My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Kerja Kelompok



Setelah sholat maghrib, satu per satu teman-teman Luna berdatangan. Formasi kelompok baru lengkap nyaris pukul tujuh malam. Yaa… akhirnya dengan semua pertimbangan, mereka mau mengikuti permintaan Luna.


Luna mempunyai bargaining power cukup kuat dengan kepintarannya. Tentu mereka tidak punya pilihan untuk menolak, meskipun ada ancaman di depan mata dari sang kakak.


Elio juga akhirnya mengalah hanya berada di kamar semalaman. Dia tidak keberatan karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia siapkan untuk operational audit hotel yang mulai dilakukan hari Senin besok.


“Yuk mulai. Keburu malam.” Ajak Luna.


“Udah pada cari jurnal kan? Sini kita liatin satu-satu.” Titah Luna.


“Sorry Lun. Gue belum sempat searching tadi. Nyokap gue masih sakit, jadi harus beberes rumah dulu.” Robby langsung melakukan pengakuan dosa.


Sontak Satria mendesah. “Lo gimana sih? Timbang nyari jurnal doang nggak bisa.” Sang ketua kelompok mulai gusar.


“Udah-udah. Ini udah banyak kok. Kasihan juga Robby, Sat. Orang tuanya lagi sakit.” Jawab Luna menarik tangan Satria.


“Lo harus jaga kesehatan juga ya Rob, ngerawat orang sakit itu jangan sampai ikut sakit. Gue punya mutivitamin tuh. Lo minum nanti ya.” Ujar Luna pada Robby.


Robby mengangguk. Perhatian Luna seperti sudah by default tersetting pada semua orang. Tidak peduli siapa saja orangnya. Sifat yang mungkin diturukan dari sang Mama.


“Kita angkat desain kontemporer aja ya. Ini kan lagi happening sekarang. Literasinya banyak lah. Kerja dua jam juga kelar ini mah. Kita bisa copy paste aja dari tugas anak kampus lain. Ini ada yang meng-upload tugas sejenis di web edu. Haha…” David berusaha mencari jalan pintas.


Luna dibuat menggeleng-geleng kepala. “Jagan ambil resiko dong. Kita udah terancam nggak ikut ujian masih aja pengen co-pas kayak gitu.” Keluh Luna.


“Iya ih. Elu mah mau instan doang.” Protes Abel.


“Ya udah deh. Terserah… Gue cuma usul doang tadi.” Akhirnya David mengalah.


“Menurut lo gimana Lun? Nggak tau kenapa sense of ability lo di atas rata-rata soal beginian, Lun.” Ucap Satria. Bagaimana tidak, ide Luna selalu dipuji hampir semua dosen dalam hal kreatifitas. Luna seperti paket lengkap urusan seni dan hitung-hitungan.


“Industrial boleh, classic boleh. Konsep desain industrial itu kesan kuat pada suatu ruangan yang unfinished. Lihat nih unik banget kan…? Dinding bata masih terekspos, instalasi pipa juga masih dibiarkan terbuka.” Luna mengarahkan laptop reotnya pada kelima temannya.


“Atau ya kita ambil classic aja, mengandalkan kerapian susunan, keteraturan, keseimbangan. Ini terkesan biasa, tapi banyak loh yang suka konsep ini karena rumah itu yang dicari rasa nyamannya.” Luna mulai memaparkan.


“Bungkus… Gue mau yang industrial.” Ucap Satria.


“Iya… Gue juga suka nih.” Robby dan Adel juga ikut menimpali. Jadilah semalaman itu mereka mengerjakan tugas bersama-sama.


Dua jam bekerja dengan tegangan tinggi, bebebrapa orang mulai mengendur. Luna juga berapa kali merefill kopi dan cemilian biskuit yang dia sediakan. Tapi rasanya ada yang kurang, mungkin mereka butuh kudapan yang lebih fresh entah pizza atau martabak, fikirnya.


Luna mengecek mobil banking di ponselnya hanya ada uang Rp. 107.000, uang segitu hanya akan cukup membeli 1 loyang pizza ukuran sedang. Tentu tidak cukup di santap untuk enam orang. Belum lagi ada Elio di dalam.


Selama ini Luna cukup pintar dalam mengelola keuangan. Dia mengandalkan dua buah rekening, rekening satu untuk pengeluaran harian dan rekening lain khusus tanbungan. Setiap awal bulan Luna langsung memisahkan agar tidak tercampur. Rekening pengeluaran harian dia lengkapi dengan mobile banking untuk mempermudah transaksi, sedangkan untuk rekening tabunyan hanya ada ATM saja, sehingga untuk bertransaksi, dia akan sedikit kerepotan mengandalkan mesin ATM. Sebuah usaha pencegahan pemborosan versi Luna ini cukup sukses menjadikannya membeli gitar akustik, handphone atau pun perawatan Bee selama ini.


“Bentar ya guys. Gue harus turun sebentar.”


Sampai di kamar, gadis itu langsung mengambil jaket berencana turun ke lantai satu menuju mesin ATM mengisi saldo aplikasi pesan online. Seperti biasa sebelum keluar unit, dia akan berpamitan dengan kakak yang sudah sah menjadi suaminya saat ini.


