak merasa kalau kita jauhan seperti sekarang jadi nggak pernah ribut. Malah udah kaya ABG pacaran.” Aku tersenyum mendengar ucapannya.


“Tapi kan aku kangen, Sayang.” Keluhku. Sepertinya memanggil Sayang lebih enak didengar.


“Aku butuh dihibur kaya waktu itu. Mau lagi boleh ya?”


“Ih… Jangan diomong-omongin. Malu akunya.” Suaranya terdengar merengut. Haha…


“Harus dibiasakan. Kan biar kita punya pahala yang banyak.”


“Apalagi kalau kamu udah bisa melaksakan kewajiban. Beuuuuh…” Jawabku. Jadi membayangkan yang iya-iya gini siang-siang.


“Udah ah. Aku mau masuk. Nanti aku telfon lagi. Assalamu’alaikum.” Dia langsung tutup telfon sebelum aku menjawabnya. Hadeuh… kebiasaan…


Satu hal yang baru aku tau setelah menikah, ternyata selama ini Luna menyimpan segudang prestasi yang ia sembunyikan rapat-rapat. Dia selalu muncul menjadi sosok yang susah diatur jika di depan Mama dan Papa. Mungkin ini bagian dari rasa protesnya karena Mama dan Papa yang cukup sibuk bekerja selama ini.


“El…”


“Ayya… Kamu udah lama di sini?” Aku langsung memasang wajah waspada.


“Barusan kok.”


“Kenapa? Kok kaya ketakutan gitu? Takut aku nguping ya?”


“Tenang aja. Aku cuma denger kamu tutup salam aja.” Ucapnya.


Aku hanya tersenyum tidak mau menaggapi. Aku buktikan nanti dengan melihat CCTV.


“Ada apa? Ada yang perlu aku tandatangani?” Dia langsung menyeringitkan keningnya. Mungkin karena pertanyaanku terkesan formal.


“Enggak lah. Haha…”


“Masih ada 7 jam lagi sebelum last flight. Aku mau ngajak kamu ke Malioboro. Kita bisa beli oleh-oleh sebentar sebelum berangkat ke Bandara. Gimana?” Tawarnya.


“Aku belum mau pulang, Ya.”


“Habis ini mau ke Bali. Berangkat besok pagi.” Jawabku mencoba menolak dengan halus.


Dia menghirup nafas dalam. Jelas sekali kekecewaan di wajahnya.


“Sorry ya…” Sambungku.


“Kamu coba ajak anak-anak yang lain. Mereka pasti juga mau beli oleh-oleh sebelum pulang.”


“It’s fine.”


“Tapi please, jangan jauhin aku, El. Aku merasa menyesal ngasih tau perasaan aku ke kamu, kalau tau kamu jadi menjauh gini.” Lirihnya.


“Justru aku sedang membantu kamu untuk menghilangkan perasaan kamu.” Ucapku.


“Nggak semudah itu El. Aku suka sama kamu udah belasan tahun.”


“Aku yakin kamu cuma butuh sedikit waktu untuk bisa merasakan hal yang sama.”


Ternyata Ayya masih berusaha memaksa. Aku jadi tidak tahan ingin memberi tahunya soal pernikahanku. Masa bodoh dengan kemarahan Luna nantinya. It's my turn to clarify.


“Ya, sebenarnya…”


“Wah…. Mas El sama Chef Hana ternyata pacaran toh…?” Tiba-tiba beberapa orang staff memergoki kami bicara berdua di hallway.


“Cocok… Mas El ganteng, Chef Hana cantik. Cocok banget.” Aku panik, sedangkan Ayya tersenyum.


“Semoga kalian langgeng ya sampai jenjang pernikahan.” Sambung seseorang lagi sambil mengacungkan dua jempolnya.


“Eeh ada apa? Kok rame gini?” Tiba-tiba segerombol staff lain datang bersamaan.


“Ada pasangan baru, Mba.”


“Mas El sama Mba Hana ya? Udah saya tebak dari dulu pasti bakal jadian. Soalnya kamana-mana selalu berdua.” Aku baru sadar selama ini kami memang sering bedua. Tapi bukan untuk urusan pribadi, murni pekerjaan.


Alhasil dalam sekejap, gosip itu berhembus kencang tanpa bisa aku klarifikasi. Ya Tuhan… kenapa jadi begini? Aku lihat Ayya justru menikmati.


Siaal….!


...🤦‍♀️-[Bersambung]-🤦‍♀️...


Hai readers tersayang…


Maafkan aku baru muncul hari ini. 🙏🏻


I can't compromise with my real life.


Expectation ≠ Reality, yang tadinya aku perkirakan selesai tanggal 7, nyatanya baru selesai tadi malam. Huaaaaa.


Semoga masih tetap membaca Elio & Luna ya. 😊