My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Ketahuan Bertengkar



Apartment


“Pap… Kok sepi ya… Jangan-jangan mereka…”


Renata yang baru sampai di apartment pagi itu, mulai memasang wajah waspada. Fikirannya sudah liar membayangkan kejadian dua minggu yang lalu saat mendapati kedua anaknya tidur berpelukan


“Mama tenang dulu. Kan kita udah pasang CCTV. Ya nggak mungkin macam-macam lah.” Gilang langsung pasang badan untuk membela kedua anak kesayangannya.


“Tapi Papa lihat sendiri kan, mereka malah jarang di rumah akhir-akhir ini. Takutnya malah pindah ke hotel. Aarrgghh..” Renata frustasi.


“Elio kan bilang lagi sibuk di hotel. Kalau Luna, coba Mama tanya ke Alea.” Alea memang akan selalu menjadi mata-mata anak mereka selama ini.


“Lagian Papa lihat Luna pulang ke apartment terus kok tiap malam. Mukanya juga keliatan lelah banget. Kalau Elio malah dua malam ini nggak pulang.” Sambung Gilang.


“Lelah..? Habis ngapain..?” Pekik Renata.


“Kuliah lah Mam. Ih jernihkan fikirannya.” Gilang mengacak rambut istrinya.


Renata yang sudah berhasil membuka pintu apartment, terkejut saat kondisi apartment kosong.


“Pap… Ini baru jam 8 pagi. Kemana mereka? Jangan-jangan mereka beneran nginep hotel.” Renata langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Tenang Mam. Coba cek CCTV dulu.”


Sambil menikmati cola dingin, keduanya akhirnya menyaksikan drama pertengkaran anak mereka kemaren malam.


“Dek… Kita bukan lagi kakak adik seperti dulu. Aku juga butuh kamu yang ngertiin aku. Tolong dewasa sedikit dong.”


“Aku harus kerja dan kamu malah minta turun di jalan. Kamu fikir aja, mana mungkin aku turunin kamu di jalan.”


“Apa salahnya sih ikut ke hotel sebentar. Kalau meeting beres, pasti aku antar balik.” Terlihat Elio mengusap kasar wajahnya.


“Aku bisa pulang sendiri kok. Waktu Kakak di Aussie aku bisa melakukan semua sendiri. Jadi tidak usah terbebani dengan adanya aku.” Luna yang berjalanduluan di depan Elio terlihat langsung masuk menuju kamar. Tapi tangannya di cengkram oleh Elio.


“Aku belum selesai ngomong. Jangan masuk dulu.”


“Apa lagi sih Kak? Aku pusing. Aku ngantuk. Aku capek. Aku belum tidur dari kemaren.” Keluh Luna.


“Please… Kalau Kakak masih mau debat, mending aku pergi. Aku bener-bener capek.” Luna menarik kasar tangannya sampai terlepas dari genggaman Elio.


“Luna…” Panggil Elio dengan nada rendah. Wajahnya pun terlihat khawatir.


“Apa lagi..?” Pekik Luna membuat wajah Elio kembali berubah merah.


“Sekarang kamu evalusi apa salah kamu.” Elio langsung pergi meninggalkan apartment begitu saja.


Renata akhirnya menutup tayangan CCTV di ponselnya setelah pintu kamar Luna tertutup, lalu menatap ke arah Gilang yang terlihat mengedikkan bahunya.


“Kayanya lebih seru kalau ada popcorn ya Pap.” Renata terkekeh.


“Haha… Seru ya mereka. Berasa lihat kita zaman muda aja.” Timpal Gilang.


“Mau nonton lagi nggak?” Tawar Renata.


“Boleh…”


CCTV pun diputar beberapa kali oleh mereka. Meskipun keduanya tersenyum tapi ada rasa khawatir di dalam hati keduanya. Bagaimana pun pernikahan tersisa 3 hari lagi. Tapi anak-anaknya malah bertengkar.


...***...


Elios Hotel Jakarta


Sejak kepulangan dari Jogja, hampir setiap malam Elio begadang. Tidurnya tidak teratur dan sesempatnya saja. Persiapan audit dan beberapa meeting kerja sama dengan travel agency membuat jadwalnya padat. Belum lagi dia dan Luna akan menikah hari Jumat minggu ini, semua membuat fikirannya bercabang.


Setelah kembalinya ia dari apartment kemaren, Elio langsung menghadiri meeting dengan divisi F&B yang sementara di handle oleh Kahanayya.


“Akhinya kamu datang El.” Wajah koki cantik itu langsung ceria, sebab dari tadi ia mengulur meeting dengan cabang Jogja dan Bandung.


“Kamu mau minum apa? Biar aku siapkan.”


