My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Do It Slowly, Kak



Author POV


Elio yang tahu betul lukisan angklung itu adalah milik Elios Hotel Bandung, langsung semringah. Ia fikir masih harus menunggu satu hari lagi untuk bertemu dengan Luna, tapi ternyata istri kecilnya itu berinisiatif menyusulnya hari ini.


“What a surprise.” Seketika amarahnya menguap berganti menjadi rasa senang.


Buru-buru ia rapikan dokumen di meja kerjanya lalu berjalan menuju lift dan menekan tombol menuju lantai bawah beberapa kali. Hati dan fikirannya sudah dalam mode malas kerja saat ini. Sesaat lift terbuka, Rian ternyata ada di dalam.


“Om…”


“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Rian yang aneh melihat wajah Elio yang memerah. Belum lagi jalan pria itu terlihat buru-buru ingin masuk lift tanpa menunggu dirinya kelaur terlebih dahulu. Rian sengaja menahan agar pintu lift tetap terbuka agar mereka bisa bercerita sebentar.


“Nggak ada Om.”


“Hemmm... Aku titip handle audit ya. Aku ada keperluan sebentar.” Elio tersenyum.


“Keperluan apa sampai bikin kamu sesak nafas begitu?” Selidik Rian.


“Hehe… Luna ada disini, Om.”


“Oahahaha… Ternyata ngempet toh.”


“Ya sudah sana. Dituntaskan. Jangan lama-lama mainnya ya. Estimasinya audit selesai sore ini. Seperti biasa kita buat acara penutupan saat makan malam.” Titah Rian.


“Siap Om. Thank you supportnya.”


Rian akhirnya keluar dari lift, namun sebelum pintu lift tertutup, ia kembali manahan pintu lift.


“Oh iya El… Sebelum lupa.” Rian menarik nafas panjang.


“Tolong kamu selesaikan masalah kamu dengan anak saya. Kalau ini tidak segera diselesaikan, kamu akan melukai perasaan dua wanita sekaligus. Ini demi kebaikan bersama.” Ucap Rian dengan wajah serius.


Elio mengangguk tegas. “I will solve it.”.


Gosip yang terlanjur menyebar luas membuat Rian merasa jengah. Di satu sisi ia tidak ingin anaknya terluka, namun di sisi lain dia sudah berjanji untuk merahasiakan pernikahan itu pada Elio.


Satu hal yang tidak ia tahu selama ini Ayya mencintai El. Terbesit sedikit sesal di hatinya, jika saja ia tahu lebih awal perasaan anaknya pada El, mungkin secara pribadi dia akan meminta Elio menikah dengan putrinya. Tapi semua sudah terlambat, Elio sudah menikahi gadis lain. Sebagai ayah dia tidak mau gosip ini semakin berlarut dan membuat anak gadisnya semakin terluka.


Sampai di lantai tiga, Elio bergegas berjalan menyusuri Lorong panjang menuju kamar nomor 307. Disana Luna sudah menunggunya dengan perasaan campur aduk.


Tok… Tok… Tok…


Luna langsung terperanjat, kenapa dia merasa gugup dan canggung seketika membayangkan mereka akan berada dalam kamar hotel. Padahal sudah 12 tahun mereka hidup berdampingan, bahkan sudah beberapa kali tidur dalam satu kamar yang sama. Tapi sekali lagi entah kenapa hari ini terasa berbeda.


Tok… Tok… Tok…


Sekali lagi suara ketukan pintu terdengar, kali ini lebih kencang dan cepat. Luna perlahan membuka pintu lalu menyembulkan kepalanya keluar.


“Ka…” Belum sempat ia menyapa Elio, tubuhnya sudah di dorong kembali masuk ke dalam oleh Elio. Kaki pria itu juga langsung saja menendang pintu agar tertutup kembali dan memasang slot rantai di pintu.


“Kak… Nanti ada yang lihat Kakak masuk sini.” Bisik Luna karena dia tidak menyangka Elio berani masuk ke dalam kamarnya tanpa peduli staff housekeeping yang mondar-mandir di hallway.


Seperti tidak peduli dengan ucapan Luna, Elio langsung merengkuh tubuh Luna ke dalam pelukannya. Dekapannya terasa dalam dan kuat terutama saat ia mulai menghirup aroma tubuh Luna yang wangi. Seketika hatinya merasa tenang dan lega sekaligus.


“Ka…” Luna berusaha melepaskan tubuhnya.


“Diam dulu. Aku cuma pengen meluk kamu sebentar.” Lirihnya. Akhirnya Luna membuarkan Elio mempererat dekapannya.


“Aku kangen banget sama kamu. Makasih ya udah mau nyusul kesini.” Elio menghujami kecupan dirambut Luna. Ternyata sumber kenyamanan dan ketenangannya saat ini ada pada Luna.


“Hemm.. Jangan banyak-banyak nyium rambut aku. Aku tadi pagi nggak sempat keramas, soalnya telat bangun.” Luna memberi jarak kepalanya dengan hidung Elio.


