My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
PULANG…!



Sudah pukul dua siang, Elio masih sibuk dengan pekerjaannya. Makan siang yang sudah disiapkan staff restoran hotel dari jam istirahat, juga masih utuh belum Elio sentuh sedikit pun.


Semenjak kepergian Rian dari Elios Hotel, hampir semua hal yang menyangkut operasional hotel beralih ke tangan Elio. Kadang Elio ingin menyerah dengan menunjuk satu orang menjadi pengganti Rian, tapi sampai saat ini Elio belum menemukan orang lain yang bisa ia percaya. Elio memandang semua dari mereka seperti Om Ardi, musuh dalam selimut.


“Permisi, selamat siang, Pak.” suara intercom berhasil menghentikan pekerjaan Elio.


“Ya siang…”


“Maaf Pak, Ibu Viara ingin bertemu, Bapak.” Ucap seorang admin padanya. Elio menarik nafas panjang. Viara masih menjadi PR yang belum tuntas ia selesaikan.


“Suruh masuk aja, Kia.”


“Baik, Pak.”


Viara menjadi adik perempuan satu-satunya dari Arkandra. Perempuan elegan dengan kecerdasan di atas rata-rata ini menyelesaikan pendidikan S2 akutansi di salah satu universitas di Singapura. Kemampuannya dalam memimpin bagian keuangan tidak pernah diragukan Elio, setidaknya sampai kasus tikus hotel ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Sejak saat itu Viara sudah Elio anggap sama seperti keluarganya lain. Tamak, gila harta dan serakah.


“Hai El…” Sapanya santai.


“Aku ganggu kamu ya…?” Tanya Viara ramah. Tanpa permisi perempuan itu langsung duduk di kursi seberang meja Elio.


“Apa ada hal penting…? Aku sibuk masih memeriksa banyak laporan.” Ucap Elio melirik sekilas, lalu kembali fokus. Viara tersenyum, melihat keponakannya yang gila kerja seperti sang kakak sulung dulu.


“El… Kamu belum makan ya?” Tanya Viara fokus pada nampan makan yang masih tertutup wrapping plastic.


Elio terdiam, teringat dia sudah melewatkan makan siang lebih dari dua jam. Padahal tadi Luna sudah mengirimkan pesan untuk mengingatkannya makan siang. Tapi Elio masih mengulur-ngulurnya.


“Belum. Nanti setelah ini.”


“Bagaimana pun kamu harus makan, El. Tubuhmu punya hak untuk mendapatkan nutrisi. Aku baca hampir sebagian besar penyakit berawal dari pola makan yang salah.” Viara masih sama. Perempuan itu terlihat khawatir. Bagi Viara, Elio tetaplah keponakan sekaligus temannya dari kecilnya dulu.


“Aku akan semakin terlambat makan jika Tante masih disini. Katakan saja mau apa…?” Viara menarik nafas panjang. Sikap dingin Elio masih menjadi tanda tanya besar bagi Viara. Apa kesalahannya sebenarnya.


“El… Aku dengar dewan direksi dan komisaris mengusulkan rapat luar biasa.” Viara tampak hati-hati mengucapkan kalimat tersebut.


“Kalau pun iya bukan urusan Tante. Kerjakan saja apa yang menajadi tanggung jawab bagian keuangan.” Tegas Elio.


“El… Please…” Suara Viara terdengar lirih.


“Aku tau tidak mudah untuk kamu hidup di tengah keluarga kacau seperti ini. Tapi tolong turunkan ego kamu kali ini. Kasih kesempatan untuk aku membantu kamu. Mas Ardi bukan orang yang mudah kamu kalahkan.” Kalimat Viara berhasil membuat Elio menutup laptopnya.


Elio tersenyum sinis. “Satu Om Ardi tidak akan membuat aku takut, bila perlu semua kalian bersekongkol saja di belakangku. Aku akan senang karena dengan begitu aku tau siapa kawan dan siapa lawan. Sekarang apa lagi yang ingin Tante sampaikan?” Viara tercekat. Kemana Elio yang dulu sangat ramah padanya.


“Aku sudah emailkan padamu analisa biaya akuisisi hotel di Bali. Ada beberapa perhitungan yang menurutku bisa menjadi celah untuk Mas Ardi meyerangmu di rapat nanti. Pelajari baik-baik. Jika ada yang ingin kamu tanyakan, feel free to discuss. Tapi lebih baik kita bahas di tempat lain.”


Meskipun hatinya terasa di remas dengan sikap Elio, tapi dia tahu Elio melakukan itu pasti dengan alasan yang kuat. Sekarang kesalahan yang mana yang membuat Elio semurka itu padanya, Viara ingin segera mencari tahu.


“Tante pamit ya, El. Jangan lupa makan. Luna pasti sedih kalau kamu sampai sakit.” Viara berjalan meninggalkan ruangan Elio.


