My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Jumat Berkah



Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Sehabis subuh, keluarga Luna sudah direpotkan dengan kedatangan satu per satu saudara Mama dan Papanya dari Padang dan Bandung. Apartemen kecil itu mendadak jadi penuh dan gerah tiba-tiba. Belum lagi Mba Angel yang ditunjuk sebagai MUA pernikahannya, membawa tiga orang asisten untuk membantu merias keluarga.


“Geulis pisan si eneng.” Puji Tias yang merupakan adik kandung Renata.


“Baru kemaren lihat kamu dijewer mama gara-gara main di empang orang, sekarang udah mau nikah aja. Sama El lagi.” Tias cekikikan.


“Tante nggak nyangka loh. Kok bisa-bisanya jodoh kamu seberang kamar doang.” Ucapnya sambil terkekeh.


“Jangankan Tante, Luna aja nggak nyangka bisa nikah sama orang yang katanya kakak sendiri.” Jawab Luna yang tengah bersiap-siap akan dirias.


“Tau gitu kalian nikahnya dari dulu aja. Udah berkembang biak kali.” Tias terus saja bicara tanpa filter.


“Kejauahan mikirnya, Tant. Kami baru sepakat nikah 2 minggu yang lalu.” Cibir Luna.


“Apa? Kalian nggak pacaran? Jangan-jangan MBA?”


“Husss pitnah. Noh satpamnya ada dua. Auto-dimutilasi aku kalau sampai itu kejadian.” Jawab Luna.


“Eh… Yuk mulai yuk. Ngobrolnya dalam hati aja neng geulis.” Ucap Mbak Angel, sang MUA.


“Baca bismillah, biar berkah dan lancar.” Ia mulai memberi arahan.


“Bismillahirrahmanirrahim….”


Renata yang hilir mudik menyajikan minum dan cemilan di apartemen sempit itu, tiba-tiba terhenti melihat Luna yang sudah mulai dirias oleh MUA. Wajahnya langsung menyeringit bingung.


“Nikahnya habis sholat Jumat, kok udah make up Sayang? Luna kan harus sholat zuhur dulu nanti, Nak. Wudhunya gimana itu?” Ujar Renata dari ambang pintu kamar.


“Aku lagi nggak sholat, Mam. Aku lagi datang bulan.” Jawab Luna dengan suara lantang.


“Yaaaaaah…” Seisi apartemen langsung riuh. Bahkan Om Teguh, adik dari Gilang, langsung menelfon Elio untuk membuli anak angkat kakaknya itu.


“Ya udah Om. Gimana lagi. Pasrah aku mah…”


Jawaban Elio membuat semua orang langsung tertawa terbahak-bahak.


Ternyata mendandani Luna bukan suatu hal yang mudah, gadis itu terlalu perfect untuk urusan simetrisitas. Alisnya yang sudah tebal dengan lengkungan sempurna pun menjadi masalah saat sang MUA minta izin untuk merapikannya.


“Nggak usah Mbak Angel. Ditimpa foundie aja.” Tolak Luna. Namun setelah sang MUA menimpa alis dengan foundation, Luna masih protes karena lengkungannya tidak sama.


“Udah aku aja deh Mbak. Emang cuma aku yang ngerti sama wajah aku.” Luna mulai melukis wajahnya secara profesional. Urusan gambar-menggambar seperti ini, sudah dipastikan dia ahlinya.


“Wuiiisssh perfectoo… Tau gitu nggak usah pake jasa aku, dek.” Puji sang MUA.


“Udah kita mulai bedakin. kamu biar makin cantik.”


“Natural aja Mbak. Jangan putih kaya pocong. Terus aku mau lispiknya peach aja. Soalnya gaun aku juga warnanya pastel. Terus mau minta blush on korean look ya.” Luna mendiktekan semua. Kali ini dia harus lebih peduli pada pernikahannya. Jangan sampai kacau seperti urusan tempat nikah kemaren.


“Iya iya… Duh si pengantin bawel pisan euy.” Angel mulai protes. Tapi tangannya cukup handal mewujudkan make up impian Luna.


“Sekarang Jilbabnya mau gimana? Turkish style atau…”


“Malayu aja.” Luna langsung menjawab cepat.


“Aku mau kaya pengantin dari negeri Jiran. Nanti mau pakai mahkota kecil aja di atas veilnya. Kaya gini.”. Luna langsung mengarahkan ponsel pintarnya.


“Veilnya aku gantung di lemari itu.” Ucap Luna.


Angel akhirnya mengambil veil yang terbuat dari bahan ceruti dengan warna senada dengan gaun Luna dan mulai memasangkannya.


“Terakhir crown nya ya.” Ucap sang MUA, lalu memasangkannya.


“Ini tinggal nunggu sah aja mah… Habis itu berantakan lansung.” Celetuknya, langsung membuat Tias dan beberapa orang lainnya riuh kembali.


“Eh puasa dulu atuh Mbak MUA. Kan pengantinya lagi kedatangan bulan.” Tias masih sih saja membahas soal tamu yang datang di saat yang tak tepat.


“Oh iya.. haha…”


...***...