“Oh ya? Tapi masih wangi kok.” Satu tangan Elio kembali memagut kepala Luna agar tidak berjarak dengan kepalanya.


“Tapi kotor ih… Aku semalam bersih-bersih apartemen, pasti banyak debu di rambut aku. Nanti Kakak sakit.” Luna kembali menjarakkan kepalanya dari hidung Elio.


Elio akhirnya menarik nafas panjang. Istrinya memang susah diajak bermesraan. Bahkan disaat intim seperti ini, gadis yang ada di hadapannya ini masih memikirkan hal-hal kecil seperti debu di rambut.


“Ya udah lihat aku sini.” Luna langsung mendongakkan wajahnya. Mata mereka jadi beradu pandang. Seketika darahnya berdesir hebat terutama saat wajahnya diterpa hebusan nafas Elio yang entah kenapa menjadi sesak kembali.


Tanpa meminta izin, Elio mengecup bibir Luna. Kecupan yang niatnya akan ia lakukan sekelias justru menjadi panjang karena ternyata bibir Luna sudah menjadi spot favoritnya sekarang. Apa lagi tangannya terangkat menahan tengkuk Luna agar tetap berada posisi yang sama tanpa bisa menghindar.


“Ka… hmmmpp…” Elio menghentikan serangannya saat menyadari sang istri kehabisan nafas.


“Sekali lagi ya. Nanggung…” Saat ingin memulai serangan kembali tiba-tiba perut Luna berbunyi. Elio langsung terdiam.


“Hehe maaf. Aku lapar.” Luna menyeringai.


“Kamu belum sarapan ya?”


Luna mengangguk. “Iya belum… Aku terakhir makan soto siang kemaren sama Ale.”


“Ya Allah… Kamu…” Elio mendengus kesal.


“Kamu kan punya penyakit maag, Sayang. Apa salahnya sih pesan makan di bawah semalam, atau beli sarapan tadi di kereta.” Kalau sudah begini dia semakin tidak yakin meninggalkan Luna sendirian. Karena selama ini Elio lah yang mengurus makan adiknya itu.


“Hehe… Semalam belum terasa lapar. Terus tadi ketiduran selama di perjalanan.” Elio lagi-lagi dibuat menghela nafas mendengarkan alasan Luna yang entah kenapa tidak masuk akal.


“Lihat deh. Kamu jadi kurus begini.” Elio langsung menangkup wajah istrinya terlihat lebih tirus.


“Kalau Mama lihat kamu sekurus sekarang, bisa-bisa aku dimarahin karena lalai jaga kamu.”


“Hemmm… Kakak juga. Lebih kurus.” Luna melirik ke rahang Elio yang nampak lebih tegas.


“Kakak pasti capek kerja ya?” Elio tersenyum mengangguk.


Siapa sangka pertanyaan Luna berhasil melukuhkan hati Elio yang dari tadi ingin mengomel. Pintar sekali istrinya menenangkan singa yang nyaris mengamuk.


“Ya sudah… Ayo pesan makan.”


Elio melepaskan pelukannya. Berjalan menuju nakas tempat line telefon. Sedangkan Luna berjalan menuju pintu bersiap untuk ke restoran hotel.


“Pesan di kamar aja ya.” Elio menyusul Luna ke depan pintu dan memeluk gadis itu dari belakang. Seakan tidak mau berpisah semenit pun.


“Makan cuma sebentar Kak. Nanti balik lagi ke kamar.” Ucap Luna gugup karena kali ini hembusan nafas Elio tepat pada telinga kanannya.


“Hehe sebenarnya aku lagi kabur. Nggak enak dilihat staff kalau aku makan di luar jam makan siang.” Elio seketika teringat agenda audit mesih berlangsung.


“IiiIh gimana sih…? Sana balik… Aku tuh bisa makan sendiri. Nggak usah ditemenin.”


“Sana… Sana…” Luna mendorong tubuh suaminya keluar kamar tapi Elio manahan diri.


“Tenang aja. Aku udah minta tolong Om Rian handle audit. Tapi tetap nggak enak kalau ketahuan makan di resto jam segini.” Luna melirik jam di tangannya, masih pukul 10 pagi.


“Sini…” Elio menarik tangan Luna ke meja nakas. Menyerahkan menu book agar istrinya bisa memilih makanan untuk sarapan.


“Kita makan bareng. Aku beberapa hari ini udah nggak nafsuu makan. Kayanya kalau disuapin kamu bisa lahap makannya.” Luna hanya melirik seklias dan kembali fokus pada buku menu di tangannya.


“Aku bingung. Pesan nasi goreng seafood aja. Kakak pesan apa?” Luna yang memang tidak handal urusan makanan memilih memesan makanan biasa dari pada salah pesan dan tidak enak.


“Aku pesto chicken bake.” Jawab Elio.


“Minum?”