“Kakak…”


Tok tok tok…


“Kaaak…”


“Masuk aja. Nggak aku kunci.” Jawab Elio dari dalam.


Agak ragu-ragu Luna masuk ke kamar Elio dan menutup pintu kembali. Entah kenapa rasanya berbeda masuk ke kamar ini. Padahal sebelumnya, setiap pagi dia yang membersihkan kamar ini tidak peduli ada atau tidak ada Elio di dalamnya.


“Kamu mau pergi?” Tanya Elio


“Iya. Aku mau ke bawah aja sih. Mau ke ATM sebentar. Aku izin ya.”


“Butuh duit buat apa?”


“Hemm… Mau beliin anak-anak pizza rencananya. Nanti aku pesan pakai HP kok. Ini cuma buat transfer uang ke aplikasi pesan online aja.” Jawab Luna.


“Sini aku beliin aja. Kamu balik kekerja kelompok sana. Biar cepat kelar.”


“Eeh… Bener Kakak mau bantuin? Nanti aku ganti uangnya.” Ucap Luna.


Elio mendesah. “Kamu tuh istri aku sekarang. Udah jadi tanggung jawab aku. Jadi harusnya kamu nggak usah pusingin duit lagi. Nggak boleh minta papa mama juga.” Elio merangkum pundak Luna.


“Ya udah… Makasih ya Kak.”


Elio tersenyum. “Aku nggak mau gratis lah. Kamu tuh banyak hutang loh sama aku. Ingat kan?”


Mata Luna langsung membola. “Hu…tang…? Yang mana? Hutang aku yang…” Ucap Luna sambil menutup bibirnya. Tentu saja dia ingat hutang ciuman sampai kesepakatan di restoran Jepang.


Elio mengangguk sambil menyeringai. “Iya yang itu.”


“Se…karang? Kakak mau sekarang?” Luna semakin terlihat panik.


“Mau lah…!”


Tubuh Luna mendadak kaku. Ia lupa cara bergerak yang benar. Mau menolak tidak mungkin, tapi dia belum merasa siap karena masih ada teman-temannya di luar.


“Aku.. Aku….”


“Hahaha….” Elio tertawa girang. Lucu sekali melihat istrinya ketakutan seperti itu.


“Kakak… Ssstttt… Brisik. Ada temen-temen aku di luar.”


“Habisnya kamu lucu. Peluk aja ya. Please…” Bujuk Elio.


“Aku masak nggak dapat apa-apa malam pertama. Boro-boro di layanin, yang ada di cuekin. Mana dipasung di kamar layak gini lagi.” Keluhnya sambil pura-pura kecewa.


Luna mengangguk pasrah. Meskipun dari dulu mereka biasa berpelukan karena merasa sebagai saudara. Tapi lagi-lagi hari ini statusnya berbeda, Luna kembali gugup.


“Sini…” Elio menarik tangan Luna agar mendekat.


Ragu-ragu Luna mendekat pada Elio. Tapi sepertinya pria itu tidak sabar. Segera ia tarik tangan Luna dan mengekap tubuh istrinya itu sekuat tenaga.


“Aaaakkk… Lepas Kak…” Ia menepuknepuk lengan Elio karena terasa sesak.


Elio mengendurkan pelukannya. “Aku fikir kalau aku kekap kayak tadi aku jadi lega. Ternayata enggak. Masih belum puas akunya.”


“Terus gimana?” Tanya Luna.


“Please cium ya..?”


Luna menahan nafasnya. Ia tatap Elio yang terlihat rungsing menahan diri. Akhirnya Luna memilih mengangguk.


Elio langsung tersenyum senang. “Boleh berarti ya?”


Tidak menunggu jawaban dari Luna, perlahan Elio memiringkan wajahnya. Entah kenapa jantungnya terasa akan copot saat itu juga. Sedangkan Luna memilih menahan nafas dan menutup mata rapat-rapat. Sepersekian centi menuju pertemuan dua bibir, tiba-tiba suara teriakan Felicia terdengar dari luar.


“Luna… Gue boleh pinjam kamar mandi nggak?”


Luna spontan mendorong wajah Elio dengan telapak tangannya.


“Eh… Masuk kamar gue aja Fel…” Teriak Luna.


“Ish… Teman-teman kamu ya…”


“Hehe… Sabar ya Kak.” Bisik Luna. Luna bersyukur dia terbebas dari sosoran soang kali ini.


“Enak aja. Nggak mau.” Jawab Elio. Sejurus kemudian menarik Luna kembali ke pelukannya, lalu menghujami kening pipi mata hidung Luna dengan kecupan bertubi-tibi.


“Yang ini aku sisain satu buat besok.” Tutupnya sambil memunjuk bibir Luna dengan jari telunjuknya.


Elio mengambil ponselnya untuk memesan pizza, membiarkan Luna yang masih mematung setelah mendapat serangan soang.


...🤦‍♀️-[Berasambung]-🤦‍♀️...


Selamat hari Rabu gaes. Aku besok mau libur jadi aku bayar sekarang pakai extra up. Sampai ketemu Jumat.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yes.


Dan jangan harapkan konflik kaya berat macam Qinan dan Ricqi. Karena aku malas baca jurnal lagi. Hahaha… Dokumen di real life lebih menuntut untuk aku baca dan selesaikan 🤧