
Sejak dulu, Renata membatasi Luna untuk tahu lebih banyak tentang latar belakang Elio. Renata hanya ingin Luna menilai El cukup sebagai kakaknya, tanpa harus melihat embel-embel kekayaan serta jabatan yang akan diemban Elio suatu hari nanti.
Meskipun tidak ada bukti hitam di atas putih, Elio sudah membuat kesepakatan dengan Renata. Jika ia ingin tinggal bersama mereka, Elio tidak diizinkan menggunakan uang pribadinya kecuali untuk keluarga aslinya.
Renata melarang keras Elio memberikan hadiah pada Luna dengan nominal besar. Begitu pun Luna tidak pernah meminta barang yang mahal pada Elio. Alhasil hampir semua oleh-oleh dari Aussie untuk Luna berupa makanan yang habis dalam sekali makan. Tambahan tambahan jajan yang suka Elio kasih pun hanya lima ribu rupiah paling banyak. Luna tetap senang tentunya.
Sekian tahun berlalu, akhirnya Luna tahu bahwa Elio punya latar belakang yang luar biasa. Elio tidak perlu seperti orang lain yang sehabis lulus kuliah sibuk melamar kerja, dia pemilik 3 hotel besar di Indonesia. Sejak saat itu Luna cuek untuk urusan pribadi Elio. Termasuk untuk urusan pergaulan Elio, pasti Elio punya standar yang tinggi untuk itu, dan wajar Elio tertutup.
Sampai akhirnya keputusan menikah itu terjadi, barulah Luna kebingungan akan bersikap seperti apa sekarang. Banyak yang ingin Luna bicarakan sebelum mereka menikah, tapi ia takut dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi Elio lalu merusak hubungan baik mereka selama ini.
“Kamu banyak ngelamun dari tadi, ada apa sih?” Tanya Elio setelah mereka sholat maghrib di salah satu masjid di Bantul. Kebetulan Pak Sar minta izin untuk merokok sebentar.
“Kata siapa? Aku lagi menikmati Jogja aja kok.” Jawab Luna berkilah.
“Kirain lagi lamunin aku.” Percaya diri Elio bisa meningkat tajam jika bersama Luna.
“Rumah mbah masih jauh ya?” Tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
“Masih 20 menitan lagi. Kamu capek? Kita tunggu di mobil aja yuk..!”
Luna mengangguk. Menunggu di plataran masjid berdua dengan Elio tentu tidak enak dilihat orang-orang. Akhirnya keduanya memutuskan menunggu di dalam mobil. Rehat sejenak merebahkan sandaran kursi sambil mendengar radio Star Jogja FM.
“Luna, aku boleh tanya nggak?”
“Lah itu udah nanya barusan.”
Elio terkekeh. Dia dan Luna memang tidak ditakdirkan untuk romantis-romantis. “Maksudnya nanya hal pribadi.” Koreksi Elio.
“Kakak mau tanya apa sih? Ukuran daleman aku?” Tanya Luna tanpa merasa berdosa.
Elio terbelalak. Bukan seperti itu maksudnya. Tapi kalau mau kasih tahu juga boleh. Bisa nyicil ia belikan.
“Emang berapa?”
“Ih… Mesum…!” Sinis Luna.
“Lagian kamu nggak sabaran banget sih. Sabar dek, kita nikahnya minggu depan. Udah ngajakin ngomong daleman aja.” Tuding Elio membuat Luna mendaratkan capitannya di tangan kekar milik El.
“Udah ah… Ngantuk aku tuh.” Luna bersedekap dan memilih menutup matanya.
Elio tidak peduli, pria itu masih ingin bertanya sesuatu pada Luna. Beberapa hari ini Elio tidak tenang karena cemburu.
“Kamu punya pacar nggak?”
Luna langsung membuka matanya kembali. Sekian tahun ia kenal Elio, mereka tidak pernah bicara soal ini sebelumnya.
“Kenapa?”
“Ya… Aku harus tau. Kan kita mau nikah minggu depan.”
“Kalau aku punya pacar, nggak mungkin aku minta kakak nikahin aku. Mending aku nikah sama pacar aku kalau gitu.”
“Oooh gitu… Kamu anggap aku pilihan terakhir doang?” Elio pura-pura kecewa. Berharap di bujuk seperti pacaran remaja pada umumnya.