“Hemm apa ya… Samain aja deh sama kamu.” Jawab Elio malas berfikir.


“Ya udah. Aku pesan Lemon squash ya?” Elio mengangguk dan langsung berhambur memeluk Luna dari belakang.


“Aduh… Aku mau nelfon. Geli Kakak…” Luna mencoba melepaskan tangan Elio yang melilit dipinggangnya. Bukannya melepaskan Elio malah mendekatkan wajahnya menyusuri wajah Luna dan berakhir di ceruk leher Luna, membuat tubuh gadis itu langsung meremang.


“Halo. Selamat pagi. Dengan Elios Hotel Resto. Saya Erika ada yang bisa kami bantu…?” Ucap seseorang dari seberang telfon.


“Ha… Halo…” Luna menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara aneh.


“Saya pe…san… Hemmmp….” Ucapan Luna terhenti karena hembusan nafas Elio semakin memburu membuat tubuhnya lemas.


“Ya bagaimana? Ada yang bisa kami bantu?”


“Kak… Awas….!” Bisiknya. Tapi Elio justru makin mendaratkan ciuamannya di leher Luna.


“Aaaakhhh…” Sekali hentakan, Elio terjengkal kebelakang. Ia meringkuk dilantai karena sikut luna menghantam kuat tepat perutnya.


“Halo… Maaf ada yang bisa kami bantu..?” Sekali lagi suara wanita itu menyadarkan Luna.


“Saya pesan nasi goreng seafood satu, pesto chicken bake satu, Lemon squash dua sama… hemmm…” Luna sempat terfikir memesan air jahe buatan Ayya, tapi karena tidak ada di buku menu, akhirnya niatnya segera ia urungkan.


“Tambahan air mineral aja 2 botol ya.” Sambungnya.


“Baik saya ulangi ya. Pesan nasi goreng seafood satu, pesto chicken bake satu, Lemon squash dua dan air mineral 2 botol ya.”


“Di antar ke kamar nomor berapa?” Tanya wanita itu.


“Kamar 307.”


“Total 380 ribu. Dibayar cash atau debit?”


“Debit saja Mbak.”


“Baik. Mohon ditunggu sebentar.”


Luna akhirnya menutup telfon barulah ia menyadari Elio masih duduk di lantai sambil memegang perutnya.


“Astagfirullah Kakak… Sakit ya…? Sini aku lihat…” Ucap Luna merasa bersalah.


“Kamu tuh ya…!”


“Kasar banget sama suami. Gini tuh kekerasan dalam rumah tangga tau nggak sih.” Sungut Elio kesal.


“Ih… Nggak sengaja. Habisnya Kakak iseng banget.”


“Aku nggak tahan geli. Ngapain niup-niup telinga aku coba. Ditahan sebentar kek kalau mau aneh-aneh.” Protes Luna tidak terima disalahkan.


“Orang kalau cumbu suami tuh harusnya horny, ini malah ngajak gelut. Huuuft…” Elio menghela nafasnya.


“Aduuh maafin aku.”


“Sini aku bantu naik ke kasur.” Luna memapah Elio ke atas kasur.


Pria itu menahan senyum karena sebenarnya rasa sakitnya tidak separah yang Luna bayangkan. Apalagi sebagai atlet taekwondo serangan Luna tidak berarti apa-apa bagi Elio.


“Aduuh… Kenapa jadi merah begini? Aku kompres ya?” Tanya Luna, Elio hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


Tanpa menunggu jawaban dari Elio, Luna mengambil handuk kecil di toilet membasahinya dengan air dingin dan menempelkan pada perut Elio.


“Maafin ya Kak. Aku tuh nggak sengaja. Soalnya geli banget. Aku jadi lemes digituin takut nggak fokus ordernya.” Ucap Luna dengan wajah panik dan fokus melihat ke arah perut Elio.


“Kamu masih nolak aku ya?”


“Hemmm?” Luna mendongakkan wajahnya.


“Nolak gimana?”


“Itu tadi kamu sampai menghantam aku gini.”


Luna memilih kembali fokus pada kompresannya. Tidak mau menjawab pertanyaan Elio. Elio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar.


Seakan faham kekecewaan Elio, luna menangkup wajah suaminya itu membuat tatapan mereka kembali bertemu.


“Do it slowly, Kak.” Bisiknya. Elio langsung tersenyum.



...🤭-[Bersambung]-🤭...


Disuruh pelan-pelan El. Atuhlah buru-buru pisan.


Author : Kata orang “the worst sentence to hear is tomorrow is monday” haha. Tapi buat aku “Monday is vote-day.” Eh…


Nitizen : Hemmm up nya lama. Malas ah ngasih vote…


Author : Hahaha makjleb ya… Yang follow IG aku pasti tau aku sering qerja lembur bagai qudhaaa…


Baiklah… nggak nagih vote lagi (tapi kalau dikasih seneng banget). Apa yang bisa kalian kasih aja biar aku bisa semangat.