“Kopi tanpa creamer tolong ya Ayya…”


“Okey… Kamu sapa mereka dulu gih. Aku siapkan kopinya ya.”


Selama meeting berlangsung Elio tidak bisa fokus, apalagi saat ia tergoda untuk melihat CCTV di ruang tengah apartemennya. Pintu kamar Luna masih setia tertutup dari tadi, membuatnya semakin penasaran sedang apa calon istrinya itu di dalam kamar.


“Ini formulis quality agreement kita dengan supplier bahan pangan segar Pak. Ada masukan?”


Tidak ada jawaban dari El, dia kembali membuka aplikasi CCTV pada ponselnya. Kenapa Luna masih belum keluar dari kamar? Apa dia menangis? Atau sekarang tidur?


“Bagaimana Pak? Formulir Ini apa bisa saya release?”


“Oh ya sebentar. Saya coba review lagi.” Elio membaca sekilas, dan mencoba memberi masukan. “Disini sudah tertera kondisi penyimpanan bahan belum ya?”


“Sudah Pak. Poin nomor tujuh.” Jawab salah seorang karyawan.


“Baik… Kalau begitu lanjutkan.”


“El… Fokus…” Bisik Om Rian.


Elio mengangguk dan akhirnya mematikan ponselnya. Setidaknya dengan seperti ini tangannya tidak gatal ingin mengintip Luna dari CCTV lagi.


Sudah lewat pukul 12 malam, akhirnya Elio bisa merebahkan tubuhnya. Matanya sudah tidak bisa bertahan lagi. Malam ini akhirnya ia pulas tertidur hingga hampir melewati waktu subuh karena ponsel yang biasanya yang tersetting alarm sebelum azan, masih dalam kondisi mati.


Setelah sholat subuh, barulah ponsel itu ia nyalakan. Ada banyak pesan yang masuk, tapi hanya satu pesan yang ingin ia buka, dari Luna.


“I'm afraid to lose MY IRON MAN if you turn into my husband. Please, keep being MY KAKAK. I don't want to change it.”


“(Aku takut kehilangan IRON MAN ku jika kamu berubah menjadi suamiku. Tolong tetap menjadi KAKAK ku. Aku tidak mau mengubahnya.).”


Elio tercenung. Langsung saja ribuan sesal menyelimuti persaannya. Apa yang ia lakukan kemaren pada Luna, sampai-sampai sekarang Luna lebih memilihnya menjadi kakak saja bukan menjadi suami.


“Astagfirullah… Maafin aku Luna…”


Elio langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas pulang. Perasaannya tidak tenang, mengingat Luna yang sempat mengeluh pusing karena tidak tidur hari sebelumnya. Selama di jalan, Elio mencoba menelfon Luna, tapi lagi lagi ponsel Luna tidak aktif.


“Kamu menghindar atau habis batrai lagi?” Elio semakin mempercepat laju mobilnya. Mumpung belum terlalu macet masih bisa kebut-kebutan.


Sesampainya di apartment, ternyata Renata dan Gilang sudah berada disana, keduanya tengah asyik menonton tayangan CCTV di ponselnya.


“Assalamu’alaikum Ma, Pa...” Anak manis itu langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


“Wa’alaikumussalam El.”


Elio yang tidak tenang langsung bergegas mengetuk kamar Luna. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Renata dan Gilang di apartment itu.


“Duduk dulu, El…”


“Baru pulang kan? Giliran Mama yang buatkan kamu minum. Kamu istirahat aja.” Renata merangkum tubuh anak sahabatnya yang ternyata sudah besar dan berotot.


“Luna mana Ma…?” Elio masih celingukan ingin memeriksa sampai ke dalam kamar mandi.


“Mama cek di CCTV, Luna sudah berangkat dari subuh tadi.”


Elio mendesah. Nafasnya jadi sesak. “Aku ke kampus Luna sekarang aja, Ma.”


“Sudah… Kamu duduk dulu, El.”


“Pasti belum sarapan kan? Papa udah order nasi kuning di bawah. Kita makan bareng.” Ucap Gilang.


“Tapi Luna…” Elio tampak semakin gelisah. Bagaimana cara dia bercerita pada kedua calon mertuanya.


“Iya… Mama tau. Tadi Mama juga udah telfon Alea.”


“Luna ada ujian praktikum hari ini. Kamu datang kesana juga nggak bisa ketemu dia.” Renata tersenyum.


“Mama maafin El. Kami bertengkar.”


“Biasa itu… Namanya juga pasangan.” Renata kembali tersenyum.


“Kalian jadi menikah kan..?”


...😮-[Bersambung]-😮...


Duh kayanya bakal ada introgasi dari camer nih.