My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
My Own Way



Hampir pukul satu dini hari Elio dan Luna baru sampai di basement apartment mereka. Elio keluar dari mobil lalu membanting pintu dengan kasar. Sedangkan Luna mengatur nafas terlebih dahulu barulah menyusul Elio keluar dari dalam mobil.


Lift merayap naik sampai ke lantai tujuh. Menyusuri lorong demi lorong apartemen, perasaan Elio dan Luna berkecamuk. Entah apa yang akan terjadi di dalam unit apartemen nanti. Apakah mereka akan terus diam seperti ini atau justru bertengkar hebat.


“Kak…”


Luna menahan lengan Elio yang hendak membuka pintu kamar pribadinya. Padahal mereka sudah sepakat tidak menempati kamar itu sementara waktu karena Renata akan datang besok lusa. Apakah Elio ingin malam ini mereka tidur terpisah. Bukankah itu semakin memperburuk keadaan, batinnya.


“Bersihkan badamu. Tidur….!” Titah Elio menunjuk kamar seberang yang tak lain adalah kamar Luna.


“Kak… Kita harus bicara. Aku mohon.” Lirihnya.


“Aku sudah lelah. Kamu keterlaluan kali ini.” Elio menatap tajam.


“Lebih baik kamu tidur dari pada semakin memperburuk keadaan.” Elio memperingati.


“Please Kak. Aku nggak akan tidur kalau masalah kita belum selesai. Aku ingin menjelaskan—“


“Tidak usah banyak bicara. Bahkan laki-laki itu seperti tidak percaya kamu sudah menikah. Poin pertama, kamu sudah melanggar janji untuk memberi tahu pernikahan kita pada mereka. Poin kedua, kamu kelayapan sampai tengah malam tanpa memberi kabar. Tega kamu, Luna…!” Sentak Elio sambil menekan handle pintu dan masuk ke kamarnya. Luna berjalan pelan di belakang Elio.


“Asal kamu tau, aku rela kehilangan Om Rian dan Ayya demi mengungkapkan kebenaran pernikahan kita. Asal kamu tau aku berjuang mati-matian di kantor setelah kehilangan Om Rian. Tapi kamu….” Elio mengusap air yang keluar dari sudut matanya.


“Kamu memilih merahasiakannya dari dia. Sebegitu malu kamu mengakui pernikahan ini?” Tuding Elio. Luna menggeleng cepat.


“Kakak salah. Aku sudah memberi tahu semua orang. Bahkan Mas Gara, adiknya Mas Kean sampai memastikan berita itu sama aku. Aku nggak pernah menyembunyikan peenikahan aku dari mereka.” Luna tidak tahan untuk tidak menangis.


“BOHOANG…”


“AKU NGGAK BOHONG.” Pekik Luna.


“Terus kenapa dia bingung seperti tadi saat aku mengatakan kamu istri aku…?”


“Aku nggak tau, Kak. Aku yakin betul Mas Kean tau aku sudah menikah. Dia mendengar sendiri waktu aku bicara sama Mas Arbi. Lagi pula aku sudah jadi bahan omongan orang kantor karena menikah muda.” Jawab Luna cepat.


Luna memang salah malam ini tidak mengabari Elio. Tapi soal tuduhan merahasiakan pernikahan mereka, dia harus segera menepisnya.


“Shitt…” Geram Elio.


Sampai disini Elio paham, rupanya laki-laki bernama Kean itu menyangkal pernikahan mereka. Elio geram karena bingung harus meyakinkan semua orang bahwa Luna sudah menjadi kepunyaannya. Elio mengepalkan kedua tangannya merasa dadanya terbakar.


“Soal malam ini. Aku minta maaf…”


“Tidurlah..! Kita bicarakan besok pagi.”


Elio berusaha menghindar. Pria itu tidak siap harus mendengarkan alasan Luna malam ini. Dia terlalu lelah dengan semua yang baru saja dihadapinya. Lagi pula Elio takut jika dipaksakan menyelesaikan masalah dalam keadaan emosi, mereka akan dihadapkaan pada masalah yang lebih besar nantinya.


“Kaak… Aku mohon dengarkan aku.” Ucap Luna disela isakan tangisnya. Luna meraih satu lengan Elio memohon agar pria itu mendengarkan sedikit saja alasannya.


“Kamu mengerti perintahku tidak? Jangan membuatku semakin emosi, Luna.” Elio


“Tapi…” Luna langsung memotong.


“Kalau kamu ingin menyelesaikannya sekarang, baiklah…” Elio melepas dasi yang melingkar di lehernya dan membuangnya ke sembarang arah.


“Tidak, Kak… Tidak mungkin seperti itu.” Luna menggelengkan kepalnya menyangkal semua tuduhan Elio.


