
“Udah nggak usah pura-pura nggak tau. Istigfar Luna, dia kakak lo. Dosa kalau kalian main perasaan. Kemaren gue nggak sengaja dengar Kak El minta lo jaga hati lo buat dia.” Tuduh Alea yang masih belum tau status Luna dan Elio bukan lah saudara kandung.
GUBRAAAK
Suara benda terjatuh cukup kencang dari arah luar.
Luna langsung memasang wajah waspada. “Lo udah pastiin nggak ada karyawan yang masih disini kan?” Luna langsung bangkit dan clingak-clinguk melempar pandangan ke arah luar.
Alea mengangguk dia bahkan sudah mengecek semuanya. “Semua udah pada pulang kok. Kucing paling.”
“Nggak mungkin kucing, suaranya kenceng banget Le.” Luna akhirnya berjalan ke ke arah luar, membuka pintu pelan-pelan.
“Aaaaaak macaaaan….”
Seekor kucing melompat ke arahnya membuat Luna kembali berlari masuk ke dalam cafe dengan nafas terengah-engah. Bukannya takut, Alea langsung terbahak-bahak. Adik bossnya itu memang terlalu berlebihan dalam membuat keributan.
“Kenapa lo takut banget ada orang lain selain kita disini? Jangan bilang kalau lo membenarkan tuduhan gue tadi?” Ucap Alea masih dengan nada menuduh.
Luna berdecih. Ia malas menanggapi tuduhan itu sebanarnya, tapi jika tidak diluruskan kesalah pahaman Alea mungkin akan terus berlanjut. Lagi pula ada sesuatu yang mengusik hati Luna dari kemaren, mungkin saat ini ia butuh seseorang untuk berbagi.
“Lo bisa gue percaya nggak?”
“Gue balikin ke lo. Lo percaya nggak sama gue?”
Luna terdiam beberapa saat. Sedari SMA ia kenal dengan Alea, tidak pernah rasanya mereka bertengkar untuk urusan serius. Biasanya mereka perang otot kalau rebutan makanan atau tolak-tolakan nyetir bumblebee karena kelelahan.
“Silakan cerita kalau lo percaya sama gue.” Sambung Alea dengan nada santai.
Luna memejamkan matanya beberapa saat, menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi paru-parunya dengan oksigen segar. Ia berharap semesta mendukungnya mengungkap kebenaran yang sudah mereka tutupi selama 12 tahun ini.
“Jadi… Aku dan Kak El bukan saudara kandung. Bahkan nama dia nggak ada dalam kartu keluarga gue. Dia sama kaya lo kok, bedanya dia mau tinggal di rumah gue, sedangkan lo milih di rumah lo sendiri. Kakak itu anak almarhum sahabat mama gue dan…” Luna menatap wajah Alea hanya masih tercengang dengan mulut menganga.
“Dan… apa yang akan gue katakan setelah ini tolong tetap jadi rahasia sampai kapan pun. Lebih tepatnya sampai gue siap cerita ke orang lain.”
Alea mengangguk masih dengan mulut menganga. Pikirannya sudah liar ntah kemana-mana.
“Dan… Kami dalam waktu dekat akan menikah.”
“Whaaaaat?”
Pekik Alea sampai tunbuhnya terperanjat ke belakang. Mengetahui kenyataan Luna dan Elio bukan saudara kandung saja sudah membuatnya kaget bukan main, apa lagi Luna mengatakan mereka akan menikah dalam waktu dekat kakaknya itu. Lelucon apa lagi ini.
“Sumpah Luna… Gue masih nggak percaya.” Alea menggelengkan kepalanya.
“Apa lagi gue.” Timpal Luna tidak bersemangat.
“Kalian pacaran? Dari kapan? Apa ini alasan lo jauhin Aries dan yang lainnya?” Selidik Alea.
Luna menggeleng. “Gue sama dia bahkan nggak pacaran sama sekali sampai detik ini.”
“Terus..? Jangan bilang lo udah…”
PLAAAK
“Sial lo… Lo kan tau sendiri gimana orang tua gue protektif banget? Semua cepet banget kejadiannya. Bahkan kami baru ambil keputusan ini dua hari yang lalu, karena…” Akhirnya Luna menceritakan secara lengkap apa terjadi padanya dan Elio.
“Sumpah… Gue masih kaget banget. But I am happy for you both. Pantes cara kakak lo memperlakukan lo beda banget. Enggak kaya kakak pada umumnya. Gue sampai mikir macam-macam sama kalian. Sorry banget.” Sesal Alea.
“Santai aja… Emang salah gue sih. Gue nggak mau kalian berpikiran macam-macam. Gue sama dia memang menganggap hubungan kami sebatas kakak adik setidaknya sampai dua hari yang lalu. Itu cara kami membentengi diri biar nggak baper satu sama lain. Tapi….” Luna mendesah kasar. Ucapannya terjeda beberapa saat membuat Alea makin penasaran.
“Oooh so sweet. Akhirnya gundukan batu es itu mencair.” Ucap Alea dengan tangan menutupi mulutnya, gemas sekali membayangkan pria macam Elio jatuh cinta.
