My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Awkward Moment



Luna POV


Sudah lima belas menit aku mematut diri di depan cermin. Dari tadi fokusku hanya satu yaitu menutupi jejak cinta yang tidak terhitung jumlahnya karena usaha menghibur Kakak semalam.


Ya… akhirnya semalam aku pasrah mengikuti apa maunya. Walau pun berakhir dengan Kakak masuk kamar mandi sampai satu jam lebih, dan keluar dengan kepala basah, setidaknya ini sudah kemajuan untuk hubungan kami. Aku mengerti dia punya hasrat dan harusnya aku bisa membantunya. But again, Kakak selalu bisa mengerti untuk menungguku. Lucky me…


Kembali ke jejak cinta ini. Ternyata meskipun sudah di cover foundation cukup tebal, tetap saja aku belum percaya diri. Akhirnya aku memutuskan menggerai rambut agar lebih confident saat perform nanti.


“Deek… Ayo buruan…!” Ini teriakan ke tiga kali pagi ini. Dari tadi dia sudah menungguku di ruang keluarga karena hari ini kami berencana ke Teras Teduh sebentar.


“Iyaaa Bentaaaaaar…!” Teriakku lagi.


Ada beberapa agenda yang harus dia kerjakan disana. Selain memantau bisnis kecilnya, Kakak juga berencana meminta Alea secara langsung untuk menemaniku selama dia di Jogja tiga sampai lima hari kedepan.


“Kamuu lama banget sih? Ngapain aja di dalam?” Akhirnya Kakak mengintip aku yang baru saja mengaplikasikan lipstik berwarna peach di bibirku.


“Tunggu sebentar Kak. Aku masih dandan dulu. Barusan Ale minta aku perform satu lagu aja nanti di sana. Jadi aku harus eye catching biar enak dilihatnya nanti.” Jawabku.


“Ih kamu mah… Kurang ya perhatian dari aku, sampai harus menarik perhatian orang lain segala?” Wajah Kakak sudah tampak tidak bersahabat.


“Kalau kamu niatnya kayak gitu, mending nggak usah ikut sekalian.” Akhirnya si Kakak pundung beneran. Aku harus take action agar aksi pundung ini tidak berlanjut.


“Eh enggak begitu suamikuuuu…”


Aku langsung meraup wajah Kakak dan mendaratkan satu kecupan di bibir. Ternyata aktifitas menghiburnya tadi malam membuat aku lebih berani untuk menciumnya duluan. Haha malu sekaligus hemmm seru sebenarnya.


“Istriku udah berani ya sekarang.” Eh Kakak malah keterusan sampai aku kehabisan nafas meladeninya. Sepertinya dia akan ketagihan kalau begini ceritanya.


“Tapi aku tetap nggak suka kamu dandan secantik ini kalau perform.” Ternyata Kakak tetap pada pendiriannya. Padahal aku sudah kasih hiburan lagi barusan. Jadi merasa rugi gini.


“Ini nggak berlebihan kok Kak. Pakaian aku juga tertutup gini.” Aku memutar tubuhku di depannya. Kakak hanya menatapku sinis.



“Aku cuma mencoba profesional, mengerjakan segala sesuatu secara maksimal. Aku nggak suka bekerja setengah-setengah.”


“Apa lagi saat tampil di depan orang lain tidak hanya mendengarkan suara tapi juga melihat siapa yang bernyanyi.”


“Self branding itu perlu..!” Jelasku.


Tidak ada perubahan ekspresi dari wajahnya. Tetap terlihat kesal dan pundung bersamaan.


“Tapi ya udah kalau Kakak nggak izinin, aku nggak usah ikut aja.” Aku akhirnya berbalik badan dan duduk di kasur. Kata orang tarik ulur itu perlu seperti negosiasi saudagar Minang di Tanah Abang. Haha…


“Tapi kamu dandannya lama banget. Sampai kayak gini mempercantik diri di depan orang lain. Sementara sama suami pakaian biasa aja.” Wah wah… Ternyata dia benaran protes dari hati sepertinya.


“Aku lama karena harus nutupin bekas gigitan drakula semalam.” Ketusku. Kakak langsung tersenyum seperti sadar letak salahnya dimana.


“Haha… Emang banyak ya?”


“Pakai ditanya.. Lihat nih..!” Aku menyibakkan rambutku yang memperlihatkan leher yang sudah putih tertutup foundation dan bedak.


“Aku tuh sampai nggak PeDe gini mau nguncir rambut.” Jawabku ketus.