Seperti malam-malam sebelumnya Elio memberitahu Luna akan kembali pulang larut malam ini. Rapat dewan direksi yang diagendakan bulan depan membuat Elio harus mempersiapkan banyak amunisi sebelum berperang. Tidak main-main Elio sampai menghabiskan waktunya untuk menganalisa ulang semua keputusan hotel yang pernah ia buat bersama Rian dulu.


Malam itu Elio merendahkan egonya, akhirnya dia memutuskan membuka email dari Viara. Ada banyak dokumen yang dikirimkan Viara dari mulai dokumen utama sampai beberapa dokumen pendukung. Analisa perencanaan bisnis dari segi financial yang dibuat sangat matang oleh Viara. Elio tersenyum memuji, namun disaat bersamaan logikanya berbanding terbalik. Bagaimana jika Viara hanya bersekongkol dengan Ardi dan membohonginya dengan semua ini. Elio harus hati-hati dan memilih memeriksa ulang secara mendetail.


Sudah lewat pukul dua belas malam, Elio baru meninggalkan Elios Hotel. Malam ini ada perasaan tidak tenang, apalagi melihat jalanan ke arah Kelapa Gading penuh genangan. Sepertinya hujan lebat baru saja reda.


“Luna….”


Elio meraih ponselnya mencoba menelfon Luna, namun sayang nomor ponsel Luna tidak aktif. Sambil berusaha menepi di plataran toko, Elio mengecek CCTV apartemen. Alangkah terkejutnya Elio mendapati Luna belum pulang ke apartemen dari pagi. Melalui aplikasi tracking location di ponselnya, pria itu melacak keberadaan sang istri. Titik terakhir keberadaan Luna telacak pukul delapan malam di Pasific Exporia.


Elio menggeram. Apa saja yang Luna kerjakan sampai semalam itu di sana. Dan kemana Luna sampai jam dua belas malam tidak ada kabar. Kenapa tidak meminta izin jika harus lembur. Apa begitu cara Luna memanfaatkan kesibukannya di hotel. Semua pertanyaan itu seperi berputar-putar di kepalanya.


Elio memacu kendaraannya ke Bekasi, untunglah malam hari jalanan sepi, tidak sampai setengah jam Elio sudah memasuki kawasan Harapan Indah. Semakin dekat dengan Pasific Exporia perasaannya semakin tidak tenang. Wajahnya sudah merah padam terutama saat mendapati lampu disekitar sudah gelap.


Baru saja mobilnya terparkir, Elio dikejutkan dengan Luna yang hendak masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di ruko berlantai empat itu. Luna tidak sendiri, ada Kean dan beberapa orang lain yang Elio tidak tau siapa mereka. Mereka semua menatap Luna dengan tatapan lekat.


“Kakak….” Lirih Luna sesaat hati perempuan itu menghangat. Tapi belum sempat ia menghambur ke pelukan Elio. Elio itu sudah menatapnya penuh amarah.


“PULANG…!”


Elio menarik tagan Luna kasar. Luna yang sudah pucat hanya pasrah saat tubuhnya di ditarik ke arah mobil.


“Hai… Siapa kamu? Jangan kasar pada karyawan saya...!” Kean menahan tubuh Luna yang terlihat terhayung mendapat satu tarikan kasar dari Elio.


“LEPAS TANGAN KAMU DARI ISTRI SAYA…!”


“Istri?”


Kean tercenung menatap Elio dan Luna bergantian kemudian perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Luna. Sedangkan Luna akhirnya pasrah saat Elio menariknya masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan kawasan ruko tempat dimana Kean dan beberapa orang lain masih berdiri.


“Kak… Ini tidak seperti yang Kakak fikirkan.” Lirih Luna.


“Tega kamu…!” Ucap Elio dengan suara tercekat.


“Aku bekerja di kantor bukan untuk main-main. Tapi kamu seperti ini di belakang aku.” Elio menghembuskan nafas berat.


“Aku… Aku bisa menjelaskan…. Aku minta maaf tadi tidak bisa mengabari Kakak karena—” Suara Luna yang terdengar lemah terhenti begitu saja saat Elio kembali membentaknya.


“DIAM KAMU…!”


Elio memukul setir mobil dengan kuat sampai mobil oleng ke kiri dan nyaris membentur trotoar. Kepala Luna terbentur ke kaca mobil, begitu pun Elio terkejut sampai menginjak pedal rem dengan kuat. Setelah Elio bisa mengatur kembali kendali mobil, Luna akhirnya memilih diam. Bahaya jika mereka berdebat di jalan.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi seperti terbang. Perasaan Elio tidak karuan. Entah harus marah, sedih, kesal, kecewa, tapi rasanya semua ini membuatnya ingin menangis. Luna tega mengkhianatinya seperti ini. Harus apa Elio sekarang…?


...-[Bersambung]-...