Jika Luna sedang bercanda tawa dengan keluarga besarnya, maka itu tidak berlaku dengan Elio. Pernikahannya seperti tidak disambut baik oleh keluarga ayahnya. Meskipun tidak semua, tapi sebagian besar menentang bahkan menuduh keluarga Renata sedang memperalat keponakannya.


Cecaran demi cecaran ia terima. Om Ardi, adik kandung Sang Ayah bahkan sampai menentang keras.


“Ooo… Kamu sudah mulai besar kepala sekarang. Mentang-mentang menjabat GM hotel? Lupa status kamu di keluarga ini apa?” Hardiknya.


“Jangan sombong kamu, El. Kalau bukan karena kami yang menjalankan hotel selama kamu bermain dengan anak itu sampai ke luar negeri sana, mungkin Elios Hotel hanya tinggal nama.” Tudingnya.


“Tahun ini berapa kali kamu datang ke sini? Sekalinya datang hanya untuk minta restu nikah. Sombong kamu.” Tukasnya.


“Apa bicaranya sudah selesai?” Tanya Elio tenang.


Ardi langsung memalingkan wajahnya. “Saya tidak akan sudi datang ke sana.” Ujarnya penuh penekanan.


“Sampai kapan pun. Orang busuk macam mereka, tidak akan pernah menjadi keluarga kita.” Sekali lagi kalimat itu sangat menyakiti hati Elio.


“Terserah Om Ardi. Aku hanya mengundang, bukan meminta restu. Aku laki-laki dan tidak butuh restu keluarga untuk menikah.” Ucap Elio dengan wajah tak kalah sombong.


“Lagi pula, dari dua belas tahun yang lalu, aku merasa keluargaku ada di sana. Bukan di sini lagi. Jadi tanpa kalian, aku masih bisa merasakan kasih sayang keluarga.” Elio akhirnya masuk ke dalam salah satu kamar rumah mewah itu. Sebelum kakinya melangkah masuk, tiba-tiba saja Elio kembali bersuara.


“Oh iya.. Jangan lupa, siapa yang butuh siapa sebenarnya.” Elio masuk ke dalam kamar dengan membanting itu.


BRAAAAKKK…!


Ardi langsung menggebrak meja makan. “Jangan ada salah satu dari kalian yang datang ke sana. Kalau sampai ada yang datang, saya tidak akan tinggal diam. Habis kalian semua.” Ia memperingati semua keluarga besar itu, seakan lupa perihal rumah mewah yang sedang ia tinggali masih atas nama Akandra, ayah Elio.


Sambil berbaring terlentang menghadap langit-langit rumah mewah itu, Elio mulai menyadari bahwa apa yang Renata katakan tentang kebahagiaan versi Luna itu benar. Dukungan keluarga dan kebebasan, itu seperti hal yang sangat ingin ia harapkan. Empat belas tahun silam, dirinya bahkan mengalami depresi dan krisis kepercayaan diri karena tidak mendapatkan dua hal itu.


Tidak lama, ketukan pintu terdengar dari luar. Hanya pelan, seperti sedang mengendap-endap. Elio langsung bangkit dari tidurnya, dan membuka pintu.


“Oma…”


“El…” Sang Oma langsung menagkup wajah Elio dengan mata yang sudah basah. Wanita yang usianya sudah lanjut itu langsung emmeluk sang cucu dengan tubuh bergetar.


“Oma minta maaf. Oma…”


“Sssstttt….” Elio langsung mengusap punggung Omanya dengan lembut.


“El tau. Oma sayangkan sama El. Oma setujukan El nikah dengan Luna?”


Oma langsung mengangguk, bibirnya yang bergetar tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia raih kedua tangan Elio, dan meletakkan satu kantong kain kecil di atasnya.


“Ambil… Ambil ini…” Gerakan Oma begitu cepat berharap Elio segera memasukkan ke dalam saki celana.


“Apa ini Oma?” Elio hendak mengeluarkan dari kantongnya tapi langsung ditahan oleh neneknya itu.


“Bukan untuk kamu. Tapi untuk Luna dari Oma sama Opa. Sedikit… Tapi tolong jangan dilihat jumlahnya.” Mata Oma sudah mulai basah kembali.


“Oma testui kamu. Jemput kebahagiaanmu di sana. Kalian harus bahagia. Oma sayang kalian.” Elio langsung menarik Oma dalam pelukannya.


“Makasih Oma.” Elio merasakan sudut matanya basah. Di saat titik terendahnya, tetap saja ada orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.


“Sampaikan maaf Oma dan Opa, kami tidak bisa kesana. Opa masih harus cuci darah.” Ucap Oma punuh sesal.


“Nggak apa-apa Oma. Nanti El kasih tau keluarga di sana. Mereka pasti mengerti. Mohon doanya aja ya.” Elio akhirnya tersenyum.


Dukungan sepeti ini yang ia harapkan dari tadi. Meski pun mungkin tidak akan ada keluarganya yang datang, tapi setidaknya ia tau Oma, Opa, Mbah Uti dan Mbah Kungnya merestui pernikahannya dengan Luna. Orang lain hempaskan saja. Dia sudah jengah dan tidak peduli lagi.


...✍️-[Bersambung]-✍️...


Jumat berkah… Iya ngertiiiii… Minta 1 up lagi kan?