Eh Si Kakak malah tertawa terbahak-bahak. Puas bener sepertinya.


“Udah nggak keliatan kok…” ucapnya menahan tawa.


“Ya udah ayuk. Nanti telat..!” Akhirnya dia nyerah juga untuk complaint. Jadilah hari itu kami berangkat ke cafe.


Setelah bernyayi aku langsung masuk ke kitchen, untuk meminta segelas minum. Tidak ada koki yang aku kenal di sana, hanya ada Chef Kahanaya di ruang baking sepertinya memasak rerotian. Sudah lama tidak meminum air jahenya yang enak itu. Jadi terfikir untuk request langsung pada beliau.


“Hai Chef… Udah lama nggak kelihatan di sini.” Tanyaku berbasa basi.


Dia langsung tersenyum, eleuh eleuh geulis pisan. Aku saja yang perempuan terpesona dengan senyum teduhnya, apa lagi laki-laki pasti langsung kepincut.


“Hai… Kamu masih aja panggil aku Chef. Panggil Kak Ayya aja.” Ucapnya ramah.


“Aku sibuk dihotel dari persiapan audit sampai kemaren Jumat baru beres.” Jawabnya. Aku mengangguk. Ternyata audit hotel kemaren membuat semua staff hotel sibuk, bukan Kakak saja.


“Kakak lagi bikin pastry ya?” Sesuai request aku memanggilnya Kakak.


“Iya… Ini sengaja bikin khusus buat El. Dia suka croissant butter almond, sama kopi hitam.”


“Setiap pagi kalau di hotel pasti requstnya ini sama aku.” Jelasnya. Ternyata Chef cantik ini juga hafal kebiasaan Kakak sampai ke makanan favoritnya.


Aku lagi-lagi hanya mengangguk. Baru tahu Kakak suka semua itu. Pastas saja kopiku ditolak mentah-mentah waktu itu. Ternyata dia suka kopi hitam, bukan kopi susu.


“Kamu mau aku buatkan sesuatu?” Tanyanya.


“Hehe kalau nggak sibuk aku boleh dong diajarin cara bikin minuman jahe kayak waktu itu. Enak…!”


“Sini…!” Dia langsung menarikku ke kitchen utama yang terletak di sebelah ruang baking.


Chef Ayya langsung mengajariku tahapan membuat minuman jahe enak itu. Ternyata membuatnya cukup mudah hanya perlu direbus dengan gula merah dan sedikit bubuk cinnamon. Setelah dingin barulah lemon dan madu di masukkan.


“Gampang kan?” Ucapnya sambil menuang ke dia buah cangkir kosong.


“Hehe iya ya. Gampang sebenarnya… Tapi masalahnya cuma satu, nggak bisa bedain mana jahe, mana lengkuas, mana yang kencur.” Aku terkekeh. Sedangkan chef Ayya tampak terkejut. Pasti dia kaget aku nggak ngerti dapur sama sekali.


“Aku fikir kamu pinter masak, soalnya El bilang dulu….” Tiba-tiba ucapannya terputus.


“Kak El bilang apa Kak?”


“Haha nggak.” Dia langsung menggeleng. tiba-tiba bunyi oven terdengar dari ruang baking.


“Eh croissantnya hampir matang. Yuk..!”


Aku baru tahu membuat croissant seribet ini, penuh kesabaran, ketelatenan dan keterampilan. Setelah loyang di keluarkan dari oven harus langsung dioleskan butter barulah ditaburkan potongan almond, kemudian croissant kembali dipanggang beberapa menit untuk kedua kalinya.


Akhirnya sambil menunggu baking kedua, kami minum air jahe bersama di ruang baking.


“Mereka ngobrol apa ya di ruang briefing? Tumben banget El nggak ngajak aku meeting koordinasi gini.” Ucapnya terlihat gelisah sambil melihat ke arah ruangan briefing yang tertutup.


Aku mengedikkan bahu, “Hehe aku nggak tau, Kak. Emang Kakak nggak dikasih tau ada meeting hari ini ya?”


Dia menghela nafas berat. “Kayaknya El udah nggak mau lagi berurusan sama aku.” Terlihat kekecewaan di raut wajahnya. Waduh ada apa ini?


“Kakak ada masalah sama Kak El?” Bukannya menjawab dia malah meraih tanganku dengan kedua tangannya. Akhirnya tubuh kami beradapan. Kok jadi awkward gini ya?


“Luna… Aku pingin ngomong serius sama kamu.”


...🌝-[Bersambung]-🌝...


Nitizen : *{^%{£]*]%¥]+]^]**