
“Haaampp….Ini jam berapa?” Aku mengerjapkan mata sambil mengambil ponselku yang ternyata mati kehabisan daya.
Tinggal di apartemen 28 lantai dan cukup jauh dari masjid membuat kami ketergantungan dengan ponsel sebagai alarm sholat setiap harinya. Kalau ponsel sudah mati begini, mau tidak mau aku harus kembali ke mode manual alias melihat ke arah jam dinding yang aku pasang di kamar tidurku.
“Ya Allah jam setengah lima. Aaaak telaaat… Keretanya jam lima… Keburu nggak ya?” Aku langsung melompat dari tempat tidur, mengambil handuk dan mengisi daya baterai. Lumayan di-charge berapa menit untuk mengisi beberapa persen daya.
Jika dalam keadaan normal aku akan menghabiskan 30 menit untuk mandi, maka sekarang aku hanya butuh waktu 3 menit saja dan semua sudah selesai, tidak keramas, hanya mandi badan saja.
Buru-buru aku berganti pakaian dan mengerjakan sholat subuh dua rakaat. Semua selesai dalam waktu lima menit. Ya Allah maafkan aku… Sholat kok ngebut gini.
“Tas sudah, jaket sudah, dompet juga sudah. Tinggal HP.” Aku langsung menarik ponsel yang masih terhubung dengan charger dan brak… kabel charger tiba-tiba saja putus dari soketnya.
“Aduuuh… Kenapa jadi rusak begini.” Ternyata buru-buru membuat aku yang terbiasa hidup teratur menjadi sangat ceroboh. Aku lihat baterainya baru terisi 10%. Kalau sudah begini aku harus hemat baterai minimal sampai berada di dalam kereta nanti.
Untungnya di depan apartemen masih ada taksi offline yang mangkal. Terbayang jika harus memesan taksi online terlebih dulu, sudah dipastikan akan terlambat.
“Pak… Buruan ke Stasiun Gambir ya.” Aku langsung membuka pintu penumpang dan melempar ranselku ke dalam.
“Kereta jam berapa, Neng?”
“Jam lima, Pak.” Jawabku tergesa-gesa.
“Waduh… Semoga di depan Plaza Atrium nggak macet ya. Biasanya kalau pagi di sana macet parah.”
“Harusnya kalau kereta subuh, berangkatnya sebelum subuh, Neng. Nanti sholat subuh di sana aja biar nggak terlambat seperti ini.” Dia malah menggerutu.
“Saya nggak mau tanggung jawab ya kalau ketinggalan kereta.” Aduh si Bapak bikin aku tambah panik gini.
“Iya Pak. Makanya buru atuh jalan.” Jawabku sambal melihat maps di ponsel.
Estimasi waktu tempuh dari Kelapa Gading ke Stasiun Gambir 25 menit, berarti taksi harus ngebut agar bisa memangkas waktu tempuh. Setelah menghapal beberapa titik macet, aku putuskan mematikan paket data agar lebih hemat baterai.
Masih pukul 4.40, Jl Letjend Suprapto masih sepi jadi taksi bisa melaju dengan kecepatan 65 km/jam, dan sesuai dugaan di depan Plaza Atrium mulai terlihat keramaian tapi untunglah aku berhasil sampai 7 menit sebelum waktu keberangkatan. Rekor dari Gading ke Gambir kami tempuh hanya dalam waktu 13 menit, perlu aku apresiasi si Bapak dengan membayarnya 2x lipat dari argo.
Sudah lama Aku tidak naik kereta api jarak jauh, ternyata sekarang check in tidak perlu lagi antri, sudah ada mesin cetak tiket sendiri seperti di bandara. Tidak sampai 5 menit, Aku berhasil masuk ke dalam gerbong kereta Argo Parahyangan. Sangat nyaman, setidaknya tiga jam ke depan aku bisa menyambung tidurku yang tertunda, melupakan soal ponsel yang tidak nyala paket datanya.
Pukul 8.15 menit aku sudah sampai di Stasiun Bandung. Aku liat ponselku sudah tidak bisa bisa dinyalakan lagi. Sepertinya baterainya habis begitu saja tanpa digunakan.
Aku langsung menarik nafas panjang. Berada di daerah asing tanpa bantuan ponsel pasti sangat kesulitan. Minimal seseorang butuh bantuan google maps agar lebih terarah ketika di tempat baru.