Elio tertawa miris. “Atau karena dia lebih bisa memuaskan kamu..?”


Luna menatap Elio dengan tatapan tidak percaya. Apa yang Elio fikirkan tentang dirinya. Apa sehina itu dirinya di mata Elio sampai Elio menuduh Luna sudah berbuat zina.


“Kakak boleh marah. Tapi jangan pernah merendahkan aku seperti peelacuur.” Meskipun dengan dada terasa penuh, Luna berhasil mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan. Elio tersadar dengan ucapannya.


Luna yang tidak tahan dengan semua tuduhan Elio memilih berbalik badan meninggalkan pria itu sendiri. Mungkin memang lebih baik diselesaikan esok hari. Elio tidak mau memberikan kesempatan pada dirinya bicara.


“Kemana kamu…?” Elio menahan pintu dengan satu tangannya.


“Bukannya tadi kamu yang meminta semua ini diselesaikan sekarang…?” Elio mendesak tubuh Luna sampai Luna tersandar pada pintu.


“Kakak mau apa…?”


Luna terlihat panik. Apakah Elio akan membunuhnya. Apakah seperti ini awal mula terjadi kekerasan dalam rumah tangga, fikirnya.


“Aku mau kamu mengandung anakku.” Ucap Elio dengan tatapan mata berkabut emosi. Luna tersentak.


“Please Kak... Jangan begini. Kita sudah sepakat—“


“Masa bodoh dengan semua kesepakatan itu. Kamu memang tidak pernah bisa aku percaya.” Tuding Elio pada sang istri.


“Kita selesaikan masalah ini dengan caraku.” Elio melepas kancing bajunya seraya mendekatkan wajahnya untuk menyapu wajah Luna. Di tengah semua penolakan Luna, Elio bertindak impulsif. Baginya ini adalah jalan pintas agar Luna tidak lagi berkhianat di belakangnya.


Cukup dengan satu kali gerakan Elio berhasil memindahkan Luna ke ranjang. Malam itu Elio akan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Kepercayaan itu mahal. Jangan harap Luna hanya membayarnya dengan kata maaf. Dan bukankah dia sudah memperingati Luna agar menunggu sampai besok pagi untuk berbicara. Jadi ini bukan sepenuhnya salah dirinya.


Elio mempererat pelukannya pada tubuh Luna. Jika tantenya Viara berhasil membuat Elio benci dengan pengkhianatan yang dilakukannya, maka entah kenapa Elio tidak bisa benci pada Luna. Cintanya semakin besar saat melihat Luna sabar mengahadapi sikap tempramentalnya. Bahkan semalam meskipun Elio mengetahui Luna keberatan dengan keputusannya, tapi Luna tetap menuruti semua keinginannya.


Elio mengamati wajah lelah Luna. Lingkar mata Luna mengitam, bibir sedikit pucat. Tidak ada rasa sesal sedikit pun dengan tindakan yang ia ambil malam tadi. Ini demi kembaikan mereka. Elio berharap darah dagingnya segera tumbuh di rahim sang istri. Apalagi mengingat ucapan dokter Nita bahwa Luna dalam masa subur tiga hari ini. Setidaknya dengan demikian tidak ada lagi pria lain yang menyangkal keberadaanya di sisi Luna.


“Luna… Bangun…! Sudah subuh.”


Elio membangunkan Luna yang meringkuk dalam dekapannya. Bukannya bangun, Luna semakin menyembunyikan kepalanya dalam selimut.


“Ayo sudah mau terbit. Nanti kamu tidak cukup waktu untuk shalat subuh.” Desak Elio.


Luna cepat terduduk menahan selimut agar menutupi tubuhnya. Butuh beberapa detik untuk Luna mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Setelah dengan mudahnya Elio menuduh dirinya seperti wanita murahan, namun berakhir dengan Elio memaksa melayaninya berkali-kali. Ternyata tidak ada yang lebih sakit dari pada menerima penghinaan dari orang yang dicintai.


“Hari ini aku tidak izinkan kamu berangkat bekerja. Dan jangan sekali-kali membantah. Karena masalah kita belum selesai.” Elio memasang kancing pada lengan kanan bajunya lalu berjalan mendekati Luna.


“Aku tidak sempat memasak. Jadi kamu harus order sendiri. Jangan lupa sarapan. Ingat satu minggu lagi kamu mulai masuk kuliah. Jadi harus menjaga kesehatan.” Elio mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Luna lalu memeluk sang istri sekilas.


“I love you…” Bisiknya sambil mengusap lembut pipi Luna dengan ibu jarinya.


Pagi itu Luna memilih kembali berbaring di kasur. Semua bagian tubuhnya terasa sakit. Tapi jauh dari pada itu, Luna memendam rasa kecewa yang besar dengan apa yang baru saja menimpanya.


...-[Bersambung]-...