Luna hanya mencibir. “Gue heran kenapa seorang kaya dia bisa suka sama gue yang brandalan gini? Bahkan nyokap bilang, kaya nggak ada cewe lain aja yang jauh lebih baik dari gue. Sedih gue…” Lirihnya.
“Husssh jangan baper sama omongan Mama Rena…! Ingat, kalau lo mau tahu kaya gimana cara lo ngomong sehari-hari, lihat nyokap lo. Begitu pun kalau lo pengen lihat betapa baiknya lo sama semua orang, lo juga harus lihat nyokap lo. Gue salah satu buktinya, gue nggak akan bisa lanjutin hidup kaya sekarang kalau bukan karena Mama Rena yang memperlakukan gue kaya anak sendiri, dan gue nggak akan bisa kerja di cafe ini kalau bukan karena lo yang selalu jadi sahabat terbaik gue.” Bela Alea yang merasakan betapa baiknya Renata mau Luna padanya.
Luna tersenyum, mamanya memang sepeti itu, harusnya dia bersyukur setidaknya punya nasib lebih baik dari Elio dan Alea yang tidak lagi memiliki orang tua. “Thank you, Le. Berapa hari ini gue krisis kepercayaan sama diri gue sendiri.” Ucap Luna.
“Lo sendiri gimana? Lo udah punya perasaan sama kakak lo?”
Lun kembali menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Belum.”
“Ya udah pelan-pelan aja. Yang penting komunikasi. Apa pun hubungan kalian, entah kakak adik atau nanti jadi suami istri, kalian harus pinter-pinter komunikasi. Biar lengket dan harmonis. Jadi kapan nikahnya?” Alea tersenyum menggoda Luna. “Cieee calon istri Boss El…”
Bukannya tergoda, Luna malah mengendurkan badannya di kursi. “Berkas-berkasnya udah mulai di urus sama kakak hari ini. Nanti malam gue akan tanda tangan surat kesediaan.” Ucap Luna masih tidak bersemangat.
“Ada apa sih? Apa yang bikin lo kaya gini? Harusnya lo seneng dong kan sudah ketemu win win solution buat kebaikan orang tua kalian, ambisi lo pengen stay di Indonesia juga terkabul plus dapat suami sempurna kaya boss El.” Selidik Alea.
“Gue insecure.”
Alea menyeringit, kurang bersyukur apa Luna dengan semua kelebihannya. “Apa sih kurangnya lo Luna?”
“Gue ngerasa kurang pantes mendampingi dia.”
“Iya… Tapi kenapa?”
“Dia bukan orang sembarangan Le… Itu satu hal yang baru gue ketahui setelah 12 tahun kami hidup bareng.” Luna memulai ceritanya.
“Untuk pertama kalinya gue melihat sisi lain dia saat gue ikut dia ke hotelnya kemaren. Kakak gue ternyata bukan hanya seorang bujang usia 26 tahun yang jago masak. Dia pemimpin hotel, ada tanggung jawab besar di pundaknya, punya banyak masalah besar, dan mungkin punya banyak musuh. Gue merasa dia butuh perempuan yang kuat dan matang buat mendampingi dia. Gue nggak bisa kaya gitu.”
“Luna…”
“Lu tau? Gue mengacaukan semua urusan dia kemaren. Padahal gue baru berstatus calon istrinya dia, gimana kalau kami udah nikah. Mungkin gue akan terus jadi sumber masalah buat dia kedepannya.”
Ternyata ini lah yang mengusik pikiran Luna dari kemaren. Kata-kata Om Rian yang meminta Elio lebih fokus dan menjadi pemimpin yang bijaksana terus terngiang di kepalanya.
Menurut Luna, Elio lebih butuh istri yang bijak yang selalu mengingatkan Elio tentang bagaimana bersikap yang tepat sesuai dengan posisinya saat ini. Entah siapa pun itu, yang jelas bukan dia orangnya.
“Mama benar, Le. Seorang istri itu bukan pajangan dalam rumah tangga, tapi istri harusnya bisa menjadi segala hal buat suaminya. Gue…” Luna menghela nafasnya beberapa saat. “Gue masih jauh banget lah ya.”.
Luna terkekeh malu pada diri sendiri yang selalu membuat kekacauan. Bahkan sudah bisa ia tebak, pasti saat ini keluarganya gusar menunggunya karena jam 10 malam belum pulang ke rumah. Itu saja sebuah kekacauan kecil yang dia buat malam ini.
“Terus lo mau mundur?” Tanya Alea sambil memegang tangan Luna.
“Gue ragu. Menurut lo?”
“Minta petunjuk sama yang membolak-balikkan hati lo. Berdoa biar dikasih keputusan yang terbaik.” Ucap Alea sambil menepuk-nepuk lengan Luna.
...😊-[Bersambung]-😊...
Hai makasih ya udah mampir.
Kasih like dan tinggalkan komen sebanyak-banyaknya. Kasih masukan juga boleh.