“Elios Hotel, Dago ya Pak.” Aku memutuskan naik taksi offline yang ada di depan stasiun.
“Mau bayar pakai argo atau mau patok harga saja, Teh?” Tanya sang driver melirik padaku.
“Argo saja, Pak.” Jawabku singkat karena merasa dengan metode argo, payment akan lebih fair bagi kedua belah pihak.
“Dari Jakarta ya, Teh?”
“Iya Pak.”
“Sering ke sini?”
“Hemmm… Jarang sih. Terakhir tahun lalu.” Jawabku jujur. Dia langsung tersenyum penuh arti. Tidak menyangka jawabanku ini membuatku terjerumus ke jurang kesialan sekali lagi.
Aku memang tidak hafal daerah Bandung, dan sekarang juga tidak punya maps untuk memastikan rute perjalanan, tapi kenapa rasanya perjalanan ini jadi sangat lama. Sudah 50 menit, aku belum sampai di Elios Hotel. Sedangkan argo taksi sudah lebih dari 200 ribu. Jangan-jangan aku dibawa berputar-putar kota Bandung agar argo taksi bisa lebih tinggi.
“Pak… Setahu saya Dago nggak sejauh ini ya.” Sindirku langsung melihat ketus pada driver, pasti aku sudah jadi korbannya pagi ini.
“Ini saya sengaja cari jalan yang nggak macet, Teh.” Jawabnya seperti mencari pembenaran.
“Ck…” Aku berdecak sebal.
Ternyata butuh usaha untuk bertemu Kakak. Bahkan niatku untuk memberi kejutan pada suami, justru aku yang dibuat terkejut berkali-kali dengan kejadian hari ini. Mulai dari rusaknya charger HP, nyaris ketinggalan kereta dan terakhir diperalat driver taksi.
Memasuki Elios Hotel Bandung, membuatku tidak bisa menyembunyikan senyum. Terbayang wajah Kakak yang terkejut aku sudah berada satu gedung dengannya saat ini.
“Selamat pagi, Ade… Ada yang bisa kami bantu?” Seorang resepsionis hotel menyambutku. Aku sampai terkejut karena dia memanggiku Ade.
”Ya pagi Mba, Saya pesan 1 kamar ya.” Meskipun ia tersenyum ramah, tapi matanya terlihat bingung. Mungkin sang resepsionis heran melihat gadis seusiaku datang ke hotel pagi hari.
“Silakan di cek, kami ada beberapa tipe room. Mulai dari standard hingga presidential suite.”
Dia mulai menjelaskan satu persatu fasilitas hotel hingga harga masing-masing kamar. Ya Allah… Kakak ternyata sekaya ini. Eh… hampir saja aku lupa, sekarang aku sudah menjadi pemegang 7% saham hotel ini setelah menikah dengan Kakak. Haha.
“Pesan standard room saja.” Menginap satu malam di standard room saja aku harus membayar 475 ribu rupiah. Uang di ATM ku hanya tersisa 3 juta rupiah. Jadi harus berhemat.
“Rencanannya berapa malam akan menginap disini?”
“Satu malam saja, Mba.” Jawabku. Sisanya aku fikirkan nanti kalau sudah dengan Kakak.
“Ade baru bisa masuk jam 12 siang nanti ya. Kalau mau masuk sekarang berarti harus pesan dua malam.” Dia kembali menjelaskan aturan cut off room reservation.
Aku mendesah. Andai saja dia tau aku istri pemilik hotel ini, mungkin aku diperlakukan seperti tuan putri. Haha dasar aku, kena rich syndrome gini.
“Ya sudah dua malam kalau gitu, Mba.” Ucapku sambil menghitung harga sewa jika dikali dua. Sekali lagi aku mengalami kesialan. Apa mungkin ini akibat tidak izin Kakak pergi-pergi jadi banyak sekali rintangannya.
“Mohon tanda tangan di sini dan Ini ya kunci. Kamar di lantai tiga, nomor 307.” Ucapnya.
Akhirnya proses reservasi selesai. Aku berniat langsung ke kamar, tapi tiba-tiba aku teringat ponselku yang kehabisa daya baterai.