“Iya… Mana ada sih di dunia ini nikah sama kakak sendiri. Kayanya aku doang deh.” Jawab Luna. Gadis itu memeng berbeda, tapi ini yang membuat Elio suka.
Elio terkekeh. Tidak masalah Luna menganggapnya apa. Yang penting Luna tidak punya pacar dan stutus mereka naik level jadi calon suami istri saat ini.
“Kamu punya mantan pacar nggak?”
“Kakak kenapa jadi introgasi aku sih?” Sewot Luna.
“Ini penting. Kita kan mau nikah. Aku harus tahu kamu dulu. Kamu juga harus tau aku. Komunikasi itu penting.”
Luna mendesah. Ternyata pelajaran penting yang ia dapat hari ini, introgasilah pasanganmu sebelum menikah, karena itu penting.
“Aku nggak pernah pacaran. Tapi banyak yang suka.” Sombongnya.
“Siapa aja?” Selidik Elio.
“Ya udah sepakat. Kalau orang yang kamu suka ada?” Sekali lagi Elio masih ingin tahu.
“Banyak. Tapi dia pasti nggak suka sama aku.” Jawab Luna.
Hati Elio panas. Ternyata Luna sudah jatuh cinta pada orang lain. Pantas saja Luna tidak merespon saat Elio mencoba mendekatinya. Siapa mereka? Elio ingin seperti mereka.
“Siapa? Aku boleh tau? Mana tau aku bisa kaya mereka.”
“Yakin?”
Elio mengangguk sangat yakin.
“Aku suka sama Park Seo Joon, Song Joong Ki, Kim Soo Hyun, masih banyak yang lainnya.”
Elio menaikkan alisnya. Sesaat kemudian ia tersenyum lebar. Ternyata mereka orang-orang yang tidak terjangkau oleh akal sehatnya. Mau Luna tiap hari bilang cinta pun pada mereka Elio tidak masalah.
“Makasih ya… Aku udah jadi orang pertama buat kamu.” El menyeringai.
“Pertama apanya?” Luna menatap Heran.
“Orang pertama yang nikahin kamu.” Elio salah bicara.
Luna terbelalak. “Aku nggak niat nikah berkali-kali ya. Jangan bilang kakak punya niat kaya gitu?”
Elio gelagapan. Jadilah mereka bertikai malam itu. Pertengkaran pertama sebelum menikah hanya karena Elio salah bicara saking gugupnya.
“Jangan marah dong, Dek.” Panggil adek juga seru.
“Enggak.”
Elio senyum-senyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga. Luna ingin menikah seumur hidup dengannya. Meskipun tampak cuek dengan pernikahan ini, nyatanya Luna sungguh-sungguh menjalani perannya.
“Kenapa sih kak sekarang suka senyum-senyum?” Protes Luna.
“Kamu juga suka senyum-senyum akhir-akhir ini.”
“Masa?”
“Iya. Mungkin karena kita mau nikah kali ya?” Ucap El bersumsi.
“Mungkin.” Jawab Luna tidak sadar.
“Oh ya? Kamu berarti ngelamun mikirin aku?” Elio memasang muka antusias. Luna berdecih. Elio terlalu percaya diri. Tapi jika dipikir-pikir memang alam bawah sadar Luna sering memikirkan sang kakak akhir-akhir ini.
“Kakak kenapa sih suka sama aku?” Tiba-tiba saja Luna bertanya ingin tau.
“Karena kamu calon istri aku.”
“Oh…” Ternyata tidak ada yang sepesial dari dirinya di mata Elio. Hanya karena mereka akan menikah akhirnya Elio suka padanya.
“Kok oh aja?”
Luna menautkan alisnya. “Kenapa emangnya?”
“Kamu nggak pingin tanya yang lain gitu?”
“Aku udah tau tentang kakak semuanya.” Jawab Luna asal.
“Berarti kamu tau sekarang aku jatuh cinta sama kamu?”
Luna langsung salah tingkah. Elio bilang cinta? Tidak salah kan? Dia hanya seorang Luna? Bukan siapa-siapa. Luna kembali tidak percaya diri.
...😉-[Bersambung]-😉...
Jangan lupa tinggalkan jejak petualangan