“Mba, saya bisa pinjam kabel USB. Kabel charger saya rusak. Hehe…”
“Boleh. Silakan.” Untunglah ponselku menggunakan USB type B yang umum digubakan semua ponsel. Jadi gampang bisa sharing dengan banyak orang.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar, mengisi daya baterai yang lebih dari empat jam mati. Baru saja menyala, sederetan pesan masuk. Kakak terlihat panik mencariku.
“Sayang, kamu dimana?”
“Aku lihat dari CCTV subuh-subuh sudah keluar apartemen. Kenapa HP tidak dinyalakan?”
“Segera telfon aku kalau sudah baca pesan ini.”
Ternyata Kakak dan Mama sama saja. Selalu mengintipku di CCTV. Kalau begini ceritanya aku harus ekstra hati-hati dengan keberadaan CCTV di apartemen.
“Luna, Astagfirullah…. Tolong jangan bikin panik.”
“Kamu dimana? Aku nggak bisa tracking kamu dimana kalau internet tidak nyala.”
Haha bukannya panik, aku justru malah tertawa. Puas sekali mengerjai Kakak seperti ini. Sabar Kak, nanti ku buat senang.
Derrrttt… Derrrttt…
Kakak ternyata langsung menelfonku. Sepertinya dia sadar ponselku sudah aktif kembali karena semua pesannya sudah terkirim dan aku baca.
“Assalamu’alaikum Kak.” Aku menjawab telfon Kakak hati-hati.
“Huft… Wa’alaikumussalam. Kamu dimana? Aku panik kamu nggak bisa dihubungi gini.” Kakak kembali mendesah.
“Tolong ya kerja samanya, Dek. Kalau aku lagi jauh, kamu harusnya jangan bikin aku panik. Aku jadi nggak tenang kerja kalau begini. Hampir aja aku susul kamu ke Jakarta.”
Aku tersenyum mendengar omelan Kakak. Sepertinya aku punya kelainan, dari dulu aku paling suka diomeli keluarga. Menurutku omelan mereka bentuk perhatian yang besar padaku.
“Hehe… Maaf. Aku ada tugas penting.” Aku menyerinagai.
“Tugas apa? Kamu kan sudah selesai ujiannya. Tugas apa lagi?” Tanyanya bertubi-tubi.
“Jangan bohong kamu. Aku tadi tanya Alea kamu tidak ada lagi berurusan sama kampus.” Wah wah… Kakak ternyata sempat menelfon Ale tadi.
“Hemmm…” Aku jadi bingung mau jawab apa.
“Sekarang kamu dimana? Aku ganti ke video call. Angkat…!” Suara Kakak terdengar tegas.
“Hehe…” Aku langsung tertawa sambil mengacungkan dua jari tanda perdamaian saat wajahnya muncul di layer HP-ku.
Eleuh… Kenapa jadi tampan begini kalau sedang bekerja. Setelan jas dengan rambut dibelah pinggir membuat ketampanannya berada pada level maksimal.
“Dimana kamu?” Dia menyeringitkan dahi.
“Kok kayanya aku kenal lukisan angklung itu ya.” Aku langsung memutar tubuhku agar latar belakangku menjadi dinding polos agar Kakak tidak melihat lukisan yang ia maksud.
“Sebantar…”
“Kamu di Bandung ya..?” Dia semringah karena berhasil mengingat sesuatu. Aduh… Kenapa secepat ini ketahuannya.
“Kamar nomor berapa kamu?” Tanyanya seperti terburu-buru berjalan.
“Eh… Apa sih? Kamar apa maksudnya?”
“Buruan… Kamar nomor berapa?” Tanya Kakak dengan ekspresi wajah kesal campur senang.
“307.”
Ah sudahlah… Cepat atau lambat Kakak pasti akan tau aku sudah di Bandung.
“Good. Your husband is coming, dear.” Dia menaikkan alisnya beberapa kali. Sesaat kemudian panggilan video call terputus.
Matilah aku….
...☺️-[Bersambung]-☺️...
Nitizen : Kemana aja sih thor?
Author : Aku ada di hati kalian kok.
Nitizen : Idiiiih amit amit… Geleuuh…
Author : Hehe byasa guys… Kadang saking banyak yang harus dikerjakan menghalu aja nggak bisa apa lagi nulisnya.